Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 59. Murka


__ADS_3

Ambarwati sedikit membungkukkan badan kala memasuki area teras rumah Mini. Di rumah Mini nampak beberapa kumpulan ibu-ibu yang sedang menjenguk salah satu orang terkaya di RT ini. Mereka nampak prihatin melihat wanita paruh baya itu terkena hipertensi mendadak dua hari yang lalu. Beruntung, wanita paruh baya itu tidak sampai terkena stroke mendadak. Tak jauh berbeda dengan kumpulan ibu-ibu ini, Ambarwati pun juga memiliki niat baik untuk menjenguk salah satu tetangganya ini.


"Bu Mini, saya datang kemari untuk menjenguk keadaan bu Mini. Semoga lekas sembuh ya Bu, agar bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa."


Ambarwati berujar sambil meletakkan parcel buah dan tiga boks Bika Ambon di sebuah meja yang ada di teras. Mini pun juga nampak berbaring di sebuah lincak saat merasa jenuh terlalu lama berbaring di dalam kamar.


Mini menatap lekat wajah Ambarwati dengan tatapan yang sulit terbaca. Nampak di dalam manik mata wanita itu kobaran api kebencian dan permusuhan yang menyala. Kedatangan Ambarwati, menurutnya tidak membuat kondisi tubuhnya berangsur membaik, namun justru semakin parah.


"Bawa pulang kembali barang-barang yang Anda bawa ini Bu!"


Suara nyaring yang keluar dari mulut Mini ini sukses membuat Ambarwati dan yang lainnya terhenyak. Mereka bahkan saling melempar pandangan, seakan sama-sama mencari tahu maksud dari ucapan Mini ini.


"Maksud bu Mini apa? Saya benar-benar tidak paham?"


Mini tersenyum sinis. "Saya tidak mau memakan makanan yang dibeli dari uang haram. Bisa-bisa saya mati mendadak."


Rasa iri dan dengki yang bercokol di dalam hati Mini nampaknya membuat wanita paruh baya itu diselimuti oleh kebencian yang mendarah daging. Ia bahkan sampai hati menganggap uang yang digunakan Ambarwati untuk membeli bingkisan yang dibawa merupakan bingkisan yang dibeli menggunakan uang hasil pekerjaan yang tidak baik.


"Uang haram? Uang haram apa maksud bu Mini? Saya membeli bingkisan ini dari kiriman uang yang diberikan oleh Dewi. Bagaimana bisa bu Mini menyebutnya sebagai uang haram?"


Ambarwati benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang tersimpan di dalam otak tetangganya ini. Bagaimana mungkin uang yang diberikan oleh Dewi dianggap sebagai uang haram. Padahal Dewi mendapatkan uang itu melalui cara-cara yang halal. Dia melakukan show kesana kemari, diundang di berbagai acara televisi dan podcast yang tengah hits saat ini. Bisa-bisanya tetangganya ini menganggap uang yang dihasilkan oleh Dewi sebagai uang haram.


"Justru karena uang itu berasal dari Dewi yang membuat haram Bu. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Dewi bekerja tidak benar di Jakarta. Ia menjadi simpanan Om-Om yang ada di kota. Jika tidak seperti itu mana mungkin kehidupan Dewi bisa berbalik seratus delapan puluh derajat dalam waktu sekejap. Sudah dapat dipastikan jika Dewi menjadi seorang pel*acur dengan menjajakan tubuhnya."


Plak!!!!


Reflek, Ambarwati menampar mulut Mini yang sudah sangat keterlaluan ini. Dadanya bergemuruh dan darahnya seakan mendidih di ubun-ubun. Ucapan Mini ini sungguh sudah sangat melukai harga dirinya sebagai wanita yang melahirkan Dewi.


"Jaga ucapan Anda jika tidak ingin mulut Anda ini saya robek Bu! Ucapan Anda ini sudah termasuk fitnah dan pencemaran nama baik. Karena Dewi sama sekali tidak menjual dirinya. Ia bekerja keras untuk bisa mencapai kesuksesan seperti saat ini."

__ADS_1


"Cih, saya bahkan tidak percaya dengan apa yang Anda katakan Bu. Anda juga ikut menikmati hasil jual diri Dewi, pantas saja jika Anda begitu membela wanita pela*cur itu. Nampaknya Anda juga ingin hidup dalam gelimang harta sehingga menutup mata jika Dewi menjajakan tubuhnya di ibu kota!"


Plak!!!!


Lagi, untuk kedua kalinya Ambarwati menampar mulut Mini. Kali ini tamparan wanita paruh baya itu lebih kuat dari sebelumnya hingga membuat Mini memekik kesakitan kala sensasi rasa perih itu sudah mulai menjalar di syaraf-syaraf pipinya.


"Hentikan ucapan Anda yang keterlaluan ini Bu! Atau Anda benar-benar ingin menguji kesabaran saya? Jika iya, silakan ucapkan itu sekali lagi!"


Pandangan mata Ambarwati mengedar, ke seluruh penjuru teras ini. Nampak kumpulan ibu-ibu lainnya hanya terperangah tiada percaya. Mereka yang mengira Ambarwati akan menangis karena telah dihina oleh Mini, yang terjadi justru sebaliknya. Wanita itu nampak jauh lebih kuat dari apa yang mereka kira.


"Ingat ya Ibu-ibu. Barang siapa yang berani menjelek-jelekkan anak saya di depan atau di belakang saya, akan langsung berhadapan dengan saya. Akan saya buat mulut Anda-Anda semua seperti mulut Bu Mini ini. Saya tidak pernah merasa takut karena saya berada di posisi yang benar. Karena ucapan Bu Mini ini sungguh sudah merobek harga diri saya."


Pembawaan Ambarwati yang penuh dengan intimidasi sukses membuat mulut ibu-ibu di teras ini terbungkam. Mereka bahkan menundukkan kepala, merasa segan dengan apa yang dilakukan oleh Ambarwati ini. Ine dan Mia yang sebelumnya banyak bicara mendadak kicep. Nyali sahabat karib Mini itu tiba-tiba menciut. Mereka yang biasa ikut nyinyir, saat ini mulut mereka seperti terkunci rapat.


"Saya rasa niat baik saya datang kemari hanya sebuah kesia-siaan. Kalau begitu saya permisi!"


Ambarwati melangkahkan kaki untuk bersegera pergi dari tempat ini. Kesabarannya seakan telah terlkikis habis menghadapi tetangga julid model Mini ini. Air mata yang sebelumnya tertahan, kini menetes perlahan. Ia tidak menyangka jika apapun kondisi hidupnya selalu saja mendapatkan cibiran.


Mini tidak habis pikir dengan kedua sahabat karibnya ini. Jika sebelumnya Ine dan Mia selalu membelanya, hari ini mereka nampak diam seribu bahasa. Bahkan sama sekali tidak berani mengeluarkan tanduknya. Mini sampai bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya telah dialami oleh kedua sahabat karibnya ini.


Mia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersenyum kikuk. "Saya benar-benar takut melihat wajah garang bu Ambarwati Bu. Ternyata dia ngeri juga jika sudah marah seperti itu. Bulu kuduk saya sampai berdiri lho Bu."


"Betul sekali itu Bu. Saya juga merasa takut jika sampai ikut terkena tamparan dari bu Ambarwati. Bisa-bisa pipi saya ini perot karena ditampar olehnya," timpal Ine yang juga ikut bergidik ngeri.


"Halahh... bu Ine dan bu Mia memang tidak niat untuk membela saya. Nyatanya sampai saya dua kali terkena tamparan bu Ambarwati, kalian diam saja!"


Entah mengapa pertikaiannya dengan Ambarwati membuat perut Mini terasa lapar sekali. Seluruh penghuni di dalam perutnya seakan berdemo untuk minta segera diisi. Tampa basa-basi, Mini menggeser tubuhnya untuk mengambil posisi duduk, dan meraih Bika Ambon yang dibawakan oleh Ambarwati.


"Haduududuhhh .. ternyata bu Mini ini tidak tahu malu ya," ucap salah seorang tetangga.

__ADS_1


Dahi Mini berkerut. "Tidak tahu malu perihal apa maksud Anda?"


"Tadi katanya tidak sudi memakan makanan yang berasal dari uang haram? Lha Bika Ambon ini kok diembat juga masuk ke dalam perut?"


Seakan menji*lat ludahnya sendiri, Mini baru tersadar bahwa saat ini ia memakan Bika Ambon yang sebelumnya dibawakan oleh Ambarwati. Sudah kepalang basah, ia pun acuh dengan tatapan mata penuh kesinisan yang sudah mengarah kepadanya.


"Aaaaahhh .. daripada mubazir, lebih baik saya habiskan saja!"


"Huuuuuuuuuuu .... dasar sosialita gadungan. Bingkisan dari musuh taunya dimakan juga!!!"


Sedangkan Mini hanya menanggapi santai. Dengan lahab, ia menikmati Bika Ambon yang dibawakan oleh Ambarwati ini. Meskipun sedikit gengsi, namun beberapa potong Bika Ambon itu juga masuk ke dalam perutnya.


***


Gilang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota di malam hari ini. Pandangan matanya tiada henti menatap lekat pergerakan mobil berwarna merah yang berada beberapa meter di depannya. Mobil yang sangat familiar di matanya dan dapat ia pastikan siapa pemilik mobil itu.


Dahi Gilang berkerut dalam saat mobil itu berbelok arah untuk menuju sebuah kawasan yang jauh nampak lebih sepi. Daerah permukiman kumuh yang ada di sudut ibu kota. "Mau kemana Mama malam-malam begini? Ditempat seperti ini pula?"


Gilang menghentikan laju mobilnya di saat mobil sang ibu berhenti di sebuah tempat. Tepatnya di depan sebuah rumah yang terbuat dari bata merah yang sama sekali tidak dipoles dengan cat. Sesekali sang mama melihat ke sisi kanan kirinya seperti tengah memastikan keamanan sekelilingnya. Kemudian wanita itu mengayunkan kaki untuk memasuki bangunan rumah itu.


Ingin rasanya Gilang ikut turun dari mobil dan melihat apa yang dilakukan oleh sang mama di rumah itu, namun ia urungkan niatnya. Ia bermaksud untuk kembali ke tempat ini esok hari.


"Aaahhhh ... besok saja aku pergi ke rumah itu. Aku ingin tahu, rumah siapa yang didatangi oleh Mama malam-malam seperti ini."


Pada akhirnya, Gilang kembali menghidupkan mesin mobilnya. Ia geser tuas persneling dan sedikit menginjak pedal gasnya. Perlahan, mobil yang dikemudikan oleh Gilang bergerak meninggalkan tempat ini. Meski dipenuhi oleh bermacam pertanyaan yang merajai hati, namun ia bertekad akan kembali ke tempat ini esok hari.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2