
Hari lomba Cerdas Cermat pun tiba. Larina masuk melewati gerbang sekolah sambil membaca doa dan berharap hari ini akan menerima keberhasilan lagi.
Larina mengernyitkan dahi saat mobil Bapak Kepala Sekolah berhenti di dekat Larina yang masih ada di gerbang sekolah.
Dibukanya kaca jendela mobil itu dan terlihat Rafa sudah ada di dalamnya.
"Larina, masuk ke dalam mobil."
"Eh? Ada apa, Pak?" Larina bingung.
"Loh, kita akan berangkat ke Sekolah yang akan mengadakan lombanya."
"Katanya disini?"
"Guru yang menyampaikan hal itu salah bicara. Lomba Cerdas Cermatnya tidak dilaksanakan disini."
"Ooo begitu ya, Pak. Baiklah." Larina membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Rafa yang masih kosong.
"Baiklah, kita berangkat ya!" Seru Kepala Sekolah.
"Siaaapp!!" sahut semua siswa-siswi terpilih kecuali Rafa yang hanya diam.
"Uwwwwuuu, apa Rafa gerogi duduk di sebelahku?" batin Larina percaya diri.
"Kalian sudah mempelajari materi-materinya, kan?" tanya Kepala Sekolah.
"Sudah, Pak."
"Bagus."
Setelah hampir 1 jam perjalanan akhirnya mereka tiba di sekolah yang berkolaborasi dengan sekolah Larina untuk mengadakan lomba Cerdas Cermat. Kepala Sekolah kedua sekolah ini berjabat tangan dan mengobrol ringan.
Larina dan lainnya mengikuti langkah Kepala sekolah untuk menuju ke ruangan yang telah di sediakan, Larina menjadi pusat perhatian saat melewati kelas-kelas yang ada disana.
Yups, tentunya mereka tidak terpesona pada Larina melainkan tatapan mengejek dan Larina menjadi bahan gibah pagi ini.
"Tenang, tenang. Abaikan itu semua," batin Larina.
"Sekolah ini lebih unggul daripada sekolah kita, jadi kita harus bisa membawa kemenangan dan mengharumkan sekolah.ย Karena itulah pemilihan siswa-siswi untuk ikut lomba ini melalui tahap seleksi yang susah dan harus mencapai nilai yang mendekati sempurna," Rafa menjelaskan sambil terus melangkah.
Larina mengangguk faham.
"Waduh, kalau begitu bagaimana nasib kami berdua ya kak? Kan kami masih kelas X, sedangkan saingan kita nantinya ada yang kelas XII." tanya salah satu Adik kelasnya.
"Kalian tidak tau atau bagaimana? Kita semua berada disini setelah melewati ujian seleksi di sekolah kita. Sebelumnya kita juga diberi materi tambahan yang mencakup materi dari kelas X sampai kelas XII. Kakak kelas kita pun menjalani proses yang sama, walau mereka itu kelas XII tapi mereka belum tentu mengingat semua materi saat kelas X, jadinya kita dipukul rata diberi materi yang sama."
Larina dan lainnya mengangguk faham.
"Woooaahh! Seperti biasa, Adik kelasku ini memang jago," puji salah satu Kakak kelas mereka, Rafa hanya diam saja saat dipuji.
"Hiisshh pelit senyum,"
Larina terkekeh pelan.
"Oh iya, kamu teman seangkatan Rafa ya. Perkenalkan, aku Dinda. Kakak kelasnya Rafa."
"Eh, namanya tidak jauh berbeda denganku." batin Larina.
"Salam kenal, kak. Aku Larina, teman seangkatan Rafa."
Tidak lama kemudian mereka sampai di lantai 3 dan masuk ke ruangan yang akan dipakai untuk melaksakan lomba.
Setelah beberapa sambutan, pelombaan akan segera dimulai. Bapak Kepala Sekolah Larina dan Kepala Sekolah saingan duduk di depan untuk menyaksikan berlangsungnya perlombaan. Kepala Sekolah Larina tersenyum kepada semua anak didiknya dan memberi semangat.
"Baiklah, kita masuk ke soal ketiga, soalnya bernilai 3 poin" sambil menampilkan slide gambar segitiga yang nantinya akan menggunakan rumus Phytagoras.
__ADS_1
MC membacakan angka-angka yang tidak ditampilkan di slide, baru saja Mc selesai membaca soal, Larina mengangkat tangan dan menjawab hasil dari soal.
"Oke, betul. 3 poin untuk Saudari Larina. Kita masuk soal keempat,"
"Asem, cepet banget jawabnya,"
"Aku bahkan baru mau menghitungnya dalam otakku,"
Rafa melirik ke arah Larina seolah-olah ia tidak percaya.
"Soal kelima dengan nilai 4 poin, Diketahui Fungsi f(x) \= 3x^3 + 2x^2 - 8x+ 10. Tentukan turunan ketiga fungsi tersebut!"
Larina dan Rafa bersamaan mengangkat tangan,
"18."
"18."
Jawab Larina dan Rafa bersamaan.
"Dua-duanya benar,"
***
"Soal kelima belas, bobot nilai 5 poin. Diketahui kurva f(x) \= 3x^2 - 4x + 3. Tentukan nilai stasioner dan titik stasionernya!"
Larina mengangkat tangan.
"Nilai stasionernya 5/3, titik stasionernya dalam kurung 2/3 dan 5/3."
"Lima poin untuk Saudari Larina."
Rafa menghela nafas karena kalah cepat.
***
Larina mengangkat tangan lagi.
" 56."
"5 poin untuk Saudari Larina."
๐๐๐
Acara berlangsung lancar dengan Larina dan Rafa yang mendominasi.
Setelah istirahat para peserta lomba kembali berkumpul untuk pengumuman hasil dan para pemenangnya.
"Juara 3 dengan jumlah 80 poin diraih olehย Saudara Hakim dari kelas XII SMA ***. Juara 2 dengan jumlah 95 poin diraih oleh Saudara Rafa dari kelas XI A SMA ***. Dan juara 1 diraih oleh Saudari Larina dengan jumlah 145 poin dari XI B SMA ***."
Kepala Sekolah dari sekolah Larina terlihat menahan tangis haru karena bisa mengalahkan sekolah saingannya itu.
"Waaah, hampir diborong semua oleh anak didikmu," ucap Kepala Sekolahย yang merupakan teman sekaligus rival dari Kepala Sekolah Larina.
"Haha, iya dong!"
"Selamat, ya. Tahun depan bisa kita adakan lagi."
"Bisa di atur."
Mereka berjabat tangan.
Para pemenang dipanggil maju ke depan untuk diberi penghargaan serta pemotretan sebagai dokumentasi.
Selesai acara para peserta lainnya memberi selamat pada ketiga pemenang,
__ADS_1
"Kak Larina, Selamat ya! Kakak hebat deh." puji Adik kelasnya
"Terimakasih banyak, kamu juga hebat kok." Larina tersenyu.
"Bagi tips dong kak biar encer juga. Itu tadi kan banyak soal untuk kelas XII, tapi Kak Larina hampir memborong semuanya."
Larina terkekeh,
Rafa yang berjalan di belakang Larina dan lainnya tersenyum tipis sambil memandangi piagam dan tropi yang ada di tangannya, sesekali ia melihat punggung Larina dan kembali tersenyum tipis.
๐๐๐
Mereka telah kembali ke sekolah. Larina melihat Rafa sedang berdiri di luar gerbang sekolah.
"Selamat, ya." ucap Larina sambil tersenyum.
Rafa menoleh.
"Selamat juga untukmu." balas Rafa tersenyum tipis. Tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan mereka berdua dan Rafa langsung masuk ke dalam mobil.
"Kyaaaaaa!" Larina menahan teriakannya setelah mobil Rafa menjauh darinya.
"Dia senyum! Senyum!" Larina menutupi wajahnya yang tersipu malu bercampur bahagia.
"Sebentar, aku sedikit bingung. Kenapa perasaanku yang baper, ya? Apa jangan-jangan selamanya aku akan menjadi Larina?"
"Nak?" Larina dikejutkan oleh suara Ayahnya yang tiba-tiba muncul.
"Ayah? Sejak kapan Ayah disini?"
"Baru saja. Kamu kenapa melamun?"
Larina menggeleng.
"Ayah kenapa disini? Tidak pergi bekerja?"
"Hari ini Ayah pulang lebih awal dan sekalian menjemput kamu. Kamu sudah waktunya pulang?"
"Ooohh. Iya, Yah. Peserta lomba hari ini di perbolehkan pulang lebih awal. Jadi ini ceritanya Ayah sedang menjemput Larina, ya?" Larina terkekeh
"Betul. Eh, itu apa yang kamu pegang? Piala?"
"Oh iya hampir lupa. Larina juara satu loohh!"
Ayah Larina terharu
"Wah, selamat ya! Anak Ayah memang hebat!"
"Terimakasih!"
"Ayo naik ke motor, hari ini mau beli apa?"
"Sebagai hadiah, ya?" tanya Larina sambil naik ke atar motor Ayahnya.
"Iya. Kamu mau apa?"
"Eemmm mau apa ya? Buku saja deh."
"Tidak bosan beli buku lagi?"
Larina menggeleng.
"Ya sudah, ayo langsung beli."
"Go!!!"
__ADS_1