Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 7 : Tidak Semua yang Kita Rencanakan Bisa Terlaksana dengan Mulus


__ADS_3

Setelah selesai urusannya di kamar mandi, Larina bergegas menuju kelasnya. Ia diam membisu saat melihat tas sudah penuh coretan menggunakan spidol dan pulpen.


Larina memandangi tas nya, ia menahan emosinya. Larina menoleh ke arah Doni dan kelompoknya yang tertawa melihat ekspresi Larina. Larina membuang nafas berat, ia meraih tas nya dan membukanya. Ia kembali dibuat emosi dengan kondisi tas nya yang sudah penuh berisikan sampah-sampah palstik makanan bahkan tisu bekas mengelap ingus.


"Kalian.." Larina mengepalkan tangan. Ia mengatur nafasnya.


Setelah tenang, Larina berjalan keluar kelas sambil membawa tasnya. Ia mengeluarkan sampah-sampah di dalamnya ke dalam tempat sampah.


"Huufft, nyatanya hal ini tidaklah semulus yang ku inginkan." Gumam Larina sambil terus menenangkan hatinya


Matanya berkaca-kaca karena gagal untuk yang kedua kalinya.


****


Sepulang sekolah.


Larina masuk ke dalam rumah, saat melewati ruang tamu ia tidak sengaja menyenggol bunga hias imitasi milik Ibunya.


"Suara apa itu?!" Ibu Larina keluar dari kamarnya sambil memasang wajah seramnya.


Larina membungkuk untuk mengambil barang yang ia jatuhkan itu.


"Larina?! Apa yang kau lakukan?!" Ia melangkah dengan cepat.


Ibu Larina merbut bunganya dari tangan Larina dan langsung memukul lengan Larina.


"Maaf. Aku tidak sengaja." ucap Larina sopan.


"Tidak sengaja, tidak sengaja. Punya mata kan? Hati-hati! Ini mahal."


"Iya, Bu. Maaf."


"Bisa tidak sih kau ini jangan membuatku kesal setiap hari, hah?!" Ibu Larina meletakkan kembali bunga hias imitasi itu


"Bu?" Larina menautkan kedua alisnya


"Aku memang bukan anakmu, tapi saat ini aku berada dalam tubuh anakmu. Meski begitu, aku juga ikut merasakan sakit hati saat mendengar ucapan Ibu Larina ini." Batin Larina


"Apa?! Berani melawanku, hah?!" mata Ibu Larina melotot.


"Aku ini anakmu, bisakah Ibu sedikit mengurangi kata-kata kasar semacam itu? Cukup teman-temanku yang membullyku, keluargaku jangan."


"Berisik. Salah siapa lahir dengan kondisi jelek begini?! Kau bahkan tidak mirip dengan Ibumu ini."


"Aku bahkan belum pernah dihina oleh Ibu Kandungku di Dunia asliku." Batin Larina


"Cukup kamu saja yang tidak sempurna, jangan barang-barang mahalku!" imbuh Ibu Larina, ia kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya.


Larina diam mematung, matanya kembali berkaca-kaca mendengar itu semua. Larina membuang nafas berat, ia menyeka setetes air mata di sudut matanya kemudian ia melangkah masuk ke kamarnya.


Larina masuk ke kamar dan menutup pintunya. Ia terduduk di lantai sambil menyeka air matanya yang kini mulai deras mengalir.

__ADS_1


"Rasanya sakit sekali! Entah aku yang ikut lemah karena berada dalam tubuh Larina atau memang aku ini lemah?" dengan suara bergetar dan sesenggukan.


Ia tidak sanggup menahan tangisnya, kata-kata yang dilontarkan oleh Ibu Larina sangat menyakitkan baginya.


"Aku merasa tidak sanggup, hiks!" sambil menyeka air matanya.


"Tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Misiku adalah mengubah nasib Larina, jika aku seperti ini maka aku akan gagal dan aku akan mati muda seperti yang ada dalam novel. Tidak, aku tidak mau! Ya, aku harus ingat siapa aku!" ucapnya penuh semangat.


"Aku bisa, pasti dan harus!!"


Larina berdiri dan mengambil handuk. Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


☘☘☘


Keesokan paginya.


Larina bangun saat cahaya matahari pagi masuk ke kamarnya melalui celah-celah tirai jendela kamar. Ia mengucek matanya perlahan dan mengumpulkan keseluruhan kesadarannya.


Rasa malas tiba-tiba menyapa dirinya, ia melihat jam dinding dan memutar mata bosan.


"Aku tidak ingin masuk sekolah dulu. Males!" Larina menghela nafas.


"Aku malas bertemu dengan para pembully sia*lan itu." Lanjutnya


Larina bangun dan langsung menuju kamar mandi.


***


"Selamat pagi, Ayah."


"Kok masih belum berseragam?" tanya Ayah Larina


"Absen dulu hari ini, Yah. Oh iya, Larina mau minta uang dong."


"Uang jajan?


Larina menggeleng.


"Larina mau membeli buku. Bosan kalau hanya membaca buku sekolah. Ingin buku yang lain."


"Oke. Tapi alfa hanya hari ini loh, ya. Besok harus sekolah."


"Siap!"


"Oke. Sarapan dulu. Nanti Ayah kasih uangnya."


"Terimakasih banyak, heheh. Maaf ya~" sambil tersenyum lebar.


"Tidak usah bolos-bolos. Itu kamu sekolah bayarnya pakai uang, bukan pakai daun."


"Iya Bu, Larina tau itu. Aku hanya ingin healing sebentar saja. Toh aku juga akan mengirim surat izin nanti."

__ADS_1


"Hm." Ibu Larina kembali ke dapur untuk mengambil menu makanan lainnya.


"Jangan melawan terus sama Ibumu,"


"Iya, Yah. Maaf." Larina tersenyum.


***


"Ini, Pak. Terimakasih." ucap Larina sambil menyodorkan uang pada akang gojek yang dipesankan Ayahnya.


"Terimakasih, Dek."


Larina mengangguk. Ia berdiri di sebuah toko buku yang bisa dikatakan besar dan luas yang ada di pusat kota.


"Akhirnya, aku bisa baca buku lainnya." gumamnya sambil melangkah masuk ke dalam.


"Aku rindu aroma buku-buku baru seperti ini." ucapnya sambil menyusuri lorong-lorong berisikan rak buku yang berjejer rapi.


Asik memandangi buku-buku yang tersusun rapi, Larina terus berjalan tanpa melihat ke arah depan


'Brugh'


"Aargh!"


Larina membulatkan mata.


"Ya ampun! Maaf!"


Larina menabrak lelaki yang tak lain adalah Rafa.


Dalam novelnya, Larina menyukai Rafa diam-diam begitupun sebaliknya. Namun karena Larina terlanjur mati duluan, mereka akhirnya gagal bersatu.


"Maaf, maaf!" Adinda yang berada di dalam tubuh Larina merasa sangat malu.


"Tidak apa-apa." sahut Rafa


Larina mengulurkan tangannya untuk membantu Rafa namun Rafa mengabaikannya, ia berdiri lalu meninggalkan Larina begitu saja.


"Dih, dingin banget! Lebih dingin dari yang ku baca di novel." Batin Larina


Larina menepuk jidatnya sendiri.


"Malu, astaga! Sudah mau dibantu tapi diabaikan! Ckckck."


Di sisi lain, Rafa merasakan jantungnya hampir lepas dari sarangnya. Ia memukul jidatnya agak keras karena telah mengabaikan bantuan Larina.


"Dia pasti akan berfikir aku orang yang sombong." gumamnya


***


Sesampainya di rumah, Larina kembali mendapat omelan dari Ibunya yang terus mengatakan Larina boros. Ia mengabaikannya dan langsung masuk ke dalam kamar untuk membaca buku barunya itu.

__ADS_1


"Mungkin aku harus fokus ke pendidikan dulu ya? Nanti cintanya nyusul. Hihi." ucap Larina sambil meletakkan buku barunya di meja.


__ADS_2