
🍀 Jam up pukul 20:00-23:00 Wib
🍀Eps ini di up pukul 21:13 wib
***
Setelah selesai urusan dapur, Larina menghampiri Rafa yang terlihat masih fokus dengan laptop di depannya.
"Sudah sampai mana? Sini gantian." pinta Larina sambil duduk di sebelah Rafa.
"Masih di rincian anggaran biaya."
"Baiklah, sini giliranku." pinta Larina lagi.
"Tidak perlu. Kau bagian mengeceknya saja nanti."
Larina menghela napas.
"Baiklah,"
Larina duduk santai namun lama kelamaan ia mulai bosan dan jenuh karena hanya melihat pemandangan Rafa yang sibuk.
Sesekali Larina menghela napas, ia gelisah dan ingin ikut menggarap proposal itu. Namun ketika ia memintanya pada Rafa yang ia dapatkan hanyalah penolakan😏
Akhirnya Rafa menghentikan kegiatannya ketika Ayah Larina memanggil keduanya untuk makan.
"Rafa, Larina, ayo makan dulu. Sudah sangat sore dan kalian belum makan." panggil Ayah Larina dari dapur.
Rafa meletakkan laptopnya dan bangkit berdiri di ikuti Larina, mereka berdua berjalan menuju dapur.
"Ayah hanya bisa menyediakan ini, kalian makan yang banyak, ya." tuturnya.
"Terimakasih banyak, Om." ucap Rafa
Larina mengangguk, Rafa kemudian duduk dan Larina menuangkan air putih untuk Rafa.
"Ayah tinggal dulu, ya."
"Ayah tidak ikut makan?" tanya Larina.
"Ayah sudah makan tadi, Ayah mau jaga toko."
Larina mengangguk dan tersenyum. Ayah Larina pun pergi dari ruangan tersebut dan kembali ke toko dan benar saja memang ada pembeli yang menunggunya.
Larina menyodorkan segelas air putih dihadapan Rafa,
"Terimakasih," ucap Rafa.
__ADS_1
"Sama-sama."
***
Setelah selesai makan, Larina mencuci piring dan Rafa hendak membantu namun Larina menolak dan meminta Rafa untuk melanjutkan proposalnya saja, Rafa pun setuju.
Hari mulai malam, Larina kembali bosan karena hanya menunggu seperti ini, melihat Hp-nya yang tergeletak di meja pun Larina tidak tertarik.
"Sudah sampai mana?" tanya Larina.
"Sedikit lagi." jawab Rafa.
"Aku bosan tau,"
Rafa menghentikan jari-jemarinya yang sedari tadi menari di atas keyboard, ia menoleh ke arah Larina dan benar saja raut wajah Larina menunjukkan ia sedang bosan dan tidak nyaman.
Rafa mengeluarkan Hp miliknya dari dalam tas, ia membuka aplikasi game online dan menyodorkannya pada Larina.
"Main itu saja," ucap Rafa.
"Di HP-mu?" tanya Larina yang heran karena Rafa memberikan HP-nya.
Rafa mengangguk.
"Jika kau tidak suka, masih ada game lainnya disitu. Bisa juga mendownload aplikasi game yang kau suka."
Karena dalam 5 menit layar HP Rafa tidak tersentuh, layarnya pun mati, Rafa melirik.
"Kata sandinya tanggal ulang tahunku," ucap Rafa.
Larina masih terdiam, ia tidak percaya atas yang Rafa lakukan.
"Sebegitu percayanya dia padaku?" batin Larina.
Melihat Larina diam, Rafa menoleh ke arah Larina.
"Tidak mau main HP?" tanya Rafa.
Larina mengangguk.
"HP-ku saja tidak kusentuh," jawab Larina.
Rafa menghela napas, ia menggeser posisi duduknya, ia menepuk ruang kursi yang kosong di sebelahnya.
Larina pun menurutinya. Yups, kegiatan Larina selanjutnya adalah menonton huruf dan angka yang muncul di layar Laptop.
"Hissh, ini mah juga jadi penonton, hanya saja beda posisi duduk." gerutu Larina dengan suara pelan.
__ADS_1
Rafa tersenyum tipis, tangan kirinya meraih tangan Larina dan menggenggamnya, jadi ia mengetik hanya menggunakan tangan kanannya, seketika Larina merasa jantungnya berdegup kencang.
"Masih bosan?" tanya Rafa.
Pipi Larina tiba-tiba memanas, ia menggeleng menanggapi pertanyaan Rafa.
"Bisa-bisanya aku dibuat seperti ini oleh anak sekolahan," batin Larina
Genggaman tangan itu semakin lama semakin terasa hangat walaupun Larina dapat merasakan tangan Rafa bergetar pelan.
"Baiklah, sekarang aku harus bersikap bagaimana? Aku harus apa?" batin Larina.
Larina yang terus bingung harus bagaimana tanpa sadar Rafa telah selesai mengerjakan proposalnya.
"Sudah," ucap Rafa,
Larina tersadar, spontan ia melepas genggaman tangan Rafa dan merapikan rambutnya.
"Ehem! Sudah selesai, ya? Akhirnya tiba giliranku." ucap Larina sambil menggeser posisi Laptop agar pas di tengah pandangannya.
Larina kemudian mengecek keseluruhan proposal tersebut, kemudian ia juga menambahkan beberapa hal dan mengacungi jempol pada Rafa.
"Sip! Sudah bagus proposalnya." puji Larina setelah selesai mengeceknya.
"Besok aku serahkan kepada Wali kelas untuk di ajukan." ucap Rafa.
"Iya."
Hari mulai malam, Rafa pamit pulang.
"Saya pamit pulang, Om." pamit Rafa sambil mencium punggung tangan Ayah Larina.
"Terimakasih," ucapnya Lagi.
Larina melambaikan tangan, Rafa hanya mengangguk pelan.
****
Di kelas, setelah jam mata pelajaran selesai.
Keesokan paginya, Rafa menyerahkan proposalnya yang sudah di jilid kepada Wali Kelas mereka. Wali kelas mereka terlebih dahulu melihat isinya dan setuju.
"Baiklah, nanti Ibu kabari kelanjutannya." ucapnya
"Baik, Bu. Terimakasih." ucap Rafa.
Rafa berbalik dan mendapati Larina melempar senyum pada Rafa, Rafa seketika salah tingkah dan memilih pergi ke luar kelas. Larina yang melihat hal itu hanya terkekeh. Nana mengepalkan tangan melihat pemandangan itu, ia memukul pahanya sendiri karena kesal, ia melirik Larina dengan tatapan benci.
__ADS_1