Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 47 : Aku Belum Pernah Menjadi Orangtua, tapi Ibu Pernah Menjadi Seorang Anak


__ADS_3

"Kau ini, ya." Larina berjalan mendekat ke arah pria yang merupakan selingkuhan Ibu Larina.


"Kau sudah tau status Ibuku, tapi kau masih saja mau merusaknya." Larina menatap tajam pria itu.


"Aku tidak melakukannya sendirian, kami sama-sama mau." bela Pria itu.


"Otak kalian tertinggal dimana?" Larina tersenyum sinis.


"Larina! Jaga bicaramu!" Ibu Larina menarik Larina untuk menjauh dari pria itu.


"Mas, pergilah." suruh Ibu Larina.


"Tidak usah pergi, kita tunggu Ayah pulang saja." cegah Larina.


"Larina!" Ibu Larina bersiap untuk menampar Larina namun dengan cepat Larina menepis tangan Ibunya.


"Pergilah Mas!"


Pria itu segera pergi dari rumah keluarga Larina. Kedua mata Larina memerah dan air mata menetes dari sudut matanya.


"Bu, sudahilah kelakuan Ibu ini. Ibu punya suami, apa yang harus ku lakukan agar kalian bisa bahagia?"


"Cih," Ibu Larina memutar bola matanya.


"Bocah sepertimu ini tau apa tentang kehidupan rumah tangga?!"


"Aku menginginkan keluarga yang harmonis," ucap Larina.


"Harmonis, harmonis. Berada disini saja membuatku sesak!"


Larina memejamkan mata, air matanya kembali menetes.


"Tidak bisakah Ibu melihat kasih sayang dari Ayah? Dia bahkan tidak melukaimu saat kau melukaiku, Bu. Dia tidak menceraikanmu saat aku memintanya. Dia tetap memenuhi kewajibannya walau sikapmu selalu dingin padanya. Tidakkah Ibu merasa kasihan padanya?"


"Cih, nafkah yang mana? Nafkah uang yang hanya segitu? Alasannya menabung lah, ini lah, itu lah. Aku juga menunggu talak keluar dari mulutnya, Ibumu ini masih laku, masih banyak pria yang lebih dari Ayahmu yang mau padaku."


"Kalau begitu, ceraikan saja Ayahku." ucap Larina lirih, ia membuka mata perlahan lalu menoleh ke arah Ibunya yang sudah emosi sedari tadi.


"Jika Ibu tidak mau memperbaiki kesalahan Ibu dan Ibu hanya berselingkuh terus, lepaskan Ayahku! Dia berhak bahagia, Bu." suara Larina mulai bergetar.


"Kau tidak tau betapa tersiksanya aku di rumah ini, punya suami seperti Ayahmu itu, punya anak sepertimu ini. Cobalah mengerti posisiku!"


"Aku belum pernah menjadi orang tua tapi Ibu sudah pernah menjadi seorang anak!" Larina menyeka air matanya.


"Jika Ibu sudah tidak lagi mencintai Ayah dan kalian sudah tidak menemukan jalan untuk bersatu, berhenti menyakiti diri sendiri dan lebih baik berpisah. Perceraian memang tidak baik di mata Tuhan tapi jika di dalamnya hanya berisi kesakitan maka sebaiknya disudahi saja."


Larina membuang napas kasar, kemudian ia melangkah pergi keluar dari rumah dan mengabaikan Ibunya yang tampak kesal.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di toko


Larina sedang membuat susu untuk Nenek pemilik toko, sambil mengaduk susu di gelas, ia sesekali menghela napas.


"Mereka bukan orang tuaku, tapi aku sangat merasakan sakit." batin Adinda yang ada ditubuh Larina.


"Larina, ternyata menjadi dirimu sakit sekali ya?" lanjutnya.


"Nak," panggil Nenek pemilik toko

__ADS_1


Larina terkejut,


"Nek," Larina langsung menyeka air matanya.


"Ada apa, Nek?" tanya Larina.


"Kamu kenapa menangis?"


"Ah, tidak. Aku tidak menangis. Nenek salah lihat, mungkin."


Nenek pemilik toko hanya membuang napas.


"Ini susunya," ucap Larina sambil menyodorkan segelas susu.


***


Malam harinya.


"Terimakasih, Kak." ucap Larina sambil menyodorkan uang kembalian kepada pembeli.


Larina melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 19:55.


"Sudah hampir jam 8." gumamnya, karena sudah tidak ada pembeli yang datang, Larina menutup toko.


Ia pergi ke gudang untuk mengecek stok barang karena ramainya pembeli membuat stok barang cepat habis.


"Oke, hanya air mineral saja yang stoknya aman." ucapnya pelan sambil mengecek tumpukan karton di gudang.


Selesai dengan pekerjaannya, ia mengamankan uangnya kemudian pergi ke kamar Nenek pemilik toko untuk berpamitan pulang karena sebentar lagi Ayah Larina akan datang menjemputnya.


'Tok tok tok'


"Nek, aku masuk, ya?"


"Apa sudah tidur?" tanya Larina pada dirinya sendiri.


Larina membuka pintu kamar sang Nenek perlahan karena mengira Nenek pemilik toko sedang tidur.


Setelah pintu terbuka, Larina masuk ke dalam kamar. Ia melihat air minum di samping tempat tidur sudah habis. Dengan pijakan kaki yang pelan, Larina pergi ke dapur untuk mengisi air, setelah itu ia kembali ke kamar sang Nenek pemilik toko.


"Nek, airnya sudah ku isi." bisik Larina.


Tangan keriput itu tiba-tiba menyentuh tangan Larina, Larina terkejut karena suhu tubuh sang Nenek pemilik toko sangatlah tinggi.


"Nek, badannya panas." ucapnya cemas.


Nenek membuka matanya perlahan, ia melihat ke arah Larina.


"Nek," panggil Larina.


Larina menempelkan punggung tangannya di dahi Nenek pemilik toko.


"Ya ampun, Nenek sakit."


Larina merogoh Hp-nya berniat akan menelfon Ayahnya untuk membawakan orang yang berkaitan dengan medis.


"Jangan," cegah sang Nenek.


"Tidak apa-apa, Nek. Sebentar ya, Ayah belum menjawab panggilanku." Larina tersenyum dan menggenggam tangan sang Nenek.

__ADS_1


"Tidak perlu cemas. Nenek hanya kelelahan."


Larina menoleh.


"Nenek melakukan aktivitas apa tadi pagi? Kok sampai kelelahan?" Larina menekuk wajahnya.


"Jalan-jalan saja di sekitar rumah tadi," jawabnya sambil tersenyum.


Larina menghela napas.


"Sudah ku katakan, Nenek lebih baik banyak beristirahat."


"Nenek merasa sedih, tapi Nenek juga merasa senang."


Larina meletakkan HP-nya karena Ayahnya tidak kunjung menjawab panggilannya.


"Sedihnya kenapa dan senangnya kenapa?" tanya Larina lembut


"Nenek sedih karena kita baru bertemu saat Nenek sudah tua begini, tapi Nenek juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Kamu anak yang baik."


Larina tersenyum.


"Duh, nanti telingaku mekar loh kalau aku terus disebut anak yang baik." canda Larina.


Sang Nenek terkekeh.


"Nenek ingin lebih lama bersamamu, melihatmu berumah tangga, memiliki anak yang lucu."


"Bisa, kok. Harus optimis!"


"Sini tanganmu," pinta sang Nenek.


Larian mengulurkan kedua tangannya.


"Semoga tangan ini bisa meringankan beban orang lain, tangan ini bisa membahagiakan orang lain, dan tangan ini bisa membantu banyak orang."


"Aamiin!"


"Semoga nasibmu selalu baik, Nak."


Hati Larina bergetar.


"Terimakasih atas do'a baiknya, Nek."


Sang Nenek pemilik toko tiba-tiba meneteskan air mata.


"Ingin sekali rasanya Nenek hidup lebih lama lagi dan bisa menggendong anakmu, Nak." ucap Nenek sambil menyeka air matanya.


"Bisa, kok." Larina tersenyum namun tiba-tiba matanya berair.


"Nenek sangat senang bertemu denganmu, Nenek tidak merasa sendirian lagi sejak kehadiranmu."


Larina berusaha menahan air matanya yang rasanya siap meluncur. Larina terkekeh, namun secara bersamaan air matanya pun ikut menetes.


"Ah, aku cengeng sekali." batin Larina


Nenek pemilik toko itu kemudian meraih tangan Larina lagi, ia menggenggamnya kemudian menciumnya.


"Dalam waktu singkat, kamu mampu memiliki tempat tersendiri di hati Nenek. Sampai-sampai Nenek ingin hidup lebih lama lagi agar bisa melihat pertumbuhanmu dan melihat pertumbuhan keturunanmu nantinya."

__ADS_1


"Sudah ku katakan, Nenek pasti bisa kok." tubuh Larina bergetar.


"Semoga saja," Nenek tersenyum, ia menyeka air mata Larina.


__ADS_2