
Malam hari...
Malam itu jenazah Ayah Rafa akan di kebumikan. Selama proses memandikan hingga memakamkan jenazah Ayah Rafa, Rafa tidak menangis walau kesedihan mendalam jelas terukir diwajahnya.
Larina ikut berdoa disamping makam Ayah Rafa. Rafa berdiri dan diikuti Larina serta Ibunya Rafa.
Rafa menoleh ke arah Larina.
"Terimakasih," ucap Rafa.
Larina tersenyum kecut.
"Nanti, setelah sampai di rumah, kau tidak perlu menahan tangisanmu. Meskipun kau laki-laki, kau tetaplah manusia." ucap Larina.
Rafa hanya tersenyum simpul. Ia mendekat dan berdiri disamping Ibunya, Rafa langsung memeluk Ibunya yang terus menangis.
Mereka bertiga bergegas pergi dari tempat pemakaman.
****
Di rumah Rafa.
"Saya pamit pulang," pamit Larina pada Ibu Rafa.
"Iya. Terimakasih ya sudah mau ikut kesini dan bantu-bantu."
Larina tersenyum lebar,
"Biar aku yang mengantarmu pulang." ucap Rafa.
"Eh, aku baru saja akan menelfon Ayahku."
"Tidak perlu."
Setelah berpamitan pada Ibunya, Rafa menuntun Larina masuk ke dalam mobil.
"Apa aku tidak merepotkanmu?" tanya Larina.
Ia duduk di kursi penumpang, ia menggeser tubuhnya karena Rafa ikut duduk dikursi penumpang dibelakang pegemudi.
"Tidak." jawab singkat Rafa.
"Jalan, Pak."
"Baik Tuan Muda."
***
"Terimakasih banyak," ucap Larina setelah turun dari mobil dikuti Rafa.
"Aku juga mengucapkan terimakasih,"
Ayah Larina keluar dari dalam rumah saat ada mobil berhenti di halaman rumahnya.
"Aku pulang," ucap Larina sambil tersenyum lebar.
"Ya ampun, Ayah kira kamu kemana sampai malam begini."
"Saya minta maaf, Pak." ucap Rafa.
"Ayahnya Rafa meninggal, aku habis dari sana." bisik Larina pada Ayahnya.
Ayah Larina mengangguk.
"Iya, tidak apa-apa. Terimakasih juga karena telah mengantarnya pulang." ucap Ayah Larina.
Ayah Larina menawarkan Rafa untuk mampir namun Rafa menolak karena ia harus menemani Ibunya yang tengah bersedih dirumahnya.
Rafa berpamitan dan segera pergi dari rumah Larina.
🍀🍀🍀
Keesokan paginya, di sekolah.
Larina yang baru masuk melewati gerbang sekolah melihat Rafa di depannya. Ia segera menyusul Rafa, ia mengurungkan niatnya untuk menyapa Rafa karena melihat raut wajah Rafa yang terlihat sangat sedih.
__ADS_1
Rafa menghentikan langkahnya, sontak Larina terkejut dan ia ikut menghentikan langkahnya. Rafa menoleh ke arah Larina. Dilihatnya wajah Rafa terlihat tenang seperti biasanya.
"Kenapa hanya diam?" tanya Rafa.
Larina hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Rafa. Raut wajah sedihnya langsung berubah, Rafa tersenyum tipis dan mengajak Larina untuk pergi ke kelas mereka masing-masing.
Sesampainya di kelas, Larina yang baru masuk disuguhi raut wajah tak sedap dari Bella dan kawan-kawan. Bella memicingkan mata, Larina mengendikkan bahu dan ia tidak peduli akan hal itu.
Istirahat pun tiba.
Larina pergi ke kelas XI A untuk menemui Rafa namun Rafa tidak ada di kelasnya.
Di novel, setelah kepergian Ayahnya, Rafa sering menyendiri dan mengakibatkan ia tidak bisa bergaul dengan teman lainnya. Adinda yang mengetahui itu berniat untuk mengubah hal tersebut. Ia segera mencari Rafa.
Setelah 20 menit mencari Rafa tidak menemukannya, satu-satunya tempat yang belum ia datangi adalah atap sekolah. Ia segera menuju ke atap sekolah sambil membawa minuman dan bekal makanan yang ia bawa dari rumah.
'Ceklek' Larina membuka pintu menuju atap sekolah.
Benar saja, Rafa sedang duduk berjemur dan bersandar ditembok. Larina melangkah perlahan ke arah Rafa.
"Rafa," panggil Larina.
Rafa mengangkat pandangannya dan mendapati Larina ada didepannya.
"Sedang apa disini? Panas loh." Larina ikut duduk disamping Rafa.
"Tidak ada." jawab Rafa lemas.
"Kehilangan orang yang sangat kita sayangi itu memang menyakitkan. Namun hal itu jangan sampai membuat diri kita lemah," ucap Larina. Ia membuka tutup botol minum yang ia bawa dan meneguk airnya.
Larina menyodorkan satu botol minuman lainnya pada Rafa, Rafa tidak langsung menerimanya melainkan memandangi botol ditangan Larina itu.
"Ambil ini, kau juga mahluk hidup. Butuh makan dan minum." ucap Larina lagi
Rafa menerima botol tersebut kemudian ia meminumnya.
"Aku merasa tidak punya kekuatan untuk hidup. Melihat Ibuku yang terus menangis sepanjang malam membuatku semakin hancur." tutur Rafa sedih.
"Masa-masa berat ini akan tetap berlalu seiring berjalannya waktu. Kau harus tetap semangat demi Ibumu!"
"Berbicara seperti itu mudah bagimu, tapi sulit bagiku untuk melakukannya. Aku kehilangan Ayahku."
Senyum cerah Larina berubah menjadi senyum kecut.
"Kau tidak tau kalau aku telah kehilangan kedua orang tuaku, bukan salah satunya lagi," batin Larina.
"Mungkin aku hanya bisa memberimu semangat lewat perkataanku," ucap Larina sambil tersenyum.
Melihat perubahan raut wajah Larina yang tadinya senang namun seketika berubah ketika ia mengatakan hal itu tadi membuat Rafa merasa bersalah.
"Maaf," ucap Rafa.
"Ah, tidak masalah. Oh iya, kau pasti tidak makan dari semalam kan? Aku bawa bekal 2 nih"
Larina meletakkan bekal makanan di depan Rafa.
"Tau darimana?" tanya Rafa
"Asal tebak saja sih, hehe. Ayo makan, aku masak sendiri. Ya walaupun lauknya seadanya saja."
Rafa perlahan mengambil kotak makanan tersebut dan membukanya.
"Walaupun sedang sedih, tubuhmu tetap butuh nutrisi." ucap Larina, ia melahap makanannya.
Rafa memasukkan sesendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya, ia tertegun.
"Ada apa?" tanya Larina karena melihat Rafa yang terdiam.
"Rasanya enak," jawab Rafa.
Larina tersenyum. Rafa tidak percaya bahwa ini adalah masakan Larina, anak SMA yang culun dan menjadi korban bullying.
"Nah, kalau begitu makanannya harus dihabiskan."
Rafa mengangguk.
__ADS_1
"Aku tidak yakin ini masakanmu," goda Rafa.
"Itu masakanku lah. Di dunia asliku, aku sudah terbiasa masak sendiri."
Larina membulatkan mata karena telah mengucapkan kata-kata yang harusnya tidak ia katakan.
"Eh?" Rafa bingung.
"Dunia asli?"
"Eee begini. Kan aku di sekolah menjadi anak culun, nah di rumah itu aku menjadi karakter yang lain. Ketika aku disekolah, aku terlihat tidak bisa apa-apa, tapi kalau di rumah atau yang ku sebut dunia asliku, aku banyak melakukan hal-hal yang tidak ku lakukan di sekolah."
"Ohh, misalnya memasak?" tanya Rafa.
"Nah, betul!! Nah, itu."
Rafa mengangguk faham.
"Ya ampun, mulut!" batin Larina.
"Ya sudah, dilanjutkan makannya. Keburu jam pelajaran selanjutnya dimulai." tutur Larina,
Rafa mengiyakan. Setelah beberapa menit, mereka selesai makan.
"Bagaimana kau bisa tiba-tiba menjadi seperti ini?" tanya Rafa tiba-tiba.
"Maksudnya?"
"Kau tiba-tiba saja menonjol,"
Larina mengangguk pelan.
"Aku merasa sudah tiba saatnya aku menonjolkan diriku. Orang sepertiku kan sulit dikenal karena aku bukan siapa-siapa. Bukan konglomerat, bukan gadis cantik yang mudah dinotice, intinya aku sangat berada di bawaaahhhh."
"Tapi sekarang kau mulai di pandang, bahkan ku lihat ada beberapa siswa-siswi yang datang padamu untuk diajari beberapa hal dalam masalah pelajaran."
"Hu'um, aku bersyukur karena usahaku tidak sia-sia." timpal Larina.
"Kau bahkan bisa mengalahkanku dalam lomba itu,"
"Heheh, maaf ya," Larina terkekeh.
"Sebentar lagi jam pelajaran selanjutnya akan dimulai. Sebaiknya kita segera kembali." ucap Rafa, ia berdiri.
Larina ikut berdiri.
"Mana kotak bekalku," pinta Larina.
"Tidak perlu. Aku akan mengembalikkannya besok." tolak Rafa,
Tidak mau mendapat penolakan dari Larina, Rafa segera bergegas pergi dari atap sekolah.
****
Keesokan harinya,
Rafa datang ke kelas XI B. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Larina yang ternyata duduk di bangku belakang. Rafa menghela napas kasar saat mengetahui Larina duduk di belakang Doni.
"Waaah, Rafa ganteng banget."
"Iya, sayangnya kita beda kelas."
"Ganteng, huhu."
Heboh para siswi di kelas XI B melihat Rafa. Para siswi tersebut sontak terdiam saat meliha Rafa melangkah ke arah bangku Larina.
"Ini, sesuai perkataanku kemarin. Ku kembalikan hari ini," ucap Rafa sambil meletakkan kotak makanan milik Larina.
Larina tersenyum, ia menerima kotak makanan tersebut namun ia merasa kotak tersebut ada isinya. Ia langsung membukanya.
"Kok ada isinya?" tanya Larina.
"Itu dari Ibuku," jawab Rafa santai.
...****************...
__ADS_1
🍀Maaf ya, aku lagi kurang fit. Jadi bolong-bolong up nya😚