
"Aku sudah membuat keputusan untuk memberi suaraku-" Rafa menggantung kalimatnya.
"Untuk Larina." lanjutnya.
Senyum Nana memudar dan Larina tersenyum lebar.
"Baiklah. Jumlah suara terakhir diberikan untuk Larina. Larina resmi menjadi Wakil ketua kelas XII A."
"Ehem!" Larina berdehem di dekat telinga Nana.
"Maaf sekali ya, kau tidak jadi tersenyum, deh." ucap Larina pelan.
"Diam!!" Nana mengepalkan kedua tangannya.
"Aku keberatan!" ucap Nana saat nama Larina ditulis sebagai wakil ketua kelas.
"Kenapa?"
"Larina tidak pantas menjadi wakil ketua. Dia bisa apa?"
"Sesuai dengan kesepakatan awal pemilihan ini menggunakan voting, maka tidak bisa diganggu gugat lah hasilnya."
Larina hanya terkekeh. Ia merangkul bahu Nana.
"Jangan bersedih, kau tidak perlu khawatir. Aku akan melakukan tugasku dengan baik, " ucap Larina.
"Cih."
"Kau terlihat bodoh loh karena hal ini," lanjut Larina.
Nana menghempas tangan Larina, ia berjalan menuju bangkunya dengan wajah yang ditekuk.
"Baiklah. Kita lanjut saja. Selanjutnya untuk Sekretaris, siapa yang mau mencalonkan diri?"
"Nana tidak mau mencalonkan diri?"
"Aku tidak mau menjabat apapun kalau Larina ada di dalamnya."
"Ya sudah, bagus itu." timpal Larina yang membuat Nana semakin kesal.
"Jadi, apakah tidak ada yang mau mencalonkan diri?"
Tidak ada yang menjawabnya, alasan para siswa-siswi enggan menjabat apapun di kelasnya karena tidak ingin repot mengurus kelas dan ingin fokus pada ujian-ujian yang akan mereka laksanakan.
"Baiklah, aku beri waktu 3 hari untuk kalian memikirkan kembali keputusan kalian yang tidak mau menjadi sekretaris dan lainnya."
***
Di kelas hanya ada Rafa dan Larina. Larina menghampiri Rafa yang sedang duduk di bangkunya sambil membaca buku.
"Rafa," panggil Larina.
Rafa menoleh sekilas tanpa menjawab panggilan Larina.
"Kau marah?" tanya Larina, ia duduk di bangku sebelah Rafa.
"Hem."
"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi." ucap Larina dengan lembut.
Rafa menghela napas, ia menutup bukunya dan meletakkannya di laci meja.
"Kalian berpacaran?" tanya Rafa.
"Kalian? Aku dengan Doni?" Larina bertanya juga.
"Iya."
"Oh, kami tidak memiliki hubungan spesial."
"Kalian terlihat dekat." Rafa kembali mengambil bukunya dan membuka halamannya secara acak.
Larina meletakkan tangannya diatas buku dan menghalangi pandangan Rafa.
"Kami tidak ada hubungan apapun selain teman kelas." ucap Larina.
Rafa menoleh ke arah Larina dan menatap matanya, tidak tersirat kebohongan apapun.
"Apa? Aku tidak bohong."
"Hem,"
"Kau cemburu ya?!" Celetuk Larina dengan nada bicara ceria.
"A-Apa maksudmu?" pipi Rafa spontan perlahan memerah.
__ADS_1
"Pipimu merah tuh," goda Larina.
Rafa menutup bukunya dan kembali diletakkan di laci meja. Rafa langsung berdiri.
"Aku mau ke kantin." ucapnya gugup, ia langsung melangkahkan kakinya.
"Tapi pertanyaanku belum dijawab!" Larina menyusul Rafa.
Larina berjalan mengikuti langkah Rafa dari belakang.
"Jawab dulu lah,"
"Hem."
"Ayo, jawab dulu. Haha."
"Diamlah,"
"Tidak mau. Jawab dulu."
Pipi Rafa terasa semakin memanas.
"Hayo. Jawab, jawab, jawab."
Rafa mempercepat langkahnya, Larina terkekeh melihat tingkah Rafa.
Disisi lain di kelas XII B.
"Apa? Yang benar saja?" Bella mengepalkan tangan setelah mendengar perkataan Nana.
"Benar. Rafa memberikan suaranya pada Larina, jadi dia menjadi wakil ketua."
"Apa kau tidak melakukan sesuatu? Kalau dia sampai menempati posisi dalam struktur kelas, dia akan semakin dipandang oleh para Guru."
"Sudah. Aku sudah mengatakan bahwa Larina itu tidak punya riwayat berorganisasi ataupun pernah menempati posisi dalam struktur kelas. Tapi si Rafa tetap memberi suaranya untuknya. Selain Rafa, anak-anak lainnya juga memberi suara untuknya hingga jumlah suara kami imbang."
Bella memijit pelipisnya.
"Terus kau jadi apa disana?" tanya Safina.
"Tidak jadi apa-apa. Aku tidak mau jadi apapun kalau ada Larina."
Safina menepuk jidatnya.
"Ya ampun, kau ini. Kalau kau juga berada dalam struktur kelas itu, kau pasti akan punya alasan untuk dekat dengan Rafa. Kalau seperti ini, kau membiarkan Rafa dekat dengan Larina." tutur Safina.
Nana meremas rambutnya.
"Aku tidak berpikir masalah itu tadi,"
"Tolol sih." ucap Lala.
"Diem, La. Pusing ini." ucap Nana.
"Kau harus menjadi sekretaris ataupun bendahara, jangan mau kalah."
"Nah, tuh. Benar kata Bella." timpal Safina.
"Okelah." Nana setuju.
Doni yang diam-diam mendengar perbincangan Bella dan kawan-kawannya hanya diam saja. Ia sedikit resah saat mengetahui Larina menjadi Wakil ketua kelas yang bersanding dengan Rafa.
****
Pukul 15:00.
Para siswa-siswi satu persatu pulang.
"Langsung pulang?" tanya Larina.
"Tidak. Aku ada urusan untuk acara 3 hari lagi." jawab Rafa
Larina tampak sedang mengingat sesuatu.
"Pelepasan jabatan Osis, ya?" tanya Larina
Rafa mengangguk.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Tidak perlu."
Rafa melangkah meninggalkan kelas, Larina diam-diam mengikuti Rafa dari belakang. Rafa berhenti di ruang Osis dan disana sudah banyak yang menunggunya.
Larina berdiri diluar ruangan dan bersandar di tembok sambil mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Terdengar Rafa dan lainnya sedang latihan untuk penyerahan jabatan Ketua Osisnya.
"Lama-lama aku mulai menyatu dengan kehidupan disini." batin Larina, ia menatap matahari yang tertutupi oleh awan.
πππ
3 hari berlalu... Hari ini adalah acara pelantikan Ketua Osis yang baru sekaligus pelepasan jabatan Ketua Osis lama yang dipegang oleh Rafa. Acara itu berlangsung selama beberapa jam dan berakhir pukul 10 pagi.
Setelah keluar dari Aula, Larina segera mengejar Rafa.
"Rafa!" panggil Larina.
Rafa menoleh kemudian ia menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Hari ini bawa bekal, tidak?" tanya Larina
"Tidak."
"Kebetulan aku bawa dua. Kita makan bersama, ya." ucap Larina.
"Terimakasih, tapi aku tidak mau merepotkanmu."
"Tidak, kok."
Mereka berdua berjalan beriringan sambil sesekali mengobrol ringan. Doni yang melihat hal itu langsung membuang muka dan melangkah keluar dari Aula sekolah.
Seperti biasa, mereka berdua makan di atap sekolah. Rafa membuka kotak bekal dari Larina.
"Ini? Kau masak sendiri?" tanya Rafa.
Larina mengangguk.
"Iya, masakanku sendiri. Ayo di cicipi."
Rafa menyendok sayur Capcai lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Bagaimana?" tanya Larina
"Enak," Rafa tersenyum simpul. Ia langsung melahap makanan tersebut.
Larina tersenyum melihat Rafa yang lahap menyantap makanannya.
***
"Aahhh kenyang~" ucap Rafa sambil meletakkan botol minum.
"Syukurlah kalau kau menyukainya."
"Terimakasih," ucap lembut Rafa.
"Kyaaaaaaaaa nada bicaranya mulai lembut!" batin Larina.
"Sama-sama." Larina tersenyum.
"Oh iya, kenapa kau memberi suaramu untukku?" tanya Larina.
"Tidak ada alasan khusus." jawab Rafa yang spontan memalingkan wajah.
"Hilih. Masa? Yang benar?"
Rafa tidak menjawabnya.
"Baiklah, semoga aku bisa berguna untukmu."
Rafa hanya mengangguk sambil tetap memalingkan wajahnya. Suasana menjadi hening.
"Besok kita ada kegiatan apa?" tanya Larina yang memecah keheningan.
Rafa menoleh ke arah Larina.
"Melanjutkan pembentukan struktur kelas. Kakak kelas kita dulu pernah memberitahuku bahwa di kelas XII biasanya para siswa-siswi enggan menjabat apapun dengan alasan mau fokus belajar untuk ujian. Ku kira itu hanya cerita yang dibuat-buat olehnya, tapi ternyata benar terjadi."
Larina diam dan mengangguk.
"Semoga besok mereka berubah pikiran," Larina tersenyum, refleks Rafa ikut tersenyum bersamaan dengan melihat senyuman Larina.
"Kau itu manis sekali kalau tersenyum." puji Larina.
Lagi-lagi Rafa dibuat salah tingkah oleh Larina.
"Sebaiknya kita kembali ke kelas." Rafa berdiri sambil membawa kotak bekal dan botol minum.
"Kenapa buru-buru?" Larina ikut menyusul berdiri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Rafa langsung melangkahkan kaki di ikuti Larina.