Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 46 : Ketahuan Selingkuh?!


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Larina dan lainnya turun dari mobil, mereka saling berpamitan untuk pulang karena mereka diizinkan pulang lebih awal.


"Ayo pulang bersama." ajak Rafa


Larina tersenyum.


"Aku tidak langsung pulang, aku langsung ke tempat kerja."


"Oke. Kita tunggu dulu, supirku sudah hampir sampai." tutur Rafa.


Larina mengangguk.


Selang beberapa menit sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang sekolah, Rafa mengajak Larina masuk ke dalam mobil. Sesampainya di toko, Larina turun dari mobil.


"Terimakasih atas tumpangannya." ucap Larina ramah.


Rafa hanya tersenyum simpul. Setelah mobil itu tidak lagi terlihat oleh Larina, ia menurunkan tasnya dan melihat isi di dalamnya.


"Astaga, kaosku ketinggalan." ucapnya pelan.


"Kalau aku pakai seragam sekolah, besok masih di pakai."


"Ya sudah, aku pulang dulu saja."


Larina memutuskan pulang untuk mengambil baju ganti.


***


Di rumah Larina.


Larina mengerutkan dahinya, pintunya tidak bisa dibuka.


"Di kunci dari dalam?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Larina kemudian mencari kunci di sekitar pot bunga dan dibawah keset,


"Barangkali orang rumah sedang keluar dan menaruh kuncinya di suatu tempat."


Larina berkacak pinggang saat ia tidak menemukan apa yang ia cari.


"Tidak ada dimana-mana. Apa Ibu tidur?"


'Tok tok tok' Larina mengetuk pintu rumah.


"Bu," panggilnya.


"Bu, ini aku." panggilnya lagi


Tidak ada sahutan dari dalam. Larina menghela napas.


"Pintu di belakang apa dikunci juga?"


Ia kemudian berjalan ke halaman yang ada di belakang rumah.


'Ceklek' pintu terbuka.


"Lah, ini tidak di kunci kok, kok." ucapnya pelan.


Larina melangkahkan kakinya ke dalam rumah, baru satu langkah, ia melirik ke arah lantai. Ia sedikit terkejut saat melihat sendal laki-laki.


"Ini bukan milik Ayah." gumamnya pelan.


Larina menyipitkan matanya, ia tidak bisa berpikir positif.


"Apa Ibu membawa laki-laki ke rumah ini? Kurang ajar!"

__ADS_1


Larina bergegas menuju kamar orang tuanya.


'Tok tok tok'


"Bu, buka pintunya."


"...."


Tidak ada sahutan dari dalam kamar orang tuanya.


'Tok tok tok'


"Bu!" panggil Larina dengan menaikkan volume suaranya


"Bu! Buka pintunya!!"


'Tok tok tok'


"Apa sih?!" terdengar suara Ibu Larina dari arah kamar mandi.


Larina melangkah cepat ke kamar mandi dan mendapati Ibunya baru keluar dari kamar mandi dan mengenakan handuk dengan kondisi rambut yang basah.


"Apa sih?! Teriak-teriak seperti itu. Berisik."


"Bu, pintu di depan kenapa di kunci?" tanya Larina


"Kau kan sudah bisa masuk ke dalam rumah, kenapa masih sewot?" Ibu Larina balik bertanya.


Larina membuang napas kasar, ia masih bisa menahan emosinya.


"Itu sendal milik siapa, Bu? Sendal yang di dekat pintu belakang."


"Milik Ayahmu, mungkin." jawab Ibu Larina yang berjalan melewati Larina.


"Bukan. Itu bukan milik Ayah. Aku tau semua milik Ayah, dan sendal di dekat pintu belakang itu bukan milik Ayah."


"Biasanya dia jam segini belum pulang," batin Ibu Larina.


"Bu, Ibu tidak membawa laki-laki lain kesini kan?!"


Jantung Ibu Larina berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, ia menatap kesal Larina.


"Sembarangan sekali mulutmu itu." Ibu Larina menatap tajam ke arah Larina.


"Aku bukan anak kecil yang bisa Ibu bohongi,"


"Terserah." Ibu Larina membuka pintu kamarnya, ia masuk kemudian langsung menutup pintu kamarnya saat Larina akan mengeluarkan suara lagi.


Larina mengatur napasnya, ia berjalan ke arah pintu belakang dan ia tidak mendapati sendal itu lagi.


"Sendalnya kemana?" tanya Larina pada dirinya sendiri.


"Aku tidak mungkin salah lihat,"


Larina pergi ke halaman belakang rumah, ia mencari sendal asing tadi namun tidak menemukannya dimana-mana.


"Hiih! Tau gitu langsung ku foto tadi."


"Tidak ada apa-apa kan?" tanya Ibu Larina yang tiba-tiba berdiri dan tengah bersandar di pintu.


"Aku yakin tadi ada sendal laki-laki di dalam sana dan itu bukan milik Ayah."


"Cih, ngigo."


"Ibu jangan macam-macam,"


"Terserah saja. Lebih baik kau masak sana. Kau bisa masak kan?"

__ADS_1


Larina berjalan ke arah Ibunya.


"Aku harus pergi ke tempatku bekerja. Ibu bisa masak juga kan?"


Ibu Larina memutar bola matanya, bosan.


Dengan lirikan mata yang tidak enak, Larina masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju ke kamarnya dan mengambil Pakaian ganti. Setelah itu ia kembali keluar lewat pintu belakang.


"Aku yakin itu sendal selingkuhan, Ibu." ucap Larina.


"Hentikan omong kosongmu itu, jika kau pulang hanya untuk membuat keributan, lebih baik kau tidak usah pulang."


Ibu Larina masuk ke dalam rumah, Larina membuang muka kemudian melangkahkan kakinya pergi.


Seakan-akan ada yang menahan langkah kaki Larina, ia menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan rumah. Larina kembali ke pintu belakang rumah dan membuka pintu perlahan.


Jantungnya berdegup kencang.


"Aku yakin sendal itu bukan milik Ayah dan aku tadi tidak salah lihat." batin Larina.


Ia mengendap menuju kamar orang tuanya, Larina berdiri di depan pintu kamar orang tuanya.


"Hahah,"


"Kamu lucu, deh" (suara Ibu Larina)


"Kamu tuh yang lucu, jadi makin sayang." (suara pria)


Suara gurauan dari dalam kamar orang tuanya membuat Larina mendidih. Matanya membulat sempurna saat mendengar Ibunya tiba-tiba mendes*ah.


Larina mengepalkan kedua tangannya. Larina memejamkan mata dan mengatur pernapasannya. Setelah sedikit tenang, Larina mengetuk pintu kamar orang tuanya.


'Tok tok tok'


Spontan suara-suara kenikmatan itu menghilang dan menjadi hening.


'Tok tok tok'


"Buka pintunya atau ku rekam." ancam Larina.


'Ceklek' pintu terbuka, terlihat Ibu Larina mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya dan napas yang tidak beraturan.


Raut wajah Larina datar, ia langsung mendorong pelan Ibunya ke belakang dan Larina menerobos masuk ke kamar orang tuanya, Ibunya menahan Larina namun Larina berhasil masuk.


"Apa-apaan ini?! Sembarangan masuk ke kamar orang!" Ibu Larina marah.


"Aku tau aku tidak sopan masuk ke dalam kamar ini tanpa seizin orang tuaku, tapi aku tidak bisa diam saja." ucap Larina pada Ibunya.


Larina kembali mendidih melihat seorang pria tengah mengenakan pakaiannya dan menghadap ke tembok.


"Sudah ku duga! Memang baji*ngan!"


Larina memicingkan matanya.


"Keluar!!" usir Larina pada pria itu.


"Larina!!" Ibu Larina juga meninggikan suaranya.


"Apa?" sahut Larina dengan santai, ia menoleh ke Ibunya.


"Ketahuan, ya?!" Larina tersenyum sinis.


"CEPAT KELUAR DARI KAMAR INI!!" usir Larina lagi.


Ibu Larina berkeringat dingin, ia terkejut melihat Larina yang berani mengusir orang dengan nada tinggi seperti itu.


Dengan cepat pria itu keluar dari kamar orang tua Larina.

__ADS_1


"Aku menyuruhmu keluar dari kamar, bukan keluar rumah." ucap Larina yang menghentikan langkah pria itu saat akan menuju pintu belakang.


__ADS_2