
🍀 Jam up pukul 20:00 - 23:00 wib
🍀 Eps ini di up pukul 22:42 wib
****
Larina kembali menelfon Ayahnya namun lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Bagaimana?" tanya Doni.
"Baiklah, kalau kau tidak keberatan sih." jawab Larina.
"Oke, tidak masalah. Ayo pulang sekarang saja, mumpung belum terlalu malam."
Larina mengangguk, mereka berdua bangkit dari duduknya kemudian menuju motor Doni,
***
Di sepanjang perjalanan Larina merasa cemas karena baru kali ini Ayah Larina tidak menjawab telfonnya padahal sudah di hubungi berkali-kali.
"Sudah sampai." ucap Doni,
Larina tersadar, ia segera turun dari motor. Dilihatnya lampu rumah menyala semua dan seperti biasa pintu rumah yang tertutup.
"Terimakasih, ya." ucap Larina pada Doni.
"Sama-sama."
"Aku ingin menawarimu untuk mampir, tapi ini sudah malam sih."
"Iya, tidak masalah. Aku juga langsung mau pulang."
Larina tersenyum simpul.
"Jadi, apakah aku sudah dimaafkan?" tanya Doni,
"Kita lihat saja nanti." jawab Larina,
"Astaga, oke lah. Aku pamit."
"Oke, terimakasih lagi atas tumpangannya."
__ADS_1
"Sama-sama."
Doni pun pergi dari rumah Larina. Setelah Doni tidak terlihat, Larina segera melangkah menuju ke rumahnya.
Baru saja Larina membuka mulut untuk mengucapkan kalimat yang menandakan ia sudah pulang, namun hal itu di urungkan karena ia mendengar Ibunya berteriak.
Larina bergegas membuka pintu dan mencari asal sumber suara, dan ternyata itu di kamar orang tuanya.
"Aku minta cerai, Mas! Detik ini juga!"
Itulah ucapan yang Larina dengar dari mulut Ibunya dari dalam kamarnya.
"Kamu fikir pernikahan itu main-main? Bisa cerai dan rujuk sesuka hati?!"
"Ayah," lirih Larina.
"Bodo amat! Aku sudah lelah dengan pernikahan ini, Mas. Harusnya kita dari awal tidak usah menikah!"
Larina diam mematung di depan pintu kamar orang tuanya, jantungnya berdebar kencang.
"Selama ini aku selalu bersikap baik padamu dan berharap kita akan baik-baik saja, aku selalu meminta agar dirimu terbuka. Tapi apa yang terjadi? Kau malah tidur dengan pria itu?!"
'Prang' Ibu Larina membanting botol parfum yang terbuat dari kaca.
"Aku sudah tidak tahan satu atap dengan orang yang tidak ku cintai! Bahkan aku menyesal telah melahirkan anakmu itu, anak itu menjadi penghalang saat aku ingin bercerai denganmu!" lanjut Ibu Larina.
Ayah Larina seketika terdiam beberapa detik. Larina yang mendengar perkataan Ibunya pun ikut merasakan sakit hati.
"Kalau seperti ini, apakah surga Larina masih ada di telapak kaki Ibunya?" tanyanya pada dirinya sendiri dengan suara lirih.
"Dengan alasan itu kau berselingkuh bahkan membawa selingkuhanmu ke rumah ini, ke kamar ini. Hampir setiap malam menjelang tidur, aku tanya dan kau hanya berkata tidak apa-apa, kau menyakiti anak kita pun aku masih memaafkanmu," suara Ayah Larina bergetar.
"Kau tidak menyemangatiku pun aku tetap sabar, kau menolak nafkah batin di ranjang pun aku tidak marah. Kesalahan apa yang telah ku perbuat padamu sampai-sampai dirimu bisa setega melakukan hal ini?"
"Aku tidak mencintaimu, itu saja." jawab Ibu Larina sambil menitikkan air mata.
"Satu atap dengan orang yang tidak kucintai itu sangat menyakitkan." Lanjutnya.
Ayah Larina kembali tidak bisa berkata apapun dalam beberapa saat, ia mengangguk, matanya berkaca-kaca.
"Baiklah, sekarang apa maumu?" tanya Ayah Larina.
__ADS_1
"Aku ingin bercerai. Anak ikut denganmu." jawab Ibu Larina dengan mantap.
"Baiklah, kalau itu maumu."
Suasana di dalam kamar orang tua Larina seketika senyap. Larina memejamkan mata dan menitikkam air mata mendengar percakapan kedua orang tuanya.
Ayah Larina mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Aku minta maaf jika selama menjadi suamimu, aku tidak bisa menjadi suami yang kau inginkan. Larina ikut denganku, rumah dan isinya ini untukmu." Mata Ayah Larina memerah dan meneteskan air mata.
Dengan dada yang sesak dan sakit, ia menjatuhkan talak pada Ibu Larina. Tubuh Ayah Larina bergetar setelah ia memutus ikatan pernikahannya.
Larina memejamkan matanya saat mendengar Ayahnya telah menjatuhkan talak kepada Ibunya.
"Proses cerai di Negara biar aku saja yang mengurusnya, kau hanya tinggal terima beresnya." ucap Ayah Larina,
Ibu Larina tidak berkata apa-apa, ia hanya diam mendengar ucapan pria yang baru saja menjadi mantan suaminya.
Ayah Larina menyeka air matanya, ia melangkah keluar kamar, saat membuka pintu ia dikejutkan dengan kehadiran Larina. Mendengar pintu kamar yang terbuka, Larina membuka mata dan melihat Ayahnya berdiri dihadapannya.
Larina yang sudah berurai air mata melempar senyum kepada Ayahnya, ia merentangkan kedua tangannya dan mengisyaratkan agar Ayahnya datang padanya.
Hati Ayah Larina sangat sakit melihat senyum serta air Mata Anak gadisnya itu. Ia menyeka air matanya lagi dan juga membalas senyum Larina, ia pun segera memeluk Larina dengan erat.
"Aku pulang," ucap Larina dalam pelukan Ayahnya.
"Maaf, Ayah tidak menjemputmu tadi." ucap Ayah Larina sambil berusaha tidak mengeluarkan air mata di hadapan Larina.
Larina mengangguk,
"Maafkan Ayah, Nak."
Larina menggeleng, ia mengurai pelukannya.
"Ayah tidak bersalah padaku," ucap Larina, ia menyeka air mata Ayahnya menggunakam kedua ibu jari tangannya.
"Kau adalah Ayahku yang hebat," lanjutnya.
Mendengar hal tersebut tangis Ayah Larina pecah, ia langsung memeluk kembali Larina dan terus mengucap kata maaf karena gagal menjadi Ayah yang baik selama ini.
Sementara itu Ibu Larina duduk di tepi tempat tidur sambil terus menyeka air matanya, ia tidak tau bahwa di jatuhi talak ternyata sakit, namun bukan berarti ia menyesal akan keputusannya itu.
__ADS_1