Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 55 : Diskusi Pojok Baca


__ADS_3

šŸ€Jam up pukul 20:00 - 23:00 wib


šŸ€Eps ini di up pukul 21:46 Wib


***


Hari ini adalah hari pertama mereka hanya tinggal berdua, senyum Larina terus terukir melihat Ayahnya yang terlihat lebih semangat daripada hari kemarin kebelakang.


"Bagaimana rasanya?" tanya Ayah Larina setelah beberapa suapan sarapan masuk ke mulut Larina.


"Selalu lezat." jawab Larina,


"Baiklah, kita berdua sudah terlambat beberapa menit. Setelah ini kita berangkat."


"Siap!"


***


Di sekolah...


Larina turun dari motor kemudian mencium punggung tangan Ayahnya kemudian melangkah masuk sekolah, setelah itu Ayah Larina juga bergegas pergi bekerja.


"Pagi, kak." sapa adik kelas yang berpapasan dengan Larina.


"Pagi, juga." balas Larina sambil melempar senyum ramah.


"Pagi, kak Larina!" sapa adik kelas lainnya.


"Pagi, juga."


"Apakah auraku pagi ini terlihat bagus?" batin Larina.


Larina menghentikan langkahnya karena baru menyadari sesuatu.


"Eh, bukannya ini sudah masuk jam pelajaran, ya? Kenapa masih banyak anak-anak yang berlalu-lalang?" gumam Larina sambil memperhatikan orang-orang disekitarnya.


Ia melihat banyak siswa-siswi yang beraktivitas di luar kelas. Ia pun segera bergegas menaiki tangga dan menuju kelasnya. Sesampainya di kelas, ia melihat teman-temannya sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak ada guru yang mengajar.


"Loh," Larina heran.


"Ini jamkos atau jam-ku yang eror?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Baru datang?" tanya Rafa yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

__ADS_1


"Hehe, iya. Aku terlambat hari ini." jawab Larina sembari dengan spontan menoleh ke arah Rafa.


Rafa tersenyum tipis, ia mengambil botol minum yang kosong di kuping tas Larina. (Itu loh yang ada disamping tas punggung/tas selempang, yang biasanya bisa digunakan untuk meletakkan barang-barang lain selain buku.)


Tanpa bicara, Rafa langsung menggantinya dengan botol air minum yang baru ia beli di kantin.


"Kau pasti terburu-buru tadi,"


"Terimakasih banyak," ucap Larina, ia merogoh uang di sakunya namun Rafa langsung melarangnya.


"Tidak perlu diganti, aku tadi beli dua."


"Benar tidak apa-apa? Aku tidak enak,"


Rafa hanya mengangguk.


"Jam Mata pelajaran pagi ini kosong, para Guru ada rapat lagi, jadi agar lebih produktif sebaiknya kita adakan diskusi para anggota pengurus saja di kelas." tutur Rafa


"Ooh, jamkos. Pantas saja anak-anak lainnya banyak yang main di luar kelas. Masalah diskusi, aku setuju."


Rafa dan Larina pergi ke bangkunya masing-masing, Larina meletakkan tas dan meminum air sedikit air yang diberikan oleh Rafa.


"Untuk para pengurus kelas, kita rapat sekarang." ucap Rafa.


"Oke," sahut semua yang merupakan anggota pengurus kelas.


Setelah pembukaan, Rafa menuturkan sarannya dan mempersilahkan anggota lainnya untuk memberi saran juga. Larina mengangkat tangan, semua mata anggota pengurus kelas tertuju pada Larina.


"Oke, sebelumnya terimakasih atas ide dari ketua kelas kita. Aku ingin menambahkan, bagaimana kalau pojok bacanya kita ini memakai etalase saja? Tidak lagi papan kayu yang digantung atau dipaku di tembok. Mengingat nanti bekas-bekas pakunya itu menyisakan lubang di temboknya. Dan juga, menurutku selain buku-buku umum, kita sebaiknya menyediakan buku-buku tentang materi pelajaran yang berkaitan dengan Ujian Nasional dan Ujian-ujian lainnya yang pastinya akan kita laksanakan nantinya." tutur Larina.


"Etalase itu kan mahal, Larina." sanggah teman anggota lainnya.


"Betul, jika menggunakan dana dari sekolah, kita harus membuat proposal dulu. Dan karena sekolah saat ini sedang ada kegiatan lain, soalnya para guru sering rapat, kemungkinan proposal kita akan di tolak sih apalagi alasannya hanya karena tembok berlubang akibat bekas paku." sanggah teman lainnya.


Rafa diam mendengar percakapan teman-temannya.


"Nah, itu tuh. Kan kita bisa ajukan dana dari sekolah. Mengenai gagal tidaknya, kita coba saja dulu. Toh kalau pakai etalase itu kan lebih awet, kalau hanya pakai papan kayu biasa takutnya tidak tahan lama. Pemakaian etalase ini ada plus minusnya, hanya saja dalam penggunaan jangka panjang, aku lebih menyarankan pakai etalase saja. Masalah proposal, aku tidak keberatan untuk membuatnya." bela Larina


"Aku sih setuju dengan Larina." ucap teman anggota lainnya.


"Aku ada saran, bagaimana kalau menggunakan rak kayu?" ucap anggota lainnya.


"Sama saja mahal itu, mending etalase. Ya sama-sama mahal sih,"

__ADS_1


"Ho'oh sama-sama mahal, memang bagus pakai etalase, tapi kendala kita di biaya."


"Kan kata Larina lebih baik kita coba saja dulu untuk membuat proposalnya."


"Memangnya yakin bisa di terima? Larina juga baru kali ini bergabung menjadi pengurus kelas loh, bisa dia membuat proposal?"


'Tuk tuk tuk' Rafa mengetuk meja untuk mengalihkan perhatian yang bertujuanĀ Ā  mencegah emosi yang meluap diantara para anggota pengurus kelas.


"Kita pertimbangkan dari segi penggunaan dulu, etalase sepertinya lebih awet dengan perawatan yang benar dan tidak perlu pakai paku di tembok. Kalau pakai papan kayu, harus di paku dulu dan kita tidak tau adik kelas nantinya akan merubah letaknya atau tidak, kalau pakai etalase tinggal digeser saja. Kalau pakai rak terbuat dari kayu, itu mahal juga. Pakai etalase juga mahal tapi bukunya bisa terlihat karena kacanya transparan, kalau rak kayu tidak terlihat nantinya. Ketiganya membutuhkan perawatan yang benar. Dari segi harga, rak kayu dan etalaseĀ sama-sama mahal." jelas Rafa,


"Opsinya adalah,



Pakai etalase \= harga mahal, tampilan menarik, tidak melukai tembok dan muat banyak buku.


Rak kayu \= harga mahal juga, buku didalamnya tidak terlihat, tidak melukai tembok dan muat banyak buku.


Papan kayu\= harga tidak mahal, melukai tembok, buku berinteraksi dengan udara secara langsung dan terus menerus, tidak dapat memuat buku sebanyak etalase dan rak kayu."



"Pikirkan opsi-opsi tersebut dan tentukan pilihan kalian. Suara terbanyak akan di pilih, kemudian kita akan diskusikan dengan anak-anak lainnya."


"Aku pilih etalase saja."


"Sepertinya aku juga pilih etalase saja."


"Proposalnya bagaimana?"


"Aku yang akan membuatnya."


"Aku saja." Jawab Rafa dan Larina bersamaan, kedua saling berhadapan.


"Biar aku saja," ucap Rafa.


"Baiklah, aku nanti akan ikut membantu."


"Oke."


"Jadi, kita lanjutkan memilih opsinya."


Diskusi terus berlanjut dan melahirkan keputusan untuk memakai etalase saja dengan proposal yang akan dibuat oleh Rafa dan Larina akan membantunya. Setelah selesai, Rafa meminta semua siswa-siswi kelas XII A untuk berkumpul di kelas dan menyampaikan hasil rapat dadakan itu. Seisi kelas setuju dengan hasil Rapat.

__ADS_1


"Jadi, nanti aku dan Larina yang akan membeli buku-buku yang sekiranya dapat membantu kita. Kalian juga boleh memberikan saran buku apa saja yang harus kita hadirkan."


Mendengar hal tersebut membuat Nana panas namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.


__ADS_2