
Open request up di jam berapa.
Berikut pilihan jamnya:
1. Pukul 08:00 - 11:00 Wib
2. Pukul 17:00 - 19:00 Wib
3. Pukul 20:00 - 23:00 Wib
Ini biar authornya gak males upπ
πππ
"Kak Larina," panggil Azka selaku ketua Osis.
Larina yang baru akan masuk ke dalam kelas menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah sumber suara.
"Iya?"
"Kami menunggu Kak Larina untuk berangkat ke Sekolah XX."
"Ohh, baiklah. Dimana Rafa?"
"Di tempat parkir mobil, Kak. Kami menunggu Kak Larina."
"Hehe, maaf ya. Aku telah membuat kalian menunggu. Aku tidak sempat lihat Hp tadi," ucap Larina.
"Iya kak,"
Mereka berdua bergegas ke tempat parkir mobil Guru. Kali ini mereka menggunakan mobil Bapak Kepala Sekolah.
"Maaf aku terlambat," ucap Larina sambil masuk ke mobil.
"Iya kak, tidak apa-apa."
Larina duduk di sebelah Rafa.
"Kau tidak membaca pesanku?" tanya Rafa dengan nada datar.
"Iya, maaf. Aku kelelahan semalam, tadi pagi aku juga buru-buru."
Rafa hanya menghela napas.
Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya mereka telah tiba di sekolah yang mengundang mereka. Mereka segera pergi ke aula sekolah XX, mereka disambut hangat oleh OSIS di sekolah itu.
Setelah berkenalan, mereka di persilahkan masuk. Rafa dan Larina duduk di kursi yang bersebalahan.
"Menurutmu, bagaimana dengan temanya?" bisik Rafa.
"Temanya bagus," jawab Larina dengan berbisik juga.
Beberapa menit kemudian acara di mulai, Larina dengan fokus mendengarkan penyampaian Narasumber. Ia juga mencatat poin-poin pentingnya. Rafa pun melakukan hal yang sama.
45 menit berlalu...
"Nah, dari materi Narasumber hebat kita tadi, apakah para hadirin memiliki pertanyaan? Jika iya, silahkan angkat tangan."
Rafa dengan cepat mengangkat tangan, setelah perkenalan diri, ia mengajukan pertanyaan dan diberi tepuk tangan oleh para hadirin yang hadir dalam acara tersebut.
Mendengar jawaban sang Narasumber membuat Larina kurang setuju dengan jawabannya, akhirnya Larina mengangkat tangan untuk bertanya terkait jawaban yang diberikan untuk Rafa.
Masih kurang puas dengan jawaban yang di dapat, Larina kembali menyanggahnya sampai ia mendapat jawaban yang pas. Seisi ruangan dibuat heboh oleh Larina yang berani bertanya dan menyanggah tanpa gugup sedikitpun.
Tidak terasa acara pun selesai. Larina berjabat tangan dengan Ketua Osis dari sekolah XX,
Ketua Osis sekolah XX menjabat tangan semua tamu undangan yang hendak pulang. Setelah berjabat tangan dengan Rafa, ia beralih berjabat tangan dengan Larina.
"Terimakasih atas undangannya," ucap Larina sambil melerai jabat tangannya.
"Terimakasih juga karena kalian telah bersedia meluangkan waktu untuk menghadiri undangan kami." timpalnya.
Tiba-tiba Larina mendapat panggilan alam (Panggilan alam disini bisa berupa Buang Air Kecil maupun Buang Air Besar).
__ADS_1
"Oh iya, toiletnya dimana ya?" tanya Larina sambil menahan panggilan alam.
"Aku antar, kak. Ayo." ucap Wakil Ketua Osis sekolah XX.
Larina mengangguk.
"Kalian mau langsung pulang?" tanya Ketua Osis sekolah XX.
"Iya, kami langsung pulang." jawab Ketua Osis dari sekolah Larina.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih."
Mereka berjalan menuju mobil dan memutuskan akan menunggu Larina di mobil saja.
Saat keluar dari toilet, Larina terkejut karena hampir bertabrakan dengan Ketua Osis sekolah XX.
Larina tersenyum ramah.
"Oh iya, kamu yang tadi ya? Kalau tidak salah namamu Larina?" tanyanya.
"Betul, kak."
"Salam kenal, aku Vito. Ketua Osis di sekolah ini." Vito mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Iya kak, salam kenal." Larina menerima jabatan tangan tersebut.
"Tadi kan sudah kenalan saat kami baru datang," batin Larina.
"Teman-temanmu menunggumu di mobil." ucap Vito sambil melerai jabat tangan mereka.
"Iya. Terimakasih informasinya."
"Ayo ku antar." ucap Vito.
"Eh, terimakasih kak. Bagaimana dengan tamu yang lain?" Larina merasa sedikit sungkan.
"Oh, tenang. Anggota Osis lainnya ada, kok."
Larina mengangguk. Mereka berdua berjalan bersama namun Larina tetap jaga jarak.
"Kelas XII, kak. Aku satu kelas dengan laki-laki yang duduk disampingku tadi."
Vito mengangguk.
"Aku kagum melihat caramu bicara tadi, kau tidak gugup saat berbicara dengan Narasumber dan beberapa kali menyanggahnya."
"Iya kak, itu untuk melatih mentalku juga saat di depan umum."
"Kita seumuran, kan? Jangan panggil 'Kak', panggil saja namaku."
Larina tersenyum simpul.
"Nanti kesannya tidak sopan," jelas Larina.
"Tidak apa-apa, kok."
"Boleh minta Nomer Hp-mu?"
Larina terkejut.
"Eh? Kalau boleh tau, untuk apa ya kak?"
"Ya untuk menambah teman," jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Tidak ada."
Sahut Rafa yang tiba-tiba muncul di balik tembok.
"Rafa,"
"Eh? Kok bisa tidak ada?" tanya Vito.
Rafa tidak menjawabnya, ia langsung meraih tangan Larina dan melangkah pergi.
__ADS_1
"Ada suatu hal yang terjadi pada HP-nya, jadi dia tidak memiliki nomer HP pribadi. Kami pamit, terimakasih undangannya." pamit Rafa.
"Kami permisi," pamit Larina.
"Oh begitu, baiklah. Sampai jumpa." timpal Vito sambil tersenyum.
"Mereka pacaran kah?" gumamnya pelan.
***
Rafa terus menggandeng tangan Larina dan melepaskannya saat akan sampai di mobil.
"Jangan memberikan nomer pribadimu ke sembarang orang," ucap Rafa dengan nada datar.
Larina terkekeh.
"Aku tau itu,"
"Hmmm."
"Kita cari makan dulu, yuk." ajak Wakil Ketua Osis.
"Boleh,"
"Kak Larina mau makan apa?" tanyanya.
"Aku, ya? Aku ikut kalian saja." jawab Larina sambil melempar senyumnya.
"Kalau Kak Rafa?"
"Sama dengan Larina." jawabnya dengan cepat.
"Kalau Azka? Mau makan apa?"
"Emmm, apa ya? Kalau siang-siang seperti ini enaknya makan apa, ya?"
"Yang dingin-dingin enak sih!" jelas wakil ketua osis.
"Itu mah minumnya nanti,"
"Ya iya. Tapi kan enak,"
"Iya tau, kan kita ini mau cari makannya juga, bukan hanya minumannya."
Larina terkekeh melihat tingkah mereka berdua.
"Asal tidak berkuah panas saja," saran Larina.
"Oke. Berarti bakso skip."
Singkat cerita mereka berhenti di suatu rumah makan yang tidak terlalu ramai. Teman-temannya yang lain turun terlebih dahulu dari mobil, Rafa memegang pergegalangan tangan Larina saat Larina akan ikut turun dari mobil.
"Ada apa?" tanya Larina.
Rafa mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan sebotol minuman.
"Ini, untukmu." ucapnya sambil menyodorkan botol tersebut.
"Ini apa?"
"Jus buah. Aku membuatnya sendiri."
"Terimakasih banyak." sambil menerima botol tersebut dari tangan Rafa.
Larina tau harusnya Jus buah itu baiknya langsung dikonsumsi saat baru dibuat, namun untuk menghargai Rafa, ia pun menerimanya dan langsung meminumnya beberapa teguk.
"Enak," puji Larina.
Rafa tersenyum tipis mendengarnya.
"Baiklah, kita turun."
"Oke!" Larina membuka pintu mobil dan turun dari mobil di ikuti Rafa.
__ADS_1
"Kalian lama sekali." keluh Azka.
Larina hanya tersenyum, ia meletakkan jus buahnya di meja. Mereka semua mengobrol sembari menunggu pesanan datang.