
Larina tersenyum lebar saat melihat Rafa masuk ke dalam ruangannya.
"Hai," sapa Larina.
Rafa hanya mengangguk dan meletakkan buah tangannya. Mereka bertiga diam, tidak ada yang mrngeluarkan suara.
"Eh, kenapa hanya berdiri saja? Ayo duduk," ajak Ayah Larina, Rafa mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kalian satu kelas atau bagaimana?" tanya Ayah Larina.
"Kami satu angkatan tapi beda kelas. Saya kelas XI A dan Larina di kelas XI B."
"Oohhhh, jaga pertemanan kalian baik-baik ya,"
Rafa mengangguk.
"Silahkan kalian mengobrol," Ayah Larina berdiri.
"Ayah mau kemana?" tanya Larina.
"Ada sedikit urusan. Ayah keluar dulu."
Setelah Ayah Larina keluar dari ruang rawat Larina, suasana kembali hening.
"Eee, terimakasih telah menjengukku." ucap Larina membuka topik.
"Sama-sama. Aku kesini sekaligus untuk mengucapkan selamat kepadamu."
"Selamat? Untuk?"
"Karena kau telah mengalahkanku dalam lomba tempo hari," Rafa sedikit gemetaran,
"Ah, andai saja Larina asli yang berada di posisi ini, dia pasti klepek-klepek." batin Larina.
"Wah, terimakasih."
"Kenapa kau bisa sampai disini? Apa ada yang membullymu?" tanya Rafa dengan nada datar.
"Tidak juga. Aku ceroboh jadi sampai ketumpahan air mendidih dan jatuh ke atas pecahan beling. Itu saja sih."
"Mungkin besok atau besok lusa aku sudah bisa pulang. Hanya saja Ayahku berlebihan sampai aku dirawat di ruang rawat berkelas seperti ini."
Rafa mengangguk mendengar penuturan Larina. Mereka kembali diam.
"Aku merasa kau berbeda dengan Larina yang sebelumnya." celetuk Rafa secara tiba-tiba.
Larina menelan ludah.
"Eeee maksudnya bagaimana ya?"
" Oh! Aku mengerti, mungkin dulu aku kan diam saja saat di tindas dan aku tidak berani menonjolkan diriku, lalu secara tiba-tiba aku berani bahkan ikut lomba cercer. Itu kan maksudmu?"
Larina merasakan suhu tubuhnya naik turun, keringat dingin mulai bercucuran disekeliling dahinya.
Rafa tidak menjawab, ia hanya terdiam dan memperhatikan Larina yang sedikit resah.
"Kurang lebih seperti itu," ucap Rafa. Larina bernafas lega mendengar hal itu.
30 menit berlalu, Rafa berpamitan pada Larina dan Ayah Larina.
"Terimakasih, ya" ucap Larina saat Rafa akam menutup pintu. Rafa hanya diam dan menutup pintu.
Setelah keluar dari ruangan rawat Larina, ia melangkah menuju lantai 2, tempat dimana Ayahnya sedang di rawat juga. Rafa menggenggam tangan Ayahnya yang tengah koma selama beberapa bulan ini.
****
Keesokan harinya, di sekolah.
Seharian ini Doni terlihat lebih banyak diam, bahkan ia mengabaikan teman-temannya yang mengajaknya bermain.
"Kenapa sih, Don? Dari tadi pagi kau tidak asik seperti biasanya,"
"Tidak tau," Doni menghendikkan bahu.
"Apa kerena Larina tidak masuk jadinya kau kehilangan orang yang bisa kita bully?" tanya temannya lagi.
Doni hanya menghendikkan bahu dan sesekali menghela nafas berat.
__ADS_1
"Eh berhubung dia tidak masuk sekolah 2 hari ini, bagaimana kalau kita beri dia kejutan?"
"Kejutan apa?"
"Kita robek saja lah buku paket yang ada di laci meja Larina. Bagaimana? Ide bagus kan?"
"Sudahlah, jangan berulah dulu kali ini." cegah Doni saat teman-temannya sedang berdiskusi.
"Kenapa sih? Kau sangat aneh hari ini."
"Iya tuh," timpal temannya yang lain.
Bella yang mendengar itu hanya diam saja,
"Nah, Bella kenapa ikut-ikutan diam? Apa kau merindukan teman palsumu itu?" tanya Safina lalu duduk disamping Bella.
"Najis," sahut Bella dengan cepat.
Safina dan lainnya terkekeh.
"Ku kira hatimu benar-benar tergerak untuk berpihak padanya, hahaha." ucap Nana.
"Tidak mungkin lah, kau fikir aku betah berteman dengan manusia culun dan buluk sepertinya?" Bella tersenyum remeh.
Hati Doni berdesir mendengar obrolan Bella dan kawan-kawan,
"Jika di ingat-ingat, dia tidak pernah membalas perlakuan buruk kami," batin Doni.
πππ
Besoknya.
Pukul 09:00 pagi.
Larina dan Ayahnya mengemas barang-barang mereka karena hari ini Larina sudah diperbolehkan pulang,
"Ingat pesan saya, pelan-pelan saat mengganti perbannya." ucap Dokter yang menangangi Larina.
Larina tersenyum dan mengangguk.
"Jangan lupa salep dan obatnya."
Dengan kondisi kedua kakinya yang masih diperban, Larina dan Ayahnya pergi meninggalkan Rumah Sakit.
"Ayah tidak pulang ya selama 2 hari?" Tanya Larina.
"Pulang sebentar, setelah itu kerja."
"Ayah pasti lelah,"
"Rasa lelah Ayah lenyap ketika melihat Puteri Ayah baik-baik saja,"
"Masaaaa?" Larina terkekeh.
"Iya dong!"
Di sepanjang perjalanan mereka mengobrol. Sesampainya di rumah, Ayah Larina menuntun Larina masuk ke dalam rumah. Larina tidak bisa berjalan dengan cepat karena luka di kakinya belum kering sempurna.
"Kalau butuh apa-apa, panggil Ayah."
"Siap!"
Setelah mengetuk pintu, Ibu Larina membuka pintu rumah. Larina menatap datar Ibunya, begitupun Ibu Larina yang menatap keduanya dengan tatapan datar dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku pulang," ucap Larina saat memasuki rumah.
"Baguslah, jangan terlalu lama manjanya." ucap Ibu Larina, ia berlalu meninggalkan keduanya.
"Cih, bahkan dia tidak menjengukku sama sekali saat aku di Rumah Sakit," gumam Larina.
"Ibumu sepertinya kelelahan, kamu jangan sedih. Ada Ayah kan?" hibur Ayah Larina.
Larina mengangguk.
***
Di kamar Larina.
__ADS_1
Larina berbaring di tempat tidur, sesekali ia duduk dan memperhatikan kedua kakinya dari punggung kaki sampai setengah betisnya yang diperban.
"Rasanya lebih sakit dan perih daripada terkena knalpot dulu," ucap Larina saat mengingat tadi pagi Dokter mengganti perbannya.
Larina ngeri mengingat kulitnya yang mengelupas dan terlihat jelas daging kakinya yang berwarna pink pucat,
"Apa akan sangat lama ya sembuhnya? Jika aku terus tidak masuk sekolah, aku tidak bisa maju. Aku harus kembali sekolah secepat mungkin!"
***
Malam harinya.
Ayah Larina masuk ke kamar Larina sambil membawa piring berisi makanan untuk Larina.
"Ayah sudah pulang?"
Larina tersenyum, ia meletakkan buku yang ia baca tadi.
"Sudah. Ayah bawa makanan. Kamu pasti belum makan kan dari tadi?"
"Kok Ayah tau?"
Ayah Larina duduk di samping Larina. Ia tidak menjawab bahwa ia mengetahui hal ini saat melihat makanan di dapur masih banyak.
Ayah Larina bersiap untuk menyuapi Larina namun Larina menolaknya.
"Aku makan sendiri saja, Yah."
Ayah Larina tersenyum dan mengiayakan. Setelah selesai makan, Larina menggenggam tangan Ayahnya.
"Ayah," panggilnya.
"Kenapa?"
"Ayah dan Ibu menikah bukan didasari cinta, aku ingin Ayah melepaskan Ibu."
Ayah Larian diam mematung.
"Haha, kamu ini ada-ada saja. Ayah tidak begitu kok, kami menjalin hubungan ini atas dasar cin-"
"Paksaan."
Ayah Larina kembali terdiam.
"Nak, kamu ini bicara apa? Itu tidak benar."
"Itu benar Ayah. Aku mohon,"
"Jika aku tidak bisa membuat Larina merasakan kasih sayang seorang Ibu dari Ibu kandungnya, maka aku harus memisahkannya dari Ibu kandung Larina." Batinnya.
"Kamu tidak perlu mencemaskan apapun. Setelah ini kamu istirahat, ya." Ayah Larina berdiri sambil membawa piring dan gelas.
"Aku mohon, biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri dan biarkan Aku hidup bahagia dengan Ayah."
Ayah Larina menghentikan langkahnya. Ia terdiam.
"Ayah,"
"Ayah akan mempertimbangkan kembali hal ini," ucap Ayah Larina, ia lalu keluar dari kamar Larina.
Larina tersenyum.
"Jika Larina tidak bisa mendapat kehangatan dari Ibu kandungnya, maka aku harus bisa menemukan sosok Ibu yang sesungguhnya untuk Larina."
"Yuk Adinda! Kau harus kuat! Tidak boleh lemah. Kau hanya lelah, bukan berarti kau harus menyerah!" imbuhnya.
Disisi lain di Rumah Sakit.
"Oh, sudah keluar ya?" tanya Rafa pada resepsionis
"Betul, Dek."
"Oke terimakasih."
Rafa berniat akan menjenguk Larina lagi malam ini, namun ia kalah cepat karena Larina sudah keluar dari Rumah Sakit pagi tadi.
"Apa aku jenguk ke rumahnya?" gumam Rafa sambil terus melangkah menuju lantai 2.
__ADS_1
"Tidak. Apa yang kau fikirkan ini, Rafa!" Rafa menggelengkan kepalanya.