
🍀Jam up pukul 20:00 - 23:00
🍀Eps ini di up pukul 20:27 WIB.
🍀🍀🍀
Hari ini para siswa-siswi di sekolah tersebut dipulangkan lebih awal.
Sepulang sekolah Larina langsung menyapu dan mengepel lantai rumah, setelah selesai, ia kemudian segera membersihkan diri dan bersiap-siap karena Rafa akan datang menjemputnya 30 menit lagi.
Larina berdiri di depan cermin dan memandangi pantulan dirinya.
"Jika aku berhasil membuat Larina dan Rafa bersatu, bukankah sama saja aku yang akan merasakan cinta tersebut? Karena aku yang berada dalam tubuh Larina saat ini. Apa aku bisa menyatukan cinta mereka jika aku sendiri tidak memiliki rasa cinta pada Rafa? Apakah aku akan selamanya ada disini?" gumamnya.
'Tok tok tok' terdengar suara ketukan pintu depan, Ibu Larina segera membuka pintu.
"Selamat sore, Tante." sapa Rafa sambil sedikit menundukkan kepalanya kemudian mengangkatnya kembali.
"Iya, sore. Siapa, ya?" tanya Ibu Larina
"Saya Rafa, teman kelasnya Larina."
"Oh, ada perlu?"
"Rafa," terdengar suara Larina, ia berjalan ke arah mereka berdua.
"Aku pergi dulu," pamit Larina pada Ibunya.
"Apa aku mengizinkannya?" cegah Ibu Larina.
"Aku sudah menyapu dan mengepel, aku sudah izin pada Ayah juga tadi."
Ibu Larina menghela napas kasar. Larina melangkahkan kakinya ke luar rumah, ia menarik tangan Rafa untuk mengikutinya.
"Kami pamit, Tante." pamit Rafa, Ibu Larina hanya mengendikkan bahu.
Rafa menghentikan langkahnya dan secara otomatis Larina juga berhenti.
"Ada apa?" tanya Larina.
"Apa Ibumu mengizinkanmu pergi?"
Larina hanya tersenyum.
"Walaupun aku meminta izin sampai menangis darah pun ia tidak akan memberi izin," jawab Larina sambil tersenyum kecut.
Rafa merasakan senyum Larina yang bukan merupakan senyum bahagia, ia spontan menepuk pelan kening Larina pelan.
'Deg!' Jantung Larina berdetak lebih cepat.
"Ehem!" Rafa berdehem dan menghentikan aksinya, kamudian ia menggandeng tangan Larina menuju mobilnya yang di parkir di tepi jalan.
Ibu Larina yang akan menutup pintu rumah menghentikan aksinya saat melihat Larina masuk ke dalam mobil.
"Anak orang kaya?" gumam Ibu Larina.
__ADS_1
Selama di perjalanan, Larina dan Rafa mengobrol dan berdiskusi untuk mengganti buku yang ada di pojok baca di kelasnya. Setelah hampir 30 menit akhirnya mereka tiba di bioskop, ternyata di dalam sana sudah banyak para pengunjung yang sedang antri.
"Tidak ada tempat duduk," tutur Larina sambil berdiri dan mencoba mencari kursi kosong dengan pandangannya.
"Sebentar lagi sudah jam 4 sore," timpal Rafa.
Larina mengangguk,
"Tunggu disini," pinta Rafa.
"Mau kemana?"
Rafa tidak menjawab, tidak lama kemudian Rafa kembali membawa minuman serta popcorn.
"Kenapa tidak bawa minum dari rumah saja tadi, ya?" Larina terkekeh.
"Tidak masalah, disini kan ada." jawab Rafa.
"Sini biar aku yang pegang popcorn-nya,"
"Tidak perlu. Aku bisa." tolak Rafa.
5 menit berlalu, tepat pukul 4 sore, para pengunjung mulai berbaris, satu persatu mereka masuk ke dalam ruangan.
Larina tersenyum tipis saat memasuki ruangan yang tenang, seorang petugas memandu Larina dan Rafa untuk duduk ke kursi mereka berdua, mereka ada di kursi paling belakang, perlu di ketahui ini di sengaja oleh Rafa.
"Tidak apa-apa kan kursinya di belakang?" tanya Rafa.
"Tidak apa-apa kok," jawab Larina sambil tersenyum,
Mereka berdua duduk dan menyamankan posisi duduknya. Tidak sengaja Larina menyentuh tangan Rafa,
"Aku baik-baik saja."
"Tenanglah diriku. Kan dari tadi sudah latihan agar tidak gugup, astaga." batin Rafa
"Yang benar? Nanti kau pingsan loh." bisik Larina.
Rafa hanya menggeleng, ia meletakkan minumannya.
Setelah semua penonton masuk ke dalam ruangan, lampu pun dimatikan dan film segera di mulai.
Di pertengahan Film, Rafa terkejut karena di film tersebut ada adegan 18+ (kiss). Wajah Larina memanas, begitupun dengan Rafa yang seketika salah tingkah, ia berkali-kali menelan ludah dan pada akhirnya memilih memejamkan mata sampai adegan tersebut selesai.
Larina terkekeh melihat tingkah Rafa yang memejamkan mata,
"Seperti ini ya rasanya di ajak nonton sama anak sekolahan?" batin Larina
"Ada apa?" bisik Larina setelah Rafa membuka matanya kembali.
"Tidak ada apa-apa." jawab Rafa dengan nada cuek.
"Kau salah pilih film, ya?"
"Sepertinya sih iya," jawab Rafa gugup.
__ADS_1
Larina tertawa kecil mendengar jawaban Rafa.
Tersisa 50 menit lagi film akan selesai, ada adegan kiss lagi dan membuat Rafa kembali memejamkan mata.
"Astaga, aku yang jomblo disuguhi film yang ada adegan ininya sih membuatku ingin berteriak." batin Larina.
Rafa membuka mata sedikit dan melirik ke arah Larina, ia sedikit terkejut melihat Larina yang menatap ke arah layar dengan begitu santainya seolah ia terbiasa.
"Kau pernah nonton di bioskop?" tanya Rafa dengan berbisik
"Tidak," jawab Larina dengan cepat.
"Pernah menonton film yang ada adegan ciuman?" tanya Rafa lagi.
"Tidak,"
"Tapi kau terlihat biasa saja menyaksikan adegan itu,"
"O-Oh, aku hanya tertarik saja sih. Rugi kalau menutup mata, sudah bayar untuk menonton film di bioskop tapi malah menutup mata dan tidak menyaksikan keseluruhan film-nya."
Rafa mengangguk setuju dengan jawaban Larina.
"Memangnya kau tidak gugup melihat adegan itu?"
Larina terdiam karena bingung harus menjawab apa.
"Ssttt, nikmati saja film-nya," ucap Larina sambil memakan popcorn-nya.
10 menit film akan selesai,
"Ck! Sial, ada adegan ciuman lagi," gerutu Rafa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku benar-benar salah pilih film, tapi benar juga kata Larina, rugi kalau aku menutup mata." batin Rafa.
Rafa menelan ludah lagi saat adegan tersebut semakin ganas, sebagai laki-laki normal ia pun merasa ada sesuatu yang menegang, terlebih saat melihat ke arah Larina ia justru tertuju pada mulut Larina yang tengah mengunyah popcorn.
"Persetan dengan rugi!" Rafa langsung menutup matanya. Larina kembali tertawa kecil melihat tingkah Rafa.
***
Film pun selesai, lampu menyala dan akhirnya Rafa bisa bernafas lega, begitupun dengan Larina.
"Akhirnya selesai!" ucap Larina dengan semangat.
"Iya,"
Rafa berdiri dan diikuti Larina.
"Aku lapar. Kita langsung cari makan saja." ucap Rafa
"Oke!"
Rafa menggelengkan kepala saat ingatan adegan ciuman itu menghampirinya.
"Stay cool, Rafa." batinnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Larina saat melihat terus menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. Aku hanya merasa lapar," jawab Rafa berbohong.