
Sebuah panggung berdiri megah di kawasan TMII. Dengan tata panggung dan lighting yang nampak begitu sempurna semakin menegaskan bahwa akan diadakan perhelatan akbar di tempat ini. Ya, malam ini konser tunggal Dewi akan diselenggarakan. Sebuah konser yang tidak hanya menampilkan performanya saja. Namun juga akan dihadiri oleh beberapa penyanyi yang tengah naik daun. Seakan semakin menegaskan bahwa kehadiran Dewi di belantika musik Indonesia telah diterima dengan tangan terbuka.
"Mas, aku benar-benar gugup!"
Dewi tiada henti mere*mas-re*mas telapak tangannya yang terasa begitu dingin. Meski sudah terbiasa tampil di depan khalayak umum, namun entah mengapa malam ini rasanya sangat berbeda. Mungkin karena ini merupakan part terakhir tentang perjalanan hidup dan kariernya di novel ini. Sehingga memang sengaja dibuat gugup oleh sang penulis cerita, hihihihi.
Bhumi, mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah sang istri yang nampak cantik dengan sebuah gaun berwarna biru dongker. Sebuah gaun yang dirancang oleh Ivan Gundawan khusus untuk Dewi. Entah kebaikan apa yang pernah dilakukan oleh penyanyi itu sehingga ada banyak orang yang menyayangi dan menerima dengan tangan terbuka kehadirannya. Bahkan para penyanyi senior pun juga banyak yang dekat dengan Dewi.
"Apa yang membuat istriku ini gugup? Kamu nampak begitu cantik dan sempurna Sayang. Apa yang masih membuatmu merasa tidak percaya diri, hmmmm?"
"Entahlah Mas, aku benar-benar gugup!" ucap Dewi sambil berkutat di depan cermin dan membelakangi Bhumi.
"Balikkan tubuhmu Sayang!"
"Maksudnya apa Mas?"
"Iya, hadap ke arahku!"
Dewi berbalik badan. Kepalanya sedikit mendongak untuk bisa menatap wajah sang suami. Dahinya sedikit mengernyit tidak terlalu paham dengan apa yang diucapkan oleh Bhumi.
Bhumi tersenyum simpul, tanpa basa-basi ia memeluk erat tubuh Dewi. Dan ia kecup pucuk kepalanya dengan kecupan intens. Apa yang dilakukan Bhumi ini seketika membuat rasa tenang dan damai menyelimuti hati Dewi.
"Bagaimana Sayang? Apakah kamu sudah merasa sedikit tenang?"
Dewi mengangguk di dalam pelukan Bhumi. Entah mantra apa yang dimiliki oleh suaminya ini sehingga sejak dulu bisa membuang segala rasa gugup dan rasa tidak percaya diri yang ia rasakan.
"Iya Mas, aku jauh merasa lebih tenang dan percaya diri. Mengapa bisa seperti ini ya Mas?"
Bhumi tergelak lirih. Ia lepaskan pelukannya dari tubuh Dewi dan ia pegang bahu sang istri. Ia tatap lekat netranya dan kemudian ia kecup kening istrinya.
"Itu semua karena aku lah yang sejak dulu selalu menguatkan dan memberikanmu semangat di saat kamu merasa tidak percaya diri Sayang. Secara tidak langsung, kamu membutuhkan pelukanku untuk bisa menyemangatimu."
Dewi hanya terdiam sembari tersenyum manis. Ia tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan kepada suaminya ini. Namun, dalam hati ia bersyukur memiliki seorang pendamping hidup seperti Bhumi ini.
Tak selang lama, nampak Wiraguna, Kartika, Ambarwati, dan Seruni ikut memasuki ruang ganti. Kehadiran mereka inilah yang membuat Dewi mendapatkan suplai semangat untuk tampil di atas panggung.
"Semangat ya Sayang. Ini merupakan konser tunggal pertamamu. Ibu yakin, kamu bisa menampilkan yang terbaik," ucap Ambarwati dengan binar bahagia yang begitu kentara.
"Terima kasih banyak Bu. Konser ini Dewi persembahkan untuk keluarga besar Dewi yang selalu ada untuk mendukung dan memberikan semangat hingga Dewi bisa sampai ke puncak keberhasilan ini."
__ADS_1
Semua orang yang berada di tempat ini memeluk tubuh Dewi bersamaan yang seketika membuat atmosfer ruangan ini dipenuhi oleh rasa haru sekaligus bangga yang menjadi satu.
"Mbak Dewi, apa sudah siap?"
Ucapan seseorang membuyarkan keharuan yang tercipta. Mereka sama-sama menoleh ke arah sumber suara dan terlihat salah seorang crew event memasuki ruangan.
Dewi menganggukkan kepala. "Iya Mbak, saya sudah siap!"
"Mari Mbak, ini waktunya!"
Dewi kembali menatap satu persatu anggota keluarganya. Mereka sama-sama mengangguk sembari tersenyum untuk memberikan semangat untuk Dewi.
"Istriku nampak sempurna. Kamu pasti bisa menampilkan yang terbaik Sayang!" ucap Bhumi berbisik lirih.
"Terima kasih Mas!"
***
Walaupun jiwaku pernah terluka
Hingga nyaris bunuh diri
Wanita mana yang sanggup hidup sendiri
Walaupun t'lah kututup mata hari
Begitupun telingaku
Namun bila dikala cinta memanggilmu
Dengarkanlah ini
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
__ADS_1
Walaupun mulutku pernah bersumpah
Sudilagi jatuh cinta
Wanita seperti dirikupun ternyata
Mudah menyerah
Walaupun kau bukan titisan dewa
Ku takan kecewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun kau bukan titisan dewa
Ku takan kecewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi
Gegap gempita suara tepuk tangan memenuhi area panggung megah ini. Mereka berteriak memanggil nama Dewi bak seorang bintang yang dielu-elukan.
Dewi yang masih berdiri di atas panggung seketika meneteskan air mata. Tidak pernah ia duga jika takdir hidup yang dituliskan oleh Sang Penulis skenario kehidupan menggoreskan tinta takdir seindah ini. Kali ini, ia bisa membuktikan bahwa dengan tekad dan kemauan yang keras serta tidak mudah putus asa, akan menjadi jalan kebahagiaan meski banyak kekurangan yang ada di dalam diri.
Terima kasih atas takdir hidup yang begitu indah ini Tuhan. Terima kasih karena Engkau menganugerahiku hati seluas samudera sehingga aku tidak berputus asa dalam menghadapi segala ujian yang pernah Engkau berikan. Dan dengan ujian itu pulalah, yang ternyata telah mengantarkanku ke dalam kebahagiaan yang sesungguhnya. Terima kasih Tuhan, terima kasih.
.
__ADS_1
.
....T A M A T....