Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 24: Tetap Masuk Sekolah Walau Belum Sembuh Total.


__ADS_3

Hari senin, pukul 06:00.


Larina memutuskan tetap masuk sekolah hari ini walaupun kondisi kedua kakinya belum sembuh betul.


"Yakin mau Sekolah?" tanya Ayah Larina sambil membawa sandal selop.


"Iya, Yah." Larina tersenyum.


Ayah Larina membantu Larina mengenakan sandal yang ia bawa tadi.


"Sakit?" tanya Ayahnya.


"Sedikit. Tapi tidak apa-apa."


Larina berdiri, ia menelan ludah, raut wajahnya terlihat menahan sakit.


"Sebaiknya jangan masuk sekolah dulu, tunggu lukanya kering."


"Tidak mau. Aku mau tetap sekolah,"


"Heemmm, keras kepala. Nanti Ayah antar jemput, ya?. Kamu jangan banyak berjalan di sekolah nanti."


"Siap!"


Setelah 2 hari  berlatih, Larina bisa melangkahkan kakinya perlahan dengan rasa perih ia rasakan saat punggung kakinya bergesek dengan sandalnya.


Ayahnya tidak tega melihat pemandangan di depannya itu. Ia mengambil alih tas Larina dan menggendong Larina.


"Kenapa?" tanya Larina.


"Agar kakimu tidak terlalu sakit." jawab Ayahnya.


"Ayah, apa aku semakin berat?" tanya Larina saat Ayahnya menurunkan dirinya di motor.


"Tidak juga." Ayahnya tersenyum.


"Sungguh?"


Ayah Larina mengangguk.


****


Sesampainya di sekolah.


Ayah Larina menuntun Larina berjalan menuju kelas, Larina menolak untuk di gendong. Larina menghela nafas saat melihat anak tangga di depannya.


"Sudah Ayah katakan sebaiknya kamu Ayah gendong," tutur Ayahnya.


"Tidak mau."


Dengan susah payah dan menahan rasa sakit di kakinya, Larina perlahan menaiki anak tangga di dampingi Ayahnya.


"Astaga, kepalaku sampai cenut-cenut." batin Larina.


"Ayah, sebentar lagi aku sudah sampai di kelas, Ayah bisa kembali."


Ayah Larina tidak menjawab.


"Aku akan baik-baik saja, jangan ragukan kekuatanku!"


Dengan berat hati Ayah Larina menurutinya. Larina melambaikan tangannya dari lantai dua pada Ayahnya yang melangkah keluar dari sekolah.


Rafa berdiri di dekat jendela kelasnya sambil memperhatikan Larina yang melangkah pelan dan terlihat menahan sakit, ia ingin sekali membantunya namun ia masih terlalu malu.


Tidak tega melihat kondisi Larina, Rafa kembali duduk di bangkunya.


"Kenapa, Rafa? Kau terlihat gusar." tanya salah satu teman Rafa.


"Tidak apa-apa." jawabnya dengan cepat.


Dari arah berlawanan terlihat Bapak Kepala Sekolah sedang menuju ke arah Larina.


"Loh, beneran masuk hari ini?" tanya Kepala Sekolah.

__ADS_1


"Iya, Pak. Oh iya, terimakasih kemarin telah menjenguk saya ke rumah."


"Sama-sama. Kaki kamu?"


"Sedikit perih tapi tidak masalah." Larina tersenyum.


Setelah mengobrol singkat, Bapak Kepsek hendak membantu Larina namun Larina menolak dengan alasan kelasnya sudah berada di sampingnya.


Setelah Bapak kepala sekolah berlalu, Larina masuk ke dalam kelas. Ia menjadi pusat perhatian teman di kelasnya. Beberapa temannya menyapa dan menanyakan kondisi Larina, sisanya cuek-cuek saja. Bella dkk pun tidak peduli.


"Lah, ngecosplay jadi Mumi?"


"Iya tuh, tapi cuma setengah. Hahah"


Doni hanya diam saat teman-temannya mengejek Larina. Larina terlihat tidak peduli dan melangkah menuju bangkunya.


***


Jam istirahat.


Larina berjalan pelan menuju toilet untuk Buang Air Kecil. Saat sudah masuk ke dalam toilet, ia sedikit terkejut karena sudah ada Bella dan anak buahnya.


"Akhirnya bintang kelas telah datang."


"Mau apa?" tanya Larina.


"Jangan pura-pura lupa akan kesalahanmu, ya!" Bella menarik tubuh Larina yang tadinya berada di dekat pintu.


"Aaawww!" Larina meringis karena gesekan di kakinya.


"Ups! Sakit, ya?" Safina mendekat.


"Memangnya ini luka sungguhan? Apa hanya diperban padahal tidak ada yang luka?!" timpal Nana, ia berjongkok dan menepuk punggung kaki Larina.


"Apa mau kalian?!" Larina kesal.


"Kau tidak ingat atau bagaimana? Kau mengancam jabatanku!" Bella memasang wajah kesal pada Larina.


Larina bingung,


"Cih!"


Larina membulatkan mata saat tubuhnya di dorong ke tembok oleh Bella.


"Kau tidak mengerti? Aku yang merupakan ketua kelas ini mendapat hukuman dari Guru BK, itu karenamu! Aku kehilangan kehormatanku."


"Oh," sahut Larina santai


"Ya itu sih karena ulahmu sendiri," imbuh Larina.


Bella semakin kesal. Bella memukul tembok disamping Larina.


"Kau ini!!"


"Kan betul? Itu ulahmu sendiri. Memangnya kau berharap apa padaku? Berharap aku akan diam saja? Tentu tidak!"


"Rasa malumu saat mendapat hukuman itu tidaklah sesakit yang ku rasakan. Lebay!" lanjutnya.


"Songong!" Safina tiba-tiba menendang kaki Larina.


Larina kesakitan, dari sudut matanya keluar sedikit air mata.


"Utututu, sakit ya?" Nana menyeka air mata Larina disudut matanya.


Bella tersenyum senang saat melihat Larina menitikkan air mata.


"Wah, aku sudah lama loh tidak melihat kau menangis." ucap Bella


Rasa sakitnya tidak bisa diutarakan lewat kata-kata saat Bella menendang kaki Larina juga, seketika mata Larina memerah karena merasakan sakit di kakinya.


Tidak mau terus disakiti, rahang Larina mengeras. ia menyeka air matanya dan meraih tangan Bella, Bella membulatkan mata saat tangan kanannya di pelintir oleh Larina.


"Kau ini penasaran dengan rasa sakit ya?" tanya Larina.

__ADS_1


Larina menahan sakit saat Nana menendang kakinya lagi.


Bersamaan dengam air matanya yang terus mengalir, Larina semakin memperkuat aksinya, Bella menitikkan air mata karena tangannya dipelintir semakin kuat oleh Larina.


"Tendang saja terus sampai kupatahkan tangan ketua kalian!" Larina menantang anak buah Bella.


"Kalian, stop!!!" Bella sudah tidak kuat menahan sakitnya. Ia berusaha berontak namun semakin ia berontak maka tangannya semakin terasa akan segera patah.


"Kalau kau lemah begini, jangan sok membully!" Larina melepaskan tangan Bella dan menghempaskannya hingga Bella jatuh tersungkur ke lantai.


Safina dan Nana segera membantu Bella berdiri. Lala menatap Larina dengan tatapan takut, jadi ia tidak berani ikut-ikutan.


"Ayo, siapa lagi yang mau merasakan sensasi hot-hot ngeri? Biar ku pelintir juga tangannya. Bisa request pelintir leher juga." ucap Larina sambil berkacak pinggang.


'tok tok tok'


"Kenapa pintunya di kunci?" terdengar suara dari luar toilet.


"Kau akan merasakan akibatnya nanti!" ancam Bella.


"La, buka pintunya."


"Oh, oke."


'Ceklek' pintu terbuka.


"Eh, Doni?" Lala terkejut.


"Kenapa di kunci? Kalian rapat disini?" tanya Doni.


Bella dkk tidak menanggapi pertanyaan Doni.


"Kami permisi," ucap Bella kemudian pergi dari toilet di ikuti anak buahnya.


Setelah keempat orang itu pergi, Doni melangkah ke arah Larina yang menempel di tembok.


"Kau ngapain juga? Mau jadi cicak?"


"Hilih, mana bisa." Larina melangkah.


"Mau ku bantu?"


"Jangan mes*um ya, aku mau BAK."


Doni terkekeh pelan.


***


Larina kembali ke kelas di ikuti Doni yang berjalan di belakangnya.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Larina yang bersiap membuka pintu kelas.


"Suka-suka saya, lah."


"Kenapa nih anak?" gumam Larina.


"Memangnya kakimu itu kenapa? Kok masih di perban?" tanya Doni.


"Kepo!"


Tanpa mereka sadari di belakang mereka ada Rafa yang berdiri dan memperhatikan keduanya, Rafa mengepalkan tangan saat Doni dan Larina tidak sengaja membuka pintu bersamaan dan tangan mereka bersentuhan.


"Maaf," ucap Doni dengan cepat saat tidak sengaja menyentuh tangan Larina yang bersiap membuka pintu.


Larina tertawa saat mendengar Doni mengucapkan kata 'maaf'.


Melihat reaksi Larina yang tertawa membuat Rafa semakin kesal. Rafa melangkah cepat dan membukakan pintu kelas mereka berdua.


"Eh?" Larina terkejut saat ada tangan yang membuka pintu kelas dan ternyata itu adalah tangan Rafa.


"Tidak baik bermesraan di tempat seperti ini," ucap Rafa ketus lalu melangkah pergi.


"Maksudnya apa?" tanya Larina pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Doni mengendikkan bahu tanda ia tidak tau. Tidak mau ambil pusing, Doni masuk ke dalam kelas dan meninggalkan Larina yang masih diam kebingungan.


__ADS_2