
π Jam up pukul 20:00 - 23:00 wib
π Eps ini di up pukul 21:03 wib
***
Ayah Larina mengajak Larina keluar dari rumah malam ini juga, jadi Larina segera membereskan barang-barangnya.
Pukul 00:12,
Larina baru saja selesai mengemasi pakaiannya ke dalam koper dan juga barang lainnya, ia melipat selimutnya karena ia akan membawanya. Alasan ia membawa selimut tersebut karena ia menyukai selimut tersebut.
Disisi lain di kamar orang tuanya, Ayah Larina juga tengah mengemasi barang-barangnya.
"Keluar malam ini?" tanya Ibu Larina.
"Iya. Lebih cepat lebih baik," jawab Ayah Larina sambil tersenyum.
"Oh,"
"Kartu Keluarga dan lainnya aku bawa dulu untuk aku urus,"
"Oke."
Ibu Larina menyerahkan berkas-berkas tersebut, Ayah Larina menerimanya dan memasukkannya ke dalam koper besar miliknya.
Setelah selesai, ia memandang Ibu dari Anak gadisnya yang kini telah menjadi mantan istrinya itu.
"Aku minta maaf jika selama ini aku punya salah dan tidak bisa membuatmu bahagia dengan versi dirimu. Jika kau rindu pada Larina nantinya, aku tidak melarangmu untuk mengunjunginya."
"Hem, sampai kapanpun aku tidak akan merindukannya. Kau tidak perlu repot-repot." timpal Ibu Larina.
Ayah Larina hanya mengangguk, ia menghela napas berat, kemudian ia keluar dari kamar tersebut dan pergi ke kamar Larina.
Ayah Larina masuk ke dalam kamar Larina.
"Sudah?" tanya Ayah Larina.
Larina menoleh ke belakang dan mendapati Ayahnya yang sedang membuka pintu,
"Sudah, Yah." jawab Larina sambil tersenyum.
"Ayo," ajak Ayahnya.
Larina mengangguk, ia menutup jendela kamarnya dan menarik kopernya. Larina menggandang tangan Ayahnya dan mengikuti langkah Ayahnya keluar dari kamar Larina.
"Bu, aku pamit." ucap Larina di depan kamar orang tuanya.
"Ya," sahut Ibu Larina dari dalam kamar.
__ADS_1
Ayah Larina kembali tersenyum dan memeperat genggaman tangannya pada Larina. Mereka berdua keluar dari rumah tersebut.
Di perjalanan ....
"Ayah, kita mau kemana?" tanya Larina
"Kita cari kost-an atau rumah kontrak."
"Tidak usah, Yah."
"Memangnya kenapa?" tanya Ayah Larina.
"Kita ke toko saja (tempat Larina bekerja)"
"Kenapa kesana?"
"Nanti aku kasih tau sesuatu. Kita kesana saja,"
Ayah Larina diam sejenak, kemudian ia setuju.
"Baiklah,"
****
Sesampainya di toko, Larina membuka pintu dan menyalakan lampu.
"Ayo masuk, Ayah." ajak Larina.
"Kita tinggal disini saja," ucap Larina.
"Apa maksudmu? Kita tidak berhak tinggal disini. Dan apa kamu akan tetap bekerja disini?" Ayah Larina bingung.
Larina duduk di kursi dan meminta Ayahnya duduk juga, setelah itu ia mengaluarkan map dari kopernya, ia menyodorkannya pada Ayah Larina.
"Apa ini?" tanya Ayah Larina.
"Apa ini berisi daftar hutang?" tanya lagi Ayah Larina.
"Bukan lah," Larina terkekeh.
"Ayah buka dulu," ucap Larina.
Ayah Larina mengangguk, ia membuka tali map tersebut dan mengeluarkan isinya. Matanya membulat, Ia seolah tidak percaya dengan apa yang ada didepan matanya saat ini.
"Sertifikat ini-" Ayah Larina menggantung kalimatnya.
"Asli." lanjutnya
Larina mengangguk,
__ADS_1
"Iya,"
Ayah Larina kembali meneteskan air mata, ia sangat tidak menyangka bahwa Nenek pemilik toko ini telah memberikan semua miliknya kepada Larina, anak gadisnya. Ia sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Kita bisa tinggal disini, aku akan mengelola tempat ini dan tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah Nenek berikan kepadaku." ucap Larina sambil tersenyum.
Ayah Larina langsung mendekap Larina, ia menciumi pucuk kepala Larina sambil meneteskan air mata.
"Pegang apa yang kau ucapkan tadi, Nak."
"Pasti!"
Dalam hatinya, Ayah Larina terus mengucap syukur dan ia berharap Puterinya bisa menjalankan apa yang ia ucapkan tadi.
"Ayah selalu berfikir berulang kali atas permintaanmu tentang perceraian ini, tapi Ayah tidak bisa seenak jidat melakukan hal itu karena banyak pertimbangan, salah satunya Ayah tidak ingin kamu menjadi anak Broken Home,"
"Ayah, aku baik-baik saja."
***
Malam ini Larina dan Ayahnya tidur satu kamar karena belum membereskan barang-barangnya, Larina yang terlelap tiba-tiba terbangun karena merasakan ada tangan yang memeluknya. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati Ayahnya tengah memeluknya sambil dengan tertidur lelap.
Larina merasakan kehangatan dari Ayahnya, ia menyamankan posisinya.
"Di dunia novel ini, aku kembali merasakan hangatnya pelukan seorang Ayah yang telah lama tidak ku dapatkan di dunia asliku. Aku... Mulai nyaman berada disini." batinnya.
Larina kembali memejamkan mata karena sudah jam 3 pagi dan ia harus pergi sekolah besok pagi.
πππ
Keesokan paginya,
Larina memmbuka matanya dengan cepat, ia mengatur napasnya, ia melihat sekitar dan cahaya matahari telah menghangatkan ruangan tersebut.
"Waduh! Aku kesiangan?!"
Larina mengambil HP dan layar HP tersebut menunjukkan pukul 06:32 pagi.
Larina tidak melihat keberadaan Ayahnya disampingnya. Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan mencari Ayahnya.
"Ayah?" panggil Larina.
Larina pergi ke dapur dan melihat Ayahnya dengan pakaian lengkap siap pergi bekerja dan ia tengah memasak telur dan juga nasi.
"Maaf aku kesiangan," ucap Larina.
Ayah Larina menoleh ke arah Larina sambil memegang sutil, ia tersenyum.
"Tidak apa-apa, kau pasti sangat mengantuk. Cepat mandi, sebentar lagi sarapan siap."
__ADS_1
"Oke!" Larina tersenyum lebar, kemudian secepat kilat ia berlari ke kamarnya untuk mengambil handuk di kopernya kemudian lanjut ke kamar mandi,