Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 52 : Ayah Kemana?


__ADS_3

πŸ€ Jam up pukul 20:00 - 23:00


πŸ€ Eps ini di up pada pukul 21:35


***


Larina bersiap untuk tidur, ia mendengar suara notifikasi di Hp-nya, dengan santai ia mengambil Hp yang ada di meja belajar dan melihat ada pesan dari siapa.


Larina tersenyum tipis saat melihat pesan tersebut dari Rafa, "Terimakasih atas waktunya hari ini." itulah pesan yang dikirimkan oleh Rafa.


πŸ€πŸ€πŸ€


Keesokan paginya, sesampainya di depan gerbang sekolah Larina mendapati Rafa tengah berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celananya.


"Pagi," sapa Larina.


Rafa hanya mengangguk.


"Tumben pagi-pagi disini. Sedang menunggu seseorang?" tanya Larina.


"Iya, aku menunggumu." jawab Rafa pelan.


"Ada hal penting?" tanya Larina


"Hanya ingin menunggumu saja,"


Larina ber-oh-ria.


***


Jam istirahat pun telah tiba. Larina yang baru keluar dari toilet mendapati Bella dkk sedang menunggunya di luar pintu.


"Hmmm, kita sudah beda kelas, masih saja menggangguku di toilet." ucap Larina sambil menghela napas.


"Aku dengar kau sok akrab dengan Rafa, ya?" tanya Bella sambil menatap jijik Larina.


"Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong. Dia bukan anggota keluargamu juga." jawab Larina.


"Jangan dekat-dekat dengan Rafa, kau itu tidak sebanding dengannya. Badan melar, wajah jelek sepertimu mana cocok dekat dengan laki-laki tampan sepertinya."


"Kau iri ya? Apa kau menyukai Rafa juga? Kau suka dua pria dalam hatimu?! Cih,"


"Tidak usah berdecih!" Bella mengepalkan tangan.


"Nana, kalau kau menyukai Rafa, mari bersaing sehat. Bukan main keroyokan. Kau sangat lemah kalau seperti ini." tutur Larina sambil tersenyum sinis pada Nana.


"Minggir semua, kalian hanya memenuhi ruangan ini dan tidak berguna!" Larina membuka jalan dan keluar dari toilet, sedangkan Bella dkk dibuat geram akan hal tersebut.


"Kenapa tidak kita langsung hajar saja sih?" tanya Nana yang sudah emosi.


"Gila kali, bisa-bisa netizen tau identitas kita dan kita bisa berurusan dengan pihak berwajib." jawab Bella yang terlihat pusing.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sepulang sekolah Larina langsung bergegas menuju toko, ia menghirup udara disana sembari tersenyum.


"Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, aku harus bangkit." ucapnya penuh semangat.


Larina membuka pintu, ia juga langsung aktif kembali. Ia pergi ke gudang untuk mengecek stok barang, saat sedang sibuk mencatat barang-barang yang habis, Larina dikejutkan oleh suara klakson mobil di depan tokonya.


Larina segera keluar dan melihat ada sebuah mobil box yang berhenti di depan tokonya.


"Selamat sore, kak." sapa seorang laki-laki yang baru keluar dari mobil box tersebut dengan mengenakan seragam tempat ia bekerja.


"Iya, kak. Selamat sore." sahut Larina ramah.


"Kakak pemilik toko ini?" tanya laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Benar, kak. Ada apa ya?"


"Jadi begini kak, saya kemarin sudah kesini tapi ternyata sedang tutup."


"Eh, silahkan duduk dulu kak. Jangan berdiri saja." ucap Larina.


"Iya, kak. Terimakasih."


"Nah, silahkan dilanjut kak. Kemarin saya tutup soalnya ada urusan."


"Oh, seperti itu kak. Baik kak, jadi saya dari rumah produksi xx, kami baru buka hampir 1 tahun ini sih kak, saya mau menawarkan produk kami." tuturnya sambil menyodorkan sebuah produk pada Larina,


Larina menerimanya dan melihat dan mengecek kemasan produk tersebut.


"Sudah BPOM ya, kak?"


"Sudah, kak. Baru seminggu ini produk kami terdaftar di BPOM,"


"Bentar saya cek dulu," ucap Larina, ia mengambil HP dan mulai mengeceknya.


Larina mengangguk,


"Oke, ini rencananya mau di apakan kak?" tanya Larina.


"Saya ingin menitipkan produk ini disini kak. Kami juga punya beberapa produk lainnya,"


"Bisa saya lihat?"


"Sangat bisa kak." Laki-laki tersebut mengeluarkan produk lainnya dari mobil.


Larina kembali mengecek dan memastikan barang-barang ini aman untuk diperjual-belikan.


"Oke, aman. Saya setuju." ucap Larina sambil tersenyum.


"Terimakasih, kak. Senang bekerja sama dengan kak?-" ia menggantung kalimatnya.


"Oohh, oke. Senang bekerja sama dengan kak Larina."


"Iya,"


"Barangnya bisa hari ini?" tanyanya.


"Bisa kak, langsung dibawa masuk saja." jawab Larina.


Setelah selesai, laki-laki tersebut pun pergi dari toko dan Larina kembali mengurus pekerjaannya.


"Sepertinya aku harus belanja lagi," gumam Larina sambil melihat daftar barang di tokonya yang sudah habis.


***


Pukul 20:00


Larina menutup pintu toko, ia duduk di teras sambil mencoba menelfon Ayahnya.


"Kok Ayah belum menjemputku ya? Apa dia sibuk?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Tidak diangkat juga telfonnya. Aku jadi khawatir."


"Larina," terdengar suara yang tidak asing memanggilnya, Larina mengangkat kepala dan melihat Doni berdiri di depannya.


"Loh, Doni? Sedang apa kau disini?" tanya Larina. Ia berdiri.


"Kebetulan lewat. Kau sedang apa disini?" Doni balik bertanya.


"Aku bekerja disini." jawab Larina.


"Kau bekerja? Sejak kapan? Aku juga terkejut melihat perubahan toko ini, soalnya pas itu tidak terawat."

__ADS_1


"Sejak kapan ya? Belum lama juga. Aku yang merubah tampilan toko ini."


"Yang benar saja?!" Doni tampak tidak percaya namun ia juga kagum.


"Benar. Untuk apa aku berbohong."


"Hebat!" Doni spontan memuji Larina.


"Terimakasih. Oh iya, kau mau minum sesuatu?"


"Tidak, terimakasih. Lalu kau sedang apa diluar seperti ini? Kan sudah tutup juga tokonya."


"Benar tidak ingin minum apapun?"


"Iya benar. Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Aku sedang menunggu Ayahku, dia belum datang menjemputku."


"Oooh, ayo ku antar pulang kalau begitu."


"Eh, terimakasih deh. Mungkin Ayahku masih di perjalanan." tolak Larina.


"Emmm, seperti itu. Baiklah, aku temani." Doni ikut duduk disamping Larina, Larina yang merasa jarak mereka terlalu dekat akhirnya sedikit menggeser tubuhnya.


"Kita sudah beda kelas, ya?" celetuk Doni.


"Iya. Memangnya kenapa? Di kelas XII B tidak ada yang bisa kau Bully, ya?"


"Bukan seperti itu. Masalah Bullying yang aku lakukan, aku ingin meminta maaf padamu untuk hal tersebut." tutur Doni.


"Yakin mau minta maaf? Jangan-jangan kau bohong dan sedang merencanakan sesuatu, nih." Larina tertawa kecil.


"Aku serius. Aku sungguh minta maaf atas perbuatanku selama ini yang menyakitimu. Aku sangat merasa bersalah saat kau tidak pernah membalasku."


"Eemmm seperti itu."


"Hanya seperti itu tanggapanmu?" tanya Doni.


"Iya. Memangnya bagaimana lagi? Kalau aku minta sesuatu sebagai bentuk penebusan atas kesalahanmu, apa kau mau?"


"Minta saja. Akan aku usahakan."


Larina terdiam, beberapa detik kemudian tawa Larina pecah.


"Hahaha! Doni, kau kenapa seperti ini? Aku seperti melihat orang lain saja!" Larina sampai tertawa lepas.


"Kau kelihatan senang sekali melihatku seperti ini😏."


Larina semakin tertawa melihat ekspresi Doni.


Waktu terus berjalan, jam menunjukkan pukul 9 malam, Ayah Larina tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Mau menunggu sampai jam berapa? Lebih baik aku antar pulang. Aku tidak akan macam-macam, kok." tutur Doni.


"Sebentar, aku coba telfon Ayah sekali lagi."


"Oke."


'tuuuutttttt tuuuutttt' bunyi telfon tersambung.


"Nomor yang anda hubungi tidak dapat menjawab ---"


"Bagaimana?" tanya Doni.


"Sepertinya Ayah sibuk." jawab Larina.


"Semoga tidak terjadi hal buruk padanya." batin Larina

__ADS_1


__ADS_2