
๐Jam up pukul 20:00 - 23:00 WIB
๐ Eps ini di up pukul 20:26 WIB (05-Feb-2023)
๐๐๐
Doni yang masih bingung harus kemana akhirnya berhenti di tepi jalan, sekali lagi ia mencoba menelfon Larina. Bersamaan dengan hal itu, Larina pergi ke kamarnya untuk mengambil HP-nya.
'Ddrrttttt'
Larina langsung menerima panggilan masuk dari Doni
"Halo,"
"Halo, syukurlah akhirnya kau angkat telfonku." Doni lega.
"Iya. Ini siapa ya? Suaramu mirip Doni, teman kelasku."
"Iya ini aku Doni, kau dimana sekarang?"
"Oh, Doni toh. Aku di rumah. Ada apa?"
"Rumah mana? Aku dari rumahmu tadi tapi kata Ibumu kau tidak lagi disana."
"Oooh, aku di rumah baruku. Di toko tempatmu bertemu denganku saat itu."
"Oke, aku segera kesana."
"Oke,"
Setelah itu Larina langsung mengakhiri telfon.
"Ada hal penting apa ya? Apa dia jatuh hati padaku?" guman Larina, ia terkekeh pelan dan merasa geli membayangkan Doni jatuh hati padanya.
Sekitar 15 menit kemudian, sebuah motor berhenti di halaman toko Larina yang tak lain adalah Doni, ia melihat dari luar dan mendapati Larina tengah sibuk di kasir dan Ayahnya yang sedang memasukkan belanjaan pembeli ke dalam kantong plastik dan juga karton.
Melihat Larina yang serius bekerja membuat Doni melihat sisi lain Larina, ia memangku wajah dan terus memandangi Larina. Terlebih saat Larina menyeka keringat di pelipisnya, ia merasa Larina ternyata sangat manis.
"Ternyata dia manis juga," pujinya dengan suara pelan.
"Entah sejak kapan aku jadi begini," lanjutnya.
Rasa-rasanya hati Doni meleleh melihat Larina yang tersenyum ramah pada para pembelinya.
"Orang sebaik dirinya, kenapa aku sejahat itu sampai membully-nya, ya? Mana dia tidak pernah membalasku."
Ayah Larina tidak sengaja menoleh ke arah luar toko dan mendapati ada Doni yang duduk diatas motornya sambil terus melihat ke arah Larina dan Ayahnya.
"Ada teman kamu," tutur Ayah Larina sambil menunjuk ke arah luar toko menggunakan pandangannya.
Larina menoleh ke arah luar toko, Doni tersadar dan tersenyum garing. Larina pun pergi ke luar toko dan menghampiri Doni.
"Sudah lama disini?" tanya Larina.
"Baru saja."
__ADS_1
"Ohh, maaf aku sedang sibuk. Ayo masuk dulu ke rumah." ajak Larina.
Doni pun setuju, ia mengikuti langkah Larina yang masuk ke dalam toko kemudian dibalik pintu yang ada di salah satu sisi toko tersebut ada ruangan lainnya.
"Oohh, rumahnya digabung sama toko?" tanya Doni.
"Iya. Duduk dulu. Aku ambilkan minum. Mau minuman hangat atau dingin?"
"Tidak perlu repot-repot." tolak Doni.
"Tidak apa-apa. Jangan pura-pura menolak kalau aslinya kau mau."
"Boleh deh, kopi manis saja."
"Oke."
Larina pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Setelah selesai, ia pun menyuguhkannya pada Doni.
"Silahkan diminum." ucap Larina sambil duduk di kursi dan menghadap ke Doni.
"Iya, terimakasih." Doni pun menyeruput kopi yang masih panas itu.
"Terlalu manis?" tanya Larina.
"Pas!" jawab Doni sambil tersenyum.
"Syukurlah. Oh iya, ada kepentingan apa?" tanya Larina to the point.
"Eeee sebenarnya, aku tidak tau juga apa yang membuatku kesini untuk menemuimu."
"Jadi, aku hanya ingin bertemu... Denganmu." ungkap Doni dengan suara yang semakin mengecil dan menundukkan wajahnya.
"Dilihat dari gerak-geriknya, jangan-jangan dia benar-benar tertarik padaku?" batin Larina.
Larina tidak berkata apapun, ia hanya diam menunggu Doni yang berusaha mengeluarkan kata-kata.
"Soalnya di sekolah, kita jarang bertemu. Kalaupun bertemu hanya saling melihat saja tanpa bertegur sapa." lanjutnya.
"Duh, bicara apa sih aku ini?" Batin Doni.
Mereka berdua sama-sama diam membisu. Beberapa menit kemudian Doni mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya, benda tersebut berbentuk kotak kecil dan bertalikan pita.
"Ini untukmu." ucap Doni dan meletakkan kotak kecil itu di meja.
"Apa ini?" tanya Larina.
"Itu hadiah untukmu."
"Kado, kah? Tapi hari ulang tahunku sudah lewat."
"Iya aku tau, maaf baru memberimu hadiah sekarang." tutur Doni.
Larina meraih kotak kecil tersebut dan membuka tali pitanya, ia membuka kotak tersebut dan melihat sebuah kalung emas di dalamnya.
"Semoga kau suka." ucap Doni.
__ADS_1
Larina mengeluarkan kalung emas tersebut dari dalam kotak dan memandanginya. Dibawah ini contoh kalungnya.
Catatan : Foto ini hanya sebagai ilustrasi yang diambil dari google
"Ini kalung emas?" tanya Larina.
"Iya. Kata Ibuku, kebanyakan perempuan suka dengan perhiasan." jawab Doni.
Larina meletakkan kalungnya dan melihat surat kalungnya yang berisikan informasi jenis kalung sampai harganya.
Melihat harga kalungnya diatas Satu Juta tersebut Larina langsung memasukkan kembali kalungnya ke dalam kotak.
"Terimakasih, tapi ini terlalu mahal. Aku tidak bisa menerimanya." ucap Larina sambil menutup kotak tersebut.
"Tidak apa-apa, aku beli pakai uangku sendiri."
"Hasil memalak diriku dari dulu?" goda Larina sambil terkekeh.
"Bukan lah. Aku sangat minta maaf atas perbuatanku itu. Aku akan mengembalikan semua uang yang aku palak darimu." Doni merasa bersalah.
"Dimaafkan sih, tapi aku tidak akan pernah lupa." ucap Larina sambil tersenyum manis.
Mendengar hal tersebut membuat Doni semakin merasa bersalah. Doni terus meminta agar Larina menerima hadiah darinya, namun Larina juga terus menolaknya dengan alasan harganya yang mahal serta disisi lain ia mengerti bahwa Doni tertarik padanya dan jika Larina menerima hadiah dari Doni makan sama saja memberikan harapan kepada Doni, dan ia tidak mau itu terjadi sebab itu akan menghalangi misi Larina untuk bersatu dengan Rafa.
"Aku sangat berterimakasih karena kau telah repot-repot membelikanku kalung ini. Tapi aku minta maaf, bukan karena aku tidak mau menghargai pemberianmu ini, aku tidak bisa menerimanya. Walaupun kita adalah teman, tetapi tidak mesti aku selalu mengiyakan apa yang kau mau." tutur Larina.
Doni mengangguk.
"Baiklah, tidak masalah. Tapi kau menolak hadiah ini bukan karena kau membenciku, kan?"
"Tidak. Aku tidak benci pada siapapun." jawab Larina.
"Aku sadar aku punya banyak salah padamu. Dan aku sadar, rasanya kejahatanku dibalas kebaikan itu sangat menyakitkan dan membuatku dihantui rasa penyesalan. Sekali lagi aku minta maaf."
"Oke."
Mereka berdua kembali terdiam, Doni menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia menatap ke arah Larina sambil mencengkram kedua lututnya sendiri.
"Larina," panggil Doni, wajahnya kini terlihat tegang dan sedikit memerah.
"Iya?" sahut Larina.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu." ucapnya.
"Oh, boleh. Silahkan saja tanya." timpal Larina dengan santai.
"Anu, apakah aku... Boleh memiliki rasa lebih dari teman padamu?" tanya Doni dengan gugup.
"Pasti jawabannya 'Tidak', sudah pasti." batin Doni.
๐Emmm, kira-kira apa jawaban Larina ya? Tunggu di episode selanjutnya, hehe.๐๐
Mohon bersabar๐
__ADS_1