
Malam harinya...
Sambil mendengarkan musik, Larina bersenandung kecil dan ia tetap bisa fokus pada tugasnya.
"Aku haus," gumamnya pelan.
Larina keluar dari kamar, ia menghela nafas sambil memandangi ruangan diluar kamarnya.
"Huufft, aku bersyukur bisa hidup sampai detik ini."
Larina melangkah ke arah dapur.
"Mengingat harusnya Larina sudah tewas saat ini karena bunuh diri,"
Langkahnya terhenti saat ia melihat lampu teras belakang rumah masih menyala.
"Bukannya sudah ku matikan tadi?"
Larina mendekat ke arah pintu teras belakang rumah karena saklar lampunya ada di dekat pintu itu. Saat akan menekan saklar lampu, Larina dibuat heran karena Ibunya tengah asik duduk sambil mengobrol melalui Hp.
"Hemm, pasti sama selingkuhannya." tebak Larina.
'ceklek' Larina membuka pintu.
"Bu," panggil Larina.
Ibu Larina menoleh sekilas lalu mengabaikannya.
"Bu, sudah malam." tegur Larina.
"Ssstttt!"
"Bu, Ayah sudah di rumah loh. Apalagi ini sudah jam 10 malam,"
"Sebentar ya," ucap Ibu Larina kepada orang di seberang telfon dengan lembut. Ibu Larina mengakhiri telfonnya.
"Apa sih, mengganggu saja."
"Bu, Ayah itu sudah ada di rumah. Ini juga sudah malam, hargai keberadaan Ayah."
"Kau itu tau apa? Jangan sok begini. Lebih baik kau belajar dan jangan buat aku malu."
"Bu, aku ingin punya keluarga harmonis. Ibu itu bukanlah anak muda lagi, ingat umur."
"Diam!"
"Sekali lagi aku peringatkan Ibu untuk berhenti berselingkuh. Jika masih ingin menjalin hubungan dengan pria lain, ceraikan Ayahku!"
Ibu Larina berdiri sambil berkacak pinggang.
"Mulutmu ini harus ku didik!"
'Plak!'
Ibu Larina menampar Larina cukup keras,
"Bu," sambil memegangi pipinya.
"Kau ini tidak usah ikut campur, kau tidak mengerti apapun. Kau tidak tau masalah hidupku, Larina!" Ibu Larina kesal.
"Terus kalau Ibu selingkuh maka Ibu akan terbebas dari masalah yang menimpa? Begitu? Tidak lah!" Larina memicingkan mata.
Tangan Ibu Larina mengepal, emosinya sudah berada di ubun-ubun.
"Anak kurang ajar!!"
__ADS_1
Ibu Larina langsung mendorong Larina, Larina membulatkan mata karena terkejut akan serangan dadakan tersebut.
'Buughh!' tubuh Larina terbentur ke tembok, tangan kanannya terbentur ke pot berukuran besar yang tebuat dari semen.
"Aaarrgghh,"
Larina meringis kesakitan.
"Jangan buat aku melakukan hal yang buruk!"
"Apa salah jika anakmu ini melarang Ibunya untuk tidak melakukan kesalahan?!"
Ibu Larina semakin marah.
"Anak si*alan!"
Ibu Larina mengambil gelas yang ada di meja, gelas itu masih berisi kopi hangat yang ia seduh tadi.
Tanpa basa-basi Ibu Larina langsung melempar gelas itu pada Larina, Larina tidak sempat menghindar karena tangan kanannya yang terasa sangat ngilu.
"Kyaaa!" pekik Larina saat gelas berisi kopi itu mengenai kepalanya.
'Prang' gelas itu terjatuh ke lantai setelah menghantam dahi Larina, wajah Larina sudah berlumuran kopi.
"Menyusahkan!"
Ibu Larina mengambil alas gelasnya juga lalu melemparkannya ke Larina dengan keras,
Ia tidak bisa membohongi dirinya kalau itu sangatlah sakit. Masih belum puas melihat Larina yang kesakitan itu, Ibu Larina dengan langkah cepat pergi ke dapur, tidak lama kemudian Ibu Larina datang membawa termos air.
"Bu, Ibu mau apa?!" Larina terkejut, ia mengusap kopi diwajahnya.
"Semakin hari kau semakin berani melawanku!" Ibu Larina membuka penutup termos di tangannya.
"Aku akan memberimu pelajaran karena telah berani kepadaku!"
"Bu!" Larina panik saat melihat Ibunya bersiap menuangkan air di termos dan diarahkan kepadanya.
Larina berusaha berdiri dan menahan sakit di tangan kanan serta kepalanya, Ibu Larina langsung menarik Larina dengan keras dan membantingnya ke lantai.
Manik mata Larina membulat.
"Rasakan ini," Ibu Larina menyipitkan mata, dengan raut wajah jahat dan tanpa rasa belas kasihan Ibu Larina menyiramkan air mendidih di termos itu ke kaki Larina.
"Kyaaaaaa!!" pekik Larina sambil menangis merasakan air panas itu menyentuh kulit kakinya.
Larina menghindar namun Ibu Larina langsung menginjak kaki Larina dan meneruskan aksinya menyiram kaki Larina dengan air panas tersebut.
"Ayaaaaaahhhhh!!!!"
Ayah Larina terbangun, mendengar suara Larina. Ia melihat Istrinya tidak ada di sampingnya, mendengar teriakan itu ia segera bangkit dari tempat tidur dan pergi ke sumber asal suara.
Ayah Larina terkejut bukan main saat melihat Istrinya menginjak kaki dan tangan Larina serta menyiram air dari termos ke kaki Larina, dilihatnya Larina terus memukuli kaki Ibunya dan berontak namun ia tidak mampu.
"Bu!" Teriak Ayah Larina sambil membuka pintu dengan keras.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara,
"Ayah!," panggil Larina yang sudah berurai air mata.
Ayah Larina marah. Ia menambil paksa termos di tangan Ibu Larina dan membantingnya ke sembarang arah.
"Singkirkan kakimu!"
"Kau berani berbiacara dengan nada keras padaku?!!"
__ADS_1
"Minggir!!" Ayah Larina mendorong Ibu Larina ke samping.
"Ayah, hiikss."
Sambil menitikkan air mata, Ayah Larina mengangkat Larina, hatinya semakin remuk saat melihat darah ada dilantai dan ternyata darah itu berasal dari betis Larina. Disamping Larina juga terdapat beberapa pecahan beling.
"Sakit," dengan suara bergetar.
Ayah Larina tidak menjawab, air matanya terus mengalir sambil menggendong tubuh Larina. Larina di dudukkan di lantai teras rumah, ia pergi mengambil kain panjang serta mengeluarkan motornya.
Setelah Larina dinaikkan ke motor, Ayah Larina mengikat tubuh Larina dengan dirinya menggunakan kain panjang tadi.
Malam itu juga Ayah Larina membawa Larina ke rumah sakit terdekat, bersamaan dengan isak tangis Larina, hati Ayah Larina bagai disayat pisau tajam.
"Maafkan aku, mungkin caraku mengingatkan Ibu Larina salah. Tapi aku hanya ingin Larina merasakan hangatnya keluarga melalui aku," gumamnya pelan.
"Maksudnya??" Ayah Larina rupanya bisa mendengarnya sedikit.
Perlahan-lahan mata Larina terpejam, ia mulai kehilangan kesadaran, tubuhnya seketika lemas.
Ayah Larina yang menyadari hal itu dengan cepat tangan kirinya menarik tangan Larina melingkar di perutnya.
Sesampainya di rumah Sakit, Larina langsung di tangani.
Dokter mengatakan Larina harus dirawat inap karena kedua kakinya melepuh serta tulang pergelangan Larina bergeser, ditemukan juga beberapa pecahan beling di betis Larina yang menyebabkan luka cukup dalam, Ayah Larina setuju.
***
Ayah Larina masuk ke dalam rumah, ia tidak berkata apapun saat Ibu Larina membukakan pintu. Ia segera mengambil beberapa pakaian ganti dan ia kembali meninggalkan rumah.
***
Adinda membuka matanya perlahan, ia berada di tempat yang ia pun tidak mengetahuinya, suasana gelap, tanpa ada cahaya. Tiba-tiba muncul cahaya menyilaukan matanya, sesosok bayangan muncul dari cahaya tersebut.
"Siapa?" tanya Larina.
"Terimakasih dan maaf," ucap sosok bayangan itu.
Adinda membulatkan mata saat mendengar suara itu karena ia mengenalinya.
Sosok itu semakin mendekat namun wajahnya tidak terlihat jelas alias ngeblur.
"Larina?"
Sentuhan tangan hangat dapat Adinda rasakan di pipinya,
"Maaf, ya." ucap sosok itu.
"Hey!" Adinda berusaha menyentuh sosok di depannya namun sosok itu seketika lenyap bersamaan dengan cahaya menyilaukan itu menghilang.
****
Larina membuka mata, pandangannya kabur, ia mengatur nafasnya.
"Nak," terdengar suara disampingnya.
Perlahan-lahan penglihatannya mulai jernih kembali, ia menatap langit-langit ruangan yang bernuansa putih itu.
"Nak," panggil lagi Ayah Larina.
Larina menoleh ke samping dan mendapati Ayahnya tersenyum dengan air mata yang membasahi wajahnya.
"Ayah," panggil Larina dengan suara serak.
"Akhirnya kamu sadar," Ayah Larina menciumi tangan Larina sambil berurai air mata.
__ADS_1