
Kembalinya dari pemakaman, Larina pergi ke toko sekaligus mengunci rumah sang Nenek. Setelah selesai, ia menutup pintu toko, ia pulang dengan perasaan sedih. Selama di perjalanan, Larina hanya terdiam sambil bersandar di punggung Ayahnya, Ayah Larina terus menggenggam tangan Larina.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamar dan menolak makan malam dengan alasan sudah tengah malam.
Larina tidak langsung tidur, ia duduk termenung di depan jendela kamarnya, sesekali ia memandangi langit malam yang terlihat tenang itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia meneteskan air mata. Pertahanannya runtuh saat ia mengingat tangan keriput yang hangat itu menggenggam tangannya.
Lamunannya buyar saat terdengar nada dering HP miliknya, ia menyeka air matanya lalu mengambil Hp-nya di meja belajar. Ternyata Rafa mengirimkan pesan.
"Belum tidur?" tanya Rafa
Larina kemudian membalas chat tersebut, "Belum."
"Boleh telfon?" tanyanya lagi.
"Boleh."
Tidak lama kemudian Rafa menelfon Larina.
"Halo," ucap Larina dengan suara sedikit bergetar.
"Halo," sahut Rafa di seberang telfon.
"Ada apa?" tanya Larina.
"Kau baik-baik saja?" Rafa balik bertanya.
"Iya, aku baik-baik saja. Ada masalah, kah?"
"Aku Video Call, ya?"
Larina terkejut karena ia belum mandi.
"Aku belum mandi, nanti saja."
"Tidak apa-apa, tidak masalah."
Akhirnya Larina menerimanya,
"Haloooo~" ucap Rafa sambil tersenyum lebar setelah Larina menerima panggilan Videonya.
Larina tersenyum.
"Tumben sekali, ada apa nih?" tanya Larina.
"Tidak ada sih, tiba-tiba ingin menghubungimu."
"Yang benar? Kau gabut ya?"
"Tentu tidak."
Mereka mengobrol...
"Besok sepulang sekolah kau langsung bekerja?" tanya Rafa tiba-tiba.
Larina terdiam.
"Entah." jawab Larina pelan dan senyum kecut.
"Kau kelihatan sedih. Kalau ada waktu, aku besok mau mengajakmu nonton di bioskop."
'Deg' jantung Larina berdebar.
Adinda yang berada dalam tubuh Larina Be like : "Woah, kenapa nih jantung deg-degan?"
"Larina?" panggil Rafa saat melihat Larina hanya terdiam.
__ADS_1
"E-Eeee, jam berapa?"
"Tadi sih aku sudah beli tiketnya, film-nya mulai jam Empat sore."
"Kau beli berapa tiket?"
"Beli 2,"
Larina berpikir sejenak.
"Kalau kau sibuk, tidak apa-apa. Tiketnya akan ku berikan pada orang lain saja. Tapi aku harap bisa," tutur Rafa.
Larina tersenyum, ia kemudian menerimanya. Bukan berniat bersenang-senang saat tengah berduka, ia menghargai apa yang dilakukan Rafa.
"Terimakasih," ucap Rafa yang sedang menahan rasa bahagianya.
"Sekarang cepat tidur,"
"Oke!" Larina mengacungkan jempol,
Mereka mengakhiri panggilan video tersebut, Larina menghela napas, kemudiaj ia menyadari tidur larut malam kurang baik untuknya. Ia menutup jendela kamarnya kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya kemudian bersiap tidur.
Keesokan paginya. Di sekolah.
Larina yang baru masuk ke kelas mendapati tatapan tidak enak dari teman-teman kelasnya, ia juga melihat ada gurunya yang berdiri di dekat bangkunya.
"Ada apa ini?" batin Larina.
"Larina," panggil guru.
"Iya, Pak?" Larina mendekat.
Matanya membulat saat melihat meja dan kursinya penuh coretan tipe-x dan juga spidol permanen, terdapat juga sayatan di mejanya.
Larina menatap guru tersebut.
"Saya tidak lupa, Pak. Tapi bukan saya yang melakukan hal ini." bela Larina.
"Ini meja kamu, itu juga alat-alatnya ada di laci kamu."
Larina langsung melihat laci mejanya, ia mendapati 2 buah tipe-x , spidol permanen serta pisau kecil.
"Saya tidak tau ini milik siapa," ucap Larina sambil memasang wajah santai.
"Ya kali jin yang melakukannya," timpal Nana yang baru datang.
Larina menyipitkan kedua matanya.
"Hukum saja, Pak. Sangat tidak pantas seorang anggota pengurus kelas melakukan hal yang dilarang di sekolah ini." tutur Nana.
"Betul!" seisi kelas setuju dengan Nana.
"Larina," panggil guru tersebut.
Larina menoleh.
"Sebelum saya kasih tau hal ini kepada wali kelas kamu, baiknya kamu mengaku."
Larina tersenyum tipis.
"Apa yang harus saya akui? Saya harus mengakui kesalahan yang tidak saya lakukan? Bapak tau darimana kalau saya pelakunya? Apakah ada bukti?"
"Ada apa ini?" Terdengar suara Rafa yang baru memasuki kelas,
Rafa berjalan ke arah bangku Larina.
__ADS_1
"Itu, wakilmu. Dia berulah, lihat mejanya yang sampai seperti itu. Sangat disayangkan." jawab Nana.
Rafa menghela napas.
"Bapak juga percaya kalau pelakunya adalah Larina?"
"Dia tidak bisa membuktikan dirinya tidak bersalah." jawab Guru itu.
Larina sengaja diam dan tidak membela diri ketika Rafa datang, ia ingin tau bagaimana reaksi Rafa. Sesekali ia melirik ke arah Nana.
"Begini, Bapak kemarin absen tidak masuk, saya dan Larina menerima undangan untuk menghadiri acara seminar di sekolah lain. Sepulangnya dari acara tersebut, kami juga langsung pulang lebih awal. Larina juga memiliki pekerjaan yang pastinya membuat dirinya tidak bisa kembali ke sekolah hanya untuk melakukan pelanggaran ini." jelas Rafa.
Larina tersenyum, kemudian ia melihat ke arah Nana yang juga sedang melihat kearah dirinya, Larina melempar senyum sinis pada Nana.
Nana terlihat kesal atas pembelaan yang dilakukan Rafa.
"Pasti pelakunya adalah yang kemarin hadir di kelas, bukan Larina." sambung Rafa.
Guru tersebut mengangguk dan penjelasan Rafa masuk akal.
"Bisa saja dia kesini saat kami pulang sekolah dengan alasan tertentu." celetuk teman kelasnya.
"Jika Larina pelakunya, kemudian ia hadir hari ini, maka ia sama saja menyerahkan dirinya."
Semua terdiam,
"Dan juga, Nana, kenapa kau bisa tau kasus ini dan mengatakan 'Ya kali jin yang melakukannya', padahal kau baru datang dan baru masuk ke kelas?" tanya Larina pada Nana.
Nana gugup.
"Aku mendengar percakapan kalian saat akan masuk ke kelas." jawab Nana.
"Masa?" Larina tersenyum.
"Iya lah. Mana mungkin aku melakukan hal yang merupakan larangan di sekolah ini."
Saat akan melanjutkan perdebatan itu, Bella memanggil Nana karena ada urusan dan membuat Nana selamat.
"Baiklah kalau begitu. Rafa, bawa meja dan kursi ini ke gudang, ambil yang baru."
"Baik, Pak."
***
"Terimakasih," ucap Larina pada Rafa yang baru saja meletakkan meja dan kursi yang baru.
Rafa hanya mengangguk dan mengacungkan jempol.
"Kurasa kau bisa membela dirimu tadi," ucap Rafa sambil merapikan seragamnya.
"Aku tidak bisa," ucap Larina dengan nada lemah dan memasang wajah memelas.
"Dasar," Rafa berbalik membelakangi Larina dan tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian jam pelajaran pertama pun dimulai, Larina tetap aktif mengikuti pelajaran walau suasana hatinya sedang bersedih.
"Yang berani menjawab, dapat nilai plus!"
Dengan cepat Larina mengangkat tangan.
"Oke, Larina. Apa jawaban kamu?"
***
Jam Istirahat tiba. Larina pergi ke atap sekolah sambil membawa kotak bekalnya. Ia melahap makanannya sambil memandangi langit biru cerah tanpa awan hari ini, sesekali ia menghela napas.
__ADS_1