
"Siaapp! Ayah lembur lagi?"
"Tidak, Nak. Mungkin besok malam."
Larina mengangguk.
***
"Ini kan jalan mau ke pasar. Kita ke pasar, Yah?"
"Iya, Nak. Ibumu tadi tidak belanja karena kang sayurnya tidak datang."
"Oohh, oke."
Sesampainya di pasar, Larina ikut membantu Ayahnya membeli sayur dan lainnya.
"Mau permen kapas?" tanya Ayahnya saat melihat penjual permen kapas di sudut pasar.
Larina berpikir sejenak.
"Iya, mau. Tapi aku makan secuil saja, sisanya Ayah yang harus menghabiskannya."
Ayah Larina tersenyum.
"Dasar,"
"Yang penting aku sudah mencicipinya, hehe."
Selama di perjalanan pulang, Larina terus menguap, ia bersandar di punggung Ayahnya.
"Ngantuk?" tanya Ayah Larina
"Sedikit."
"Peluk erat Ayah, jaga kesadaran dulu. Sebentar lagi kita sampai dirumah."
Larina hanya mengangguk, matanya perlahan mulai menyipit namun masih dapat ia tahan.
Sesampainya dirumah, dengan langkah lemas dan menahan kantuk, Larina membuka pintu rumah.
"Bagus, ya"
Larina menghela napas mendapati Ibunya dengan berkacak pinggang.
"Ya ampun, baru juga buka pintu sudah disuguhi pemandangan seperti ini." batin Larina
"Bagus, pulang malam terus. Sekalian saja kalian tidur diluar." ucap Ibu Larina.
Ayah Larina menggandeng tangan Larina dan masuk ke dalam rumah.
"Ini belanjaannya, kebutuhan dapur untuk 2 hari." ucap Ayah Larina sambil menyodorkan kantong plastik.
"Hm," Ibu Larina menerima kantong plastik tersebut kemudian ia pergi ke dapur.
"Sudah, kamu istirahat gih."
Larina mengangguk.
"Iya, Yah. Aku sudah mengantuk dari tadi."
πππ
Besoknya. Di Toko.
Larina membuka wadah cat tembok yang masih utuh, setelah itu ia mengaduknya kemudian perlahan menambahkan air sedikit demi sedikit sampai dirasa tekstur keencerannya pas.
Larina mengambil kursi dan mulai mengecat tembok dari atas.
"Dek," terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
"Iya,?" Larina menoleh.
"Beras yang seperti kemarin itu masih ada?"
"Oohhh beras punel itu ya? Ada."
Larina menghentikan aktivitas mengecatnya, ia segera masuk ke toko di ikuti si pembeli.
"Berasnya ada di pojok sana, kak." sambil menunjuk ke arah tumpukan beras.
Setelah beberapa saat, pembeli itu membawa 1 karung beras.
__ADS_1
Setelah selesai, Larina kembali melanjutkan aktivitas mengecat. Namun tidak lama setelah itu kembali datang pembeli yang mengharuskan Larina turun lagi. Hal itu berlangsung selama beberapa kali dan Larina harus sabar.
Larina tersenyum saat melihat toko itu terlihat lebih fresh, para pembeli juga mulai banyak. Hari mulai malam, Larina sibuk mencari pulpennya yang terjatuh jadi ia tidak terlalu memperhatikan para pembeli yang datang dan sedang memilih barang. Ia juga langsung mencatat barang-barang yang terjual hari ini.
"Mau bayar,"
Larina membulatkan mata mendengar suara itu, ia mengangkat kepala dan mendapati Rafa didepannya.
"Rafa,"
Rafa tersenyum.
"Aku mau bayar." ucapnya sambil meletakkan barang yang ia beli.
"Oke. Sebentar,"
"Jadi ini urusanmu dan selalu menolak ajankanku?" tanya Rafa.
"Iya," jawab Larina sambil tersenyum.
"Totalnya 34.000, kalau bisa uang pas. Uang kembaliannya habis, nih."
Rafa menyodorkan uang 50.000.
"Kembaliannya untukmu."
"Eh? Tapi-"
"Ambil saja,"
"Terimakasih banyak,"
"Sama-sama. Aku duluan. Ibuku sudah menungguku." ucap Rafa, kemudian ia pergi dari toko dan benar saja mobil mereka parkir di seberang jalan, Ibu Larina terlihat sedang tersenyum menyapa Larina, Larina balas tersenyum.
"Dek, mau bayar."
"Iya, kak."
***
Hari minggu tiba. Sebelum pergi bekerja, Larina terlebih dahulu lari-lari santai memutari area rumahnya di pagi hari kemudian menyapu halaman depan dan belakang rumah dan lainnya.
"Kerja."
"Kerja apa? Jangan berbohong. Selama 1 minggu ini kau selalu pulang dan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah."
"Tadi aku sudah menyapu semua ruangan rumah dan juga di halaman, Bu. Masa Ibu tidak bisa membedakan mana yang sudah di sapu dan mana yang belum?"
"Oh, berani menjawab?"
Larina menghela napas.
"Pel dulu lantainya, baru boleh keluar!"
Larina berjongkok kemudian mencolek lantai,
"Bu, ini lantai sudah ku pel tadi pagi-pagi sekali karena aku bangun pagi buta sebelum Ibu bangun. Ini sudah kinclong, Ibu sentuh saja sendiri."
"Cucian belum."
"Ada apa ini kok ribut?" Ayah Larina keluar dari ruang kerjanya.
"Anakmu tuh, keluyuran terus. Kau juga sebagai Ayahnya malah memanjakannya."
"Nak, kamu berangkat saja."
"Iya, Yah."
Larina mencium punggung tangan Ayahnya, Larina berniat mencium punggung tangan Ibunya namun Ibunya langsung menghindar.
"Itu urus dulu cucian!"
"Sudah, sana kamu berangkat." ucap Ayah Larina.
"Mas! Jangan memanjakannya!"
"Hampir semua pekerjaan rumah sudah ia lakukan. Biar aku saja yang mencucinya."
"Cih!" Ibu Larina membuang muka, ia kemudia pergi meninggalkan Suami dan Anaknya.
"Larina berangkat,"
__ADS_1
"Iya, hati-hati. Nanti Ayah jemput jam 8 malam lagi?"
"Nanti pulang sore, Yah. Aku bisa pulang sendiri. Sekalian buang lemak, hehe."
***
"Semoga hari ini banyak pembeli!"
Larina membuka pintu yang ternyata sudah tidak di kunci.
"Nek, aku datang."
Larina melangkah menuju kamar Nenek pemilik toko namun tidak ada.
"Nek?"
"Di dapur." sahutnya.
"Eh. Nenek sedang masak?"
Nenek tersebut mengangguk.
"Ini untuk sarapanmu." tangan keriputnya memotong sayur wortel.
"Sini, biar aku saja."
Larina mencoba mengambil alih pisaunya namun Nenek tersebut menepis tangan Larina.
"Jangan. Nenek selalu merepotkanmu, jadi Nenek ingin memasak untukmu."
"Haduh," Larina menepuk jidatnya.
Ia agak ngeri melihat tangan Nenek pemilik toko yang bergetar sedang memotong wortel.
"Tidak apa-apa, Nek. Biar aku saja. Takut Nenek nanti kena pisaunya."
"Jangan meremehkan Nenek ya, Nenek itu jago masak dan masih punya tenaga."
"Iya-iya, tapi untuk saat ini lebih baik Nenek mengurangi aktivitas seperti ini. Kan tidak lucu kalau Nenek kena pisau,"
Larina menghela napas kasar saat melihat pisau ini menyayat jari sang Nenek, padahal baru saja ia menutup mulut setelah mengatakan hal tersebut.
"Tuh kaaaaaan."
Larina segera mengambil kapas dan mengelap darah segar yang keluar dari lukanya, kemudian ia memberikan obat merah.
"Keras kepala sih kalau dikasih tau. Ngeyel." omel Larina sambil meniup jari Nenek pemilik toko yang terluka.
"Nenek itu banyak-banyak istirahat saja, kalau mau cari keringat cukup jalan di dalam ruangan saja tapi jangan lama-lama. Kan sudah ada aku sekarang disini. Jangan keras kepala kalau aku kasih tau, kalau darah Nenek habis gara-gara terluka bagaimana coba? Kan bahaya." Larina masih lanjut mengomel sambil memasang perban.
"Pokoknya, mulai sekarang Nenek menurut saja padaku."
Bukannya kesal, Nenek pemilik toko itu tersenyum terus mendengar ocehan Larina.
"Kamu harus banyak makan, kamu terlihat semakin kurus dibanding saat pertama kali kemari." ucap Nenek
"Itu yang aku mau, Nek. Kurus. Heheh."
"Nah, selesai. Nenek duduk saja disini, itu sayurnya biar aku yang memasaknya."
***
Sesuai yang diharapkan, hari ini banyak pembeli yang datang. Larina pergi ke gudang untuk mengambil stok barang.
"Berasnya sisa ini saja?" tanya Larina pada dirinya sendiri saat melihat hanya tersisa 2 karung beras dan di gudang tidak ada stok.
"Nek, Nenek belanjanya dimana? Apa memang ada suplier sendiri?" tanya Larina.
"Ada suplier, tapi bulan ini mereka tidak datang karena tokonya sepi."
Mau tidak mau Larina harus mencari suplier baru atau belanja di toko besar yang ada di Kota.
"Ya sudah, biar aku saja."
***
Sore harinya, Larina menghitung semua uang dari tokonya.
"Belum kembali modal," gumamnya.
"Baiklah, tidak apa-apa. Semangat!!!"
__ADS_1