
Larina mengambil kursi dan naik keatasnya. Larina mulai membersihkan langit-langit ruangan.
"Hatchiiii!" Larina bersin saat ada debu yang masuk dan menggelitik isi dalam hidungnya.
Setelah selesai, Larina berganti membersihkan kotoran di tembok dan disudut ruangan. Larina menyalakan lampu karena hari mulai gelap. Ia kemudian lanjut bersih-bersih toko dibagian luar.
"Hatchii!" Larina bersin lagi.
***
Selesai membersihkan kotoran di langit-langit dan juga di tembok, ia kemudian menyapu kotoran yang yang jatuh ke lantai.
"Nek, aku buka cairan untuk membersihkan kaca dan lantai, ya." izin Larina.
Setelah mendapat izin, ia melanjutkan aktivitasnya. Larina membawa seember air dan lap, ia mulai membersihkan kaca dan pintu. Setelah itu ia lanjut mengepel lantai. Sambil menunggu lantainya kering, Larina mengambil bekalnya.
"Nenek sudah makan?" tanya Larina,
"Nenek tidak lapar. Pencernaan orang tua seperti Nenek ini juga tidak sebaik pencernaan anak muda."
"Hemm, bukan berarti Nenek tidak makan. Aku ambil makanan di dapur dulu, makan walau sedikit saja."
Nenek itu tidak menolaknya. Akhirnya Larina dan Nenek pemilik toko itu makan bersama.
Selesai dengan urusan perut, lantai juga sudah kering. Larina mulai memasukkan rak-rak yang ia keluarkan tadi, ia juga sedikit demi sedikin membawa dan menyusun barang-barangnya di rak.
Tiba-tiba Larina mendengar HP-nya berbunyi, ia lekas mengambil HP-nya di tas, ternyata Ayahnya menelfonnya.
"Sudah selesai?" tanya Ayahnya dari seberang telepon.
"Eh, sudah hampir jam 8 ya? Belum selesai sih. Tapi akan aku lanjutkan besok."
"Baiklah, Ayah akan segera menjemputmu."
"Siap!"
Mereka mengakhiri telfon, Larina kembali melanjutkan kegiatannya. Nenek pemilik toko keluar dari kamarnya dan membawa dua bungkus Pop Mie, ia beniat membantu Larina.
"Tidak, tidak dan tidak! Nenek tidak boleh ikut-ikut. Biar aku saja yang mengerjakannya. Serahkan dan percayakan padaku." Larina langsung merebut pop mie itu dari tangan Nenek pemilik toko.
"Nenek duduk saja dan perhatikan aku." ucap Larina sambil membawa kursi dan membantu Nenek tersebut duduk.
"Nek, maaf ya. Aku akan menyelesaikan ini besok, Ayahku sebentar lagi akan datang menjemputku. Nenek besok jangan buka dulu tokonya."
Nenek itu tersenyum.
"Iya."
"Sip!"
Suara mesin sepeda motor terdengar berhenti di depan toko tempat Larina bekerja.
"Itu pasti Ayah."
Larina berjalan keluar dari toko dan benar saja itu adalah Ayahnya. Larina mencium punggung tangan Ayah Larina.
Ayah Larina melirik ke dalam toko dan melihat Nenek pemilik toko sedang berusaha berdiri, ia berjalan menuju pada sang Nenek dan membantunya berdiri.Β Kemudian ia langsung mencium punggung tangan Nenek itu.
"Maafkan Puteriku, dia membuat barang-barangnya berantakan." ucapnya.
"Mana ada seperti itu," Larina memanyunkan bibirnya.
Nenek itu tertawa pelan.
"Kamu Ayahnya?" tanya Nenek.
"Betul. Saya Ayahnya Larina. Terimakasih telah mengizinkan Anak saya belajar bekerja disini."
"Aku yang harusnya mengucapkan terimakasih,"
Nenek pemilik toko itu mengajak Ayah Larina ke ruang tamu untuk mengobrol. Ayah Larina menghela napas melihat tumpukan barang di ruangan itu.
"Nak, tolong buatkan Ayahmu minum."
"Iya, Nek." Larina segera ke dapur.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Ayah Larina.
"Ayahnya ramah dan lembut, begitupun puterinya. Aku sangat senang dengan kehadiran kalian berdua."
Larina senyum-senyum sendiri mendengar obrolan mereka berdua dari dapur walau suaranya hanya terdengar samar-samar.
"Ini, kopi buatanku khusus untuk Ayah. Dan ini, susu khusus untuk Nenek."
Larina meletakkan dua minuman itu di meja.
"Aku mau lanjut dulu sembari menunggu Ayah selesai mengobrol."
***
"Nek, kami pulang dulu. Pintunya aku kunci dari luar, satu kuncinya aku bawa."
Nenek itu mengangguk. Setelah mengunci pintu, Larina dan Ayahnya pergi dari toko tersebut. Diatas motor mereka mengobrol.
"Bagaimana hari ini?" tanya Ayah Larina.
"Aku sangat bersemangat!"
"Benarkah? Tidak lelah?"
"Lelah sih, tapi aku senang. Ayah tau? Tadi hampir berteriak karena saat membersihkan sudut tembok ada cicak dan dengan cepat cicak itu berjalan ke sapu yang aku pegang."
"Kenapa tidak teriak? Kok cuma 'hampir'?"
"Ya kan tadi majikanku sedang istirahat. Dia terlihat sangat senang saat aku datang tadi."
Ayah Larina terkekeh. Mungkin ini hanya obrolan receh, namun bagi Adinda yang berada dalam tubuh Larina, hal ini sangatlah berarti karena di dunia aslinya ia hidup tanpa orang tua.
"Ibu tidak menanyakan keberadaanku?" tanya Larina.
Ayah Larina tidak menjawab.
"Ahaha, aku bercanda Ayah. Bagaimana persiapan untuk Akreditasinya?"
"Aku tau, mana mungkin Ibunya Larina peduli anaknya sedang dimana," batinnya.
"Ke sekolah? Atau di rumah."
"Di sekolah. Disana juga ada Guru-guru lainnya."
"Eeemmm, seperti itu. Semangat!" Larina memeluk erat Ayahnya.
Ayah Larina tersenyum.
"Ayah, aku mau minta tolong."
"Apa itu?"
"Nanti Aku akan mengirim dokumen berisi daftar harga dan nama produk. Tolong di printkan, ya."
"Baiklah."
"Terimakasih."
πππ
Besoknya, sepulang sekolah Larina langsung pergi bekerja.
"Nenek sudah makan?" tanya Larina.
"Sudah."
"Baiklah. Aku mulai bekerja dulu. Nenek tidak usah ikut-ikut, cukup istirahat saja."
***
Larina kembali menata barang-barang yang sudah ia sortir sebelumnya untuk memastikan barang yang dijual masih belum kadaluwarsa
Setelah di tata, Larina mengambil kertas print yang ia minta semalam pada Ayahnya. Setelah digunting, ia menempelkannya di rak dan disesuaikan dengan letak barang-barangnya.
Hari mulai gelap, Larina mengambil stok barang di gudang, ia menatanya kembali. Setelah itu ia istirahat untuk mengisi perut.
__ADS_1
"Nah, sudah rapi!"
Larina tersenyum lebar melihat pemandangan didepannya, semua barang tersusun rapi dan bersih. Larina juga telah mengganti lampu sebelumnya menggunakan lampu dengan watt yang lebih besar.
"Besok tinggal membersihkan gudang dan mengecat tembok diluar."
Larina mengambil buku, pulpen serta penggaris. Karena tidak menggunakan alat elektronik, jadi Larina akan mencatat transaksi secara manual di buku tulis.
Kemudian datang seorang pelanggan.
"Permisi, mau beli-beli."
"Silahkan masuk, Kak. Cari apa?" sambut Larina sambil tersenyum ramah.
"Ada beras punel cap XX, dek?"
"Ada, kak. Harganya 10.000 perkilo,"
"10 kilo ya, dek."
"Oke. Tunggu sebentar, ya."
Larina segera menimbang beras tersebut dan memberikannya pada pelanggan.
Pelanggan itu juga menyerahkan uang 100.000 pada Larina.
"Terimakasih, kak."
"Sama-sama, Dek."
Tidak lama kemudian datang lagi satu orang pelanggan laki-laki.
"Selamat datang, Kak. Silahkan masuk."
"Ada mie, dek?"
"Mie instant, kak? Silahkan cari di rak sebelah kanan dekat cemilan."
"Oke."
Setelah beberapa menit, pelanggan tersebut membawa beberapa bungkus mie instan ke meja Larina dan ia kembali mencari barang lainnya.
"Ini susunya tidak ada yang coklat?" tanyanya sambil membuka pintu kulkas.
"Yang rasa coklat habis kak, hanya itu saja."
"Ooh,"
"Totalnya 45.000, kak."
Customer tersebut menyodorkan selembar uang 50.000-an.
"Terimakasih, kak."
"Sama-sama."
Hati Larina berbunga-bunga karena sudah ada dua customer malam ini.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 8 malam, Ayah Larina juga telah sampai untuk menjemputnya.
"Nek, aku pulang ya. Pintunya aku kunci dari luar."
"Iya, Nak. Hati-hati."
Larina mencium punggung tangan Nenek pemilik toko kemudian pulang bersama Ayahnya.
"Bagaimana hari ini?"
"Aku sangat senang, Ayah. Ada sekitar empat pembeli yang datang tadi."
"Syukurlah."
"Sampai di rumah langsung mandi,"
"Siaapp! Ayah lembur lagi?"
__ADS_1
"Tidak, Nak. Mungkin besok malam."