
"Nek, hari ini aku pulang sore ya. Makanan sudah aku siapkan, jadi tidak perlu masak lagi." ucap Larina,
Baru saja Larina memutar balik tubuhnya,
"Loh, tutup dek?" datang seorang pembeli.
"Eeee, kakak butuh apa?"
"Ini mau belanja beberapa barang. Di toko sebelah kosong." sambil menyodorkan kertas berisi daftar belanjaan.
"Oh, ini ada semua disini, kak."
"Huufft, syukurlah. Berarti belum tutup kan?"
"Oh, iya belum tutup kak." Larina tersenyum, akhirnya ia kembali membuka tokonya.
"Dek, cemilan ini yang rentengan ada?"
"Ada kak. Sebentar,"
Larina pergi ke gudang dan mengambil 1 karton cemilan yang diminta pembeli.
"Mau berapa kak?"
"Tiga renteng saja."
"Oke." Larina membuka karton tersebut.
"Mie yang ini sisa ini saja, Dek?" sambil menunjuk salah satu produk mie instan yang dijual ecer.
"Ada lagi kok kak di gudang, belum aku keluarkan."
"1 kardus ya."
"Oke,"
Setelah hampir 30 menit, akhirnya tiba waktunya pembayaran. Diluar dugaan, pembeli itu juga membeli barang-barang diluar list yang ia berikan pada Larina.
"Kamu pekerja baru disini, Dek? Sejak kapan?" tanya pembeli itu.
Sambil menghitung, Larina menoleh sekilas dan tersenyum.
"Iya kak, saya baru disini. Tidak sampai 1 minggu,"
"Ooohh begitu. 4 bulan lalu disini juga ada karyawannya sih, dia bekerja disini selama bertahun-tahun, tapi dengar-dengar dia korupsi kemudian keluar dari sini."
"Korupsi bagaimana, Kak?"
"Harganya dinaikkan tanpa sepengetahuan majikannya,"
Larina mengangguk sambil tetap fokus menghitung.
"Setelah itu disini sepi karena pemiliknya sudah tua, dan tidak lama setelahnya mantan karyawannya itu mendirikan toko sendiri." lanjutnya
"Waduh, bisa begitu ya? Hehe."
"Iya, Dek. Tau tidak? Karyawan yang aku bicarakan tadi itu adalah orang yang punya toko di depan ini."
Larina berhenti sejenak, ia melihat ke arah toko yang berada di seberang jalan.
"Yang itu?" tanya Larina sambil menunjuk toko di seberang jalan.
"Iya. Harganya miring-miring, jadi ramai pembeli."
Larina mengangguk.
"Tapi ternyata, harga disini lebih murah."
Larina tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih, kak." ucap Larina.
"Totalnya 450.000, Kak. Ini notanya,"
"Ah iya, saking enaknya ngobrol sampai tidak terasa. Ini," sambil menyodorkan uang.
"Ini kembaliannya, Kak. Terimakasih."
Setelah pembeli itu pergi, Larina terus memandangi toko di seberang jalan itu.
"Masa iya sih ceritanya begitu?" gumam Larina.
"Entahlah. Yang penting aku bekerja dengan jujur." sambil mengendikkan bahu.
Larina mencatat barang-barang yang keluar tadi kemudian menyelipkan notanya.
Baru saja ia akan beranjak dari tempat duduknya, pintu toko terbuka dan datang lagi pembeli. Pembeli itu datang dengan raut wajah emosi.
"Mbak! Saya beli ini! Nih daftarnya!" meletakkannya di meja Larina dengan kesal.
"Iya kak. Mau ikut untuk memilih barangnya?" tanya Larina.
"Tidak mau! Mbak saja yang carikan!" sambil melipat tangannya di dada.
Larina tetap tersenyum, ia membaca daftar belanja yang diberikan oleh pembelinya,
"Kak, sabun colek yang ini habis. Adanya merk yang lain."
"Duh!!!"
Larina menarik nafas, ia pergi dan mengambil kursi.
"Duduk dulu, kak." pinta Larina.
Pembeli itu langsung duduk namun tetap terlihat kesal.
"Ada masalah apa?" tanya Larina.
"Eemmm seperti itu, ya?"
"Iya, Ibu lagi sakit."
Kemudian Larina menasehatinya untuk mengendalikan emosinya, ia juga mengatakan Ibu dari si pembeli sedang membutuhkan bantuan. Pembeli itu menitikkan air mata sambil meluapkan emosinya.
Setelah beberapa menit, pembeli itu terlihat mulai tenang. Larina memberikan tisu padanya. Diketahui pembelinya saat ini masih berumur 16 tahun.
"Terimakasih, Mbak. Aku jadi lega."
"Sama-sama" Larina tersenyum ramah.
"Jadi, barang mana saja yang ada, Mbak?" tanyanya sambil sesenggukan.
"Sabun colek merk ini habis, adanya sabun colek merk lain, Kak. Tepung panirnya juga sisa 3 kilo saja."
Pembeli itu kemudian meminta kembali kertas berisi daftar belanjaannya dan ia berjalan dan mencari barang belanjaannya sendiri.
Pembeli yang tadi belum selesai namun ada pembeli lain yang datang. Jam di dinding menunjukkan pukul 4 sore. Langit yang cerah tiba-tiba mendung perlahan.
Larina sedikit panik melihat hal itu karena ia tidak membawa payung.
"Ini Mbak, sudah semua."
"Oke. Bentar ya, aku total dulu."
"178.000, kak."
***
Larina melihat beberapa barang di rak sudah kosong, ia pergi ke gudang lagi untuk mengambil stok yang tersisa.
__ADS_1
Tiba-tiba Hp Larina berbunyi.
"Halo, Ayah."
"Halo. Sudah pulang?"
"Belum, Yah. Ini masih menata barang. Ayah dimana?"
"Ayah di sekolah."
"Oohhh, iya-iya."
"Katanya kamu pulang sore?"
"Tidak jadi, Yah. Banyak pembeli yang datang."
"Oohh begitu, syukurlah kalau ramai pembeli."
"Iya. Setelah menata barang ini aku pulang, sekitar jam 5."
"Baiklah. Kalau pulangnya malam, Ayah jemput."
"Oke siap!"
****
"Tidak jadi pulang?" tanya sang Nenek.
"Habis ini, Nek."
"Biar Nenek saja yang menatanya."
"Tidak boleh." tolak Larina.
Ia membuka karton yang lain. Samar-samar terdengar suara rintik hujan di atas atap, perlahan suara itu semakin jelas. Larina spontan melihat ke arah luar.
"Hemmm, hujan."
"Alam pun tidak merestui aku pulang." batin Larina.
🍀🍀🍀
Sekitar jam 7 malam, Ayah Larina datang untuk menjemputnya.
"Maaf, Ayah. Aku jadi merepotkan Ayah."
"Tidak ada yang seperti itu. Setelah kamu lulus sekolah, kamu baru boleh bawa motor sendiri."
Larina mengangguk.
"Ayah, aku mau tanya sesuatu." tanya Larina, ia segera naik ke atas motor.
"Boleh, silahkan."
"Bagaimana dengan permintaanku saat itu?"
"Tentang?"
"Perceraian."
Ayah Larina tidak menjawab, ia menyalakan motor dan pergi dari toko.
"Ayah? Bagaimana?" tanya Larina lagi.
"Tunggu, ya. Ayah masih belum bisa memutuskannya saat ini."
"Hemm, oke. Tapi lebih cepat lebih baik,"
"Iya... Kamu do'akan saja yang terbaik agar Ayah bisa memutuskan keputusan yang tepat."
__ADS_1
"Iya."
"Tapi bercerai dengan Ibunya Larina adalah keputusan yang tepat. Toh diluar sana jelas masih banyak wanita yang lebih baik daripada Ibunya Larina." batinnya