Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 67. Sedikit Firasat Kartika


__ADS_3

Di sebuah bangunan tua yang berada di pinggiran kota, Wenda nampak terduduk di atas sebuah kursi kayu sembari menikmati sebatang rokok yang menyala. Kepulan-kepulan asap dari batang ber nikotin itu nampak menghiasi ruangan ini dengan diiringi oleh aroma khas rokok yang mungkin mengganggu bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan aromanya. Beruntung di ruangan ini, semua adalah para perokok sehingga tidak satupun dari mereka yang memprotes apa yang dilakukan oleh Wenda.


"Hari ini kalian mulailah bekerja. Karena aku rasa hari ini merupakan waktu yang tepat untuk menjalankan rencanaku!" titah Wenda kepada beberapa anak buah yang akan menjadi perpanjangan tangannya untuk menjalankan semua rencana yang telah ia susun matang.


"Apa yang harus kami lakukan Bos?" tanya salah seorang anak buah dengan wajah polosnya.


Wenda sedikit terperangah dengan apa yang diucapkan oleh salah satu anak buahnya ini. Ia benar-benar gemas karena orang ini masih saja bertanya akan apa yang harus dilakukannya.


"Apa kamu bilang? Kamu masih bertanya tentang apa yang harus kamu lakukan? Kamu ini penjahat kelas apa? Kelas kakap, kelas teri atau kelas apa? Masa masih harus bertanya tentang apa yang harus kamu lakukan!"


Salah satu teman lelaki berperawakan preman itu hanya bisa tersenyum kikuk melihat kebodohan temannya ini. Ia pun memperjelas apa yang dipertanyakan oleh temannya ini.


"Maksud teman saya ini, kapan kami harus mengeksekusi ataupun menjalankan rencana itu kita bos?"


Wenda menbuang napas sedikit kasar sembari memijit-mijit pelipisnya. Tidak ia sangka jika salah satu dari anak buah yang telah ia rekrut termasuk ke dalam golongan preman bo*doh yang hanya berbadan besar saja namun otaknya melompong.


"Sore ini kalian sudah bisa menjalankan rencana itu. Kalian ikuti terlebih dahulu ke mana mobil yang dikemudikan oleh Arga berhenti. Dan di sana kalian bisa langsung menyabotase mobil milik lelaki itu."


"Memang anak dari Wiraguna akan ke mana Bos? Apakah keadaan saya dan lainnya akan aman tanpa ada yang mengendus pergerakan kami?"


"Kamu tenang saja. Hari ini, kekasih Arga ada jadwal perform di daerah yang dipenuhi oleh hamparan hutan di sisi kanan kirinya. Aku rasa tempat itu akan aman bagi kalian untuk menjalankan rencana kalian."


"Baik Bos, saya akan bekerja semaksimal mungkin. Akan saya pastikan, Arga dan kekasihnya akan meregang nyawa dan musnah dari dunia."


"Bagus. Akan segera aku transfer bayaran untuk kalian. Ingat, aku tidak ingin mendengar kalian gagal dalam menjalankan rencana ini. Aku tunggu kabar baik dari kalian malam nanti. Kabar bahwa Arga telah mati karena kecelakaan!"


"Itu sudah pasti Bos. Akan kami kerjakan sebaik mungkin. Dan saya pastikan semua akan berhasil seperti rencana."


Senyum seringai terbit di bibir Wenda. Dalam angannya, telah terbesit bayangan mobil Arga yang hancur berkeping-keping terperosok ke dalam hutan. Dan nyawa lelaki itu tidak dapat terselamatkan. Sama seperti apa yang telah ia lakukan terhadap ibu dari anak tirinya itu.

__ADS_1


Senyum Wenda semakin merekah saat membayangkan bahwa Dewi, yang merupakan wanita muda kesayangan sang mertua akan ikut menjadi korban. Ia merasa rencananya kali ini akan sukses besar dengan hancurnya dua orang kesayangan sang mertua.


Sekali tepuk, dua lalat akan mati. Ya itulah yang akan kalian alami . Bukankah aku berbaik hati? Membiarkan kalian sehidup semati untuk menjadi pasngan abadi. Hahaha hahaha ... Wenda, bersiap-siaplah menyambut putramu untuk menjadi pewaris tunggal perusahaan Wiraguna Grup.


***


Semilir angin sore membelai dedaunan, mengalirkan kesejukan di dalam badan. Terdengar gemerisik tarian ranting dan dahan membelah kesunyian. Diiringi dengan cicit burung pipit di dalam sangkar yang turut meramaikan.


Kartika duduk termenung di bangku taman depan. Sedari tadi, netra wanita berusia senja itu tiada henti menatap intens dua manusia yang tengah sibuk mempersiapkan semua keperluan yang akan mereka bawa untuk show di luar kota. Siapa lagi jika bukan sang cucu dan calon cucu menantu. Sedari tadi mereka terlihat begitu sibuk memasukkan beberapa tas ke dalam bagasi mobil.


"Bang, lihatlah!" tunjuk Dewi ke arah Kartika yang seperti tengah hanyut dalam pikirannya sendiri.


Bhumi menggiring manik matanya ke arah telunjuk Dewi. Lelaki itu sedikit terkejut karena sang oma seperti seseorang yang tengah hilang kesadaran.


"Oma kenapa ya Dew? Mengapa beliau melamun seperti itu?"


"Entahlah Bang, ayo kita ke sana. Aku takut kalau Oma sampai ditempeli oleh jin yang suka mengganggu karena kebanyakan melamun!"


"Adududuhhhh.... Sakit Bang" pekik Dewi ketika Bhumi lagi-lagi menarik hidungnya.


"Maka dari itu, kalau bicara jangan ngawur. Mana ada jin di jam-jam seperti ini?"


Dewi pun hanya bisa meringis sambil memperlihatkan barisan gigi-gigi putihnya. "Hiihiihiiii, aku bercanda Bang. Sudah, ayo kita datangi Oma!"


Sepasang kekasih itu mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah Kartika. Dan keduanya duduk mengapit wanita berusia senja yang nampak sedang termenung itu.


"Oma mengapa melamun seperti ini?"


Kartika sedikit terkesiap kala mendengar suara seorang wanita yang merembet masuk ke dalam telinga. Ia menoleh ke arah sumber suara dan nampak sang calon cucu menantu duduk di sisinya.

__ADS_1


Wanita berusia senja itu tersenyum simpul. "Tidak apa-apa Sayang. Oma sedang melihat kalian berdua yang sepertinya sibuk sendiri. Dan lihatlah, barang-barang yang kalian bawa terlihat banyak sekali. Padahal, kalian hanya akan show selama dua hari bukan? Tapi sudah seperti akan show satu minggu saja."


Dewi juga hanya tergelak lirih. Sejatinya, ia tidak berencana membawa pakaian ganti sebanyak itu, namun Bhumi lah yang memintanya dengan alasan antisipasi kalau kehujanan dan alasan lainnya yang terdengar menggelitik telinga.


"Itu semua permintaan bang Bhumi, Oma. Entahlah, Dewi rasa bang Bhumi sudah seperti ibu-ibu yang terlihat rewel kala mempersiapkan keperluan anaknya."


Dua wanita berbeda generasi itu saling tertawa. Sedangkan Bhumi, justru menatap lain ekspresi wajah yang ditampakkan oleh sang oma. Meski sang oma nampak tertawa-tawa namun ada yang berbeda dari biasanya.


"Oma.... Oma baik-baik saja bukan?"


"Oma baik-baik saja Ga. Memang ada apa?"


Bhumi menatap lekat wajah wanita berusia senja ini. "Arga merasa, Oma seperti berat melihat Arga dan Dewi pergi. Apakah betul seperti itu?"


Kartika sedikit tersentak ketika sang cucu bisa membaca pikirannya. Karena sejatinya, melihat Arga yang akan mengantar Dewi untuk show ke luar kota seperti ini, seperti kembali mengingatkannya pada peristiwa di dua puluh enam tahun yang lalu.


Kartika membuang napas sedikit kasar. "Oma hanya teringat apa yang pernah menimpa mamamu, Ga. Pokoknya Oma hanya berpesan, kamu harus benar-benar menjaga Dewi baik-baik. Pastikan semua tidak ada yang bisa membahayakan keselamatan kalian."


Bhumi menganggukkan kepala. "Arga berjanji Oma. Dan Oma tidak perlu takut. Arga berjanji akan segera kembali dalam keadaan baik-baik saja."


Meskipun Kartika berupaya untuk tetap tenang, namun tidak dapat ia ingkari jika hatinya diselimuti oleh kekhawatiran. Ia merasa, ada seseorang yang ingin mencelakakan cucunya ini.


"Baiklah, Oma pegang kata-katamu Ga. Pulanglah dalam keadaan selamat, utuh, dan tiada yang kurang satupun."


"Iya Oma!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2