Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 32 : Kelas Baru


__ADS_3

Waktu terus berjalan, setiap harinya Larina memanfaatkan hari libur sekolahnya dengan giat berolahraga dan sesekali membantu pekerjaan Ayahnya.


Ayah Larina berprofesi sebagai Guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di dekat kantor Kecamatan. Dan tahun ini sekolah tersebut akan menghadapi Akreditasi yang membuat Ayah Larina super sibuk untuk melengkapi data-data yang diperlukan. Salah satunya penyusunan ulang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kerap dibawa pulang oleh Ayah Larina untuk digarap di rumah.


πŸ€πŸ€πŸ€


Larina duduk disamping Ayahnya yang sedang mengetik di laptop.


"RPP lagi?" tanya Larina.


Ayah Larina menoleh sekilas dan tersenyum.


"Memangnya Ayah tidak menyiapkan RPP terlebih dahulu sebelum mengajar?" tanya Larina lagi.


"Sudah. Hard file-nya hilang dan soft file-nya juga lupa Ayah simpan dimana."


Larina menghela napas.


"Ini yang Ayah kerjakan juga RPP 2 tahun lalu." sambung Ayah Larina.


Larina hanya mengangguk sambil memperhatikan jari Ayahnya yang terus menekan tombol keyboard.


"Ayah," panggil Larina.


"Iya?"


"Sini, biar aku yang mengetiknya."


"Tidak perlu. Ini sudah hampir jam 10 malam, waktunya tidur."


Larina mengangguk, ia bergegas ke kamarnya. Larina meraih HP miliknya yang tergelatak di tempat tidur.


"Eh?"


Larina mengedipkan mata dengan cepat saat melihat notifikasi di layar HP-nya. Notifikasi dari Grup kelas XII tahun ajaran baru. Larina membaca dengan seksama dokumen pengumuman tentang pembagian kelas, Larina masuk ke kelas XII A.


Wali Kelas : "Di file tersebut sudah ada List dan keterangan pembagian kelas. Kalian bisa mengubahnya jika mau pindah dari kelas yang di tentukan tetapi hanya boleh 1 kali."


Nana : "Bu, saya mau masuk di kelas A."


Wali Kelas : " Oke. Anak-anak yang lain, saya tunggu keputusannya dengan segera."


Disisi lain Nana mengajak Bella masuk ke kelas A juga namun Bella menolaknya karena ia melihat Doni berada di kelas B.


Larina senang karena ia bisa berada satu kelas dengan Rafa di kelas XII A.


Keesokan paginya.


Usai mandi pagi, Larina mengecek Hp-nya karena suara notifikasi terus berbunyi. Larina tersenyum lebar saat Wali Kelasnya telah membuat grup kelas XII A, dengan semangat Larina mencari nomor WhatsApp Rafa, ia berniat akan menegur Rafa via chat, namun suatu hal tak terduga terjadi.


'Ting' suara notifikasi pesan.


Ternyata Rafa lebih dulu mengirim pesan pada Larina.


"Oh my god!"


Rafa : "Selamat pagi. Kita satu kelas ternyata."


Dengan cepat Larina membalasnya, "Selamat pagi juga. Iya, kita satu kelas. Mari saling membantu dan membimbing,"


Rafa : "Ya."


Larina memicingkan mata saat melihat balasan pesan Rafa yang hanya berupa ketikan "Ya."


Larina tidak lagi membalas pesan Rafa.


'Ting' suara notifikasi pesan.


Di Grup kelas XII A ...


Wali Kelas : "Besok lusa kita sudah masuk. Kelas A dipindah ke kelas paling ujung, ya. Bukan di kelas yang lama."


***

__ADS_1


Hari masuk sekolah pun tiba. Dengan semangat, Larina segera bersiap-siap, ia menyisir rambut dengan diiringi senyum yang terus terukir dibibirnya.


'Ting' suara notifikasi pesan.


Larina melirik ke layar HP-nya, ia melihat ada pesan dari Rafa.


Rafa : "Mau berangkat bersama?"


Larina segera membalasnya, "Maaf, tidak bisa kalau hari ini. Pagi ini aku berangkat bersama dengan Ayahku."


***


"Siap?" tanya Ayah Larina.


"Siaaap!! Go!" Larina tersenyum lebar. Ia mengikuti langkah Ayahnya dari belakang.


'Ceklek' Ayah Larina membuka pintu rumah.


"Pagi, Om."


"Pagi juga, temannya Larina kan?"


Larina mendengar suara yang tidak asing baginya, ia melirik.


"Doni?"


"Pagi, Larina." sapa Doni.


"Pagi, Don. Ada apa?" Larina mengerutkan dahi.


"Eeee... Mau berangkat bersama?" Doni gugup.


"Eh? Tapi aku sudah mau berangkat dengan Ayahku."


"Tidak apa-apa, Nak. Kalian berangkat bersama saja." tutur Ayah Larina.


Larina terdiam.


"Bagaimana ya?"


"Begini saja. Doni berangkat dengan Ayah saja, deh. Aku jalan kaki."


Larina kebingungan. Ia saja menolak ajakan Rafa karena ia akan berangkat bersama Ayahnya, namun jika ia menolak Doni, ia kasihan karena Doni sudah sampai di rumahnya.


Setelah sedikit perdebatan, akhirnya Larina jalan kaki bersama Doni.


"Apa aku menganggu?" tanya Doni.


"Tidak juga sih. Tapi lain kali baiknya kau mengabariku terlebih dahulu jika ada sesuatu." jawab Larina.


"Oke."


Kemudian mereka berdua sama-sama diam selama di perjalanan.


***


Larina menghentikan langkahnya saat mereka hampir sampai di gerbang sekolah.


"Ada apa?" tanya Doni.


"Tidak apa-apa. Kau jalanlah lebih dulu."


Doni terhenyak,


"Kenapa?" tanya Larina saat melihat perubahan raut wajah Doni.


"Tidak apa-apa. Aku duluan." Doni melangkah meninggalkan Larina.


Setelah Doni menghilang dibalik gerbang Sekolah, Larina melanjutkan langkahnya.


"Ehem!" Terdengar deheman seseorang saat Larina baru saja melewati pintu gerbang sekolah.


Larina spontan menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Rafa,"


"Jadi itu alasanmu menolak ajakanku tadi?" tanya Rafa dengan nada suara yang tidak enak.


"Eh? Maksudnya?"


"Itu teman sekelasmu dulu kan? Siapa nama laki-laki itu? Sudah pernah ku katakan padamu, tidak baik bermesraan di sekolah."


Larina mengerti.


"Kau salah paham."


Rafa menatap datar Larina.


"Dia tadi tiba-tiba datang ke rumah tanpa sepengetahuanku."


"Oh, oke." Rafa melangkah pergi meninggalkan Larina.


"Astaga!!" Larina menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal kemudian berkacak pinggang.


Di kejauhan, Doni menghela napas lalu membuang muka setelah melihat Larina dengan Rafa.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di kelas baru.


Larina baru saja datang, ia melihat teman-temannya sibuk menata kursi dan meja. Larina mendapati Rafa juga ikut membantu, ia mengangkat meja dan menempatkannya di titik yang sudah ditentukan.


Larina masuk ke kelas,


"Hai,"


Larina menoleh dan mendapati Nana berdiri di sampingnya.


"Wah, kita satu kelas lagi." ucap Nana.


"Kau terlihat agak kurusan." lanjutnya.


"Apa kau sakit? Apa mentalmu aman?" bisik Nana.


"Harusnya aku yang bertanya apakah mentalmu baik-baik saja?" Larina tersenyum lebar


"Cih!" Nana berdecih, kemudian ia meninggalkan Larina.


***


Setelah semua bangku di tata rapi, mereka segera menentukan akan duduk dimana. Larina memilih duduk di belakang saja.


Sekitar jam 9 pagi, wali kelas mereka datang.


"Selamat pagi anak-anak,"


"Pagi, Bu."


"Selamat datang di tahun ajaran baru, kelas baru dan suasana baru. Sesuai kebijakan sekolah, saya akan tetap jadi wali kelas kalian dari kelas X sampai kelas XII."


"Hari ini kita free materi dulu. Kalian silahkan atur struktur kelas dan hal lainnya."


"Baik, Bu."


"Larina, kenapa duduk di belakang? itu di depan Nana kosong" tanya Bu Wina selaku wali kelas.


"Kalau duduk di depan, kasihan yang ada di belakangnya Bu. Hihi." sahut Nana.


Seisi kelas tertawa pelan.


"Tidak apa-apa, Bu. Benar kata Nana, Bu. Saya kasihan sama Nana, soalnya saya lebih tinggi darinya."


Tawa Nana memudar. Ia memutar tubuh melihat ke arah Larina.


"Kok Body Shaming? Mentang-mentang kau lebih tinggi dariku."


Larina tidak menjawab, ia tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Nana, cukup." tegur Bu Wina.


Nana mendengus sebal.


__ADS_2