Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 66. Berdamai


__ADS_3

Di sebuah ruangan berukuran empat kali empat meter, Bhumi tengah duduk di sebuah sofa berukuran sedang. Seperti janji yang pernah ia ucapkan, lelaki itu akan memberikan kesempatan Magatra untuk kembali tampil. Dan hari ini, tepat satu minggu setelah kejadian di atas panggung, Magatra kembali tampil di hadapan Bhumi untuk menunjukkan kebolehannya.


Plok.. plok.. plok...


Bhumi memberikan applaus untuk grup musik itu tatkala telah selesai menunjukkan performanya. Sebagai pertanda bahwa ia puas dengan penampilan mantan grup musik tempat bernaung sang kekasih. Bagi Bhumi, grup musik ini memang memiliki potensi yang begitu besar untuk bisa diorbitkan.


"Bagus .... aku sangat suka dengan penampilan kalian. Genre musik yang kalian bawakan memanglah lain daripada yang lain."


Bhumi tiada henti berdecak kagum dengan musik yang dibawakan oleh grup ini. Genre musik yang mereka bawakan benar-benar terdengar begitu unik dan lain daripada yang lain. Genre musik yang terdengar begitu easy listening namun benar-benar membekas di pendengaran.


Langit beserta seluruh personil Magatra saling melempar pandangan dengan wajah yang berbinar. Bibir mereka menganga lebar seakan tiada percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Sebuah apresiasi yang begitu baik dari salah satu pemilik label rekaman di belantika musik.


"Terima kasih banyak Bang, terima kasih. Kami berjanji akan mempergunakan kesempatan ini dengan baik sehingga bisa senantiasa memberikan penampilan yang terbaik."


Bhumi menganggukkan kepala. Jika kualitas dari grup musik Magatra, ia merasa tidak sia-sia memberikan kesempatan kedua untuk mantan grup musik tempat bernaung sang kekasih ini. Terlepas dari kecurangan apa yang pernah dilakukan oleh beberapa orang yang berada di grup ini kepada Dewi, mereka memang memiliki kualitas musik yang cukup bagus. Ia semakin percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dewi, bahwa grup ini memang memiliki potensi yang cukup bagus.


"Ya, kalian memanglah layak untuk mendapatkan semua kesempatan ini. Karena performa kalian memang benar-benar bagus dan aku rasa kesempatan ini sebagai salah satu bentuk ucapan terimakasih ku karena keberadaan grup musik inilah yang pernah menjadi tempat bernaung seseorang yang aku cinta yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupku."


Langit dan kawan-kawan terhenyak mendengar kata yang terucap dari bibir Bhumi. Dari kata yang terucap, dalam hati dan pikiran mereka sama-sama terbesit satu nama. Kelima orang itu sama-sama membelalakkan mata.


"Seseorang yang akan menjadi pendamping hidup Abang? A-apakah itu adalah Dewi?" ujar Langit dengan raut wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya besar.


"Ya, dia adalah Dewi. Dan karena Dewi pula lah yang semakin meyakinkan aku untuk memberikan kesempatan ini kepada kalian. Ia percaya bahwa kalian memang pantas untuk masuk ke dunia rekaman dan menjadi grup musik pendatang baru yang akan sukses di masa depan."


Perkataan Bhumi sukses membuat seonggok daging bernyawa di dalam tubuh Langit, Amara dan Adelia tertampar. Malu, itulah yang mereka rasakan. Seseorang yang pernah mereka sakiti, yang pernah mereka lukai, yang pernah mereka caci maki, yang pernah mereka hancurkan masa depannya, pada kenyataannya saat ini menjadi sosok yang membuka jalan kesuksesan bagi mereka. Tidak ada yang dapat mereka rasakan saat ini selain rasa sesal yang teramat dalam.


"Bang ... bolehkah kami bertemu dengan Dewi? Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Dewi dan juga meminta maaf kepadanya."

__ADS_1


Langit berkata lirih. Kali ini hatinya benar-benar menyadari akan satu hal, bahwa sejatinya apa yang pernah ia lakukan terhadap Dewi merupakan kesalahan besar. Tidak seharusnya sebagai sesama manusia ia mengolok bahkan merendahkan salah satu makhluk yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Karena ia tidak pernah tahu akan apa yang terjadi di masa depan nanti. Semua bisa terjadi. Dan saat ini yang terjadi adalah seseorang yang pernah ia rendahkan justru yang menjadi jalan keberhasilan.


"Iya Bang, izinkan kami bertemu dengan Dewi. Kami benar-benar ingin meminta maaf kepadanya."


Kini, Amara yang mengajukan permohonannya. Apa yang menimpanya satu minggu yang lalu, ia anggap sebagai pelajaran berharga bahwa sejatinya ia sendirilah yang telah menciptakan petaka itu. Apa yang telah ia tanam itulah yang akan ia tuai. Segala kejahatan yang telah ia ciptakan yang ia dapatkan juga sebuah kejahatan. Dan selama satu minggu belakangan, wanita itu banyak merenung akan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.


"Baiklah, aku akan mem..."


Ceklek....


"Bang ... maaf, aku terlambat datang kemari. Jalanan benar-benar macet Bang!"


Ucapan Bhumi terpangkas di kala daun pintu ruangan ini terbuka dan nampak seorang wanita cantik dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Bhumi. Namun sebelum tubuhnya merapat ke tubuh sang kekasih, tiba-tiba....


"Dew... maafkan kami. Maafkan kami!"


Dewi terkejut setengah mati di saat tiga orang yang begitu familiar di matanya tiba-tiba datang mendekat ke arahnya dan bersimpuh di bawah telapak kakinya. Bahkan ketiga orang ini begitu erat memengang tungkai kaki Dewi.


Dewi sedikit membungkukkan tubuhnya, memegangi bahu Amara, Adelia dan juga Langit. "Bangulah Bang, Ra, Del. Jangan seperti ini!"


"Tidak Dew, mungkin berkali-kali aku bersimpuh di bawah telapak kakimu, itu semua tidak bisa untuk menghapus semua kesalahan yang pernah aku lakukan kepadamu. Aku minta maaf Dew. Aku minta maaf."


Amara, wanita itu menangis tergugu. Menumpahkan semua rasa sesal yang melilit hati dan juga jiwa. Apa yang pernah terjadi kepada Dewi, tidak lain dan tidak bukan merupakan hasil dari rencana jahat yang ia rencanakan


"Aku juga minta maaf kepadamu Dew. Maaf, karena selama ini aku selalu saja menghinamu dan juga merendahkanmu. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu lah yang akan menjadi jalan pembuka untuk kesuksesan kami."


Langit juga turut meneteskan air mata. Hati terasa ditampar. Ternyata melalui cara seperti ini Tuhan menyadarkannya atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Ia tersadar ketika ia mengolok-olok bahkan merendahkan sesama manusia sama saja ia telah merendahkan ciptaan Tuhan.

__ADS_1


Dendam yang sebelumnya bersarang di hati Dewi meluruh seketika. Kini hatinya terasa jauh lebih ringan dengan keadaan yang telah kembali seperti semula. Benar apa yang dikatakan oleh Bhumi bahwa dendam sebenarnya hanya akan menyeret dirinya ke dalam sebuah labirin kebencian yang tiada berujung. Dan hanya dengan mengikhlaskan serta memaafkan lah suasana hatinya dapat kembali seperti semula.


"Kalian berdirilah. Jangan seperti ini. Aku mohon berdirilah!"


Perlahan, tubuh Langit, Amara dan Adelia kembali berdiri tegak. Kini, mereka berdiri tepat di harapan Dewi sembari menyeka sisa-sisa air mata yang masih saja mengalir.


Dewi tersenyum simpul. Ia pandangi manik mata orang-orang di depannya ini bergantian. "Aku sudah memaafkan kalian. Aku ikhlas memaafkan kalian. Aku juga minta maaf karena aku pernah melakukan hal yang sama kepada kalian. Dan aku juga menyesal atas hal itu. Oleh karenanya, aku meminta bang Bhumi untuk memberikan kesempatan kepada kalian untuk masuk ke industri rekaman."


Tanpa basa-basi dan banyak berkata, Langit, Amara dan Adelia memeluk tubuh Dewi. Sebagai bentuk rasa terima kasih mereka kepada wanita ini. Ada rasa sesal karena hubungan mereka sempat tidak baik-baik saja. Namun, ini semua ini sudah menjadi goresan takdir sang penulis skenario kehidupan. Mungkin melalui cara seperti inilah semua bisa bertemu dengan jalan kebahagiaan masing-masing.


***


Langit duduk di atas tanah di salah satu sudut halaman kontrakan. Kepalanya mendongak, melihat hamparan langit yang bermandikan cahaya bulan dan kerlip bintang. Senyum simpul terbit di bibir lelaki itu. Ia menyadari satu hal, bahwa seharusnya ia bisa belajar dari langit sama seperti nama yang diberikan untuknya. Langit tidak perlu menunjukkan bahwa ia tinggi, semua akan tahu bahwa ia memang tinggi. Begitu pula dengan dirinya. Seharusnya ia tidak perlu menjatuhkan orang lain hanya untuk meraih segala ambisi yang terpatri. Cukup mengembangkan apa yang ada di dalam diri untuk bisa diakui.


Ia merogoh saku celana yang ia kenakan. Ia ambil sesuatu yang berada di dalam sana. Sebuah diary berwarna biru yang beberapa waktu yang lalu pernah ia temukan. Ia tatap lekat diary di hadapannya ini dengan sedikit senyum yang tersungging di bibirnya.


"Sebelumnya, melalui perasaan yang diungkap Dewi di dalam diary ini aku memiliki rencana untuk menumpang tenar. Namun, aku bersyukur karena Tuhan lebih dulu menegurku sebelum aku mempermalukan diriku sendiri."


Kini, jemari tangan Langit merogoh saku kemeja yang ia kenakan. Ia ambil sebuah korek gas yang berada di sana. Tanpa basa-basi lelaki itu membakar diary kecil yang ia temukan terseret aliran sungai beberapa waktu yang lalu ini.


"Selamat tinggal masa lalu. Dan selamat datang masa depan. Terima kasih Tuhan untuk semua hal yang sudah Engkau tuliskan. Sehingga bisa menjadikanku manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya."


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf baru bisa up ya kakak-kakak semua... Hihihi hihiihi ini authornya sedang khilaf, lebih sering dihinggapi oleh rasa malas😂😂 Namun tenang saja, akan saya selesaikan sampai tamat🥰🥰🥰


Terima kasih untuk yang masih setia mengikuti cerita ini. Berkah dan bahagia selalu untuk kakak-kakak semua ❤️❤️❤️😘


__ADS_2