Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 27: Membesuk Ayah Rafa


__ADS_3

Malam harinya, di rumah Larina.


Larina tengah mencuci piring bekas makan malam tadi, Ayah Larina menepuk pundak Larina.


"Eh," Larina sedikit terkejut.


"Ayah lihat kamu seperti kebingungan dari tadi. Ada masalah?" tanya Ayah Larina.


Larina meletakkan piring yang sudah ia cuci bersih.


"Ayah masih ingat dengan teman yang kemarin membantu Larina?" Larina bertanya balik.


"Rafa?"


"Nah, itu."


"Iya, Ayah masih ingat. Ada apa?"


"Ayahnya Rafa sepertinya sedang tidak baik-baik saja, Larina dilema. Mau membesuknya atau tidak."


"Ayahnya sakit?"


Larina mengangguk.


"Dilemanya kenapa? Jika kamu mengenalnya, kamu bisa membesuknya selama tidak ada masalah."


Larina diam sejenak.


"Eemmm iya deh."


"Ayah akan ikut,"


"Tidak perlu, Ayah." tolak Larina dengan cepat.


"Kenapa?"


"Kemungkinan jumlah pembesuknya dibatasi."


Ayah Larina mengangguk,


"Ya sudah, Ayah titip salam ya buat Rafa."


"Siap! Sepulang sekolah besok aku akan langsung membesuknya kesana."


"Baiklah."


***


Besoknya. Sore hari..


Semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing saat bel pertanda berakhirnya kegiatan belajar-mengajar hari ini telah berbunyi. Larina bergegas keluar kelas dan melangkah menuju kelas XI A untuk melihat Rafa.


Dilihatnya Rafa keluar dari kelas, dengan langkah buru-buru ia menuruni anak tangga.


"Eh,"


Larina segera menyusul Rafa.


Rafa terlihat tergesa-gesa, ia setengah berlari hingga tidak sengaja bertabrakan dengan siswa yang lain dan membuat HP di genggaman tangannya terjatuh ke lantai namun ia tidak menyadarinya. Rafa meminta maaf pada orang tersebut kemudian melanjutkan langkahnya.


"Eh, Hp-nya jatuh loh."


Sebelum terkena ciuman kaki para siswa yang berlalu lalang, Larina segera mengambil Hp Rafa. Ia menyusul Rafa hingga sampai di gerbang sekolah.


"Rafa!" panggil Larina.


Rafa menoleh.


"Hp kamu, nih!" Larina sembari menyodorkan Hp milik Rafa.


"Eh, jatuh ya? Terimakasih." ucap Rafa sambil menerima Hp tersebut.


"Terimakasih kembali. Oh iya, sepertinya dirimu buru-buru ya?"


Rafa mengangguk.


"Ada hal lain?" tanya Rafa.


"Ada sih. Aku mau menanyakan sesuatu, kenapa kau bisa tau saat itu aku sedang di Rumah Sakit?"


Rafa terdiam.


"Apa kau memang sengaja menjengukku?" tanya Larina


Rafa menghela napas pelan.

__ADS_1


"Aku bertemu siswa dari kelas XI B saat itu, aku sendiri memang ada urusan di Rumah Sakit itu."


Larina mengangguk.


"Apa kau mengidap suatu penyakit sampai harus ke Rumah Sakit??"


"Memangnya ke Rumah Sakit menandakan aku sedang sakit?"


"Ya bisa jadi," Larina tersenyum.


"Ayahku sedang dirawat disana. Jadi mengetahui kau disana, aku juga sekalian menjengukmu."


"Aku turut berduka, semoga Ayahmu lekas sembuh."


"Semoga," timpal Rafa penuh harap.


Selama 5 menit, mobil keluarga Rafa tidak kunjung datang untuk menjenguknya. Rafa mulai gelisah.


"Kau menunggu sesuatu?" tanya Larina yang berpura-pura tidak mengerti keadaan.


Rafa hanya mengangguk.


'Ddrrtt drtttt' Ponsel Rafa berdering, ada panggilan masuk.


"Halo, dimana?"


"Haaa?!!! Astagaaa! Cepatlah!"


Rafa menutup dan mengakhiri panggilan, raut wajahnya tampak kesal.


"Kenapa?" tanya Larina.


"Supirku terjebak macet. Ck!" Rafa berdecak kesal.


Rafa semakin dibuat kesal karena baterai Hp nya yang habis. Rafa mengusap kasar wajahnya.


"2 KM dari ada pangkalan ojek," tutur Larina.


Rafa menoleh sekilas ke arah Larina. Larina mengangguk.


"Aku sering jalan kaki, biasanya sih jam 4 sore seperti ini masih ada tukang Ojek yang stay. Apalagi ini jamnya kebanyakan orang-orang pulang dari bekerja,"


"Memangnya kalau malam tidak ada Ojek?"


Larina mengendikkan bahu.


Rafa menghela napas berat. Tanpa pikir panjang akhirnya Rafa memutuskan berjalan kaki menuju pangkalan ojek diikuti Larina.


"Memangnya kau ada urusan apa sore ini? Kelihatannya kau sangat gelisah." tanya Larina.


"Melihat Ayahku di Rumah Sakit."


"Ooohhh masih dirawat inap disana ya?"


Rafa mengangguk.


"Kalau tidak keberatan, aku mau ikut kesana."


Rafa menoleh ke arah Larina.


"Ke Ayahku?" tanya Rafa.


Larina mengangguk.


"Iya. Aku mau membesuk Ayahmu. Tidak apa-apa kan?"


Rafa mengangguk.


"Baiklah,"


Setelah berjalan sejauh 2 Kilometer, akhirnya mereka tiba di Pangkalan Ojek.


"Nah, masih ada 2 tuh!" ucap Larina menunjuk ke arah kedua akang Ojek dengan pandangan matanya.


"Iya,"


Keduanya segera menghampiri kedua akang ojek tersebut dan minta diantar ke Rumah Sakit tempat Ayah Rafa dirawat.


"Pak, nanti berhenti di pasar dulu ya. Saya mau beli-beli." ujar Larina saat menaiki motor.


"Siap, Dek."


Mereka berempat segera menuju lokasi.


***

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit.


Larina mengikuti langkah Rafa dari belakang sambil membawa buah tangan. Saat hampir sampai di kamar rawat Ayah Rafa, Rafa melihat Ibunya baru keluar dari ruangan sambil menyeka air mata.


Rafa sontak terkejut, ia berlari meninggalkan Larina dan menuju Ibunya.


"Kenapa, Bu? Ada apa?"


"Ayah kamu, Nak."


"Ayah kenapa?!!" Rafa panik.


"Ayahmu kembali tidak sadarkan diri."


Hati Rafa seperti di tusuk benda tajam. Padahal tadi pagi ia mendapat kabar Ayahnya sudah sadar dari komanya.


"Permisi," ucap Larina.


Ibu Rafa menoleh sekilas.


"Dia temanku, Bu." ujar Rafa.


Ibu Rafa tersenyum pada Larina.


"Saya turut bersedih atas apa yang menimpa keluarga kalian." ucap Larina sopan.


Ibu Rafa mengangguk.


"Saya kesini dengan niat membesuk Ayahnya Rafa," sambung Larina.


Setelah itu Larina dan Rafa dipersilahkan masuk ke ruang rawat Ayah Rafa dengan mengenakan baju terusan khusus pembesuk dan juga masker.


Rafa menggenggam tangan besar Ayahnya, ia menitikkan air mata melihat Ayahnya yang terbaring tidak berdaya. Larina menyentuh pundak Rafa.


"Kita doakan yang terbaik untuknya," ucap Larina.


Rafa mengangguk. Rafa dibuat terkejut karena ada respon jari-jemari Ayah Rafa.


"Ayah," panggil Rafa pelan.


Larina tersenyum.


Perlahan-lahan mata Ayah Rafa terbuka. Setelah dirasa penglihatannya jelas, ia menoleh ke arah samping dan mendapati Puteranya berada di sisinya.


"Ayah," dengan suara bergetar, Rafa menciumi punggung tangan Ayahnya.


Larina ikut menitikkan air mata dan berharap Ayah Rafa bisa pulih. Ia sendiri sedih karena mengingat saat detik-detik Ayahnya di Dunia aslinya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ayah," Rafa masih terus memanggil Ayahnya pelan.


Ayah Rafa tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Ia bergantian menatap ke arah Larina yang berdiri disamping Rafa.


Larina sedikit berbungkuk dan menundukkan kepala saat Ayah Rafa melihat ke arahnya. Larina tersenyum, kemudian ia menyeka air matanya.


Ayah Rafa mengelus tangan Rafa yang masih menggenggamnya.


"Ayah,"


Setetes air mata mengalir dari sudut mata Ayah Rafa,


"I-Ibu-mu." ucap Ayah Rafa dengan susah payah.


"Rafa, aku akan memanggil Ibumu. Aku akan menunggu diluar." pamit Larina.


Berhubung maksimal pembesuk 2 orang, Larina segera keluar dari ruangan tersebut. Tidak lama kemudian Ibu Rafa masuk ke ruangan itu, ia dan Rafa menangis terharu.


Larina duduk di kursi yang ada di balkon, ia menghirup udara yang menurutnya panas, tidak ada sejuk-sejuknya. 30 menit berlalu, merasa tidak nyaman berada diluar, ia kembali masuk dan mendapati Dokter dan beberapa suster dengan langkah cepat masuk ke dalam ruang rawat Ayah Rafa.


Jantung Larina berdegup kencang.


"Apakah ini sudah saatnya?" gumamnya,


Larina berdiri di depan ruang rawat Ayah Rafa. Terdengar samar-samar suara isak tangis dan teriakan histeris. Tubuh Larina bergetar, jantungnya berdegup dengan kencang. Dengan gemetaran ia duduk dikursi yang ada di depan ruangan tersebut.


Larina memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, ia memejamkan matanya. Muncul sedikit banyak ingatan saat melihat Ayah di dunia aslinya menghembuskan napas terakhirnya.


Tanpa sadar air matanya mengalir deras, ia menggelengkan kepala berharap cuplikan ingatan itu pergi.


"Harusnya aku tidak kesini! Aku tidak tau kalau hal ini akan mengingatkanku pada masa laluku, hiks!" batinnya,


Larina membuka mata, ia merasa dadanya sesak, ia menyeka air matanya dan mengontrol napasnya.


***


Pukul 18:00

__ADS_1


Jenazah Ayah Rafa dibawa pulang ke kediaman keluarga Rafa, Larina pun ikut kesana


__ADS_2