
πJam up pukul 20:00 - 23:00 WIB
πEps ini di up pukul 20:20
πππ
Sepulang sekolag Larina langsung bergegas pulang.
"Aku pulang," ucap Larina sambil masuk ke rumah, ia mendapati Ayahnya tengah memasak.
"Sudah pulang, ya?"
"Iya,"
Larina mencium punggung tangan Ayahnya.
"Ayah pulang awal lagi?" tanya Larina.
"Iya. Hari ini nilai Akreditasi sudah keluar."
"Wah! Dapat apa, Yah?"
"Dapat 'B'. Ya semoga saja kedepannya dapat 'A'." jawab Ayah Larina sambil menyajikan masakannya di piring.
"Selamat, Ayah. Hu'um, semoga akreditasi selanjutnya sekolah tempat Ayah bekerja bisa dapat nilai 'A'."
"Tetap semangat!!"
Ayah Larina tersenyum.
"Kamu juga harus semangat. Sebentar lagi Lulus, kamu nanti tentukan sendiri mau kuliah atau bagaimananya."
Larina mengangguk,
"Maaf ya, Yah. Ayah sekarang sering bantu aku jaga toko."
"Itu bukan hal yang sulit kok, kalau Ayah ada waktu pasti Ayah bantu kamu."
Larina tersenyum haru.
πππ
3 hari berlalu...
Rafa di panggil ke ruang Kepala Sekolah.
"Ini uangnya," ucap Kepala Sekolah sambil menyodorkan sejumlah uang berwarna pink dan biru.
"Terimakasih, Pak."
"Sama-sama."
Setelah itu Rafa keluar dari ruang Kepala Sekolah.
"Bagaimana? Dananya cair?" tanya Larina yang menunggunya di luar ruangan.
Rafa tersenyum, ia menunjukkan amplop coklat berisi uang tunai.
__ADS_1
Larina gembira dan mengucap syukur.
"Kita akan melaksanakannya mulai hari minggu lusa,"
"Oke siaap!"
"Kau sibuk hari minggu?" tanya Rafa.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau ada waktu, kita akan mencari etalase serta buku-bukunya mulai hari minggu di kota. Kalau tidak ada, aku akan cari di toko online saja"
"Emmmm," Larina tampak berpikir.
"Bagaimana kalau sore hari saja?" saran Larina.
"Bisa juga."
"Baiklah. Soalnya dari pagi aku mau jaga toko,"
"Baiklah."
***
Nana kembali kesal saat Rafa dan Larina masuk ke kelas sambil mengobrol santai dan sesekali Larina tertawa kecil dan Rafa yang tersenyum. Nana tidak bisa mengontrol diri, ia menggebrak meja. Rafa dan Larina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara, seisi kelas juga terdiam dan hal itu menjadikan Nana sebagai pusat perhatian.
"Ada apa?" tanya Larina pada Nana.
Nana tidak menjawab, ia mengepalkan tangan dan kembali memukul mejanya.
Teman-teman kelasnya bingung dan berbisik-bisik atas apa yang dilakukan Nana barusan.
"Ada masalah?" tanya Larina, ia berjalan menuju bangku Nana.
Nana tidak menjawab, tubuhnya bergetar dan matanya mulai memerah serta berkaca-kaca.
"Kau merusak kebahagiaanku, Larina." ucap Nana.
Larina hanya diam mendengarkan.
"Kenapa kau harus masuk di kelas ini?! Oh bukan! Kenapa kau harus ada di sekolah ini?!"
Larina masih diam tidak merespon.
"Jawab! Kau bisu kah, hah?!!" Nana yang emosi langsung meraih kerah baju seragam Larina namun Larina dengan cepat menepis tangan Nana.
"Itu Nana kenapa sih?"
"Iya, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba seperti itu." bisik teman-teman kelasnya.
"Dengan marah-marah seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, Nana. Kau menjadi pusat perhatian dari tadi. Apa kau tidak sadar?"
Nana tersentak, dia melihat sekelilingnya dan benar saja semua mata tertuju padanya. Nana menelan ludah kemudian menyeka air matanya yang menetes, kemudian ia bergegas pergi dari ruang kelasnya.
Nana segera pergi menuju kelas XII B dan berniat untuk menemui circle-nya, namun ternyata mereka sedang ada kelas pelajaran. Nana menghela napas kemudian pergi ke atas sekolah, ia mengunci pintu dan duduk bersandar di tembok.
Nana sesekali menghela napas berat, ia kembali memikirkan perkataan Larina.
__ADS_1
"Dengan marah-marah seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, Nana. Kau menjadi pusat perhatian dari tadi. Apa kau tidak sadar?"Β Itu lah yang ia pikirkan.
"Aku jadi tidak bisa mengendalikan diriku," lirihnya sambil memeluk lututnya.
"Tapi aku sakit hati melihat Larina dan Rafa yang semakin hari semakin dekat, apalagi Larina sekarang tidak lagi dipandang sebelah mata dan sudah di notice oleh para guru-guru." Lanjutnya
"Apa yang harus ku lakukan?! Aku tidak mau kehilangan Rafa."
Di sisi lain, di kelas.
"Jangan terlalu di pikirkan semua perkataan Nana tadi." ucap Rafa.
Larina mengangguk.
"Baiklah, kita harus memberitahu anak-anak yang lainnya bahwa Dana kita sudah cair."
"Iya."
Rafa mengumumkan kepada teman-teman kelasnya.
"Teman-teman, Dana kita sudah cair. Segera rencana kita akan dikerjakan, mohon kerja samanya." ucap Rafa dan disambut sorak ria dari teman-temannya.
πππ
Sepulang sekolah...
Larina yang baru pulang tidak mendapati Ayahnya.
"Oh, mungkin Ayah masih ada pekerjaan di sekolah." ucapnya sambil membuka pintu kamarnya dan meletakkan Tas serta ia segera mengganti pakaiannya.
Setelah itu Larina menggantung seragam sekolahnya di belakang rumah agar terkena angin. Larina melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16:00 (empat sore). Ia segera menyiapkan makanan untuknya dan Ayahnya.
Sekitar jam 5 sore Ayah Larina pulang, Ayah Larina menyodorkan paperbag berisi buah-buahan pada Larina, setelah itu mereka makan bersama.
"Bagaimana hari ini, Ayah?" tanya Larina setelah mereka menghabiskan makanannya.
Ayah Larina meneguk air minum.
"Aman terkendali. Tadi kami juga sempat makan-makan."
"Syukurlah kalau begitu." Larina tersenyum.
Ayah Larina senang karena Larina perhatian terhadap dirinya, perhatian yang tidak ia dapatkan dari Ibu Larina.
"Oh iya Ayah, aku izin pergi keluar dengan Rafa hari minggu lusa sore hari, kami ada pekerjaan. Kami mau cari buku dan etalase di kota."
"Baiklah. Pulangnya jangan terlalu malam."
"Siap!"
Selesai makan, Larina membuka toko. Dibantu Ayahnya yang bertugas di kasir, Larina mengurus barang-barang di gudang yang stoknya kembali menipis.
Ia tersenyum senang karena barang-barangnya bisa laku dengan cepat bahkan ia sudah kembali modal, ia juga bisa mengembangkan jumlah dan jenis barang-barang baru di tokonya.
"Nek, do'akan supaya aku bisa membesarkan toko ini." batin Larina.
^^^#Bersambung__^^^
__ADS_1