
Usai membeli buku bersama Ayahnya, Larina pulang dengan bahagia.
"Aku pulang," ucap Larina sambil masuk ke dalam rumah.
"Kenapa pulang lebih awal? Kau bolos?" tanya Ibu Larina
"Tidak, dia kan ikut lomba Cerdas Cermat hari ini jadi dia diperbolehkan pulang lebih awal." jawab Ayah Larina yang baru masuk ke dalam rumah.
"Oh. Dapat apa?"
Larina menunjukkan tropi dan piagamnya.
"Hanya itu?" Ibu Larina melangkah meninggalkan keduanya.
Senyum Larina memudar seketika.
"Tidak apa-apa, Ayah bangga!" Ayah Larina mengelus kepala Larina.
Larina tersenyum masam.
Keesokan paginya di sekolah...
Larina tersenyum saat melihat foto dirinya yang tertempel di mading sekolah dengan tulisan yang menyatakan Larina behasil meraih Juara 1 dan Rafa juara 2 dalam lomba cerdas cermat kemarin.
Tidak sedikit siswa-siswi yang melihat hal itu merasa heran namun juga ikut senang. Larina berdiri dihadapan mading dan memandangi foto dirinya.
"Larina, perlahan aku berhasil mengubah takdirmu." Batinnya.
Setelah puas memandangi mading, Larina melanjutkan langkahnya ke kelas. Sepanjang perjalanan ia kembali menjadi pusat perhatian oleh siswa-siswi kelas lain karena ia telah berhasil meraih juara 1.
"Selamat," ucap Bella dengan nada datar saat Larina baru masuk ke kelas.
"Terimakasih," Larina tersenyum.
Tidak lama kemudian seisi kelas dibuat diam dengan kehadiran Kepala Sekolah mereka.
"Selamat pagi," sapanya.
"Selamat pagi, Pak"
Bapak Kepala Sekolah mengatakan tujuannya datang ke kelas Larina adalah untuk memberi hadiah pada Larina.
"Ini hadiah untukmu," sambil menyerahkan bungkusan kado pada Larina..
"Terimakasih banyak, Pak." ucap Larina ramah.
"Terimakasih juga atas kerja kerasmu,"
Larina mengangguk.
πππ
"Aku pulang," Larina melepas sepatu.
"Karena kamu pulangnya tidak terlalu sore, itu rumput di halaman belakang rumah di cabutin, ya."
"Iya, Bu. Tapi nanti dulu, ya."
"Tidak ada penolakan."
Ibu Larina pergi ke dapur, Larina hanya menghela nafas dan mengikuti langkah Ibunya.
"Bu, aku dapat hadiah," sambil menunjukkan kado dari Kepala Sekolah tadi pagi.
"Dari siapa?"
"Dari Bapak Kepala Sekolah langsung, loh."Β Larina tersenyum.
"Oh," Ibu Larina melanjutkan aktivitas memasaknya.
Matahari mulai terbenam, Larina menyudahi pekerjaannya. Dilihatnya Ibunya sudah selesai makan, Larina pergi ke kamarnya untuk mandi karena tubuhnya sangat berkeringat.
Malam harinya...
"Tumben Ayah belum pulang," gumamnya.
Larina keluar dari kamar karena perutnya sudah keroncongan. Larina memutuskan untuk menelfon Ayahnya.
"Ayah belum pulang?"
"Belum, Nak. Ada sedikit pekerjaan yang harus Ayah selesaikan."
__ADS_1
"Eemmm begitu ya. Ayah pulang jam berapa?"
"Mungkin jam 8 malam nanti. Kamu belum makan?"
"Heheh, aku menunggu Ayah pulang saja."
"Tidak perlu menunggu Ayah pulang. Ayah sudah makan tadi sore. Kamu makanlah, ini sudah jam setengah 7."
"Baiklah. Oh iya, Larina dapat hadiah loh dari Kepala Sekolah tadi,"
"Oh ya? Selamat ya.."
"Terimakasih, Ayah."
"Hadiahnya apa saja, Nak?"
"Ada Buku 10 pcs, pulpen 1 box, dan masih ada lainnya."
"Wahhh, hebat."
"Kalau pekerjaan Ayah selesai cepat, Ayah pulangnya lebih cepat juga,"
Mereka melanjutkan obrolan via telfon sambil beberapa menit. Setelah selesai, Larina menuju ruang makan.
Saat Larina mengambil piring, Ibu Larina menghela nafas seperti tidak rela.
"Bu," panggil Larina.
"..." tidak ada sahutan padahal Ibu Larina ada disampingnya sambil merapikan gelas.
"Seharusnya Ibu tidak menikah dengan Ayah jika Ibu tidak mencintainya."
Ibu Larina tertegun.
"Jika Ibu terus-terusan selingkuh, lebih baik ceraikan Ayah,"
"Larina!!"
"Ceraikan saja Ayah kalau memang Ibu sudah tidak ingin bersama Ayah dan tidak ingin melihatku. Tidak hanya sekali aku memperingatkan Ibu untuk berhenti selingkuh tapi Ibu tidak mau mendengarkanku. Ibu pikir Ayah tidak tau kelakuan Ibu? Dia tau tapi dia diam."
Ibu Larina terdiam.
"Hanya karena aku adalah anak yang tidak Ibu inginkan jadinya Ibu hanya menganggapku sebagai budak." Dengan suara bergetar Larina menitikkan air mata.
"Aku tau semuanya!"
"Bocah kencur sepertimu itu tidak perlu sok tau seperti ini!"
'Tok tok tok' ketukan pintu
"Ayah Pulang," terdengar suara Ayah Larina dari luar rumah.
Larina meletakkan piring yang ia pegang sembari menghapus air matanya. Larina menghela nafas lalu dengan langkah cepat berlari ke ruang depan untuk menyambut Ayahnya yang baru pulang.
Ayah Larina tersenyum saat membuka pintu sudah ada Puterinya yang menyambut dirinya dengan senyum hangat.
"Selamat datang," ucap Larina tersenyum.
"Ayah tidak jadi pulang jam 8 ya?" Larina terkekeh pelan.
"Tidak jadi. Pekerjaannya selesai lebih cepat. Mata kamu kenapa merah?"
"Tadi pas cuci muka busa sabunnya masuk ke mata, Yah. Perih sekali!" Larina mengipasi matanya menggunakan kedua tangannya.
"Yang benar saja,"
"Iya benar. Aku kan lapar, pas mau makan ternyata aku baru ingat belum cuci muka. Nah karena laparnya ini tanganku bergetar sampai tidak fokus pada busa sabun di wajah."
"Ya ampun, ceroboh." Ayah Larina menyentil pelan dahi Larina
"Temani aku makan," pinta Larina sambil mengikuti langkah Ayahnya dari belakang.
"Boleh. Ayah juga lapar,"
"Lapar sungguhan apa pura-pura lapar?" Larina bergelanjut manja di lengan Ayahnya.
"Lapar sungguhan." Ayah Larina tersenyum, tangan kanannya mengelus puncak kepala Larina.
Larina menundukkan pandangan, ia kembali menitikkan air mata.
πππ
__ADS_1
Keesokan paginya.
"Ayah berangkat duluan, ya." pamit Ayah Larina yang baru selesai sarapan.
"Iya, Ayah. 10 menit lagi aku berangkat juga," Larina tersenyum.
***
Selesai sarapan Larina pergi ke kamarnya untuk merapikan pakaian dan mengambil tasnya. Saat keluar dari kamar ia sudah disambut oleh Ibunya.
"Urusan semalam belum selesai," ucap Ibunya.
Larina hanya diam dan menatap Ibunya.
"Apa saja yang kamu ketahui sampai-sampai kamu mengatakan tau semuanya?"
"Ibu bilang aku bocah kencur dan tidak perlu sok tau, kan?" Larina bertanya balik.
"Katakan, apa yang kamu tau?!"
"..."
Larina tidak menjawab.
"Jawab!!"
"Aku bingung, apakah Ibu ini layak atau tidak disebut seorang Ibu? Seorang Ibu kok ikut andil dalam merusak mental anaknya." Larina tersenyum remeh.
"Bagiku Ibu tidak pantas menjadi Ibuku, tapi aku berterimakasih karena Ibu telah berjasa melahirkanku. Ya, walaupun Ibu ogah memberiku ASI."
"Kurang ajar kamu ya!" Ibu Larina siap melayangkan pukulan namun Larina menahannya.
"Jika Ibu tidak mau memperbaiki kesalahan Ibu, lebih baik Ibu ceraikan saja Ayah. Biarkan Ayahku bahagia," ucap Larina penuh penekanan dan melepas tangan Ibunya.
"Aku berangkat sekolah," pamit Larina melangkah ke luar rumah.
Ibu Larina hanya bisa terdiam.
***
Di perjalanan Larina melihat ada orang yang tidak asing baginya sedang diam berdiri di trotoar jalan.
"Si Doni? Mau apa lagi dia?" Larina menghela nafas sambil terus melanjutkan langkahnya.
Larina menghentikan langkahnya di dekat Doni.
"Hai," sapa Larina.
Terlihat Doni seperti gugup.
"Tumben sendirian? Anak didikmu kemana? Hihi."Β Anak didik yang dimaksud Larina adalah teman-teman Doni yang biasanya ikut membully Larina.
Doni tidak menjawab dan sedikit membuang muka.
"Selamat," ucap Doni lalu berjalan memunggungi Larina.
"Eh? Masa sudah luluh? Kwkwkwk," gumam Larina.
"Selamat untuk apa ya?" Larina menyusul Doni dan berjalan disampingnya.
"Selamat untuk yang kemarin." jawab Doni dengan pandangan fokus ke depan. Larina melangkah lebih cepat dan berhenti di hadapan Doni.
"Ucapkan dengan lengkap dong, aku tidak mengerti nih."
Doni menghela nafas.
"Selamat untukmu karena kau berhasil meraih juara."
"Eeemmm seperti itu. Oke, terimakasih."
"Minggir," Doni mendorong pelan Larina ke samping.
"Kau sakit ya? Atau sedang dalam masalah? Kok tumben baik?" Larina tetap membuntuti Doni
"Diamlah!"
"Wooooo galak lagi," ledek Larina.
"Dengar ya, Doni. Jangan menilai seseorang itu hanya dari penampilan luarnya saja. Biar aku buluk begini, hatiku tidaklah sebuluk itu. Hanya karena aku tidak melawanmu bukan berarti aku takut padamu,"
Doni tidak menjawabnya,
__ADS_1
Melihat sekolah mereka sudah dekat, Doni menghentikan langkahnya.