Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 62: Pakai Karyawan atau Tidak?


__ADS_3

🍒Jam up pukul 20:00 -23:00 WIB


🍒Eps ini di up pukul 20:05 WIB (03-Feb-2023)


****


Samar-samar terlihat orang yang sedang mengawasi toko Larina itu menghilang dibalik tumpukan karton yang ada di toko seberang jalan.


Malam harinya...


Setelah toko di tutup, Larina dan Ayahnya sedang makan malam.


"Bagaimana sekolahnya tadi?" tanya Ayah Larina sebelum memasukkan makanan ke mulutnya.


"Lancar, Yah. Ayah sendiri bagaimana tadi di sekolah?"


Ayah Larina mengangguk mendengar jawaban Larina.


"Pekerjaan Ayah lancar juga."


Selesai makan, Larina mengutarakan isi pikirannya yang sedari tadi bingung.


"Jadi aku itu ingin toko ini buka dari pagi soalnya kan ramai pembeli. Aku juga ada target. Apa kita adakan Karyawan saja, Yah?"


"Memang apa yang kamu targetkan?"


"Ruangan toko ini dibuat semakin luas, tidak perlu lantai 2 sih, cuma di lebarkan saja. Yang pasti itu juga akan makan lahan  disamping toko ini yang merupakan milik orang. Kan tanah disamping toko punya Nenek ini hanya tersisa 5 meter saja, itu kurang. Jadi mau tidak mau harus beli tanah milik orang lain yang ada disamping tanah milik Nenek."


"Jadi kamu bingung masalah biayanya?"


Larina mengangguk.


"Kalau tidak pakai karyawan, tokonya bukanya hanya sebentar karena kita sama-sama pulang sore."


(Menurut kalian, gimana nih? Keputusan apa yang harus Larina ambil? Pakai karyawan sekarang atau nanti saja setelah tokonya berhasil di luaskan? Jawab di kolom komentar ya!)


Ayah Larina diam dan berpikir, manakah keputusan yang tepat. Larina menghela napas.


"Nanti lagi deh dipikirkan. Ayah jangan terlalu banyak pikiran." ucap Larina, ia berdiri dan membereskan piring bekas mereka makan.


***


Larina melihat Ayahnya tengah sibuk dengan Laptopnya, ia pun menuju toko sambil membawa komputernya. Larina membersihkan meja yang akan ditempati oleh Komputer barunya itu. Ia mengurus sendiri komputernya karena ia pun sudah pinya pengalaman di dunia Aslinya. Setelah itu ia menginput harga-harga barang dan kemudian ia mencoba di salah satu barang sampai sensornya berbunyi "tit" yang berarti harga dan jenis barang bisa di deteksi.


"Oke beres." gumamnya,


Larina melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23:00.


"Nak," panggil Ayah Larina.


"Iya, Yah. Aku di toko." sahutnya sambil mencoba mengeprint struk belanja.


Ayahnya pun menghampiri Larina


"Sudah malam. Kenapa belum tidur?" tanya Ayah Larina

__ADS_1


"Setelah ini tidur kok."


"Loh, komputernya sudah kamu atur?" Ayah Larina bingung karena selama ini ia tau bahwa Larina termasuk anak yang gaptek.


"Sudah,"


"Kenapa tidak minta bantuan Ayah?"


Larina tersenyum kaku.


"Aku lihat Ayah sibuk tadi, jadi aku pasang sendiri. Aku lihat tutorial di internet, dan berhasil."


Ayah Larina terlihat meragukan perkataan Larina.


"Yuk tidur, sudah malam. Ayah besok harus kerja juga kan? Aku juga harus sekolah besok. Jadi jangan tidur kemalaman." ajak Larina untuk mengalihkan topik yang menurutnya akan menjebak dirinya nanti.


Ayah Larina belum sempat berkata apa-apa namun Larina sudah mematikan lampu toko.


***


Keesokan paginya, di sekolah.


Doni terlihat berdiri di depan kelas XII A, ia bersandar di tembok. Larina yang baru datang langsung disambut senyum hangat oleh Doni.


"Pagi," sapanya.


"Pagi juga," balas Larina sambil tersenyum.


"Baru datang ya?" tanya Doni.


"Oh begitu ya."


"Iya. Ada apa? Kenapa di luar kelas? Gabut? Atau ada perlu dengan anak kelas XII A?" tanya Larina


Doni menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


"Anu, aku mau minta nomer HP-mu." ucap Doni gugup.


"Oh, memangnya dulu semasa kita satu grup, kau tidak menyimpan nomerku?" tanya Larina sambil menyodorkan tangannya meminta HP Doni.


Doni mengeluarkan HP miliknya dan menyerahkannya pada Larina, Larina langsung mengetik dan menyimpan nomer WhatsApp-nya di HP Doni.


"Nih, sudah." Larina memberikan kembali HP Doni.


"Terimakasih. Nanti sepulang sekolah kau ada waktu luang?"


"Maaf, tidak ada. Aku harus bekerja jaga toko." jawab Larina dengan ramah.


"Ooohh, kerja ya. Pulang jam berapa?"


"Toko tutup jam 9 malam sekarang, aku pulang setelah toko tutup."


"Ohh, begitu ya."


Terlihat Rafa berdiri dibalik jendela kelas yang ada di belakang Doni. Tidak ingin mengambil resiko, Larina mengakhiri obrolan pagi ini dengan Doni.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau tidak ada urusan lainnya, aku masuk ke kelas dulu." ucap Larina sambil melangkahkan kaki masuk ke kelas.


"Oke."


Rafa hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata saat Larina masuk ke kelas. Larina pun santai saja.


'Ting' suara notifikasi chat WhatsApp di HP Larina.


Larina mengambil HP di sakunya dan membuka isi pesan dari Rafa.


"Mau kencan dengannya nanti malam?"


"Tidak. Aku sibuk." balas Larina


Melihat balasan dari Larina, Rafa tersenyum simpul.


Kelas pertama pun dimulai.


"Baik, PR kemarin sudah selesai?" tanya sang Guru.


"Sudah, Pak."


"Oke, kita koreksi hari ini. Bukunya ditukar dengan teman semejanya ya. Larina, kamu maju kerjakan soal nomer 1, Andi kerjakan soal nomer 2, Rafa kerjakan soal nomer 3. Yang lainnya siap-siap. Ingat, walaupun angkanya salah cuma satu saja, ke belakangnya pasti ikut salah. Salah penempatan simbol, hasilnya salah. Jadi harus teliti."


"Iya, Pak."


"Bagus. Larina, sekarang maju."


"Baik, Pak."


Larina segera maju dan mengambil spidol.


Di sisi lain di kelas XII B. Doni terlihat lesu mengikuti pelajaran pagi ini, ia sesekali melirik ke arah bangku yang ada di belakangnya. Ingatan Larina yang duduk di belakangnya masih saja membekas di otaknya.


"Doni!" panggil sang Guru.


"Saya, Bu."


"Kamu dari tadi Ibu perhatikan tidak serius ikut pelajaran Ibu. Kalau ada masalah, bicarakan sama Ibu nanti."


"Tidak, kok. Saya baik-baik saja, Bu."


"Oke, kalau begitu perhatikan pelajarannya."


"Iya, Bu."


🍀🍀🍀


Sepulang sekolah. Terlihat pintu toko masih ditutup dan tulisannya "Tutup"


"Ayah belum pulang, ya?" gumam Larina sambil membuka kunci pintunya. Saat akan membuka pintu, Larina merasa sedang diawasi.


Ia menoleh ke sekitarnya tetapi hanya ada motor yang berlalu lalang saja.


"Apa cuma perasaanku?" gumamnya sambil membuka pintu dan kembali menutupnya.

__ADS_1


__ADS_2