
๐Jam up pukul 20:00 - 23:00 WIB
๐Eps ini di up pukul 20:00 WIB (06-Jan-2023)
๐๐๐
"Anu, apakah aku... Boleh memiliki rasa lebih dari teman padamu?" tanya Doni dengan gugup.
"Pasti jawabannya 'Tidak', sudah pasti." batin Doni
Larina terkejut. Ia mengambil napas dan membuangnya perlahan.
"Aku tau aku banyak salah padamu, tapi aku benar-benar menyesal. Aku berjanji aku akan berubah. Demi kau, Larina."
"Doni, aku berterimakasih atas kebaikanmu. Aku minta maaf, aku rasa kita sebaiknya berhubungan sebatas teman saja." tolak Larina dengan senyum ramah.
"Karena Rafa, ya?" tanya Doni.
Larina tersenyum dan mengangguk.
"Aku bisa lebih baik darinya, Larina. Jika masalah harta, keluargaku juga sebanding dengannya. Tolong pertimbangkan lagi, aku mohon."
Larina terkekeh.
"Uang? Aku bisa mencarinya sendiri."
"Apa yang membuatnya lebih baik dariku dimatamu? Dia itu sangat sombong, bersikap dingin kepada sekitarnya, kau tidak takut dia juga dingin padamu?"
"Aku tidak takut, kok."
Doni memejamkan mata beberapa detik, ia kembali membuka matanya sambil menghela napas.
"Baiklah, aku mengerti. Untuk saat ini, aku akan terima sebatas berteman denganmu. Tapi, suatu saat nanti aku akan meluluhkanmu dan akan bisa mengalahkan Rafa."
"Doni, tidak perlu seperti itu. Jangan buang-buang waktumu. Kau pasti akan dapat perempuan yang memang untukmu. Sekeras apapun kau berusaha, jika orang itu bukan ditakdirkan untukmu, kau pun tidak akan bisa mendapatkannya."
"Saat ini kau belum milik siapapun," jelas Doni.
"Please! Jangan menghalangi misiku!" batin Larina.
"Aku sudah mengingatkanmu ya dari tadi, kalau kau sampai sakit hati nantinya, aku tidak bertanggung jawab." tutur Larina sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Iya, aku paham. Tolong izinkan aku untuk membuktikan padamu bahwa aku pantas untukmu."
Larina menggeleng.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Aku kan sudah minta maaf atas semua kesalahanku?!"
"Cih, jika mengingat perbuatan kalian pada Larina hingga ia tewas, rasanya aku juga ingin menghilangkan nyawa kalian." batin Adinda yang kini ada didalam tubuh Larina.
๐Perlu diingat kembali ya, di dalam tubuh Larina saat ini adalah Adinda!
"Maaf sebelumnya, Doni. Aku itu tidak punya perasaan apapun padamu. Aku juga menolak dirimu yang akan berusaha itu demi tidak menumbuhkan harapan didalam hatimu. Harapan yang akan membuatmu sakit hati. Aku hanya menganggapmu sebagai temanku." Jelas Larina.
Tersirat kesedihan diwajah Doni mendengar hal itu.
Doni pun akhirnya menerima keputusan Larina yang menolak hadiah serta perasaan darinya.
"Baiklah, aku terima keputusanmu ini. Aku mengerti. Maaf, aku telah membuatmu risih." ucap Doni dengan suara sedikit gemetar.
"Ditolak orang yang kita suka ternyata sesakit ini, ku kira menaklukkan Larina sangatlah mudah." batin Doni
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf ya." ucap Larina.
"Iya, tidak apa-apa. Asalkan kita masih bisa berteman dan kau tidak lagi membenciku."
Larina mengangguk.
"Oh iya, sejak kapan kau pindah kemari?" tanya Doni.
"Sejak kapan ya? Mungkin satu bulan lalu." jawab Larina.
"Jadi, toko ini milik Ayahmu?"
"Dulunya toko ini milik majikanku, ia juga pemilik rumah ini. Sebelum meninggal, Nenek menyerahkan semua ini kepadaku."
"Aku turut berduka."
"Iya, terimakasih."
"Rafa sudah tau?" tanya Doni lagi.
"Iya, dia sudah tau."
"Oh, baguslah."
Larina mengangguk.
"Oh iya, nanti pas aku mau pulang, tolong antar aku sampai ke motor, ya?"
"Iya."
"Serius ini kau tidak mau menerima hadiah dariku?"
Larina mengangguk.
"Baiklah."
***
Doni melihat jam tangannya,
"Sudah jam 9, kau tutup tokonya sampai jam berapa?"
"Jam 9."
"Oh, sudah mau tutup ya?"
"Iya. Ada apa? Mau beli-beli?"
"Boleh deh, buat stok dirumah. Yang bahan-bahan masak."
"Banyak jenisnya. Mau yang apa?"
"Telur, kemudian susu cair juga, lalu-"
Larina menghela napas.
"Sebaiknya langsung kau pilih di toko ya."
Doni terkekeh.
"Baiklah."
__ADS_1
Doni meneguk habis minumannya, kemudian ia mengikuti Larina pergi ke toko dan mulai memilih belanjaan yang ia butuhkan.
"Kamu tidak memaksa dia untuk belanja kan?" bisik Ayah Larina.
"Tentu saja tidak, Yah."
"Baiklah. Kertas struknya sudah Ayah ganti barusan."
"Wah, terimakasih Ayah." ucap Larina sambil tersenyum.
"Sama-sama. Maaf, Ayah hanya bisa membantu sedikit."ย ucap Ayahnya sambil mengelus kepala Larina.
"Sedikit apanya? Ayah sangat membantuku."
"Ayah senang kalau kamu menyukai sesuatu dan Ayah akan terus mendukung kamu."
Larina mengangguk.
"Aku harap kasih sayangku sangat cukup untuknya dan membuat dirinya tidak merasa kekurangan kasih sayang dari Ibunya." batin Ayah Larina.
***
Disisi lain, Rafa dengan gembira memandangi motor matic yang ia inginkan sejak lama, dengan uang tabungannya ia pun berhasil membelinya. Ia pun segera menelfon Larina.
***
Selesai berbelanja, Doni pun pamit pulang.ย Larina pun mengantar Doni sampai di depan toko. Doni yang akan mengeluarkan kata-kata tertahan dengan suara notifikasi panggilan masuk dari HP Larina.
Larina pun menerima panggilan tersebut.
"Iya, Rafa. Ada apa?" tanya Larina
Doni memutar bola matanya mendengar nama Rafa.
"Belum tidur?" Rafa bertanya balik dari seberang telpon sana.
"Belum, baru mau tutup toko." jawab Larina.
"Oh, begitu. Besok berangkat ke sekolah bareng ya. Aku jemput kamu."
"Oh, oke. Kelihatannya kau sedang senang sekali."
"Iya, aku baru saja beli motor yang aku inginkan. Tapi KTP-nya pakai punya Ibuku, hehe."
Doni sedikit terkejut mendengar nada bicara Rafa yang sangat berbeda ketika ia di sekolah.
"Wah, selamat ya!"
"Iya, terimakasih. Baiklah, besok aku jemput ya."
"Iya, siap."
"Selamat malam."
"Selamat malam,"
Larina pun mengakhiri telpon.
"Baiklah, aku pulang dulu." ucap Doni sambil melangkah ke motornya.
"Iya. Terimakasih telah berbelanja disini ya." ucap Larina sambil tersnyum.
__ADS_1
Doni mengangguk dan tersenyum kecut, dengan perasaan yang terasa teramat sakit ia pun pergi dari toko Larina.