
Larina meringis kesakitan. Ia langsung berusaha mengambil ujung pulpen yang patah yang tertahan di kulit lehernya, dapat ia rasakan ada cairan yang keluar dari leher yang tertusuk pulpen tersebut.
Larina mengeluarkan ujung pulpen tersebut dan melihat ada darah di jari-jarinya. Nana terkekeh melihat reaksi Larina itu.
"Kenapa? Sakit ya?" Nana melangkah mendekat ke arah Larina.
"Kau menantangku, ya?" Larina balik bertanya.
Nana tertawa,
"Kasian, bayi besar mau nangis."
Larina menghela napas kemudian dengan cepat ia menendang lutut Nana ke arah samping dan membuat Nana kehilangan keseimbangannya, ia terjatuh ke lantai.
Dengan tatapan datar Larina langsung menginjak kaki Nana dan membuat Nana memekik kesakitan. Tidak berhenti disitu, Larina berjongkok kemudian menjambak rambut halus Nana, Nana kesakitan dan berusaha berontak namun Larina semakin menekan kaki Nana menggunakan kakinya.
"Kau pikir aku tidak bisa melakukan hal kasar?" tanya Larina dengan tatapan tajam.
"Lepaskan aku! Sakit!"
Larina mengambil darah segar dari leher belakangnya menggunakan 2 jarinya, kemudian ia mengoleskannya di dahi Nana.
"Anggap saja ini tanda kutukan untukmu. Kau tidak akan merasa percaya diri setiap kau bercermin setelah melihat noda darah ini di dahimu."
Larina melepaskan rambut Nana, ia kemudian berdiri.
"Jangan mudah meremehkan orang lain karena kau tidak tau isi kepala mereka." ucap Larina kemudian ia melangkah keluar dari kelas meninggalkan Nana yang masih terduduk di lantai.
Nana langsung memukuli lantai dan terus mengumpat dan menyumpahi Larina.
***
"Perih juga," gumam Larina sambil meraba lukanya yang agak lebar.
"Darahnya terus keluar, pula."
***
Sesampainya di rumah.
Ayah Larina kebetulan baru sampai di rumah saat Larina akan membuka pintu rumah.
"Nak," panggil Ayah Larina.
Spontan Larina menoleh ke arah sumber suara
"Eh, Ayah. Sudah pulang? Aku tidak dengar suara motor Ayah, haduh."
Larina mencium punggung tangan Ayahnya. Ayah Larina memutar tubuh Larina dan melihat darah di baju belakangnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Ayah Larina khawatir.
"Ayah tenang saja. Sudah kuberi hansaplast."
"Katakan, apa yang terjadi padamu?"
Larina menghela napas pelan kemudian tersenyum, Larina memutar balik tubuhnya menghadap Ayahnya.
"Tidak apa-apa. Ayah pasti lelah kan? Mau aku buatkan minum?"
"Tap-"
"Ssttttt! Aku tidak apa-apa,"
***
Malam harinya.
Usai makan malam, Larina pergi ke dapur untuk mencuci piring. Ayahnya tiba-tiba muncul dan berdiri disamping Larina.
"Nak, katakan pada Ayah apa yang terjadi padamu."
Larina tersenyum kecut.
"Ayah percaya tidak kalau di zaman ini masih ada kasus pembullyan?"
Ayah Larina tidak menjawab.
Larina tersenyum lagi.
"Kita tidak boleh tinggal diam. Ceritakan pada Ayah, Ayah akan melaporkan hal ini pada pihak sekolah. Kamu pindah sekolah saja."
Larina menghentikan aktivitasnya.
"Tidak." tolak Larina.
"Kenapa? Ini tidak bisa dibiarkan."
"Karena aku akan baik-baik saja, Ayah. Percayalah padaku."
"Aku sudah sejauh ini," batin Larina.
Akhirnya Larina berhasil meyakinkan Ayahnya untuk percaya kepadanya dan setuju Larina tetap ada di sekolah itu. Namun Ayah Larina akan tetap bertindak jika Larina sampai terluka lagi.
Disisi lain, di rumah Nana.
Nana duduk di tempat tidur sambil terus memegangi dahinya, rasa lengket darah itu masih melekat dan terasa masih ada darah di dahinya.
Ucapan Larina terus terngiang di telinganya, sambil menggigit bibirnya, Nana beranjak dari tempat tidur dan berdiri di hadapan cermin. Nana memandangi pantula dirinya di cermin, ia menelan ludah dan terus membayangkan masih ada darah di dahinya.
__ADS_1
"Tidak, tidak. Aku cantik, sangat cantik. Persetan dengan ucapan Larina itu!"
"Anggap saja ini tanda kutukan untukmu. Kau tidak akan merasa percaya diri setiap kau bercermin setelah melihat noda darah ini di dahimu"
"Tidakkk! AKU CANTIK!" teriak Nana, ia mengatur nafasnya.
Nana menyentuh dahinya kemudian ia merasa dahinya basah, dengan tangan gemetar Nana mengusap keningnya kemudian melihat ada darah di jari-jarinya.
"A-Apa ini?"
Nana lekas mengambil tisu dan mengelap dahinya, dilihatnya tidak ada cairan apapun, tisue itu masih terlihat putih bersih dan kering.
Nana kemudian menyentuh dahinya lagi menggunakan jarinya, ia merasakan dahinya kembali basah, nafas Nana mulai tidak teratur, jantungnya berdegup kencang.
Nana melihat jari-jarinya yang berlumur darah, ia juga merasakan ada cairan mengalir melewati hidungnya. Nana menyentuh ujung hidungnya menggunakan tangan kanannya dan melihat cairan berwarna merah. Nana lekas mengelapnya menggunakan tisu lagi namun tisu itu tetap terlihat kering dan bersih.
"Apa yang terjadi?!" Nana duduk dipinggir tempat tidurnya.
"Anggap saja ini tanda kutukan untukmu. Kau tidak akan merasa percaya diri setiap kau bercermin setelah melihat noda darah ini di dahimu,"
"Aargggh berisik!" Nana spontan menutup kedua telinganya.
Nana menunduk dan memandangi lantainya,
'Tes'
Jantung Nana seakan-akan berhenti berdetak melihat setetes darah menetes dari ujung hidungnya. Dengan gemetaran Nana menyentuh dahinya menggunakan tangan kirinya dan benar saja terasa basah.
Tangan kanan Nana mengambil tisu dan mengelap jari tangan kirinya yang berlumur darah, namun saat tisu itu menyentuh kulitnya, cairan darah itu menghilang dan tangan kirinya bersih.
Nana menggeleng ketakutan.
"Apa yang terjadi padaku?!"
Nana kemudian mengangkat kepalanya dan otomatis menghadap ke arah cermin dan melihat pantulan dirinya di cermin. Nana merasa sesak nafas saat melihat dahinya kehilangan kulit bagian luarnya dan terlihat dagingnya.
"Kyaaaaaaaaa!!!" pekik Nana dengan keras.
Wush! Nana langsung membuka matanya, tubuhnya bermandikan keringat dingin, ternyata itu hanya mimpi. Nana duduk kemudian menyentuh dahinya yang basah karena keringat, ia mengambil tisu kemudian mengelapnya dan terlihat tisunya basah karena keringat.
"Huufft, hanya mimpi." gumamnya pelan.
"Aku ketiduran dari sepulang sekolah tadi," lanjutnya,
Ia beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Nana merasakan tubuhnya tiba-tiba meriang. Kepalanya terasa sangat pusing dan cenut-cenut.
"Aduh, kenapa ini? Tadi aku baik-baik saja."
Nana membuka matanya lebar-lebar, ia teringat mimpinya. Ia segera bercermin dan melihat dahinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Syukurlah!"
Nana kembali ke tempat tidur, ia kemudian menghubungi teman-temannya dan mengatakan mungkin ia besok tidak masuk sekolah karena tidak enak badan.