Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 11 : Doni Dkk Kembali Menganggu Larina


__ADS_3

Doni yang geram langsung menarik kerah baju Larina.


"Kau siapa, ha?"


Larina membulatkan mata.


"Jangan hanya karena kau perempuan lalu kau fikir aku takut untuk melakukan hal-hal kasar padamu, ya."


"Aku bisa saja menghabisimu saat ini juga," lanjutnya


"Doni, sudah Don." salah satu temannya berusaha menurunkan tangan Doni.


"Cih, kau itu cocoknya pakai rok sama B*H. Apa yang membuatmu begitu membenciku? Apakah karena aku lemah lalu hal itu membuatmu merasa bahwa dirimu yang paling kuat? Katakan apa salahku? Apakah aku pernah menyakitimu? Menyakiti keluargamu, kerabatmu, sahabatmu atau siapamu? Tidak kan?" Larina menyunggingkan bibir dan tersenyum remeh pada Doni.


"Si*alan!"


"Turunkan nada bicaramu!" sambil menghempas tangan Doni dengan keras.


"Cuiihhh!" Doni meludah ke wajah Larina.


Larina terkejut, ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata.


"Aku sangat membenci orang sepertimu. Kenapa orang jelek sepertimu harus hidup dan menganggu hidupku?!"


Larina mengepalkan tangan.


"Matilah saja kalau merasa terganggu akan kehadiranku." Larina memicingkan mata.


"Kurang ajar!!" Doni hendak melayangkan tamparan, Larina dengan cepat memasang benteng pertahanan. Larina menghempas tangan Doni hingga terbentur ke tembok bangunan.


Larina langsung menginjak kaki Doni.


"Kau fikir kau siapa? Mahluk istimewa? Kau hanya merupakan salah satu anggota sampah masyarakat yang bisanya membully saja."


"Kau ingin main kasar? Jangan kira aku takut untuk melawan, ya." lanjutnya.


"Siapa kau?!"


"Siapa aku? Tebak saja sendiri."


Salah satu teman Doni yang geram siap menendang Larina, Larina yang melihatnya sekilas tentunya tidak tinggal diam. Ia langsung bersiap menendang balik teman Doni terlebih dahulu.


"Aaarrgg!"  pekik teman Doni saat tendangan Larina mengenai pahanya hingga ia terjatuh ke tanah.


"Waduuhhhh!!!" teman Doni lainnya langsung membantunya berdiri.


"Kau?!!"


"Apa?!" mata Larina melotot.


"Suatu saat kau akan menjilat kembali ludahmu yang ada di wajahku ini, Doni. Ingat itu baik-baik. Kau akan menyesalinya. Awas saja kalau kau macam-macam lagi!"

__ADS_1


"Omong kosong," Doni mendorong tubuh Larina darinya.


"Terserah lah kau mau berkata apa. Yang pasti, kau akan menyesal." Larina tersenyum,


"Sakit woy!"


"EGP, weeeekkk," Larina menjulurkan lidahnya lalu ia melangkah pergi meninggalkan Doni dkk.


***


"Astaga, si Doni ludahnya bau sekali. Mulutnya juga bau rokok." ujar Larina di perjalanan pulang


☘☘☘


Keesokan harinya, di Sekolah.


Larina duduk di kelas sambil membaca buku LKS maateri hari ini. Ia melatakkan bukunya di meja dan menoleh sekilas ke arah pintu, dilihatnya Doni baru datang dengan kondisi wajahnya tidak baik-baik saja. Ada beberapa lebam di pipinya, sudut bibirnya pun terlihat kebiruan.


Larina terkejut namun ia juga tersenyum.


"Wah, ternyata dia sudah melakukannya, ya?" gumam Larina.


Ia tau siapa pelaku yang membuat Doni babak belur seperti ini. Doni memicingkan mata saat melihat Larina tersenyum mengejek padanya.


"Emm, mungkin sebaiknya aku ucapkan terimakasih padanya, hihi." Larina membuang nafas lalu kembali membaca bukunya


Sepulang sekolah...


"Larina, mau pulang bersama?" tanya Bella


"Tidak, Bella. Terimakasih. Aku ada urusan." tolak Larina dengan ramah.


"Eemmm begitu. Baiklah, aku pulang duluan ya." Bella tersenyum lalu melambaikan tangannya.


"Oke." Larina membalas senyuman Bella.


"Apa aku juga bisa mengubah teman-teman Larina?" batinnya.


Larina segera keluar dari kelas, ia terus berjalan dan berhenti di luar gerbang sekolah. Larina bersandar di tembok sambil mengadu kedua jari telunjuknya.


"Waduh, padahal cuma mau mengatakan terimakasih. Tapi hatiku sampai berdebar seperti ini, apa ini efek aku kelamaan menjomblo di Dunia asliku?" batinnya.


Sesekali ia melirik ke arah pintu gerbang untuk melihat apakah seseorang yang ia cari sudah lewat atau belum. Ia mengingat ciri-cirinya seperti yang sudah di deskripsikan di novel yang ia baca.


Larina senang melihat orang yang ditunggu akhirnya muncul.


"Rafa!" panggil Larina


Rafa yang merasa terpanggil spontan menoleh ke arah sumber suara. Ia terdiam saat melihat Larina yang memanggilnya.


Larina melangkah mendekat ke arah Rafa.

__ADS_1


"Rafa," panggilnya lagi.


"Ada apa?" sahut Rafa cuek.


"Anu, eeemmm itu..."


"Duh, kenapa jadi susah bicara, sih!" batin Larina


"Hm?"


"A-Anu! Aku, aku mau mengucapkan terimakasih."


Rafa bingung.


"Eeee itu, kamu kan yang menghajar teman kelasku?"


Rafa terdiam, ia terkejut.


"Aku tidak tau kau siapa."


Larina mengedipkan mata beberapa kali dengan cepat.


"Dan apa maksudmu aku menghajar teman kelasmu?"


"O-Oh iya, maaf. Salam kenal, aku Larina."


"Oh, oke."


Rafa mendekat.


"Kenapa kau tau apa yang ku lakukan?" bisiknya


Rafa curiga bercampur heran. Memang benar ia yang telah menghajar Doni karena ia melihat Doni dkk mengerubungi Larina kemarin.


"Kenapa dia bisa tau?" batin Rafa


"O-Ooooohhh, aku baru ingat! Aku salah orang ternyata, hihi. Maaf, ya. Aku duluan, permisi." Larina langsung pamit dan berjalan dengan cepat meninggalkan Rafa yang masih terheran-heran.


"Kenapa dia bisa tau? Kemarin aku menghajar anak itu saat dia sudah tidak lagi ditempat itu." gumam Rafa


"Duh, kacau!" Larina menggeleng pelan


Setibanya dirumah, Larina mendapat suguhan yakni melihat Ibunya tengah asik mengobrol dengan orang yang berada di seberang telfon.


"Bu," panggil Larina


"Ssssttt!"


"Aku pulang."


Ibu Larina menatap datar.

__ADS_1


Larina menghela nafas, Ibu Larina berdiri dari tempat tidur, ia langsung menutup pintu kamarnya.


__ADS_2