Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 71 : Makan Malam Bersama part 2


__ADS_3

Sesampainya di restoran.


Setelah memesan menu, mereka berempat kembali mengobrol.


"Hobi kamu apa?" tanya Ibu Rafa


"Membaca, Tan. Apalagi Novel."


Rafa mengernyitkan dahi mendengar jawaban Larina.


"Sejak kapan dia suka baca Novel?" batin Rafa.


"Oh ya? Sudah berapa Novel yang kamu baca?"


"Tidak banyak sih, Tan. Mungkin ada hampir 100 buku lebih, banyak karya bagus yang belum aku baca."


Ayah Larina dan Rafa juga merasa keheranan, apalagi Ayah Larina tidak melihat Larina membawa Novel cetak.


Larina menyadari Ayahnya serta Rafa seolah kebingungan, ia pun berdehem.


"Aku bacanya di perpustakaan dan tempat lainnya, dan aku tidak pernah memberitahu orang rumah." tutur Larina.


"Kebiasaan, keceplosan tidak ingat sikon." batin Larina.


"Oh iya, tadi Tante pergi kemana dengan Rafa?" tanya Larina untuk mengalihkan topik yang kemungkinan akan menyudutkannya.


"Tante tadi ada rapat sekaligus ada urusan lain," jawab Ibu Rafa.


Larina mengangguk dan ber-Oh-ria.


Selang beberapa menit, pesanan mereka datang. Larina mengambil segelas minuman di depannya dan mulai meminumnya karena merasa haus.


"Kau juga ikut rapat?" bisik Larina pada Rafa.


"Tidak, lebih tepatnya Ibuku merayakan hari pelantikan dirinya menjadi Dekan di kampus tempatnya bekerja." jelas Rafa dengan santai.


"Wah, selamat ya!" ucap Larina dengan posisi masih bisik-bisik.


"Terimakasih, ucapkan saja langsung pada Ibuku."


"Nanti saja,"


"Ayo dimakan, kalian jangan bisik-bisik terus." tegur Ibu Rafa.


Larina tersenyum dan mengangguk ramah,  mereka berempat pun menikmati makanan malam ini dengan diselingi obrolan.


Larina tidak sengaja menjatuhkan sendoknya ke lantai, dengan perasaan malu ia pun spontan mengambil sendoknya yang jatuh persis disamping kakinya, Rafa meletakkan tangannya di sisi pinggir meja agar kepala Larina tidak mencium meja tersebut.


Beehhhh disitulah hati Larina seperti di obok-obok, dengan senyum kikuk ia salting hingga terus menggigit bibir atasnya sambil menahan jantungnya yang berdetak dengan cepat.


Ibu Rafa memanggil pelayan untuk meminta sendok baru kemudian diberikan pada Larina.

__ADS_1


"Maaf," ucap Larina.


"Tidak masalah kok, yuk lanjut makan. Oh iya, disini juga ada Gellato, kamu harus coba!" ujar Ibu Rafa pada Larina.


"Ibu tidak bilang begitu padaku," celetuk Rafa.


"Itu barusan kan kamu sudah dengar juga."


Larina terkekeh.


Ibu Rafa beralih mengobrol dengan Ayah Larina tentang profesi mereka masing-masing.


Larina sendiri asik dengan makanannya, sedangkan Rafa yang merasa Larina telah membuka pintu untuk masuk ke hatinya semakin membuatnya ingin memiliki Larina seutuhnya.


Cara makan Larina terlihat begitu sopan namun tidak berlebihan, Rafa menghela napas pelan sambil memandangi gadis yang selama ini berhasil memiliki hatinya entah apa sebabnya.


"Besok ada waktu?" tanya Rafa.


Larina menoleh dan mereka bertatap muka dengan mata yang saling memandang saat bicara.


"Besok? Pulang sekolah?" Larina bertanya balik.


"Iya, malam juga bisa."


"Entahlah, aku tidak bisa mengatakan aku ada waktu luang atau tidak. Aku ada tujuan yang harus aku capai dalam waktu dekat."


"Apa itu?"


Rafa mengangguk,


"Baiklah, aku mendukungmu. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan padaku." ujar Rafa.


"Terimakasih,"


"Bagaimana tadi di sekolah?" tanya Rafa lagi.


"Lancar semuanya,"


"Ada yang minta nomor HP-mu lagi?"


"Eh? Kau punya mata-mata?" Larina bertanya balik.


"Tidak, aku hanya menebaknya saja."


"Ada sih tadi, dia adik kelas kita yang saat itu juga menemui kita  sehabis dari parkir." jawab Larina.


Raut wajah Rafa seketika berubah badmood namun sekilas tampak biasa saja.


"Kenapa?" tanya Larina.


"Mari bertukar nomor saja. Ingin aku mengatakan itu." batin Rafa.

__ADS_1


"Tidak ada, lanjutkan makannya, aku mau ke toilet dulu."


Rafa segera bergegas pergi ke toilet.


"Mau kemana dia?" tanya Ibu Rafa.


"Ke toilet, Tan." jawab Larina, kemudian ia kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ya sudah, kamu lanjut makan. Mau pesan Gellato yang mana? Tante mau yang coklat."


Di sisi lain di rumah Larina...


Seseorang dengan pawakan laki-laki dan mengenakan pakaian serba tertutup menghampiri toko Larina. Dia melempar batu dengan keras ke arah lampu depan toko, dalam sekejap lampu tersebut pecah dan mati. Ia belum tau bahwa Larina telah memasanh CCTV yang ditempatkan di tempat yang mengecoh pandangan.


Ia mengeluarkan tiga plastik bening dari balik jaket tebalnya, satu plastik berisikan gula pasir dan menyebarkannya di area sela-sela lubang pintu bagian bawah, ia juga menaburkan gula tersebut di pintu gudang, setelah itu ia mengeluarkan dua plastik lainnya yang berisikan semut merah dan juga semut hitam, ia meniup gula-gula tersebut hingga gula itu masuk ke dalam toko, kemudian ia menaburkan semut-semut itu pada gula yang sudah ia taburkan sebelumnya. Ia juga menaburkan sisa gula pasirnya di jalanan dan juga halaman toko Larina.


Usai dengan gula dan semut, ia pergi ke motor yang tidak jauh dari toko Larina, kemudian ia kembali ke toko Larina sambil membawa kotak kayu persegi dan tidak terlalu besar, ia pun mengambil kursi dan meletakkannya di dekat tembok dekat pintu gudang, didapati tembok tersebut memiliki lubang kecil yang belum diperbaiki, ia kemudian membuka kotak tersebut dan ternyata berisi tikus-tikus gemoy, ia kemudian memasukkan satu persatu tikus-tikus tersebut melalui lubang yang ada di tembok. Sampai disini ia masih belum menyadari CCTV sedang merekamnya.


Selesai dengan aksinya, ia segera pergi dari toko Larina.


"Mampus!" umpatnya pelan sambil melangkah pergi meninggalkan toko Larina.


🍀🍀🍀


Sekitar jam 11 malam, Mereka berempat memutuskan untuk pulang sambil membawa bingkisan buah.


"Terimakasih banyak," ucap Larina kepada Ibu Rafa.


"Terimakasih, lain hari saya yang akan mentraktir kalian dan tidak boleh ada penolakan seperti tadi." ucap Ayah Larina


"Baiklah," Ibu Rafa setuju.


"Tante, selamat ya!" ucap Larina.


"Untuk?"


"Untuk kenaikan pangkat Tante. Kata Rafa tadi, hari ini Tante resmi menyandang status Dekan Fakultas di Universitas tempat Tante bekerja." jawab Larina sambil terus memberikan senyum sumringahnya.


"Yaampun Rafa." Ibu Rafa menoleh ke arah Rafa yang tetap memasang wajah santai.


"Terimakasih ya," ucap Ibu Rafa pada Larina.


***


Mereka pun sampai di rumah Larina.


"Loh, lampunya mati?" tanya Larina pada Ayah Larina.


"Mungkin ada yang konslet." jawab Ayah Larina.


Mereka turun dari mobil, Rafa dan Ibunya pamit pulang karena sudah malam.

__ADS_1


Larina melambaikan tangan sampai mobil Ibu Rafa tidak lagi terlihat, Ayah Latina membalikkan badan dan melangkahkan kakinya, langkahnya terhenti ketika ia merasakan ada sesuatu telah ia injak, setelah itu Ayah Larina mengeluarkan HP miliknya dan menyalakan lampu senter.


__ADS_2