Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 60


__ADS_3

πŸ’ Jam up pukul 20:00 - 23:00 WIB


πŸ’ Eps ini di up pukul 22:00 WIB (31 Januari 2023)


****


Mereka berdua bersepeda mengelilingi taman, tidak terasa matahari mulai terbenam dan keduanya menghentikan kegiatannya itu. Larina memandangi langit yang berwana orange dipadu dengan biru gelap.


"Ada apa?" tanya Rafa yang melihat Larina mendongak keatas dan terus memandangi langit.


Larina tersenyum, ia menoleh ke arah Rafa. Ia menggeleng dan kemudian kembali memandangi langit. Rafa meraih tangan Larina, Larina terkejut namun tidak menghindar. Rafa menggenggam tangan Larina dengan hangat.


"Apa kau sadar tentang perasaanku?" celetuk Rafa.


"Iya tau," timpal Larina pelan.


Rafa seketika mematung, ia menoleh ke arah Larina.


"Kau bilang apa barusan?" tanya Rafa.


Larina yang malu hanya diam.


"Oh maaf, aku salah dengar." ucap Rafa,


"Ayo cari makan, aku lapar." ajak Rafa, ia melepas tangan Larina dan melangkah mendahului Larina.


Larina menghela napas, ia kemudian menyusul Rafa dan meraih tangan Rafa dari belakang.


"Maaf aku tadi bertanya seperti itu. Aku seperti mendengar kau mengucapkan sesuatu." ucap Rafa,


"Iya, tidak apa-apa."


"Aku juga sebenarnya memang mengucapkan sesuatu sih, tapi ku rasa ini bukan waktu yang tepat." batin Larina


Selesai dengan urusan makan, mereka memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sesampainya di rumah Larina, mereka dibuat lemas karena Ayah Larina telah menyiapkan makanan untuk keduanya.


"Ayah sudah masak untuk kalian," ucap Ayahnya sambil menutup pintu toko.


Rafa dan Larina saling melempar pandangan dan bingung harus bagaimana.


"Ayah kenapa tidak bilang kalau mau masak untuk kami?" tanya Larina sambil mengikuti langkah Ayahnya yang menuju ke dapur.


"Ayah lupa," jawab Ayahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Tiba-tiba senyumnya pudar.


"Kalian sudah makan di luar?" tanya Ayah Larina.


"Sudah. Tapi kami hanya makan sedikit karena buru-buru pulang." jawab Rafa yang tiba-tiba muncul di dapur.


"Ohh, kalau begitu kalian makan lagi saja. Mumpung masih hangat." ucapnya sambil membuka tudung saji.


Rafa mengangguk,


"Baiklah, malam ini saja. Perut, mohon kerjasamanya, ya." batin Larina


Larina meletakkan piring di meja depan Rafa, ia juga menuangkan air ke dalam gelas.


"Ayah juga harus ikut makan." pinta Larina.


"Ayah masih kenyang."


"Tidak, Ayah harus ikut makan. Sangat tidak adil kalau hanya kami yang makan. Ayah juga harus makan bersama kami."


Ayah Larina akhirnya mengiyakan. Melihat Larina dan Ayahnya yang terlihat sangat harmonis, Rafa tersenyum tipis, ia merindukan Ayahnya yang kini sudah tidak lagi bisa ia sentuh raganya.


Setelah makan, Ayah Larina pergi ke kamar mandi karena tiba-tiba ingin buang air kecil.


"Tidak. Aku baik-baik saja." jawab Rafa dengan santai.


Larina tersenyum sambil memangku wajahnya.


"Kau tidak sendirian, kok." ucap Larina, Rafa yang mendengarnya merasakan hatinya berdesir, ia spontan tersenyum lebar.


"Kalau dilihat seperti ini, dia tampan juga." batin Larina.


"Astaga, Adinda! Ingat, dia itu masih anak sekolahan." lanjutnya sambil menggeleng pelan.


πŸ€πŸ€πŸ€


Keesokan paginya. Di sekolah.


Larina mencium punggung tangan Ayahnya,


"Tunggu,"


Larina menghentikan langkahnya dan menoleh le arah Ayahnya yang masih ada di motor.

__ADS_1


"Minum susu ini," ucap Ayahnya sambil menyodorkan kotak susu low fat.


"Kamu itu juga butuh minum susu. Ini rendah lemak." jelas Ayah Larina.


Larina mengangguk, setelah mengucap terimakasih ia pun segera pergi ke kelasnya. Sebelum pergi dari sekolah Larina, Ayah Larina terlihat sedang menerima telepon dan membahas tentang berkas-berkas untuk perceraiannya. Setelah itu ia pergi dari sekolah Larina.


Beberapa hari berlalu, sebuah mobil pick-up datang ke sekolah untuk mengantar Etalase pesanan kelas XII A. Setelah itu penjual Etalase tersebut berjabat tangan dengan kepala Sekolah, selang beberapa menit saat mereka tengah berbincang, Rafa dan Larina muncul, Larina tersenyum ramah untuk menyapa sang penjual Etalase tersebut.


Setelah itu Etalase itu pun diangkut ke kelas XII A dan di letakkan di posisi yang telah di tentukan. Rafa mengeluarkan uang dan menyodorkannya pada penjual Etalase tersebut, setelah itu penjual etalase memberikan struk / nota kepada Rafa.


"Terimakasih," ucap Rafa dan Larina


"Sama-sama"


***


Dibawah instruksi Rafa, para siswa-siswi kelas XII A bekerja sama untuk menata buku yang telah dibeli. Rafa memotret kegiatan tersebut untuk dijadikan dokumentasi.


Nana yang masih kesal dengan semua ini, diam-diam ia merobek dua halaman di salah satu buku.


"Haduh, ini gimana sih yang beli buku. Kok sobek begini?"


Seisi kelas melihat ke arah Nana yang sedang memegangi buku yang telah ia robek tadi.


Larina mendekat dan mengambil buku tersebut dan meletakkannya di mejanya.


"Apa harus aku do'akan hal-hal buruk bagi yang merobeknya ya?" sindir Larina.


"Loh, itu kan kalian berdua yang tidak benar dalam membeli buku." protes Nana.


"Tanganmu ada siletnya kali." timpal Larina santai dan tersenyum sinis.


Nana mengepalkan tangannya dan menghentakkan kakinya.


"Bisanya fitnah terus. Sampah kelas!"


Nana pun pergi meninggalkan kelas sambil membawa emosinya yang memuncak itu.


"Sudah-sudah, kita lanjutkan saja pekerjaan kita." ucap Larina untuk memecah keheningan.


#Bersambung.


πŸ“ Hai guys! Maaf banget aku jarang up, sibuk kehidupan RL hehe. Thanks ya udah selalu dukung aku, lope"πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2