Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 79. Menikah


__ADS_3

Suasana ballroom salah satu hotel mewah di pusat kota nampak begitu ramai di malam hari ini. Para tim dari wedding organizer yang dipercaya untuk menghandle seluruh rangkaian acara malam ini terlihat berlalu lalang ke sana kemari untuk memastikan jika acara hari ini akan berjalan lancar tanpa satu kendala apapun.


Sebuah dekorasi yang didominasi oleh putih dan baby pink terlihat begitu apik dan memanjakan mata bagi siapapun yang berada di tempat ini. Sebuah panggung rendah dengan kursi pelaminan sudah siap. Meja-meja prasmanan dengan aneka rupa hidangan juga sudah siap. Kini tinggal menunggu sang mempelai memasuki ballroom dan kemudian mendudukkan bokong mereka di atas kursi pelaminan itu. Tak lupa, satu space khusus untuk salah grup musik dengan aliran musik jazz yang sengaja diundang untuk menyemarakkan acara hari ini juga sudah siap. Pastinya mereka sudah siap untuk menghibur para tamu yang datang ke acara ini. Menyemarakkan acara dengan lantunan nada-nada cinta yang akan kian menambah kesan romantis semakin terasa.


"Para tamu undangan silakan berdiri sejenak, kita sambut tuan Bhumi dan Nyonya Dewi untuk memasuki ruangan ini!"


Suara yang menggema dari seorang master of ceremony di acara ini, sukses membuat para tamu undangan yang sebelumnya terduduk di kursi yang telah disiapkan, berdiri seketika. Kepala mereka tertuju pada satu titik yang sama, pintu kembar area ballroom yang akan menjadi gerbang awal bagi sepasang suami istri itu untuk memasuki area ini.


"Sudah siap Sayang?" ucap Bhumi sembari merengkuh lengan tangan Dewi untuk ia tautkan di lengan tangannya.


Dewi menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. Entah mengapa ia dilanda oleh rasa gugup yang begitu hebat. "Aku gugup Mas!"


Bhumi mengulas sedikit senyumnya. Perlahan ia kecup kening sang istri untuk menghilangkan rasa gugupnya itu. "Jangan gugup. Malam ini kamu sangat cantik dan sempurna, Sayang. Dan anggap saja, ini sama seperti saat kamu perform di hadapan ratusan penggemarmu."


Ucapan sang suami, berhasil mengusir rasa gugup yang sebelumnya menghampiri hati Dewi. Wanita itu menegakkan kepalanya dan tersenyum simpul. "Mari kita masuk, Mas!"


Bhumi menautkan pandangannya ke arah dua lelaki penjaga pintu ballroom ini. Lelaki itu menganggukkan kepalanya diiringi dengan dibukanya pintu kembar itu.


Bhumi dan Dewi perlahan melangkahkan kaki mereka untuk memasuki area ballroom. Semua mata tertuju pada sepasang suami istri itu. Tidak ada ekspresi wajah yang terpancar dari wajah para tamu undangan selain ekspresi terkesima akan sepasang manusia yang seakan menjelma raja dan ratu itu. Aura ketampanan dan juga kecantikan keduanya benar-benar terpancar di malam hari ini.


Layaknya raja dan ratu semalam, sepasang kekasih yang sudah sah menjadi suami istri itu duduk di kursi yang telah disediakan sembari menikmati segala acara yang telah diagendakan.

__ADS_1


Senyum manis tiada henti terukir di bibir Bhumi. Sedari tadi, ia menatap wajah Dewi dengan intens. Seakan tidak ingin ia lepaskan bidikan matanya.


"Mas, apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku? Mengapa sedari tadi kamu menatapku seperti itu?"


Dewi teramat heran dengan perilaku Bhumi. Pasalnya, sejak duduk di kursi pengantin, suaminya ini tiada henti menatapnya. Yang membuat wanita itu semakin salah tingkah.


"Aku sudah tidak sabar Sayang. Rasanya, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan acara ini," ucap Bhumi masih dengan lekat menatap wajah sang istri.


Dewi mengernyitkan dahi. "Tidak sabar? Tidak sabar untuk apa Mas?"


Bhumi mendekatkan wajahnya di telinga Dewi. Lelaki itupun berbisik lirih. "Tidak sabar untuk segera menikmati malam pertama kita, Sayang. Menikmati setiap inchi tubuhmu dengan hasrat yang menggelora."


Kedua bola mata Dewi terbelalak dan membulat sempurna. Entah mengapa, tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang seketika. "Mas.... Apaan sih kamu!!!"


Rembulan bersembunyi di balik awan kala sepasang suami-istri itu memasuki salah satu kamar hotel yang sama dengan tempat diadakannya resepsi. Setelah membersihkan diri di bawah guyuran air shower, Dewi memilih untuk duduk di depan cerminan sembari mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Sedangkan gemercik air masih terdengar dari dalam kamar mandi, menandakan si penghuni masih sibuk dengan ritualnya di dalam sana.


Pintu kamar mandi terbuka. Muncul Bhumi dari dalam sana. Dengan bathrobe warna putih, tubuh dan wajah lelaki itu nampak begitu segar. Senyum manis tersungging di bibirnya kala melihat sang istri masih sibuk mengeringkan rambut hitamnya. Dengan gerak perlahan, ia mulai mendekat ke arah Dewi dan mulai memeluknya dari belakang.


"Astaga Mas," pekik Dewi saat Bhumi memeluk tubuhnya dari belakang dan lelaki itu letakkan kepalanya diceruk leher.


"Hmmmm... aku menyukai harum aroma tubuhmu Sayang. Ini harum sekali," ucap Bhumi lirih sembari mengecup ceruk leher Dewi dengan intens.

__ADS_1


"Itu jelas Mas. Bukankah aku baru saja mandi? Jadi tidak mengherankan bukan jika aroma tubuhku ini begitu wangi? Kamu ini ada-ada saja."


Dewi menjawab dengan sesuatu yang terasa asing mengaliri aliran darahnya. Dada wanita itu tiba-tiba saja berdesir hebat saat Bhumi semakin intens mengecup ceruk lehernya.


"Seperti itukah? Rasanya, aku sudah tidak sabar ingin menciumi setiap lekuk tubuhmu Sayang."


Dewi hanya bisa memejamkan mata tatkala tangan Bhumi mulai nakal mere*mas gundukan sintal miliknya. Tidak sampai di sana saja, tangan Bhumi juga sudah mulai melepas tali bathrobe yang ia kenakan dan menurunkan bagian belakang. Dewi merasakan lidah Bhumi menyusuri setiap jengkal punggungnya. Tidak hanya sampai di sana saja. Sang suami ternyata juga telah membuka bathrobe yang belum sempurna terbuka, hingga kini bagian depan pun juga telah terekspos dengan sempurna.


Sungguh perbuatan Bhumi ini hanya bisa membuat Dewi mende*sah. Sapuan lidah sang suami di bagian punggungnya, dibarengi dengan telapak tangannya yang mere*mas-rem*as bukit kembar miliknya ini, sukses membuatnya juga terbakar oleh gairah yang menggelora. Tak ada yang dapat ia lakukan selain hanya menikmati sentuhan memabukkan suaminya ini.


Bhumi beranjak dari posisinya. Kini ia berdiri di depan Dewi dan merebahkan tubuh istrinya ini di atas ranjang. Ia tatap lekat-lekat netra bening milik istrinya ini. Tanpa basa-basi, Bhumi mulai melahap habis bibir tipis milik sang istri yang terlihat begitu menggoda. Keduanya larut dalam pagutan bibir itu. Saling menghisap, saling melilit, dan saling menyesap segala kenikmatan yang tersimpan di dalamnya. Seakan keduanya tidak ingin saling melewatkan segala kenikmatan yang ada di dalam rongga mulut masing-masing.


Bhumi melepaskan pagutan bibirnya. Pandangan matanya mulai terlihat sayu layaknya dipenuhi oleh kabut hasrat yang begitu tebal. Lelaki itu mulai melepaskan tali pengait bra yang dipakai oleh sang istri dan sukses membuat semua keindahan yang berada di bagian dada sang istri terpampang jelas saat ini.


"Sayang, bolehkah aku melakukannya malam ini?" tanya Bhumi dengan suara parau.


Dewi tak kalah lekat menatap wajah Bhumi dengan penuh damba. Wanita itupun menganggukkan kepala. "Aku sepenuhnya sudah menjadi milikmu, Mas. Lakukan apa yang kamu inginkan di atas tubuhku."


Tanpa banyak bicara, Bhumi mengungkung tubuh Dewi di dalam rengkuhan tubuhnya. Dan keduanya sama-sama larut dalam asmaraloka yang sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan. Rembulan pun memilih tetap bersembunyi di balik awan, malu dengan sepasang suami-istri yang larut dalam gelora malam pertama itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2