Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 22 : Doni Menjenguk Larina??


__ADS_3

Larina yang masih lemah berusaha tersenyum tipis.


"Ayah panggil Dokter dulu,"


Larina mengangguk pelan.


"Huufttt, ku kira aku sudah mati tadi. Syukurlah aku masij hidup," batin Larina.


"Suara itu suaranya Larina. Larina, maafkan aku karena aku belum bisa mengubah takdirmu sepenuhnya." Lanjutnya.


Tidak lama kemudian Dokter dan Ayah Larina datang dan mulai memeriksa Larina.


"Ayah, apakah Ayah sudah mengirim surat izin ke sekolah?"


"Sudah, Nak. Tadi pagi ayah kesana dan bertemu salah satu gurumu."


"Terimakasih,"


🍀🍀🍀


Di sekolah...


Bu Mawar masuk ke dalam kelas dan meletakkan surat izin dari Ayah Larina.


"Bella, tulis judul materi ini di papan tulis. Ibu akan mengabsen kalian."


"Baik, Bu."


Bella mengeryitkan dahi saat nama Larina tidak disebut.


"Apa terlewat ya?" Batin Bella.


"Jangan sampai anak itu mendapat perlakuan khusus dari pihak sekolah!" imbuhnya.


Doni merasa ada yang janggal, namun ia mengabaikan itu dan fokus pada materi Bu Mawar.


Waktu istirahat telah tiba. Doni spontan melihat ke belakangnya dan mendapati bangku Larina kosong.


"Eh? Aku baru sadar dia tidak ada." gumamnya.


Doni dkk bermain di kelas hingga membuat kelas berantakan. Disaat bersamaan tibalah waktu jam pelajaran selanjutnya. Guru yang melihat kondisi kelas langsung berkacak pinggang.


"Siapa yang membuat kelas ini berantakan?! Itu sapu juga kenapa ada yang patah?!"


"Doni tuh, Bu!"


"Bukan cuma saya kok!" Bela Doni


Setelah perdebatan singkat akhirnya Doni mengaku.


"Yang lainnya keluar dari kelas dulu. Doni dan 4 temannya bersihkan segera ruangan ini!"


***


Doni menghapus coretan spidol di Papan tulis, setelah selesai ia beralih ke buku absen dan buku lainnya yang ada di meja guru. Saat merapihkannya, ia melihat amplop terjatuh ke lantai. Sambil mendengus sebal Doni berjongkok dan mengambil amplop itu, saat di balik ia sedikit terkejut sebab amplop itu bertuliskan surat izin dari Larina.


"Apa itu?" tanya teman Doni yang baru saja kembali dari luar kelas untuk membuang sampah.


"Tidak tau," Doni meletakkan kembali amplop itu di meja guru.


Setelah selesai semua siswa dipersilahkan masuk. Selama pelajaran berlangsung, Doni dibuat tidak fokus oleh amplop yang ia lihat tadi. Pandangannya sering tertuju ke meja guru.


"Doni," panggil gurunya.


"Saya, Bu."


"Kamu kenapa sibuk sendiri? Coba jawab soal latihan nomer empat."


Doni gelagapan,


"Waduh, jawab apa ya." gumam Doni.


"Mangkanya kalau sedang ada guru yang menyampaikan materi itu di perhatikan," Gurunya melangkah perlahan ke arah Doni dan menyentil pelan dahinya.


"Aduh, Bu. Sakit tau. Jangan keras-keras, nanti Ibu tidak bisa lupa sama saya."


Seisi kelas tertawa mendengarnya.


Waktu jam pelajaran terus berlanjut, sembari menunggu kedatangan guru terakhir hari ini, Doni pergi ke meja guru dan membuka amplop yang terus membuatnya gagal fokus sedari tadi.

__ADS_1


Jantung Doni berdegup kencang saat membaca isi surat yang menyatakan Larina tidak masuk sekolah untuk beberapa hari kedepan dikarenakan saat ini ia sedang dirawat di Rumah Sakit.


"Ada apa?" tanya Bella yang ikut maju dan berdiri disamping Doni.


"Rupanya si culun tidak masuk hari ini karena ia sedang sakit."


"Ooohh, coba sini suratnya. Aku ingin tau," Bella menyodorkan tangannya, Doni pun menyerahkan surat itu pada Bella.


"Kasihan, ya." ucap Bella dengan nada sedih.


Doni tidak menanggapinya, ia memilih pergi kembali ke bangkunya. Melihat reaksi Doni membuat Bella kesal namun ia harus tetap terlihat kalem.


Sepulang sekolah..


Setelah mengalami perang hati dan logika, akhirnya Doni memutuskan untuk menjenguk Larina ke Rumah Sakit.


Pukul 17:00.


'Tok tok tok'


"Permisi,"


Ayah Larina membukakan pintu.


"Iya, ada apa ya?" tanya Ayah Larina.


"Saya temannya Larina, Pak. Saya dengar Larina tidak masuk sekolah dan sedang dirawat di Rumah Sakit ini." jawab Doni, ia tiba-tiba merasa grogi.


"Ooohh temannya Larina ya? Ayo masuk."


Doni mengangguk dan mengikuti langkah Ayah Larina masuk ke dalam ruang rawat inap Larina.


Dilihatnya Larina terbaring dan baru bangun tidur.


"Kebetulan sekali Larina baru bangun tidur." ucap Ayah Larina.


"Oohh iya, iya." timpal Doni.


"Nak, ada teman kamu yang datang untuk menjenguk."


Larina melirik ke arah Doni,


"H-Hai," sapa Doni gugup.


"Wah, terimakasih sudah repot-repot datang kemari." ucap Larina yang masih menahan tawanya.


"O-oh, sama-sama." dengan sedikit gemetar Doni meletakkan parcel buah di meja.


"Ya ampun, kenapa sampai membawa begituan?"


Doni tidak menjawab.


"Ayah beli minum dulu untuk temanmu,"


"Iya, Yah."


Ayah Larina keluar dari ruangan.


"Oke sip, sekarang aku harus bagaimana?" batin Doni.


"Duduklah, Doni. Itu ada kursi."


Doni tidak menjawab, ia mengambil kursi dan duduk disamping Larina.


"Ngomong-ngomong kau sakit apa? Kok bisa dapat dorongan untuk datang kemari, bahahaha!" Akhirnya tawa Larina pun meledak.


Doni menghela nafas saat melihat tawa lepas Larina. Setelah beberapa saat Larina kembali tenang.


"Apa kau kemari untuk membullyku?" tanya Larina,


"Tidak," jawab Doni dengan cepat.


"Eemmm begitu, lalu apa tujuanmu kemari?"


"Yaaa, yaaa tidak ada."


"Iya juga ya, apa alasanku datang kemari?" Batin Doni.


Melihat raut wajah Doni yang tegang membuat Larina kembali tertawa.

__ADS_1


"Haduh, kau ini kenapa?!" sambil menyeka air mata disudut matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.


Ayah Larina datang membawa minuman dan makanan ringan, melihat Ayah Larina datang, Doni langsung pindah tempat duduk dan memilih mengobrol bersama Ayah Larina.


"Akhirnya! Aku menang karena telah membuat Doni seperti ini," batin Larina.


"Yups, jika kekerasan tidak mampu melunakannya maka kebaikan adalah pilihan selannjutnya."


Setelah agak lama, Doni berpamitan pada Larina dan Ayahnya dengan alasan ada kegiatan lain.


"Terimakasih buahnya," ucap Larina


Doni tidak menjawab dan hanya mengacungkan jempol tangan kanannya.


"Itu teman sekelas kamu?" tanya Ayah Larina.


"Iya, Yah."


"Syukurlah kamu ternyata memiliki teman di sekolah,"


Larina tersenyum kecut. Tanpa Ayahnya tau, Doni adalah salah satu pembully Larina.


***


Doni keluar dari gedung Rumah Sakit dan berjalan ke tempat parkir motor. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari parkir mobil.


"Kenapa dia ada disini?" gumam Rafa.


Saat akan keluar dari tempat parkir, Rafa menghalangi Doni.


"Apa masalahmu?" tanya Doni dengan wajah songongnya.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Rafa.


"Apa pentingnya pertanyaanmu untukku?" Doni menhidupkan motornya namun Rafa langsung mengambil remot motor Doni dari saku celana Doni.


"Heh!" Doni emosi.


"Apa yang kau lakukan disini?" Rafa bertanya kembali.


"Kau itu siapa, hah?!" Doni kesal.


"Aku satu angkatan denganmu, kelas XI A."


Ya, mereka ribut sebentar.


"Kau tidak sedang membully seseorang kan? Karena setahuku kau itu pelaku bullying," Rafa menyipitkan matanya lalu melepas kerah baju Doni.


"Tidak lah! Justru aku baru saja menjenguk seseorang."


Mendengar hal itu Rafa terdiam sejenak. Ia menyerahkan remot motor milik Doni dan melangkah pergi meninggalkan Doni.


"Aku merasa tidak asing dengan tangan orang itu," gumam Doni,


Ia mencoba mengingat sesuatu namun tidak menemukan apapun, yang ia ingat hanyalah ia pernah diserang dan dihantam sampak babak belur oleh orang yang tidak ia kenal dan mengenakan topeng.


****


Dengan langkah santai Rafa menuju ruang rawat Larina, saat sampai di depan pintu kamar sebelah ia melihat Ayah Larina masui ke ruangan yang menjadi tujuannya.


"Oh, jadi benar ia sedang disini," gumamnya.


Rafa berbalik dan pergi keluar dari Rumah Sakit untuk membeli buah tangan. Rafa kmbali ke Rumah Sakit dan langsung menuju ruang rawat Larina. Sebelum mengetuk pintu, ia mengatur nafasnya dan juga mengatur jantungnya yang sedari tadi berontak ingin keluar dari sarangnya.


"Tenang,"


Sedikit gemetaran, Rafa mengetuk pintu. Tidak lama kemudian Ayah Larina membukakan pintu.


"Temannya Larina?" tebaknya.


"Betul, Pak. Saya Rafa, temannya Larina." Rafa meraih tangan Ayah Larina dan mencium punggung tangannya.


"Eh, kok sampek salim." Ayah Larina terkejut.


"Ya ampun, apa yang ku lakukan? Niat ingin berjabat tangan malah kebablasan," batin Rafa.


Wajah Rafa memerah.


NB : Salim (mencium punggung tangan)

__ADS_1


__ADS_2