
πππ
5 hari berlalu dengan cepat, toko itu semakin dikenal banyak orang apalagi dengan harga yang tidak jauh berbeda dengan toko grosir.
Larina menggunakan strategi mengambil sedikit laba di tiap pcs produknya namun barang yang terjual tentunya banyak.
Diluar toko, Ayah Larina sudah datang untuk menjemput Larina.
"Nek, aku pamit pulang." sambil mencium punggung tangan Nenek pemilik toko.
"Iya. Terimakasih telah mau memenuhi permintaan Nenek."
Larina mengangguk.
"Seperti biasa, pintu aku kunci dari luar." ucapnya, kemudian ia naik ke atas motor.
****
Sesampainya di rumah, Larina mengetuk pintu ruang kerja Ayahnya.
'Tok tok tok,'
"Ayah," panggilnya.
'Ceklek' Ayah Larina membuka pintu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Ayah Larina.
Larina tersenyum, ia menyodorkan uang 300.000 kepada Ayahnya.
"Ini sisa uang yang Ayah berikan padaku saat itu. Maaf, sedikit boros."
Ayah Larina terenyuh.
"Kamu simpan uang ini. Untuk gunakan keperluan kamu."
"Boleh?"
Ayah Larina mengangguk.
"Oh iya, ini gelang dari siapa?" tanya Ayah Larina sambil meraih tangan kiri Larina.
"Oh, ini gelang pemberian Nenek itu, Yah. Ini gelang sangat berharga."
Larina berantusias menceritakan pengalaman selama 5 hari ia tinggal bersama Nenek pemilik toko. Semula terlihat aman sentosa hingga pertanyaan Ayah Larina membuat Larina diam seketika.
"Berapa hari kamu diajari bekerja olehnya?" tanya Ayah Larina.
'Deg' Larina terdiam, jantungnya berdegup kencang.
"Eee..."
"Duh, jawab bagaimana ya?" batin Larina.
"Tidak lama kok, kan di Internet sudah ada langkah-langkahnya. Dan anakmu ini, cepat menangkap materi-materi ataupun hal lain yang kemudian diserap oleh otak dan pada akhirnya di praktekkan. Seperti itu."
Ayah Larina mengangguk.
"Nah, kalau kamu dari dulu begini kan Ayah senang. Kamu terbuka dan tidak terlalu pendiam."
Larina mengangguk.
"Aku tidur duluan, daaaahh!" Larina memilih kabur sebelum di tanyai sesuatu lagi.
πππ
Hari senin. Di sekolah.
"Larina," panggil Rafa.
Larina yang baru saja menaiki anak tangga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Eh Rafa, selamat pagi." sapa Larina
"Selamat pagi."
__ADS_1
"Ada apa nih?"
Rafa menyodorkan sebuat amplop putih. Larina menerimanya, ia membuka amplop tersebut.
"Surat undangan? Kita?" tanya Larina.
Rafa mengangguk.
Dalam surat itu menyatakan OSIS dari sekolah lain akan mengadakan seminar dan mereka mengundang orang-orang penting untuk hadir.
"Pihak Sekolah merekomendasikan kita berdua untuk hadir mewakili kelas kita."
"Kita kenapa di undang? Bagaimana dengan OSIS sekolah kita?"
"Mereka juga di undang,"
Larina tidak mau ambil pusing, baginya hal ini berarti bahwa Larina sudah di akui.
"Baiklah. Acaranya besok lusa, ya?"
Rafa mengangguk.
"Ini kita berangkat bersama OSIS atau bagaimana?"
"Lihat sikon nanti," jawab Rafa.
***
Larina tersenyum saat memasuki kelas dan melihat Nana yang sudah kembali masuk sekolah.
"Hai, lama tidak berjumpa, ya?" sapa Larina.
Nana memalingkan wajah.
"Kau sakit apa?" tanya Larina.
"Bukan urusanmu." jawab Nana dengan ketus.
Larina terkekeh.
"Jangan marah-marah seperti itu, tidak baik untuk kesehatan. Nanti malah sakit lagi."
Larina duduk di bangkunya sambil meredakan tawa kecilnya.
"Lihat saja pembalasanku!" batin Nana.
***
Sepulang sekolah Larina langsung pergi bekerja. Tepat setelah toko di buka, mulai berdatangan pembeli.
"Permisi," ucap seorang pria tinggi dan gagah yang berdiri di depan meja kasir.
Larina mengangkat kepala.
"Iya, Kak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pemilik tokonya ada, Dek?" tanya pria itu.
Larina memperhatikan cara berpakaian pria tersebut.
"Waduh, ini Nenek terlibat kasus apa sampai orang berpakaian formal mencarinya?" batin Larina.
"Ada, Kak. Sudah buat janji, kah?"
"Iya, Dek. Sudah."
"Oke. Mari ikut saya, kak."
Larina menuntun pria tersebut ke ruang tamu,
"Silahkan duduk, kak. Saya buatkan minum dulu. Mau kopi panas, es kopi, teh atau minuman lainnya?"
"Es kopi saja."
"Baik, Kak. Saya akan panggilkan pemilik toko dulu dan juga membuat minumannya." ucap Larina ramah.
__ADS_1
Larina membuka pintu kamar Nenek pemilik toko, ia membangunkan Nenek yang sedang tertidur dengan pelan.
"Nek," panggilnya sambil menyentuh kaki Nenek pemilik toko.
Nenek itu membuka matanya.
"Ada tamu, Nek."
Nenek tersebut mengiyakan, Larina segera pergi ke dapur. Setelah selesai, ia meletakkannya di meja.
"Saya tinggal dulu,"
Sekitar 30 menit, pria itu berpamitan pulang. Larina segera menemui Nenek pemilik toko.
"Nek, Nenek tidak apa-apa?" tanya Larina.
"Iya, Nenek baik-baik saja."
"Nenek tidak ada utang ke Bank, kan? Tadi itu siapa?"
Nenek pemilik toko tertawa pelan.
"Kamu jangan khawatir. Dia hanya tamu biasa, cucu dari teman almarhum Suami Nenek."
Larina menghela napas lega.
"Syukurlah!"
"Ya sudah, Nenek mau istirahat dulu."
Larina mengangguk, penglihatan Larina tertuju pada sebuah kantong plastik hitam yang ada di kursi.
Nenek pemilik toko melangkah menuju kamarnya dan melupakan sesuatu. Larina mulai penasaran.
"Apa ini milik tamu itu? Apa ketinggalan ya?" gumamnya.
"Mungkin iya!" lanjutnya,
Saat Larina mengangkat ujung plastik, tidak sengaja ikatannya terlepas dan membuat isinya sedikit terlihat.
"Ini kain?" tanya Larina pada dirinya sendiri.
Entah mengapa perasaannya tiba-tiba tidak karuan, ada dorongan dalam dirinya yang menyuruh Larina untuk mengeluarkan barang yang di duga kain dari kantong plastik itu.
"Aku mohon maafkan aku, aku sangat penasaran!" ucap Larina pelan.
Ia langsung menyentuh kain yang masih berada dalam kantong plastik tersebut, matanya membulat saat ia mengenali tekstur kain itu.
Larina memberanikan diri untuk mengeluarkannya dari kantong plastik.
"Maafkan kelakuanku yang tidak baik ini!" ucapnya sambil mengeluarkan kain tersebut.
Larina terdiam sejenak, buliran bening mengalir dari kedua matanya.
"Kain... Kain kafan," lirihnya.
Larina menoleh ke arah kamar Nenek. Ia pun sadar bahwa saat ini hubungan mereka semakin dekat, melihat kain kafan ini membuat Larina merasa sedih.
Larina menyeka air matanya, ia segera memasukkan kembali kain tersebut ke dalam kantong plastik dan mengikatnya. Ia meninggalkannya di tempat semula dan kembali bekerja, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
***
Malam harinya, seperti biasa, Larina berpamitan pulang. Hatinya terus merasa tidak tenang, ia terus mengingat kain kafan itu, bayang-bayang tentang kematian Nenek pemilik toko selalu melintas dipikirannya. Larina memejamkan mata, berharap bayangan itu ikut menghilang bersamaan dengan suasana gelap saat memejamkan mata. Larina langsung memeluk erat Ayahnya.
"Ada apa?" tanya Ayah Larina.
"Tidak ada," jawab Larina dengan lesuh.
"Lelah ya? Ayah lihat barang-barang di toko semakin banyak variasinya. Kamu pasti kelelahan mengurusnya sendiri."
"Sedikit lelah, tapi aku jadi punya pengalaman."
Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Ayah, besok lusa aku ke sekolah XX, aku dan Rafa diundang untuk mengikuti sebuah acara seminar."
__ADS_1
"Iya, Nak. Hati-hati di perjalanan, kalau ada apa-apa kabari Ayah."
Larina mengangguk, ia semakin mempererat pelukannya.