Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 48 : Selamat Jalan


__ADS_3

"Semoga saja," Nenek tersenyum, ia menyeka air mata Larina.


"Kamu tidak perlu menahan tangismu, Nak. Berbagilah padaku walaupun itu adalah kesedihan. Memendamnya sendiri tidak mesti membuatmu kuat, ada beberapa hal yang memang harus kau bagikan pada orang lain. Kamu juga memerlukan orang lain dalam hidupmu, menangis tidak selalu memiliki arti kelemahan."


Larina mengangguk.


"Nenek ada sesuatu untukmu, anggap saja ini hadiah untukmu."


Larina menghapus air matanya.


"Nek, melihatmu sehat saja sudah membuatku senang."


"Tidak perlu seperti itu. Nenek ingin memberikan hadiah istimewa ini hanya untuk orang yang istimewa."


"Nenek bisa saja,"


Nenek pemilik toko mengambil sebuah map coklat dibawah bantalnya. Dengan senyum lebar ia menyodorkannya pada Larina.


"Apa ini?" tanya Larina bingung, ia tidak kunjung menerima map coklat tersebut.


"Hadiah untukmu."


"Terimalah," ujar Nenek pemilik toko yang melihat Larina tidak kunjung menerima pemberiannya.


Larina nenghela napas pelan kemudian menerima map coklat tersebut.


"Ini hadiah untukmu." tutur sang Nenek.


Larina melepas tali yang mengikat map tersebut, matanya membulat saat menyadari isi didalamnya, ia mengeluarkan beberapa berkas dari dalam map tersebut.


"Nek?" Wajah Larina sedikit pucat,


Nenek pemilik toko tersenyum.


"Sertifikat rumah dan tanah itu sudah diatasnamakan namamu, Nak."


Larina membisu, ia melihat namanya tertulis di sertifikat rumah dan tanah milik sang Nenek.


"Nenek tau darimana nama lengkapku?"


"Ayahmu." jawab sang Nenek


"Apa yang Nenek lakukan, sih?" sambil memasukkan kembali sertifikat itu ke dalam map.

__ADS_1


"Hanya itu yang bisa Nenek lakukan sebelum Nenek pergi."


Larina memejamkan mata.


"Aku tidak bisa menerimanya, maaf." tolak Larina dengan nada bicara yang pelan.


"Nenek mohon, terimalah."


Larina menggelengkan kepala.


"Aku tidak berhak, Nek."


"Itu adalah keputusan Nenek, tidak ada yang mengganggu gugat."


Larina masih terus menolak karena merasa ia tidak pantas menerima pemberian Nenek pemilik toko, namun Nenek pemilik toko terus berusaha meyakinkan Larina.


Larina menghela napas lagi dan akhirnya luluh.


"Kamu boleh mengelola tempat ini nanti ketika Nenek sudah pergi."


"Tidak baik berkata seperti itu, Nenek akan baik-baik saja." timpal Larina, ia bangkit dari duduknya dan meletakkan map coklat itu ke dalam lemari.


"Nenek ingin minta sesuatu," ucap sang Nenek dengan suara lirih, Larina menoleh dan tersenyum.


"Duduklah di dekatku," pinta sang Nenek sambil menepuk tepi tempat tidur disebelahnya.


Ia kemudian menyodorkan sebuah buku tipis pada Larina.


"Tolong bacakan." pinta sang Nenek.


"Ini? Buku tentang-" Larina menggantung kalimatnya sembari membuka halaman pertama.


"Kisah tentang Nenek?" sambungnya.


Sang Nenek mengangguk.


"Iya, kisah masa muda Nenek dulu. tolong bacakan, mata Nenek sudah tidak bisa melihat dengan jelas."


Larina mengangguk, ia mulai membacakan isi buku tersebut, sang Nenek meraih tangan Larina dan menggenggamnya.


Dengan senyum malu-malu, Nenek Larina memejamkan mata sambil menikmati suara Larina yang sedang membacakan kisah mudanya, awal ia bertemu dengan suaminya dan sampai saat ini.


Sesekali Larina mengintip untuk melihat sang Nenek yang terlihat memejamkan matanya.

__ADS_1


"Nenek tidur?" tanya Larina.


"Tidak. Lanjutkan saja."


Larina kemudian melanjutkan ceritanya. Dapat Larina rasakan perlahan genggaman tangan sang Nenek mulai melonggar,


"Nek?"


"Lanjutkan saja membacanya, Nenek sedikit mengangtuk."


Larina mengangguk, tidak lama setelah itu genggaman tangan sang Nenek melonggar kembali kemudian terlepas perlahan


'Deg' jantung Larina seakan berhenti berdetak.


Namun ia tetap melanjutkan ceritanya sambil menahan dadanya yang sesak, Larina menggenggam erat tangan sang Nenek yang sudah lemas.


"Tamat," Larina menutup bukunya, ia mengatur nafasnya, matanya berkaca-kaca, ia menoleh ke arah sang Nenek yang sudah berpulang.


"Tidak boleh menangis." batin Larina.


Larina berusaha tenang, ia meletakkan jari telunjuknya di depan lubang hidung sang Nenek, tidak ia rasakan nafas hangat itu.


Larina menempelkan telinganya ke jantung sang Nenek, namun detak jantung itu tak lagi ia dengar suaranya.


Larina merapatkan bibirnya, ia mengecek urat nadi sang Nenek. Ia memejamkan mata, ia terduduk di lantai sambil terus menggenggam tangan sang Nenek.


***


Tidak lama setelah itu banyak warga yang berdatangan ke kediaman sang Nenek, ada yang menyiapkan tempat untuk memandikan jenazah, ada yang menyiapkan tempat untuk mengkafani dan lainnya. Ayah Larina pun datang ke lokasi, ia langsung memeluk erat Larina dan mencium pucuk kepalanya.


Larina membalas pelukan Ayahnya, ia sama sekali tidak meneteskan air mata.


Ayah Larina mengelus kepala Larina dan menenangkannya, Larina hanya tersenyum dan mengatakan ia baik-baik saja.


Tiba proses memandikan jenazah, Larina mengguyurkan air perlahan ke atas tubuh Nenek yang mulai kaku itu, ia mengulanginya lagi untuk beberapa kali.


Sebelum seluruh tubuh sang Nenek diselimuti kain kafan, Larina mencium kedua pipi serta kening sang Nenek, senyum sedih terukir, ia kemudian membantu mengkafani jenazah.


Setelah selesai di shalatkan, jenazah diantar ke Pemakaman Umum, Larina masih belum meneteskan air mata setetespun, ia menyaksikan jenazah sang Nenek mulai ditimbun dengan tanah. Setelah selesai, Larina dan Ayahnya tidak langsung pulang. Mereka berdua masih terus mendoakan sang Nenek.


Sudah larut malam, Larina dan Ayahnya pergi meninggalkan Pemakaman, Larina sempat menoleh ke arah makam sebelum ia benar-benar meninggalkan tampat itu.


"Selamat jalan," ucapnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2