Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
BAB 29


__ADS_3

"Kok ada isinya?" tanya Larina.


"Itu dari Ibuku."


"Oohh terimakasih. Hari ini aku bawa bekal lagi sih. Bagaimana kalau Kita bertukar bekal?"


Rafa diam sejenak.


"Oke. Ke tempat kemarin."


Larina mengangguk. Setelah itu Rafa pergi meninggalkan kelas XI B.


"Ehem!" Doni berdehem.


"Ada apa?" tanya Larina.


"Tenggorkanku gatal."


"Ohh," Larina ber-oh-ria.


Hari-hari terus berlalu, tidak terasa sudah tiba waktunya Ujian Akhir Semester untuk kenaikan kelas.


Hari ini adalah hari terakhir UAS, usai mengerjakan semua soal, Larina membaca buku yang baru ia beli lagi guna menghilangkan rasa bosan menunggu teman-teman kelasnya selesai mengerjakan soal UAS.


Doni mengeluarkan cermin kecil dari saku bajunya, ia mengarahkan cermin itu ke arah Larina yang duduk dibelakangnya. Dilihatnya Larina sedang membaca buku.


"Doni!" panggil Guru yang bertugas sebagai pengawas hari ini.


"Saya, Bu." Doni langsung meletakkan cermin kecil itu ke laci meja.


"Main apa kamu? Sudah selesai ujiannya?"


"Tidak main apa-apa, Bu. Sebentar lagi selesai, kok."


"Oke. Semuanya, waktu ujian sisa 5 menit lagi. Telat 5 detik tidak saya terima lembar ujiannya."


"Baik, Bu." sahut seisi kelas.


Larina memajukan badannya ke arah Doni.


"Kau tidak sedang mencuri perhatianku kan?" bisik Larina.


"Najis." timpal Doni dengan cepat.


Larina menahan tawanya.


"Yang ku inginkan Doni berada dibawah kekuasaanku, jangan sampai ada benih-benih cinta dalam hatinya. Bisa-bisa keluar jalur." batin Larina.


***


"Waktu habis! Kumpulkan lembar jawaban kalian segera."


"Satu..."


Beberapa siswa segera maju untuk mengumpulkan kertas lembar jawaban mereka.


"Dua..."

__ADS_1


"Tiga..."


"Oke, sudah semua ya?"


"Sudah, Bu."


"Kalian sudah boleh pulang. Senin tetap masuk ke sekolah dengan seragam lengkap."


"Baik, Bu."


Guru tersebut menyusun rapi kertas-kertas lembar jawaban para siswa-siswi, setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan kelas XI B.


Setelah guru tersebut  pergi, Bella mengambil Hp dan membuka akun Instagram miliknya. Ia melihat akun-akun online shop sambil menunggu teman-temannya yang sedang bersiap-siap pulang.


Bella sedikit terkejut saat ia berkunjung ke salah satu akun besar dan melihat ada akun yang direkomendasikan yang mana username akun tersebut tidak asing baginya. Bella menoleh ke arah Larina yang sedang bersiap pulang.


Dengan tatapan tajam, Bella melihat akun dengan username "Larina" dengan foto profil bibir yang melengkung membentuk senyum yang tak lain adalah bibir milik Larina sendiri, ia melihat bio Larina yang bertuliskan "Akan segera tiba masanya yang tertindas akan berada di atas".


Bella semakin emosi melihat postingan Larina tentang pembullyan, terlebih saat melihat semua komentar yang memuat doa buruk untuk para pelaku bullying.


"Kaget ya?" bisik Larina


Bella sontak terkejut, spontan ia melempar Hp miliknya ke meja saat Larina tiba-tiba berbisik padanya. Larina terkekeh melihat hal tersebut.


"Bye," Larina melambaikan tangan sambil melangkah keluar dari kelas. Bella mengepalkan tangannya, ia kesal melihat senyum kemenangan dari Larina.


"Kurang ajar!"


"Kenapa, Bella?" tanya Safina.


"Lihat ini, dia berani posting beginian di IG." Bella menunjukkan postingan Larina.


"Bisa bahaya kalau ia menyebut nama atau apapun yang bersangkutan dengan kita." ucap Nana.


"Duh, kita bisa di bully sama netizen." timpal Lala.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Bella. Kita harus bertindak."


"Buat akun fake dan buat dia seolah-olah berbohong." ucap Bella.


"Oke,"


Setelah diskusi singkat, mereka segera pergi meninggalkan kelas.


Malam harinya, Safina mengikuti step by step yang telah diberikan oleh Bella, ia membuat akun fake kemudian berkomentar di postingan Larina.


Akun fake Safina : " Haduh, zaman sekarang itu jangan mudah percaya sama postingan orang di sosmed, kebanyakan cari muka."


Setelah selesai, ia kembali membuat akun fake baru dan membalas komentarnya sendiri seolah-olah itu adalah akun orang lain.


Akun fake 2 : "Bener kak, di zaman ini tidak ada yang namanya Bullying atau apalah. Itu mah lebay, paling aslinya juga becanda terus baper."


Safina tertawa kecil lalu mengirim komentar tersebut.


Disisi lain, Larina yang baru selesai makan malam melihat ada notifikasi Instagram di HP miliknya.


"Eh?"

__ADS_1


Larina menghela napas saat melihat komentar baru tersebut.


"Ini pasti ulah mereka lagi," gumamnya.


Larina membalas komentar tersebut.


Larina : "Mau menguji skill netizen ya?"


Akun fake Safina : "Sok!"


Larina : "Oke, silahkan menikmati hasil dari apa yang kau perbuat malam ini ya,"


Setelah di Screenshoot, ia mengirimkannya pada Bella dan lainnya di grup WhatsApp.


Bella sedikit resah melihat balasan komentar dari Larina.


"Tarik saja komentarnya," tutur Bella melalui vn.


Safina mengiyakan, ia kembali ke Instagram untuk menghapus komentarnya. Ia gagal fokus saat akan menghapus komentar tetapi tiba-tiba ada DM masuk. Ia segera membukanya, Safina menelan ludah melihat isi pesan tersebut.


Akun itu mengirim sebuah screenshoot akun asli Safina.


"Ini akun realmu kan?"


Safina tidak membalasnya. Ia segera login ke akun real miliknya, ia menggigit jari saat ratusan komentar menghiasi postingannya. Komentar-komentar tersebut berisi hujatan pada Safina bahkan ada yang melakukan body shaming. Safina semakin terkejut saat ribuan followersnya mengunfollow dirinya, ia panik karena banyak netizen yang mengancam akan menyeret Safina ke pihak yang berwajib dengan dugaan sebagai pelaku bullying terhadap Larina. Meski tidak ada postingan yang menunjukkan hal tersebut, para netizen mengatakan bahwa berkomentar seperti itu tadi merupakan tanda-tanda orang yang suka membully.


Safina segera melaporkan hal ini pada Bella, Bella memijit pelipisnya setelah mengetahui hal tersebut.


"Kacau!" Bella melempar Hp miliknya ke kasur.


'Drrrtttt drrrrrt' ada panggilan masuk dari Safina,


"Iya, kenapa?"


"Bella, bagaimana ini? Aku takut!"


"Tenang dulu. Itu hanya sebatas ancaman di dunia maya."


"Aku tidak mau di penjara!"


"Heh, dengar perkataanku tidak? Ku bilang tenang!"


"Aku tidak bisa tenang, Bella. Ini banyak DM masuk dan mengancamku."


"Apa sih, mereka tidak akan tau apa yang kita lakukan."


"Duh, aku takut!"


Bella terus menenangkan Safina yang ketakutan.


"Kau hanya terus menyuruhku untuk tenang, Bella! Kau tidak tau rasanya jadi aku. Sudahlah, aku akan menyelamatkan diriku dengan caraku sendiri." ucap Safina yang kesal, ia langsung mengakhiri telfon tersebut.


Tidak mau mendapat resiko yang besar, Safina segera meminta maaf pada publik melalui postingannya. Ia mengutarakan permintaan maafnya karena telah berkomentar sembarangan.


Safina bernafas lega saat tidak ada lagi DM masuk.


Disisi lain Larina tertawa pelan saat melihat postingan reels Safina. Setelah kejadian itu, Bella dan kawan-kawan tidak lagi bertegur sapa dengan Larina di sekolah, mereka cenderung menghindari Larina.

__ADS_1


Doni dan kawan-kawan pun melakukan hal yang sama setelah melihat postingan Safina dan mengetahui penyebabnya. Doni  sendiri pun mulai menghindari Larina, ia tidak merespon sapaan Larina.


Hal itu berlangsung selama 1 minggu lebih sampai tiba masanya pembagian raport.


__ADS_2