Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 69 : Ajakan Makan Malam Bersama


__ADS_3

Selang beberapa menit Larina mengirim pesan kepada Rafa, panggilan masuk pun menghiasi layar HP Larina.


"Halo," ucap Larina.


"Hm, sudah selesai?" tanya Rafa.


"Sudah. Ada hal penting apa tadi?"


"Ibuku mengajak keluargamu makan malam bersama di rumah."


"Keliru," terdengar suara Ibu Rafa di seberang telfon.


"Eh," Rafa terkejut karena Ibunya tiba-tiba berada dibelakangnya sambil bersandar di pintu balkon kamar Rafa.


"Sini, biar Ibu yang bicara sama dia." pinta Ibu Rafa.


Rafa pun menyerahkan HP miliknya kepada Ibunya.


"Halo, Nak." ucap Ibu Rafa.


Mendengar suara Ibu Rafa yang berbicara di seberang telfon, Larina langsung mengubah posisinya, ia bangkit dari rebahannya itu dan duduk dengan tergesa-gesa.


"Iya, Tante." sahut Larina.


"Itu tadi Rafa keliru, Tante ingin mengajak kamu dan keluarga kamu makan di luar. Teman Tante baru saja buka cabang Resto baru." jelas Ibu Rafa.


"Emmm begitu ya, nanti aku sampaikan kepada Ayah, Tan."


"Ibu kamu?"


"Ssstt, mereka bercerai." bisik Rafa pada Ibunya.


"Kenapa tidak bilang dari awal?!" Ibu Rafa memicingkan matanya.


"Maaf ya, Nak. Tadi Tante salah sebut."


"Hihi, iya tidak apa-apa kok, Tan. Tunggu sebentar, aku ke Ayah dulu."


"Iya,"


Tanpa mengakhiri telfon, Larina dengan lengkah cepat pergi menemui Ayahnya dikamarnya.


"Ayah," panggil Larina.


"Iya. Mau ambil kabel datanya? Ini Ayah sudah selesai." sambil menyodorkan kabel data milik Larina.


"Bukan. Ini Ibunya Rafa," ucap Larina sambil menyodorkan HP-nya.


Ayah Larina meraih HP Larina.


"Halo, dengan Ayah Larina disini." ucap Ayah Larina.


"Iya, halo. Malam, Pak. Saya Ibunya Rafa."


"Oh iya, iya. Selamat malam, Bu. Ada apa ya?"


"Begini, teman saya baru saja membuka cabang resto barunya di Kota. Saya berencana mengajak Anda dan Larina pergi makan malam bersama kami. Jadi, bagaimana Pak?"

__ADS_1


"Kamu mau?" tanya Ayah Larina kepada Larina dengan suara pelan.


Larina tersenyum dan mengangguk.


"Ohh, begitu. Kami tidak keberatan, Bu. Kami menerimanya."


"Wah, baguslah kalau begitu. Saya sangat senang mendengarnya."


"Kapan rencananya kita pergi?"


"Kalau besok malam, bagaimana Pak?"


Ayah Larina tampak sedang berpikir dan mengingat jadwalnya.


"Bisa, Bu."


"Baiklah, kita perginya besok malam, ya."


"Baik, Anda shareloc saja, Bu. Nanti saya dan Puteri saya langsung menuju lokasi."


"Jangan, Bu." bisik Rafa


"Tidak perlu, kita berangkat bersama saja."


Ayah Larina melempar pandangan pada Larina.


"Tapi... Kami hanya ada satu motor." ucap Ayah Larina yang merasa tidak enak.


"Tidak perlu cemas masalah kendaraan." timpal Ibu Rafa.


Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya mereka mengakhiri panggilan dan diputuskan besok malam mereka akan makan malam bersama di luar.


"Ini hanya misi untuk menyatukan Larina dengan Rafa." batinnya.


"Besok wifi dan CCTV-nya akan dipasang." ucap Ayahnya dan membuat Larina kaget dan tersadar dari lamunannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ayah Larina.


Larina menggeleng.


"Tidak ada kok. Memangnya besok Ayah pulang jam berapa? Nanti teknisinya malah datang disaat kita tidak dirumah."


"Ayah minta sore hari,"


Larina mengangguk.


"Baiklah. Ya sudah, aku tidur duluan ya, Yah."


"Iya, selamat malam." ucap Ayah Larina sambil tersenyum.


"Selamat malam." balas Larina sambil membalas senyuman Ayahnya.


Keesokan paginya...


Larina pamit kepada Ayahnya untuk pergi ke sekolah lebih dulu. Sesampainya di kelas, ia tidak mendapati keberadaan Rafa. Sampai jam pelajaran dimulai pun Rafa belum menunjukkan batang hidungnya.


'Ting' terdengar suara notifikasi dari HP Larina, beruntung suaranya tidak terlalu keras jadi seisi kelas tidak ada yang mendengarnya. Larina tetap memilih mengabaikan pesan yang ia terima tersebut dan terus mengikuti mata pelajaran dengan baik dan aktif.

__ADS_1


Jam istirahat pun tiba, Larina dengan santai merogoh HP-nya dan melihat ada pesan dari Rafa.


"Aku tidak masuk sekolah hari ini, aku sedang menemani Ibuku rapat."


"Emm, hati-hati." balas Larina.


"Larina, ke kantin yuk."


"Boleh." Larina setuju.


"Halo," sapa salah satu adik kelas Larina yang tiba-tiba muncul didepan kelas XII A.


Sontak Larina dan teman lainnya terkerjut.


"Astaga! Kau mengejutkan kami!" tegur salah satu teman kelas Larina.


"Hehe, maaf ya. Oh iya, aku kesini ada urusan sama kak Larina." ucapnya.


"Ada apa?" tanya Larina.


Adik kelasnya itu celingak-celinguk dan melihat ke dalam kelas XII A,


"Cari siapa?" tanya Larina lagi.


"Itu, biasanya ada laki-laki yang selalu bersamamu tuh." jawabnya dengan santai.


"Rafa?"


"Nah itu. Aku tidak melihatnya."


"Jadi kau sedang mencariku atau Rafa?" tanya Larina.


"Iya ih, jangan lama-lama. Kami mau ke kantin." ucap teman kelas Larina.


"Ya sudah, kakak-kakak lainnya duluan saja ke kantin."


"Dih, nih anak kenapa?!"


Larina menghela napas dan memasang wajah serius.


"Ada perlu apa?" tanya Larina lagi.


"Mau minta nomer HP kamu dong, kak."


Teman-teman Larina terdiam.


"Ada keperluan apa memangnya?"


"Mau kenal lebih dekat, kak. Boleh kan?"


Larina menggeleng.


"Maaf ya, tidak bisa." ucap Larina dengan ramahnya.


Teman sekelas Larina tertawa melihat adik kelasnya itu mendapat penolakan dari Larina.


"Kami permisi dulu, ya!" ucap teman kelas Larina sambil menarik tangan Larina.

__ADS_1


Adik kelasnya itu berkacak pinggang.


"Kok sulit?!" gumamnya.


__ADS_2