Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 26 : Tidak Rindu Membullyku?


__ADS_3

1 minggu berlalu.


Sepulang sekolah Larina melepas perban yang membungkus kedua kakinya. Terlihat lukanya mulai mengering.


'tok tok tok'


"Masuk," sahut Larina dari dalam kamar.


'Ceklek' pintu kamar Larina terbuka.


"Ayah,"


Ayah Larina tersenyum, ia datang membawa piring berisi makanan.


"Aku bisa ambil sendiri, loh." Larina merasa sungkan.


Ayah Larina meletakkan piring tersebut di meja belajar Larina.


"Tidak apa-apa." ucap Ayah Larina sembari duduk di tepi tempat tidur disebelah Larina.


"Bagaimana lukanya?"


"Sudah mengering dari kemarin. Setelah kering betul nanti aku kelupas kulitnya."


"Nanti belang,"


"Aku geli, Yah." sambil terkekeh pelan.


"Ayah belikan makanan untukmu," Ayah Larina mengambil piring yang ia bawa tadi.


"Sayurnya banyak sekali," ucap Larina saat Ayah Larina menunjukkan piring tersebut.


"Tidak suka?" tanya Ayah Larina.


"Suka dong." Larina langsung mengambil alih piring di tangan Ayahnya.


"Selamat makan!" Larina menyantap makanannya dengan lahap.


Disini Ayah Larina terlihat keheranan menyaksikan Larina menyantap makanan yang ia bawa.


"Nak, sejak kapan kamu suka sayuran?" tanya Ayahnya.


'Uhuukk!' Larina tersedak. Dengan cepat Ayah Larina menyodorkan minuman.


Setelah tenang, Larina melirik Ayahnya sekilas.


"Waduh, aku lupa kalau Larina kurang suka sayur," batinnya.


"Eeee ini tuh salah satu cara dietku, Ayah. Hehehe." Larina menelan ludah.


"Ooohh, sejak kapan? Kok Ayah baru tau?"


Larina mengedipkan mata beberapa kali.


"Yaaa sebenarnya sudah agak lama aku ingin melakukan hal ini, hanya saja aku malu mengatakannya pada Ayah."


Ayah Larina mengangguk.


"Baiklah, Ayah keluar dulu. Habiskan makanannya, ya."


"Siap!!!"


Ayah Larina keluar dari kamar Larina, setelah kepergian Ayahnya ia bisa bernafas lega.


"Astaga,"


****


Keesokan paginya.


Larina sudah bisa berjalan normal namun tetap di perban karena dirasa belum sembuh sempurna.


"Larina!" terdengar suara lembut seorang wanita.


Larina menghentikan langkahnya yang akan masuk ke dalam kelas, ia menoleh ke  arah sumber asal suara.


"Saya, Bu?" tanya Larina.


"Iya. Siapa lagi coba?"


"Heheh Bu Indah bisa saja. Ada yang bisa saya bantu Bu?"


"Iya nih. Ayo ikut Ibu ke ruangan saya."

__ADS_1


"Siap, Bu." Larina mengikuti langkah Bu Indah, guru Bahasa Indonesia.


Sesampainya di ruangan Bu Indah, Larina disuguhi setumpuk buku tulis di meja Bu Indah.


"Saya dengar dari guru BK, kamu mampu mengoreksi dengan cepat." tutur Bu Indah sambil mengambil setumpuk buku lainnya dari meja satunya.


Larina tampak sedang mengingat sesuatu.


"Oohh, saat itu saya di hukum oleh guru BK, Bu."


"Nah iya itu. Beliau mengatakan kamu mampu mengoreksi dengan cepat. Para guru akan mengadakan rapat setelah ini, saya butuh nilainya siang ini juga. Tetapi setelah rapat guru, saya ada rapat dengan Kepala Sekolah dengan para wali kelas juga. Kemungkinan selesai rapat masih nanti sore."


Larina mengangguk.


"Jadi saya ditugaskan untuk mengoreksi buku-buku ini, Bu?" tanya Larina.


"Iya. Tolong kamu koreksi ya. Ini buku kelas X A, yang ini X B. Terus yang ini XII B." sambil menunjuk masing-masing tumpukan buku di meja.


"Kalau para guru akan rapat pagi ini, jam kosong?" tanya Larina lagi.


"Iya. Jam kosong. Para siswa-siswi hari ini belajar di rumah masing-masing."


"Tes tes, selamat pagi semuanya," terdengar suara pengumuman yang terdengar oleh seluruh penghuni sekolah.


"Hari ini para guru ada rapat dadakan, para siswa-siswi silahkan belajar dirumah masing-masing." lanjutnya


Terdengar suara sorak meriah para pelajar di masing-masing kelasnya.


"Ini kunci jawabannya. Ibu mau ke kelas X A dan B dulu untuk memberikan PR." ucap Bu Indah.


"Terimakasih atas bantuannya, ya." ucapnya lagi, kemudian ia segera keluar dari ruangannya meninggalkan Larina sendirian.


"Oke,"


Larina meletakkan tas nya, ia mulai melaksanakan pekerjaan dadakannya tersebut.


20 menit berlalu..


"Hhooaaam,"


Larina mulai bosan.


Disisi lain di kelas Larina.


Rupanya tidak hanya kelas X yang diberi kado berupa PR oleh gurunya, kelas Larina pun mendapatkan hal yang sama.


"Baik, Pak."


Satu persatu nama siswa-siswi dipanggil untuk cek kehadiran.


"Larina mana?" tanya guru tersebut.


"Tidak hadir, Pak." jawab Bella.


"Aku melihatnya hadir tadi, tapi dia ikut Bu Indah." ucap teman sekelasnya yang lain.


"Buktinya mana? Tasnya saja tidak ada tuh," tanya Safina.


"Ya kan dia belum sempat masuk kelas tadi,"


"Alasan."


"Sudah, cukup. Saya lanjut," gurunya melanjutkan absensi.


Setelah selesai cek kehadiran, guru tersebut pun memberikan PR.


"PR kalian di halaman 74, pilihan ganda sama uraian. Di kerjakan langsung di LKS-nya saja, pakai pulpen, tidak boleh ada coretan, dikumpulkan ke ruangan saya besok."


"Baik, Pak."


***


'Tok tok tok'


"Iya," sahut Larina dari dalam ruangan, ia meletakkan pulpennya lalu pergi untuk membuka pintu.


"Eh, Doni? Ada apa?"


"Oh, benar ternyata kau ada di ruangan Bu Indah."


"Ada apa?" tanya Larina lagi.


"Ada PR."

__ADS_1


Larina menghela nafas.


"Di halaman 74, pilihan ganda plus uraiannya."


"Mantap," timpal Larina.


"Memangnya kau sedang apa disini? Bukannya Bu Indah ada rapat?"


Larina tidak menjawab, ia menunjuk ke arah meja kerja Bu Indah menggunakan ekor matanya.


Doni masih loading. Larina kembali menghela nafas.


"Aku sedang mendapat tugas khusus dari Bu Indah. Oh iya, kurasa akhir-akhir ini kau terlihat lebih tenang di kelas. Tidak rindu membullyku kah?"


Doni terdiam.


"Aku pergi dulu, ada urusan." pamit Doni tanpa menjawab pertanyaan Larina.


"Eh?"


"Masa dia sudah kalah?" batin Larina.


Larina melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai ia beralih melihat PR nya hari ini. Larina tersenyum melihat PR yang harus ia kerjakan rupanya sudah terisi.


"Nah, sebaikanya aku mengisi soal-soal selanjutnya saja." ucapnya pelan.


Setelah selesai Larina bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan Bu Indah, bersamaan dengan hal itu Bu Indah juga datang.


"Loh, mau kemana?"


"Pulang, Bu."


"Memangnya sudah selesai??"


Larina mengangguk. Bu indah melangkah ke arah meja kerjanya dan melihat hasil koreksi Larina.


"Kertas ini adalah list nilai-nilai yang saya koreksi tadi. Saya tidak tau Bu Indah mau meletakkan nilainya di bukunya langsung atau terpisah. Jadi saya buatkan list ini saja," tutur Larina sembari menyodorkan selembar kertas folio bergaris.


Bu Indah terlihat tidak percaya.


"Jika Ibu ragu, Ibu bisa cek kembali." ucap Larina.


Bu Indah pun mengecek beberapa buku dan mengoreksinya ulang, ia juga mencocokkannya dengan list yang dibuat Larina.


"Bagaimana, Bu?"


Bu Indah menelan ludah.


"O-oh, oke. Ini betul."


"Nah, kan." Larina tersenyum


"Baiklah, Bu. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Larina.


"Tidak ada. Cukup ini saja. Terimakasih, ya."


"Sama-sama, Bu. Saya permisi,"


***


Di gerbang sekolah Larina meliat Rafa sedang berdiri dan terlihat menunggu sesuatu, Larina menghampirinya.


"Hei," sapa Larina. Rafa menoleh namun ia tidak menjawab.


"Sedang apa disini? Kau menunggu seseorang?" tanya Larina.


Tidak lama datangnya sebuah mobil berhenti di depan keduanya.


"Tuan muda, Nyonya sudah menunggu anda."


"Oke."


"Aku duluan," pamit Rafa, dengan terburu-buru ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Iya, sampai jumpa!" Larina tersenyum.


Setelah mobil tersebut menjauh, Larina mengehela nafas.


"Seingatku, dalam novel yang ku baca, Ayah Rafa tidak bisa diselamatkan sih. Cepat atau lambat ia akan kehilangan Ayahnya," gumam Larina.


"Apa sekarang dia sedang menuju ke Rumah Sakit?"


"Apa sebaiknya aku menjenguknya ya? Tapi nanti takutnya Rafa curiga karena aku bisa tau kondisi Ayahnya."

__ADS_1


"Jenguk? Atau tidak?"


"Haiihhh! Aku jadi dilema."


__ADS_2