Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 8 : Larina Mendapat Hukuman Lagi


__ADS_3

Keesokan paginya. Dengan semangat Larina menaiki anak tangga menuju kelasnya sambil bersenandung pelan. Ia membuka pintu dan mendapati para teman-teman perempuannya yang juga merupakan pelaku pembully tengah berdiri di sekitar bangkunya


"Hmmmmm apalagi." gumam Larina.


"Pagi," sapa Safina dengan senyuman namun Larina hanya menatap datar.


"Eh, duduk yuk. Kita ngobrol-ngobrol santai." Nana menyusul dan meraih lengan Larina.


Larina melepaskan tangannya dari Nana .


"Kalian itu mau apa lagi?" tanya Larina dengan malasnya.


"Tidak apa-apa kok."


Safina meraih tangan Larina dan menuntunnya ke bangkunya.


Larina mengeryitkan dahi.


"Ayo ngobrol." ajak Nana, Safina menuntun Larina duduk.


Larina memicingkan mata, saat ia sudah sampai di bangkunya, dengan cepat Larina menarik balik tubuh Safina, Safina terbelalak, ia berontak namun tetap kalah dan pada akhirnya Larina menang dengan membuat Safina duduk di bangku Larina.


"Kyaaaaa!" Pekik Safina. Seisi kelas melihat ke arah Larina.


"Loh, kenapa berteriak seperti itu anak cantik? Cuma duduk kan? Hehe" Larina tersenyum.


"Kenapa?"


"Ada apa?"


"Kenapa Fin? Kok teriak?"


"Aku terjebak! Larina membuatku duduk di kursi yang ada lem nya!" jawab Safina dengan mata yang memerah karena amarah.


"Ooohh, ada Lem nya ya? Astaga, kasihan. Pfffttt"


"Diam!" Bentak Nana


"Larina, kok Lu jahat sekarang? Itu rok nya Safina gimana coba?"


"Hidih. Kalian itu jangan menutup mata dari kebenaran. Mentang-mentang Safina bening glowing jadi kalian terus membelanya."


"Ngelunjak!" Nana menarik rambut Larina dan Larina langsung menepis tangan Nana dengan cepat dan keras hingga membuat tangan Nana terbentur ke meja di sebelahnya.


"Nana! Jangan begitu." Tegur Bella


"Nana, rok ku!" rengek Safina.


Nana mengibas tangannya yang sakit, ia membantu Safina berdiri. Larina melepas tas nya bersamaan dengan pant*at Safina yang di angkat dari kursi. Larina meletakkan tas nya di belakang rok Safina yang bolong untuk menutupinya.


"Cih, jangan sok baik!" Safina langsung melempar tas Larina ke lantai, Nana mengambil tas miliknya.


Larina memutar mata bosan.


****

__ADS_1


Larina duduk di bangkunya sambil membaca buku LKS hari ini.


"Larina, di panggil ke ruang BK." ujar Bella yang baru masuk ke kelas.


"Lah, kenapa?"


"Tidak tau. Ayo, ku temani."


Larina menghela nafas. Ia menutup bukunya dan memasukkannya ke laci meja. Bersama Bella ia menuju ruang BK.


"Saya, Bu?" tanya Larina setelah masuk ke ruangan.


"Iya, Benar. Bella silahkan keluar."


"Baik, Bu."


"Larina, aku duluan."


Larina mengangguk.


Guru BK memulai pembicaraan setelah Bella keluar dari ruang BK.


"Larina,"


"Saya, Bu."


"Kamu tau kenapa kamu Ibu suruh kemari?"


"Kenapa ya?" gumam Larina


"Apa saya membuat kesalahan, Bu?"


"Tentu. Kamu tau kan kerapihan itu menjadi salah satu prioritas di sekolah ini?"


"Iya, Bu. Saya tau itu. Tidak ada sekolah yang menginginkan siswa-siswinya urak-urakan."


"Nah bagus. Ibu suka jawaban kamu."


"Ini adalah kesekian kalinya kamu masuk ke ruangan ini. Secinta itu kah kamu terhadap hukuman?"


"Iyalah! Bagaimana Larina tidak bolak balik masuk ke ruangan ini jika para pembully itu pintar membalikkan fakta," batinnya


Dalam novel yang Adinda baca, Larina asli menjadi siswi yang aktif menjenguk ruang BK dengan kasus berbeda-beda, yang mana dari semua kasus itu tidak ada satupun kesalahan yang murni ia lakukan. Ia hanya bisa pasrah dengan semuanya dan tidak berani membela diri.


"Baik, Bu. Bisa Ibu katakan apa kesalahan saya kali ini, Bu? Sebelumnya saya memohon maaf karena saya akan meminta beberapa hal. Saya minta agar saya di beri kesempatan untuk menjelaskan atau membela diri. Saya juga minta agar pembicaraan saya tidak di potong saat belum selesai."


Guru BK itu sedikit merasa aneh dengan gaya bicara Larina yang jelas, lancar, dan bahkan Larina tidak menundukkan kepala seperti biasanya.


"Bu?" panggil Larina karena melihat Guru Bk di depannya itu terdiam.


"Oh, oke. Saya terima itu. Kamu saya panggil kesini karena ada laporan kamu telah membuat Safina duduk di kursi yang ada lem nya. Hal itu tentunya membbuat rok Safina robek. Jadi, karena ini adalah kesekian kalinya kamu Ibu hukum, Ibu akan menghukum kamu lagi dengan level yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Ada sanggahan?"


"Baik, Bu terimakasih. Masalah Safina duduk di kursi saya yang ada lem nya, itu benar saya yang mendorongnya duduk disana. Hal itu saya lakukan semata-mata untuk melindungi diri saya. Kursi saya itu memang awalnya sudah di beri lem oleh mereka dan saya tau itu, seandainya mereka tidak memaksa saya duduk di kursi itu, maka saya pun tidak akan membuat Safina duduk disana juga. Dalam hal ini, apakah saya yang melindungi diri itu adalah suatu kesalahan? Saya memang tidak punya bukti apapun termasuk saksi. Apalah daya, saya tidak pernah di anggap teman oleh mereka, CCTV kelas juga masih rusak. Saya tidak punya bukti apapun untuk membuktikan saya tidak bersalah. Saya juga tidak punya jabatan apapun di kelas yang bisa memperkuat posisi saya. Dan masalah hukuman, oke Bu saya terima. Saya terima hukumannya sebagai bentuk keadilan diantara saya dengan Safina, jadi kami sama-sama dapat hukuman dari apa yang kami lakukan."


Guru BK itu terdiam.

__ADS_1


"Bu?" panggil Larina


Guru BK itu hanya menghela nafas kasar.


"Ibu akan tetap menghukum kamu." Guru BK itu berdiri dan mengambil setumpuk buku PR.


"Koreksi tugas-tugas ini dalam waktu 1 jam. Ini kunci jawabannya." Guru BK menyodorkan selembar kertas jawaban.


Larina menghitung buku PR yang berjumlah 40 buku.


"Oke." ucap Larina dengan santai.


"Ha?"


"Eh! Baik, Bu. Itu maksud saya."


"Kamu yakin? Tidak mau menolak?"


"Saya bisa kok, Bu. 1 jam kan?"


Guru BK itu menganngguk disertai rasa heran.


"Saya koreksinya di ruangan ini?"


"Iya."


"Baik, Bu."


Larina menyamankan posisinya. Ia mengambil pulpen yang diberikan oleh Guru BK, lalu membaca seluruh isi kertas kunci jawaban itu. Setelah selesai, ia mulai mengoreksi buku-buku PR yang bertumpukan dengan tenang. Dalam 10 menit Larina berhasil mengoreksi 8 buku.


Guru BK yang ada di hadapan Larina tercengang saat Larina mengoreksi tanpa kembali melihat kertas berisi kunci jawaban itu. Karena tidak yakin, ia kembali memeriksa buku-buku yang sudah di koreksi Larina. Larina yang melihat itu menghentikan pekerjaannya. Guruk BK terkejut saat Larina tidak melakukan kesalahan apapun dalam pengoreksiannya.


"Ada yang salah, Bu?" tanya Larina saat melihat wajah Guru BK yang sedikit pucat.


Guru BK hanya menggeleng pelan.


50 menit berlalu, 40 buku 40 soal (20 soal pilihan ganda, 20 soal uraian) tiap buku, sudah selesai. Guru BK itu merasa akan pingsan.


"Sudah, Bu. Apa perlu saya kasih nilai di pojoknya?" tanya Larina sambil menutup buku yang terakhir.


"Ibu sakit? Kok pucat?"


Guru BK itu hanya menggeleng. Dengan gemetar ia berdiri dan mengambil air minum.


"Kamu sudah boleh kembali ke kelas."


"Baik, Bu. Terimakasih karena hukumannya tidak terlalu berat."


"Uhuukkkk!" Guru BK tersedak


"Ibu benar tidak apa-apa?" tanya Larina


Guru BK mengangguk pelan.


"Silahkan keluar,"

__ADS_1


"Baik, Bu."


"Astaga, apa aku bermimpi." Batin Guru BK yang masih terkejut atas perubahan Larina.


__ADS_2