Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 15 : Kriteria Mewakili Kelas dalam Lomba Cerdas Cermat


__ADS_3

Keesokan paginya. Larina masuk ke dalam kelas dengan langkah santai, Safina dkk menatap tajam pada Larina yang melangkah menuju bangkunya.


"Kenapa tatapan mereka begitu tajam padaku ya? Apa postinganku semalam sudah sampai di beranda sosmed mereka?" batin Larina


"Selamat pagi," sapa Larina pada Doni yang tengah duduk santai di bangkunya.


Doni menatap datar dan tidak menyahuti sapaan Larina.


"Wow, cool ya sekarang." Larina duduk di bangkunya.


"Berisik." Doni sambil menyamankan posisi duduknya karena Gurunya sudah datang.


"Selamat pagi anak-anak,"


"Pagi, Pak."


"Hari ini ada ulangan lagi ya, peraturannya sama seperti kemarin. Dilarang mengakses internet, dilarang menyontek versi apapun, ini murni hasil kalian belajar. Minggu depan sekolah kita akan mengadakan lomba Cerdas Cermat mata pelajaran Matematika, murid yang akan mewakili kelas ini minimal harus mendapat nilai ulangan di atas 85 di setiap mata pelajaran dan dari nilai lainnya. Ada pertanyaan?"


"Pak," Bella mengangkat tangan.


"Iya, Bella. Ada yang mau di tanyakan?"


"Ada, Pak. Berapa orang yang akan mewakili kelas kami, Pak?"


"Lomba cercer kali ini sekolah mengirim 6 siswa, tiap kelas diwakili dua siswa. Kelas XI A satu orang dan kelas XI B satu orang juga."


"Setiap kelas ikut, Pak? Kan beda materi?"


"Mulai hari ini sepulang sekolah akan ada kelas tambahan perihal materi-materi dari kelas X - XII, setelah selesai Cercer, kelas tambahan untuk kenaikan kelas dilanjut."


"Oh, begitu."


"Ada lagi yang mau di tanyakan?"


Tidak ada yang menjawab.


"Baik, kalau begitu kita langsung mulai ulangannya."


"Baik, Pak."


Sore hari, sepulang sekolah, kelas tambahan.


"Masih semangat?" tanya Guru Matematika yang masih terlihat fresh di saat para murid-muridnya sudah lemas letih lesu hihi.


"Masih, Pak."


"Oke kalau begitu kita masuk materi. Bagi yang mau minum atau makan permen diperbolehkan."


"Baik, Pak."


"Larina, tulis contoh soal ini di papan tulis." sambil menunjuk buku pegangannya.


"Yes, sudah mulai dianggap." Batin Larina.


"Baik, Pak."


Larina maju ke depan kelas dan menulis soal-soal yang diperintahkan gurunya.


"Astaga, itu soalnya ribet,"


"Iya, rumusnya bikin sakit kepala."


Terdengar bisik-bisik halus.

__ADS_1


"Sudah, Pak." Larina meletakkan buku pegangan Guru itu ke meja Guru.


"Larina, Bapak harap kamu mampu memenuhi kriteria untuk ikut Cercer kali ini. Karena jika kamu menang, kamu bisa punya kesempatan mewakili kelasmu dalam Olimpiade tahun depan."


"Baik, Pak. Akan saya usahakan. Terimakasih."


"Oke."


Larina kembali duduk di bangkunya.


"Baik, kita mulai ya. Kalian akan sakit kepala ketika langsung melihat soal di papan tulis ini, jadi kalian harus simak penjelasannya agar tidak terlalu pusing."


"Baik, Pak."


****


Kelas tambahan mata pelajaran Matematika telah selesai. Para siswa-siswi mulai berhamburan keluar dari kelas untuk menikmati udara segar setelah otak mereka dipaksa bekerja lebih.


"Larina, mau pulang bersama?" Bella berdiri.


"Terimakasih, aku ada urusan."


"Oh, Oke."


Larina memasukkan semua bukunya ke dalam tas, ia tertawa kecil saat melihat Doni di depannya sedang memijit pelipisnya.


"Kenapa? Pusing ya?" dengan suara pelan


"Kau ini sangat sombong, ya?" Doni memutar badan menghadap ke Bangku Larina yang ada di belakangknya.


"Aku kan hanya bertanya." dengan raut wajah santai.


Sekali lagi Doni dibuat heran saat melihat wajah Larina yang tampak biasa-biasa saja bahkan terlihat tenang dan santai, padahal teman-teman di kelasnya pulang dengan raut wajah yang sangat kelelahan dan banyak yang mengeluh sakit kepala.


"Apa kau sudah sadar aku siapa?" Larina memajukan wajahnya dan tersenyum.


Doni meraih tasnya dan bangkit dari bangkunya.


"Oh iya, ngomong-ngomong aku seperti melihat dirimu dengan versi yang berbeda, loh."


"Maksudnya?" Doni bingung.


"Kau tidak membullyku kemarin dan hari ini pun kau tidak membullyku, kenapa ya kira-kira? Apa sudah sadar kalau kau akan kubuat tidak berdaya?" Larina ikut berdiri.


Mereka berdua terdiam, tinggal mereka berdua yang ada di kelas. Doni meletakkan kembali tas miliknya di meja.


"Kau menantangku, hah?" Doni emosi


"Baru sadar?" Larina tersenyum kecil


'Brak!' Doni menggebrak meja.


Doni meraih kerah baju seragam Larina dan mendorongnya ke tembok, Larina hanya tersenyum.


"Aku bosan dengan adegan seperti ini," ucap Larina sambil menatap mata Doni.


"Aaarrghh!!!" Doni mengangkat tangannya dan siap melayangkan pukulan


'Bugh'


Larina dapat merasakan hembusan nafas Doni di wajahnya. Doni melepas cengkaramannya di kerah baju Larina dengan kasar.


"Kenapa kau memukul tembok? Nanti roboh loh," Larina sedikit heran juga.

__ADS_1


"Berisik!" Doni mengambil tas miliknya dan melangkah keluar kelas.


"Ku kira aku akan di pukul lagi," gumam Larina.


Di luar kelas, Doni mengusap kasar wajahnya. Ia juga tidak tau mengapa ia memukul tembok setelah melihat manik mata Larina tadi.


"Lama banget, ada apa?" tanya teman Doni.


"Tidak apa-apa."


***


Semenjak hari itu Doni tidak bereaksi apapun ketika bertemu Larina, Larina ikut bingung juga.


🍀🍀🍀


Hari Sabtu.


"Selamat pagi anak-anak."


"Selamat pagi, Bu."


"Hari ini pengumuman nilai ulangan kalian ya."


"3 orang dengan nilai tertinggi diraih oleh Bella, Doni dan juga Larina."


Seisi kelas heboh mendengar hal tersebut.


"Harap tenang semuanya,"


"Oke saya lanjut. 3 orang ini mendapat nilai tertinggi di semua mapel, Larina menduduki posisi nomor 1 ya."


Semua siswa terdiam karena terkejut, termasuk Doni dan Bella.


"Terimakasih, Bu." ucap Larina sopan.


Bella meremas ujung roknya, ia kesal. Doni menghela nafas kasar.


"Kalian bertiga siang ini akan menjalani tahap seleksi untuk mewakili kelas kalian, 1 dari kalian akan lolos untuk mewakili kelas XI B"


" Bagi yang penasaran nilai Ulangan Larina, Larina mendapat nilai 100 di semua mata pelajaran,"


"Hah?!!"


"Kok bisa?!"


"Waduh, aku jadi malu sendiri, hihi." gumam Larina sambil tersenyum tersipu.


"Bu, apa Larina memenuhi semua kriteria lomba Cercer?" Safina tidak terima.


"Iya, memenuhi. Nilainya minggu-minggu ini melewati nilai-nilai tinggi di kelas ini."


"Kan semester satu dia nilainya anjlok, Bu!"


"Tapi nilainya kali ini sangat memukau loh, bahkan Kepala Sekolah sendiri yang ikut menilainya."


"Buset, Kepsek sampai turun tangan,"


"Ketua kelas saja tidak pernah seperti itu,"


"Betul kwkwkw,"


Bella semakin panas mendengar bisik-bisik temannya.

__ADS_1


Jadi, kali ini sekolah Larina berkolaborasi dengan 2 Sekolah lainnya mengadakan lomba Cerdas Cermat di Mata Pelajaran Matematika, tiap kelas di sekolah Larina terbagi menjadi dua, hal itu berlaku juga di kelas XI  yang terbagi menjadi 2 yakni kelas XI A dan XI B. Larina, Doni, Bella dan 3 orang lainnya dari kelas XI A akan menjalani tahap seleksi mengikuti lomba cercer ini untuk menentukan 2 orang yang akan mewakili kelas XI. Tiap kelas hanya boleh mengirim 2 siswa saja, yang berarti kelas XI A satu orang dan kelas XI B satu orang.


Apakah Bella dan Doni akan diam saja dan membiarkan Larina mewakili kelas mereka??


__ADS_2