Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 6 : Penyelamatan yang Gagal


__ADS_3

☘☘☘


Larina masuk ke dalam kamar dan mengambil handuk. Saat akan membuka pintu kamar mandi, ia menoleh ke arah cermin dan melihat pantulan dirinya.


Ia meletakkan handuk itu kembali dan menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melakukan gerakan jalan di tempat lalu berlari-lari kecil di kamarnya yang terbilang lumayan luas untuk guling-guling lah di lantai.


Sedikit demi sedikit keringat keluar dari pori-pori kulitnya, suhu tubuhnya sudah terasa panas dan nafasnya tidak lagi tenang.


"Bisa! Lemak, tolong pergilah!" ucapnya pelan sambil berlari-lari kecil.


10 menit ia melakukan hal itu, dadanya terasa sesak dan kepalanya mulai pusing. Ia langsung duduk dilantai dengan posisi selonjoran.


"Astaga! Susah sekali ingin kurus!" rengek Larina sambil mengatur nafasnya. Ia juga memijit pelipisnya yang cenut-cenut.


Sedih baginya karena ia harus bertransmigrasi ke dalam tubuh yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Terlahir dengan tubuh cantik ideal kemudian dalam secepat kedipan mata ia memiliki tubuh obesitas ini.


Setelah pusingnya reda, Larina bergegas ke kamar mandi.


****


Pukul 20:00,


Larina yang baru selesai makan malam berpamitan pada orang tuanya untuk pergi ke kamar.


Ia mengambil buku LKS mapel besok pagi. Larina membaca dan mempelajarinya dengan santai, dalam 10 menit ia sudah membuka lembar buku yang ke 8.


"Oke, tidak sulit mapel besok." ucapnya sambil terus mengamati setiap kata yang ada di dalam buku tersebut.


"Hooaaamm, aku jadinya harus kembali bergulat dengan buku-buku sekolah." menutup mulutnya dengan satu tangan saat ia menguap.


Setelah membaca dan mempelajari LKS Bahasa Indonesia, ia beralih ke LKS selanjutnya dengan mapel yang berbeda. 2 jam berlalu, Larina melirik ke arah jam dinding. Larina mengambil buku PR tadi pagi. Ia langsung mengerjakannya.


"Eh? Hanya ini, ya?" tanyanya saat melihat PR matematikanya sudah selesai.


"Sebentar, ku cek lagi." Sambil mengambil buku tulis lainnya untuk mengecek adakah PR yang harus ia selesaikan


"Oh ada," ucapnya saat melihat buku Sosiologi. Dengan segera ia menyelesaikannya.


Karena belum mengantuk dan gabut, Larina mengambil buku LKS Matematika dan mulai mengisi soal-soal latihan yang akan di bahas minggu depan.


"Oke, sip! Dengan begini, Larina bego akan segera berganti menjadi Larina star! Hahahaha!" Larina tertawa, menyadari tawanya terlalu keras, ia langsung menghentikannya dan hanya terkekeh.


"Tenang saja, aku akan mengubah nasibmu. Mereka akan terkejut melihat perubahanmu." Lanjutnya.


"Misiku adalah mengubah takdirmu. Mulai dari pendidikanmu bahkan sampai kisah percintaanmu, hihi. Kau akan bersatu dengannya!" dengan optimis Larina tersenyum penuh semangat.


***


Keesokan paginya.


Larina berdiri di depan kelas yang mana pintu kelasnya masih tertutup. Ia mengeluarkan mantel plastik dari dalam tas nya dan mengenakannya sebelum ia masuk ke kelas.


"Kuno sih jebakan seperti itu," gumam Larina.


Ia membuka pintu kelas dan 'Byuuurrr'. Sesi pertama adalah sebaskom air dan dilanjut dengan tepung yang menghujani Larina.


"Hoooaaamm, di novel mah ini Larina sudah yang ke berapa kali mengalami ini." Batinnya.


Para pembully menatap malas ke arah Larina yang melindungi dirinya menggunakan mantel.

__ADS_1


"Kenapa? Gagal ya?" Ledek Larina sambil menjulurkan lidah.


Kawan Doni akan mengambil baskom yang terjatuh di lantai dan sebelum itu terjadi, Larina menendang baskom itu hinggak ke sudut ruangan kelas.


"Ups, sorry!" ucap Larina sambil tersenyum.


"Larina!" Bentak Doni


"Pelankan suaramu atau ku pukul!" Larina memutar bola matanya dan membuang muka. Ia melangkah menuju bangkunya lalu melepas mantelnya yang sudah kotor itu.


"Kasihan tau yang jadwalnya piket pagi ini karena lantainya kotor. Iya kan, Bella?"


Bella menoleh dan mengangguk pelan.


"Bella dan kawan-kawan, butuh bantuanku kah untuk membersihkan lantai kelas ini? Kurasa tidak perlu, ini jadwal kalian sih ya." Larina duduk di bangkunya sambil memasang wajah ceria.


"Larina," tegur Bella.


"Hihi, iya maaf. Jika mau, akan ku bantu dirimu kok, Bella."


Bella menghela nafas.


"Tidak perlu." tolak Bella, ia maju ke depaj kelas untuk membersihkan lantai


"Cih, itu teman? Teman kok diam saja ada temannya di Bully." batin Larina


☘☘☘


"Baik, ketua kelas tolong bagikan buku ini ke teman-temannya ya, di acak. Jangan sampai mereka pegang buku mereka sendiri." pinta guru Sosiologi sambil menunjuk tumpukan buku PR di meja Guru


Bella selaku ketua kelas mengangguk, ia melangkah maju dan mulai membagikan bukunya secara acak. Pengoreksian pun berlangsung dengan tenang dan lancar.


"Oke, jumlah poinnya sudah Ibu sampaikan tadi. Tolong nilainya tulis di sudut lembar bukunya ya."


"Baik, Bu!"


"Haaa???!" pekik salah satu siswa di pojok dengan mata membulat dan tidak percaya atas apa yang terjadi.


"Kenapa?" tanya Bella.


"Ini bukunya Larina kan?!" Siswa itu mengangkat buku yang ia koreksi dan menunjuknya pada Bella.


"Iya. Kan sudah ada namanya."


"Nilainya 95!"


"Eeehh???!!" Seluruh kelas terkejut, kecuali Larina yang hanya diam dengan bangganya.


"Haiish, ternyata masih ada yang salah ya?!" tanya Larina.


Para pembully menatap Larina dengan tatapan tidak suka. Guru Sosiologi yang terkejut pun langsung megambil buku Larina dan mengoreksinya sendiri.


Ia terkejut saat nilai Larina benar 95, tulisannya bersih tanpa ada kesalahan sedikitpun.


Guru Sosiologi itu mencoba mengoreksinya sendiri dan hasilnya tetap sama saja.


"Kenapa Ibu terkejut?" tanya Larina yang melihat raut wajah Gurunya seperti orang yang telah melihat hal yang tidak wajar.


"Larina, ini serius kamu yang jawab?" tanya Guru itu.

__ADS_1


Larina mengangguk.


"Apa ada yang salah lagi, Bu?" Larina bertanya balik


"Ibu tidak percaya ini."


"Mulai sekarang, Ibu sudah bisa percaya." Sambil tersenyum lebar.


****


Di kantin.


Larina mulai menyantap makanan yang ia pesan, Bella datang dan duduk di hadapan Larina.


"Larina, aku merasa kau akhir-akhir ini seperti sedang menghindariku. Apa aku ada salah padamu?"


Larina hanya menoleh sekilas, lalu melanjutkan makannya.


"Aku bicara padamu, loh." Bella kesal


Larina menelan makanannya dan menghela nafas.


"Tidakkah kau lihat aku sedang mengunyah makanan? Bisakah kau bertanya saat mulutku setelah mengunyah makananku?" Larina menghela nafas.


Larina melihat ke arah pintu kantin dan mendapati Doni dan kawan-kawan sedang menuju ke kantin yang agak sepi ini.  Larina yang sudah tau niat mereka langsung bersiap-siap pindah tempat.


"Mau kemana? Orang sombong." Doni menginjak sepatu Larina.


Larina membuang muka dan menggeser piringnya, ia tau mereka akan menyiram makanannya dengan sesuatu yang mereka bawa.


Penyelamatannya kali ini gagal, air minuman dingin itu mengalir dari meja dan mengenai rok nya.


"Apa-apaan ini?!" Larina menarik sepatunya yang di injak Doni dan langsung berdiri.


"Doni, apa yang kau lakukan?" Bella ikut berdiri


"Kenapa? Tidak suka, hah?"


Larina berdecak kesal. Ia mendorong tubuh Doni dari hadapannya dan melangkah pergi dari kantin. Doni dengan cepat berlari dan menghalanginya di pintu.


"Jangan sombong ya!"


Larina memicingkan matanya.


"Minggir." suruh Larina dengan nada datar.


"Oh, sudah berani melawan?"


"Ku bilang minggir!"


"Aku menolak."


Larina menghela nafas lalu menarik kerah baju seragam Doni. Ia berbisik pada Doni.


"Aku Larina, cepat atau lambat akan kubuat kau menyesal." Bisik Larina.


Doni melepaskan kerah bajunya dari tangan Larina, matanya memerah karena merasa telah diremehkan oleh Larina


"Minggirlah, atau mau ku tabrak dengan badan besarku ini?" sambil terkekeh.

__ADS_1


Doni pun minggir dengan kesal, Larina segera bergegas ke kamar mandi.


__ADS_2