Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 25. Perdana di Ibu Kota


__ADS_3


"Bang Bhumi, tunggu!!"


Dengan setengah berlari, Dewi mencoba untuk mengejar Bhumi yang hampir saja menghilang dari pandangan mata. Wanita itu bahkan tidak begitu perduli ketika ia dijadikan pusat perhatian oleh orang-orang yang berpapasan dengannya. Yang terpenting, ia tidak kehilangan jejak lelaki yang sudah begitu baik memberikan peluang untuknya.


"Apakah harus dengan cara seperti ini aku bisa membuka mata dan juga hatimu agar kamu tidak merasa rendah diri?"


Bhumi masih berjalan tegap dengan pandangan mata lurus ke arah depan tanpa sedikitpun melihat ke arah Dewi yang saat ini berada di sampingnya. Ucapan lelaki itu terdengar begitu dingin, sedingin wajah yang dimilikinya. Namun sepertinya, kali ini ucapan Bhumi benar-benar membuat pikiran dan juga hati Dewi jauh lebih terbuka.


Meski terkesan dingin, namun Dewi sama sekali tidak merasa sakit hati. Ia justru merasakan hal lain untuk lelaki ini. Lelaki ini memanglah dingin, namun entah mengapa di balik itu semua ada satu kehangatan dan kelembutan yang dirasakan oleh Dewi.


"Aku minta maaf Bang. Aku tidak bermaksud untuk tidak mencintai diriku sendiri. Tapi itu semua yang aku alami. Aku sering diolok-olok karena bentuk fisik yang aku miliki. Dan aku tidak ingin jika sampai bang Bhumi mendapatkan imbas dari apa yang ada padaku ini."


Masih dengan wajah yang dipenuhi oleh gurat-gurat ketampanan yang berpadu dengan ketegasan, pandangan Bhumi masih fokus ke depan. Mencerna yang Dewi ucapkan. Sembari sesekali menghembuskan napas pelan.


"Ada tujuh koma delapan milyar jumlah penduduk di dunia. Dan ada berapa orang yang mengolok-olok kondisi fisikmu? Apakah ada seperempat bagian dari jumlah itu?"


Dewi menggelengkan kepala. "Tidak Bang."


"Lalu, mengapa kamu harus memikirkan dan memperdulikan perkataan orang yang hanya segelintir itu? Kecuali seperempat atau setengah bagian dari penduduk dunia itu yang mengolok-olokmu. Kamu boleh merasa rendah diri. Ini hanya ada segelintir orang dan membuatmu sehancur itu? Di mana letak sisi kekuatan yang sudah Tuhan berikan kepadamu?"


Dewi terperangah. Untuk kali ini, perkataan Bhumi benar-benar seperti menampar hati dan juga pipinya. "Bang, aku..."


"Ketika satu tempat tidak ada yang menerima keberadaanmu, masih ada tempat lain yang bisa kamu singgahi. Ketika ada satu, dua, tiga atau sepuluh orang yang tidak bisa menerima kondisi fisikmu, masih ada ratusan bahkan ribuan manusia yang bisa menerima kehadiranmu. Dan ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pasti akan ada seribu pintu kebahagiaan lain yang terbuka. Camkan ucapanku ini baik-baik. Jika perlu kamu ketik, kamu print, kamu laminating setelah itu kamu tempelkan di dinding."


Perkataan tegas Bhumi benar-benar sanggup menembus kokohnya dinding hati. Rasa insecure akan fisik yang selama ini begitu menguasai hati Dewi, kini seakan menghilang ditelan bumi. Tergantikan oleh api semangat yang tidak akan pernah mati.


Dewi tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, setelah dari TMII, bang Bhumi harus mengantarkan aku ke tempat pengetikan. Akan aku ketik ucapan Abang ini, aku print out, aku laminating setelah itu aku tempel di dinding."


Bhumi hanya sekilas menatap wajah Dewi. Lelaki itu tersenyum tipis sembari mengayunkan langkah kakinya kembali. Senyum itulah yang membuat rasa bahagia memenuhi ruang-ruang hati milik Dewi.


Dewi sengaja berjalan pelan di belakang punggung Bhumi. Wanita itu menatap sosok lelaki yang ada di depannya ini dengan rekahan senyum yang tiada henti. Ternyata masih banyak orang-orang yang dapat menerima segala sesuatu yang ia miliki.


Betapa aku bersyukur kepadaMu, Tuhan... Karena telah Engkau pertemukan aku dengan lelaki ini. Laki-laki baik yang bisa membuatku semakin percaya diri. Benar apa yang dikatakannya. Jika aku mencintai diriku sendiri, niscaya orang-orang di sekelilingku pun juga bisa menerima keberadaanku. Dewi, semangat!!!


****

__ADS_1


"Bang Bhumi ... bang Bhumi ... bang Bhumi!!"


Lengkingan suara para pemburu dan penikmat suasana malam di sekitar TMII terdengar nyaring di telinga. Kebanyakan dari mereka merupakan para kawula muda yang berpasang-pasangan. Raut wajah penuh kegembiraan nampak begitu kentara. Seakan mengabarkan kepada dunia bahwa mereka tengah berbahagia.


"Selamat malam semuanya!"


"Malam!!!!"


"Oke, untuk malam ini tidak seperti malam-malam yang telah lalu. Malam ini, aku akan menghibur kalian semua dengan ditemani oleh seseorang yang memiliki bakat menyanyi yang luar biasa. Bagaimana? Mau?"


"Mau Bang, mau....!!!"


"Baiklah... Dewi, silakan kemari!"


Plok... plok... plok...


Dengan langkah gemetar, Dewi menyusul Bhumi yang sudah lebih dahulu berada di depan para kawula muda yang tengah berdiri mengerumuninya. Sekuat tenaga, ia berupaya untuk membuang segala rasa gugupnya namun tetap saja tidak bisa. Wajah wanita itu nampak begitu cemas tiada terkira.


Sinyal kegugupan itu tertangkap jelas di mata Bhumi. Lelaki itu merapatkan tubuhnya ke arah Dewi dan menggenggam erat telapak tangan wanita ini.


"Kamu pasti bisa. Saat ini adalah waktunya. Tunjukkan kepada dunia bahwa kamu memang luar biasa!"


Genggaman tangan Bhumi juga terasa begitu menenangkan dan menguatkan. Dewi menatap manik mata Bhumi, dan lelaki itu hanya memberikan sebuah isyarat dengan anggukan kepala pelan. Dewi paham, akan apa yang harus segera ia lakukan.


"Hallo .... Selamat malam semua."


"Malam....!!!"


Dewi tersenyum penuh arti. Mendapatkan respon begitu baik dari para pengunjung, membuat Dewi bahagia setengah mati. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena keberadaannya diakui oleh orang-orang yang hadir di tempat ini.


"Untuk malam hari ini, aku akan menjadi teman duet bang Bhumi. Semoga penampilanku tidak akan mengecewakan kalian semua ya."


Dewi sejenak menjeda ucapannya. Ia hirup napas dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Ia tatap intens seluruh para pengunjung tempat ini secara bergantian.


"Oke, apakah ada yang ingin request sebuah lagu? Aku akan menyanyikannya untuk kalian."


Terdengar riuh suara para penonton yang meminta beberapa judul lagu. Kebanyakan dari mereka meminta sebuah lagu yang memang sedang naik daun. Hal itu lah yang membuat Dewi sedikit kebingungan akan lagu apa yang harus ia nyanyikan.

__ADS_1


"Baiklah, untuk Kakak yang berdiri di sana. Yang memakai kerudung biru. Kakak ingin dinyanyikan lagu apa?"


Wanita dengan kerudung biru itu nampak sedikit terkesiap. Ia nampak sejenak berpikir dan pada akhirnya... "Aku request lagu milik Melly Goeslaw yang Denting, kak Dewi!"


Senyum manis terbit di bibir Dewi. Meski selama ini ia lebih sering menyanyikan lagu dangdut, namun setiap hari ia juga selalu mendengar lagu-lagu pop dari penyanyi papan atas negeri ini. Sehingga, lagu yang diinginkan oleh salah satu pengunjung ini tidak begitu asing di telinganya. Bahkan lirik lagu itu sudah ia hafal di luar kepala.


"Baiklah... Untuk kalian yang sedang kesepian karena terhalang oleh ruang dan waktu. Aku persembahkan lagu Denting untuk bisa memupus rasa sepi itu."


"Yeayy.... kak Dewi... kak Dewi.... kak Dewi....!!!"


Dewi kembali menaatap wajah Bhumi. Lelaki itu mengangguk dan bersiap untuk mengambil nada melalui petikan gitarnya.


Denting yang berbunyi dari dinding kamarku


Sedarkan diriku dari lamunan panjang


Tak terasa malam kini semakin larut


Ku masih terjaga


Sayang kau dimana aku ingin bersama


Aku butuh semua untuk tepiskan rindu


Mungkinkah kau disana merasa yang sama


Seperti dinginku di malam ini


Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini


Kita menari dalam rindu yang indah


Sepi ku rasa hatiku saat ini oh sayangku


Jika kau disini aku tenang


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Mohon maaf belum bisa double update dan belum bisa membalas komentar kakak-kakak satu persatu ya... Ini tubuh sedang dalam masa pemulihan. Terima kasih kakak-kakak semua... ❤️❤️❤️


__ADS_2