
Keesokan harinya.
Larina yang baru sampai di lantai 2 mendapati Rafa sedang berjalan ke arahnya. Larina tersenyum, ia mengangkat tangannya berniat menyapa Rafa.
Senyumnya memudar saat Rafa hanya melewatinya saja tanpa tagur sapa, Larina menurunkan tangannya dengan lemas. Ia membalik badan dan melihat Rafa yang sedang menuruni anak tangga.
"Kurasa aku telah membuat satu kesalahan," ucap Larina pelan.
Setelah agak lama berfikir akhirnya ia sadar sesuatu. Larina teringat Rafa yang membukakan pintu kelas kemarin..
"Jangan-jangan dia salah paham?!"
***
Larina pergi ke kantin, sesampainya di kantin ia melihat Rafa sedang makan sendirian. Dengan langkah pelan dan hati-hati Larina menuju meja Rafa.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Larina pada Rafa.
"Silahkan," jawabnya dingin.
Baru saja Larina duduk, Rafa langsung meneguk habis air minumnya. Rafa berdiri meninggalkan meja tersebut untuk membayar makanannya.
Larina merasa hatinya seperti dicubit.
"Mau kemana?" tanya Larina saat Rafa melewatinya.
"Ke kelas." jawab Rafa sambil terus melangkah tanpa menoleh ke arah Larina.
"Ya ampun, dia cemburu, ya?" batin Larina.
Larina akhirnya ikut pergi keluar dari kantin.
"Ini tidak boleh dibiarkan! Aku tidak boleh gagal dalam misi ini." ucap Larina sambil terus melangkah.
Saat melewati kelas XI A, Larina tidak melihat keberadaan Rafa di kelas.
"Hufft, kemana dia ya?" Larina pergi ke kelas-kelas lainnya.
Ia juga pergi ke lantai dasar, pergi ke ruang lab, ruang ekskul dan beberapa ruangan lainnya namun tidak menemukan Rafa. Larina duduk di kursi yang berada di pinggir lapangan Volly karena lelah menahan sakit di kakinya yang terus berjalan dari tadi.
"Kemana dia, ya?"
Larina merasakan cenat-cenut dikedua kakinya.
Terdengar suara bel sekolah yang menandakan kelas berikutnya akan segera di mulai, Larina menghela nafas kasar. Setelah duduk, kakinya terasa semakin sakit. Namun, mau tidak mau ia harus tetap pergi ke kelasnya dengan berjalan kaki, karena tidak ada karpet ajaib yang akan membawa dirinya menuju kelas.
Sesampainya di kelas, Larina langsung duduk. Selang beberapa saat gurunya pun datang.
"Larina, bagaimana keadaanmu?"
"Baik, Pak. Hehehe."
"Oke. Tidak ada masalah ya untuk mengikuti kelas hari ini?"
Larina mengangguk.
Bella berdecih pelan mendengar percakapan mereka berdua.
Kelas pun dimulai.
"Oke, untuk menghilangkan kantuk kalian, yang bisa menjawab soal dari Bapak akan Bapak beri nilai plus!"
"Siaaapp!!" Jawab para siswa-siswi.
__ADS_1
***
Jam 16;00
Semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas, kecuali Larina yang santai. Setelah memasukkan semua buku, ia bergegas keluar dari kelas.
Saat keluar dari kelas, Larina melihat Rafa juga baru keluar dari kelasnya. Mereka saling menatap sesaat, Rafa tersadar lalu menutup pintu kelasnya.
"Rafa!" panggil Larina.
Rafa menghentikan langkahnya namun ia tetap membelakangi Larina.
"Tunggu,"
Larina berusaha mempercepat langkahnya dengan resiko rasa sakit di kakinya yang harus ia tanggung.
"Tunggu sebentar!"
Rafa tiba-tiba mengingat momen tangan Doni dan Larina yang bersentuhan, seketika ia kembali kesal dan meneruskan langkahnya.
Larina membulatkan matanya melihat Rafa yang melangkah pergi.
"Rafa, tunggu!!!"
Akhirnya Larina mencoba berlari walaupun ia tidak bisa dan hanya sebatas mempercepat langkah, hanya fokus untuk mengejar Rafa membuat Larina tidak meperhatikan langkahnya hingga kaki kanannya menendang kaki kirinya sendiri.
'Bruk!' Larina terjatuh.
Larina memejamkan matanya menikmati sensasi rasa pedih, sakit dan ngilu di kedua kakinya. Saat membuka mata, air matanya mengalir.
"Sakit,"
Mendengar suara tersebut Rafa lansung menoleh ke arah belakangnya dan melihat Larina jatuh. Ia langsung berlari ke arah Larina.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rafa panik,
"Sakit banget huhu!" batin Larina.
Rafa membantu Larina untuk berselonjor perlahan-lahan, Larina bersandar ke tembok sambil sesekali menyeka air matanya.
Keduanya dibuat terkejut saat ada rembesan darah dari punggung kaki Larina yang dibalut perban, Rafa lekas membuka sandal selop Larina. Ternyata tidak hanya sedikit bagian kaki Larina yang mengelurkan darah.
"Perih," ucap Larina pelan.
Rafa mengambil tas milik Larina, ia masuk ke kelas Larina dan meletakkan tas Larina serta tas miliknya disana. Dengan sekuat tenaga Larina mengangkat lalu menggendong tubuh Larina yang berbobot 85 kg itu.
"Eh?" Larina terkejut.
"Turunkan aku, aku berat." pinta Larina dengan suara bergetar karena rasa sakit di kakinya.
Rafa tidak menjawab, ia membawa Larina ke ruang Uks. Rafa mulai mencari obat, salep atau apapun yang berguna untuk Larina, ia juga mencari perban.
"Aku membawa obat salepku, ada di tas." tutu Larina.
Tanpa menyahuti perkataan Larina, Rafa segera pergi ke kelas dan membawa tas keduanya ke UKS.
"Yang ini?" tanya Rafa sambil mengeluarkan salep dari tas Larina. Larina mengangguk.
Setelah semua yang ia butuhkan tersedia, Rafa mencuci bersih tangannya, ia duduk dilantai dan bersiap membuka perban di kaki Larina
"Biar aku saja," ucap Larina saat Rafa akan membuka perban di kaki Larina.
Rafa menepis pelan tangan Larina yang akan ikut campur, Larina menghela nafas dan akhirnya diam pasrah. Rafa membuka perban di kaki Larina pelan-pelan, terlebih dibagian yang mengeluarkan darah tadi.
__ADS_1
Rafa terhenyak, ia sempat terdiam untuk beberapa saat melihat luka di kaki Larina, yang paling parah di bagian punggung Kaki Larina.
"Maaf, luka itu terlihat menjijikkan." ucap Larina dengan suara lirih.
Rafa menghela nafas. Ia mengambil kapas dan mengelap darah yang keluar dari lukanya sambil sesekali di tiup untuk mengurangi rasa perih saat luka itu bersentuhan dengan kapasnya.
Larina melihat mata Rafa agak memerah, tidak lama setelah itu mata Rafa berkaca-kaca.
"Rafa, kau menangis?" tanya Larina.
Rafa tidak menjawab. Ia mengambil salep dan mengoleskan ke jarinya, setelah itu ia mengaplikasikannya ke luka Larina. Larina meringis menahan perih. Langkah terakhir ada kembali melilitkan perban, dengan lembut dan pelan Rafa melakukan hal tersebut. Setelah selesai Rafa berdiri untuk mengembalikan barang-barang tadi.
"Terimakasih," ucap Larina
Rafa hanya mengangguk, ia membuka pintu UKS dan berniat pergi dari ruangan itu.
"Rafa," panggil Larina lagi.
"Kau akan membiarkanku sendiri disini?" lanjutnya.
Rafa menghela nafas. Ia berbalik dan mengambil tas Larina, ia juga memasangkan sandal selop Larina, Rafa mengulurkan tangan dan disambut hangat oleh Larina.
"Pelan-pelan," ucap Rafa.
"Iya,"
Larina berjalan perlahan di tuntun Rafa.
"Loh, belum pulang?" tanya Security.
"Ini mau pulang, Pak."
"Ooohhh.. Eh, ini Larina yang menang juara 1 di lomba Cercer kemarin ya?"
"Iya, Pak." Larina tersenyum.
"Ckckck kalau kamu pintar begitu kenapa dari tahun lalu tidak ikut lomba-lomba di sekolah? Sayang loh."
"Baru ada minat, Pak."
"Ohhh begitu, kakinya kenapa itu?"
"Biasa pak, teledor heheh."
"Waduh, hati-hati."
Larina mengangguk.
****
Sesampainya di gerbang sekolah, Larina mendapati Ayahnya baru sampai.
"Kenapa tidak angkat telfon?" tanya Ayahnya yang terlihat khawatir.
Larina memukul jidatnya pelan.
"Lupa, Yah. Hp nya di silent tadi."
Ayah Larina mengucapkan terimakasih kepada Rafa yang telah membantu Larina,
"Aku duluan," pamit Larina
Rafa hanya mengacungkan jempol.
__ADS_1
Saat di perjalanan, Larina baru ingat sesuatu.
"Ya ampun! Aku lupa, harusnya aku meluruskan kesalahpahamannya tadi," batin Larina.