Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 28. Istana


__ADS_3


Di pusat ibu kota nampak berdiri megah sebuah rumah mewah bergaya Klasik-Eropa. Pilar-pilar kokoh nampak berdiri kokoh dan kekar. Tak sedikitpun mengizinkan sang waktu untuk menggereogoti kekuatan yang dimilikinya. Setiap bagian di desain dengan tampilan khas Eropa. Daun pintu dan jendela berukuran besar dan didominasi oleh warna putih yang nampak begitu elegan.


Seorang laki-laki dengan gurat wajah penuh ketegasan nampak tengah berdiri di balik jendela lebar yang berada di ruang pribadi miliknya. Pandangan lekaki itu nampak menerawang, menyapu setiap sudut taman dan kolam renang yang nampak begitu jelas dari tempat ia berada. Segala kemewahan yang tersedia di tempat tinggalnya, seakan kian menegaskan bahwa ia merupakan salah seorang berpunya di ibu kota.


Rumah megah bak istana ini tetap saja menghunus rasa sepi yang merasuk hingga ke palung hati. Tak ada sedikitpun kehangatan yang menyelimuti. Dan tiada denyut-denyut kehidupan yang mengaliri. Terasa gersang, tandus, dan mungkin sebentar lagi akan mati.


Segala kemewahan dan kemegahan yang memenuhi tiap sudut dinding dan langit-lagit rumah ini, nyatanya tidak mampu untuk menghempas segala belenggu rasa sepi. Apapun tersedia, namun tidak dengan canda, tawa, atau hanya sekedar celotehan-celotehan dari para penghuni. Mungkin inilah yang dinamakan dengan kemegahan yang berselimut sunyi. Terasa dingin, membeku hingga menembus ulu hati.


"Pa, mau sampai kapan Papa terus seperti ini? Berdiam diri dan terus menyendiri?"


Wanita yang masih nampak modis di usia separuh abadnya itu, nampak berjalan mendekat ke arah sang suami. Dengan lembut, ia mengusap lengan tangan lelaki ini untuk menunjukkan sebuah atensi.


"Sebelum ibuku kembali, aku akan tetap seperti ini. Apakah para bodyguard yang kamu beri tugas mencari keberadaan ibu belum juga memberikan hasil?"


"Belum Pa, mereka belum menemukan keberadaan ibu. Tapi Papa seharusnya tidak perlu cemas seperti itu. Ibu pasti akan baik-baik saja. Lebih baik Papa fokus pada acara pengangkatan Gilang sebagai direktur utama pengganti Papa."


Lelaki bernama Wiraguna itu hanya bisa membuang napas kasar. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Begitu pusing dengan segala permasalahan yang datang menghampirinya bertubi-tubi. Ingin rasanya ia menjalani masa-masa tuanya dengan kedamaian di hati. Namun pada kenyataannya yang terjadi hanyalah segala bentuk tekanan yang menyerangnya dari segala sisi.


"Aku masih ragu untuk memberikan posisi direktur utama kepada Gilang. Karena aku hanya menginginkan Arga yang akan menggantikan posisiku. Aku jauh lebih yakin memberikan posisi itu untuk Arga."


Wanita bernama Wenda itu terhenyak seketika. Tidak dapat ia bayangkan upayanya untuk menjadikan sang anak menempati posisi direktur utama musnah begitu saja.


"Apalagi yang Papa harapkan dari Arga? Dia sudah enam bulan pergi dari rumah dan sampai saat ini tidak ada yang tahu keberadaannya. Apalagi yang bisa Papa harapkan dari dia?"


Lagi-lagi Wiraguna hanya bisa memijit pelipisnya. Jika teringat akan sang putra bernama Arga, hanya membuat kondisi hatinya semakin tidak karuan saja. Ia yang menggantungkan harapannya kepada Arga untuk melanjutkan perjuangannya membesarkan perusahaan yang telah ia rintis sejak masa muda pada kenyataannya hanya menjadi angan semata. Putra dari hasil pernikahannya dengan istri pertama itu, berkali-kali menolak untuk menduduki posisi direktur utama.

__ADS_1


"Tapi aku yakin bahwa dia akan pulang dan menuruti apa yang menjadi kemauanku, Wen. Dia Arga pasti akan...."


"Jangan lagi kamu memaksakan kehendakmu kepada cucuku, Wira. Hentikan keangkuhan dan pemaksaan kehendakmu itu. Biarkan cucuku memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri!"


Suara lirih namun terdengar begitu tegas memangkas ucapan Wiraguna. Dua orang yang sebelumnya terlibat dalam suatu obrolan, seketika mengedarkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Nampak seorang wanita berusia senja duduk manis di atas kursi roda dan didorong oleh pengawal pribadinya.


"Ibu!!"


Wiraguna berlari kecil mendekat ke arah tubuh Kartika. Lelaki paruh baya itu seketika meluruhkan tubuhnya, bersimpuh di atas pangkuan sang ibunda.


"Ibu baik-baik saja bukan? Tidak ada hal serius yang menimpa Ibu kan?"


Wiraguna sedikit menegakkan tubuhnya. Hanya ada air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya, ketika ia mencoba untuk melihat dengan seksama keadaan sang ibunda. Ia memastikan bahwa wanita yang telah melahirkannya ini senantiasa dalam keadaan baik-baik saja.


Salah satu sudut bibir Kartika sedikit terangkat. "Dapat kamu lihat bukan? Aku baik-baik saja. Bagaimana? Apakah kamu berbahagia tatkala melihatku kembali ke rumah ini dalam keadaan sehat wal afiat?"


Kartika hanya tersenyum tipis. Sesekali, ia melirik ke arah Wenda yang saat ini tengah berdiri terpaku dengan raut wajah yang sulit terbaca.


"Bagaimana denganmu Wenda? Apakah kamu juga turut berbahagia melihat kepulanganku? Mengapa kamu tidak menyambut kedatanganku seperti yang dilakukan oleh Wiraguna?"


Wenda terkesiap. Matanya sedikit mengerjap. Bahkan wanita itu nampak tergagap. "Ibu, Wenda..."


Tidak ingin membuat sang ibu mertua berpikir macam-macam, Wenda bergegas menyusul sang suami dan ikut bersimpuh di pangkuan Kartika. Dengan memasang wajah sendu, menantu itu menanyakan kabar sang ibu mertua.


"Syukurlah para bodyguard yang Wenda kerahkan untuk mencari keberadaan Ibu dapat menuai hasil yang sempurna. Ibu bisa kembali pulang ke rumah dalam keadaan baik tanpa kurang satu apapun."


Wanita berusia senja itu sedikit berdecih. Ucapan yang keluar dari mulut menantunya ini sungguh hanya membuatnya ingin tertawa saja. Wajah yang dipenuhi oleh raut sendu yang ditampakkan oleh Wenda, sama sekali tidak dapat menyembunyikan topeng yang sedang ia mainkan.

__ADS_1


"Tapi sayangnya, bukan bodyguard suruhanmu yang menemukan keberadaanku, Wenda. Beruntung aku bertemu dengan sosok malaikat penyelamat nyawaku. Entah apa yang terjadi jika aku tidak bertemu dengannya. Mungkin aku sudah mati dan hanya tinggal nama saja."


"Ibu .... Ibu jangan berbicara seperti itu. Wenda benar-benar mengkhawatirkan keadaan Ibu. Bahkan selama satu minggu terakhir ini, Wenda tidak berselera makan karena terpikirkan akan keadaan Ibu."


Kartika hanya bisa tersenyum sinis. Ucapan menantunya ini sungguh hanya semakin mengocok perutnya saja. "Seperti itukah? Seharusnya kamu jangan sampai tidak berselera makan, Wenda. Jika itu yang kamu lakukan, pasti kamu akan sakit. Dan jika kamu sakit, pastinya tidak akan pernah bisa membuat rencana-rencana manis bukan?"


Tubuh Wenda sedikit terperanjat. Dari nada bicara mertuanya ini membuat jantungnya berdegup lebih cepat. "M-Maksud Ibu apa? Rencana-rencana manis apa? Wenda sungguh tidak mengerti."


Kartika sedikit tergelak. "Ahhh ... sudahlah, lupakan saja. Aku hanya ingin minta maaf kepada siapapun yang merasa tidak suka dengan kepulanganku ini. Aku rasa Tuhan masih akan memberiku kesempatan untuk hidup lebih lama lagi."


Kartika menjeda sejenak ucapannya. Kepalanya sedikit mendongak. Melihat ke arah Hans yang sedang berdiri di belakangnya.


"Hans, antarkan aku ke kamar. Aku ingin segera beristirahat."


Hans mengangguk patuh. Wenda dan Wiraguna sama-sama bangkit dari posisi bersimpuh mereka. Hans mendorong kursi roda milik sang nyonya sepuh untuk kembali ke kamar pribadi dengan perlahan. Tak selang lama, bayang kedua orang itu hilang di balik dinding ruangan.


Sorot tajam nampak dilepaskan oleh kedua bola mata Wenda ke arah Kartika. Wanita itu nampak memasang raut wajah tiada terbaca. Seakan memikirkan suatu hal begitu penting perihal sang ibu mertua. Mungkin tidak ada yang berbeda dari cara Wenda menatap Kartika namun, jika dilihat dengan lekat, ada sebuah rahasia besar yang disembunyikan olehnya.


"Kembalilah ke kamar Wen! Aku masih ingin berada di sini."


Wiraguna berjalan ke arah kursi kebesarannya. Ia mendaratkan bokongnya di sana. Mencoba meredam segala rasa penat yang masih begitu kuat terasa.


"Baiklah Pa, aku akan kembali ke kamar. Namun ingat, Papa harus segera menyerahkan posisi direktur utama itu kepada Gilang. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi Pa."


Dahi Wiraguna nampak berkerut dalam ketika mencoba memahami perkataan sang istri. "Mengapa kamu terkesan begitu terburu-buru seperti itu, Wenda? Aku masih sanggup untuk menjalankan peranku sebagai seorang direktur utama. Namun mengapa kamu yang seolah sudah tidak sabar untuk memberikan posisi itu kepada Gilang?"


Wenda sedikit terkesiap. Tiba-tiba saja ia tersadar bahwa ucapannya ini memang terkesan begitu memaksa dan mendesak. "Ahhhh ... maksud Mama, jika Papa segera memberikan jabatan itu kepada Gilang, Papa bisa lebih sering berada di rumah. Dengan begitu, Mama juga akan bisa maksimal untuk merawat dan melayani kamu, Pa."

__ADS_1


Wiraguna berdecak lirih. "Aku masih sehat, Wenda. Tidak perlu kamu terlalu mengkhawatirkan keadaanku."


__ADS_2