
"Ayah nanti bisa datang kan?" tanya Larina sembari merapikan seragamnya.
"Iya. Jam 8 kan acaranya?"
Larina mengangguk, ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Larina berangkat," Larina meraih tangan Ayahnya dan mencium punggung tangannya.
"Tidak mau Ayah antar?"
Larina menggeleng.
"Mau jalan kaki saja," jawabnya sambil tersenyum lebar.
POV Larina (perlu di ingat, saat ini Adinda lah yang berada dalam tubuh Larina ya guys, jadi bukan Larina yang asli)
Hari ini adalah hari dimana aku merasakan momen yang membuat jantungku dagdigdug yakni hari pembagian raport. Yah, aku masuk ke dunia novel ini saat Larina sudah di semester 2, bisa di pastikan nilainya di semester lalu sangatlah buruk. Namun aku tetap optimis, nilai kali ini tidak akan anjlok. Aku juga sudah lupa berapa lama aku berada disini, sedikit banyak aku mulai menikmati kehidupan disini sembari menjalankan misiku. Sampai sekarang aku pun belum menemukan jalan keluar agar aku bisa kembali ke dunia asliku. Ya sudahlah, yang penting misiku selesai dulu.
Hari ini selain pembagian raport, sekolahku juga mengadakan acara rutinan setiap 3 tahun sekali, mungkin dalam rangka syukuran karena sekolahnya terus maju dan berkembang.
πππππ
Baru saja Larina tiba di kelasnya, ia melihat Bella dengan bangganya menyebut dirinya akan mendapat ranking 1 kali ini, sama seperti sebelumnya.
Banyak teman kelasnya yang setuju dengan hal tersebut karena mengingat prestasi Bella dari kelas X cukup bagus dan mampu menduduki ranking kelas beberapa kali.
Bella tersenyum remeh pada Larina,
"Menang lomba Cercer saja tidak akan mampu mengalahkan nilaiku," sindir Bella.
Larina duduk di bangkunya dan mengabaikan sindiran Bella.
"Kalian masih disini?" tiba-tiba Bu Mawar datang.
Seisi kelas menoleh ke arah Bu Mawar.
"Sudah jam setengah 8, segera ke aula,"
"Baik, Bu." sahut para siswa kelas XI B
Sesampainya di Aula sekolah, Larina hendak duduk di kursi khusus siswa-siswi yang berada di belakang kursi khusus para wali murid.
"Larina," panggil Rafa saat melihat Larina duduk paling pojok.
"Iya?"
Rafa menepuk kursi kosong dibelakangnya.
"Disini saja,"
"Mubazir kursinya,"
Larina terkekeh, ia pun segera pindah di belakang Rafa. Alasan ia duduk di pojokan karena iseng saja.
Selang beberapa waktu para wali murid mulai berdatangan dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Larina tersenyum melihat Ayahnya masuk ke ruang aula dan berjalan menuju kursi yang tidak jauh darinya. Ayah Larina juga tersenyum melihat Larina yang tersenyum padanya.
"Ibumu tidak datang?" tanya Larina karena ia belum melihat batang hidung Ibunya Rafa.
"Mungkin nanti hadir. Ia masih ada sedikit pekerjaan,"
Larina mengangguk.
****
Acara pun dimulai, setelah beberapa sambutan dari para dewan guru sampai kepala sekolah, tibalah saat-saat yang ditunggu para hadirin, yakni pembagian raport.
__ADS_1
Sebelum raport dibagikan, Kepala Sekolah berpesan agar para orang tua tidak langsung memarahi anak-anak mereka jika mendapat nilai dibawah rata-rata.
Satu persatu nama para siswa/i disebut, wali murid dipersilahkan untuk naik ke panggung untuk mengambil raport.
Larina sedikit gugup,
"Kenapa aku jadi gugup seperti ini ya? Haduh. Apa aku terlalu mendalami peranku sebagai peserta didik?" gumamnya pelan.
Tersisa 18 raport yang belum dibagikan, termasuk milik Larina.
"18 raport ini adalah milik para juara kelas tahun ini," tutur Kepala Sekolah.
Larina menutup mulutnya menggunakan tangannya, ia merasa senang karena sudah jelas dirinya termasuk juara kelas tahun ini.
Ia menoleh ke arah Bella di dua barisan yang ada di belakangnya, Bella terlihat menahan emosi, Larina tertawa kecil. Ia menjulurkan lidah pada Bella yang terlihat mulai kesal.
Ayah Larina tercengang saat menyadari nama Larina belumlah disebut dari tadi. Ia seperti tidak percaya.
"Puteriku? Mendapat ranking?" Gumamnya.
Ia tidak ingin percaya karena selama ini Larina tidak pernah mendapat ranking di kelasnya, namun ia membuang rasa tidak percayanya itu mengingat Larina sudah pernah mendapatkan juara saat lomba cerdas cermat.
18 nama para siswa/i yang mendapat ranking dipanggil Beserta wali murid untuk maju ke depan.
Larina berhasil mendapat ranking 1 dan posisi ranking 2 diraih oleh Bella. Bella berdecak kesal saat ia berdiri berdampingan dengan Larina.
"Kasihan yang mulai tersingkir," bisik Larina.
Bella tidak menjawab, ia membuang muka.
"Sadar atau tidak, kau harus tau bahwa nilaiku sangat berada di atasmu, loh. Tapi kau terus menganggap nilaimu tetaplah diatas."
"Cih," Bella berdecih.
"Kau pasti menyuap para guru," celetuk Bella.
"Untuk apa aku menyuap para guru disini jika aku mampu mengangkat nilaiku dengan kemampuanku sendiri?"
Bella membuang napas kasar.
***
Setelah penyerahan hadiah dan raport, mereka dipersilahkan duduk kembali. Lanjut ke sesi selanjutnya yakni pemotongan tumpeng jumbo. Setelah membaca doa bersama, kepala sekolah memotong ujung tumpeng tersebut dan meletakkannya di meja. Selanjutnya para hadirin dipersilahkan maju untuk mengambil makanan tersebut, setelah itu mereka makan bersama-sama.
"Kurang sayurnya?" tanya Ayah Larina.
"Cukup," Larina tersenyum.
"Ini Ayah sengaja ambil lebih banyak sayur, barangkali kamu kurang."
"Sudah cukup kok, Yah."
Sekitar jam 12 siang acara selesai. Larina pergi ke kelas untuk menerima informasi terkait libur sekolah serta tanggal mereka akan kembali masuk sekolah.
"Kelas XII nanti kalian akan tetap terbagi menjadi 2 kelas, tidak ada penolakan jika kalian terpisah dengan teman dekat kalian."
"Baik, Bu."
"Baiklah, kalian libur 2 minggu, nanti nomor kalian akan masuk ke grup kelas masing-masing dan saat itulah kalian tau kalian akan masuk ke kelas XII A atau XII B. Yang menjadi anggota Osis, jangan lupa setor LPJ kalian secepatnya.Tetap pertahankan nilai kalian,"
"Sampai jumpa di tahun ajaran baru,"
πππ
Ayah Larina tersenyum melihat Larina muncul dari balik gerbang sekolah.
"Eh, Ayah belum pulang?" tanya Larina.
__ADS_1
"Belum. Ayo naik."
Larina mengangguk.
"Ayah sangat bangga padamu," ucap Ayahnya sambil memandang lurus ke arah depan.
"Heheh, terimakasih Ayah.
"Aku boleh memeluk sosok Ayah ini kan?" batinnya, perlahan Larina memeluk Ayahnya, Ayahnya tersenyum, tangan kirinya mengelus tangan Larina yang melingkar di perutnya.
"Kenapa?" tanya Ayah Larina.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memeluk Ayahku ini,"
Ayah Larina tersenyum lebar. Sesampainya dirumah, ia mendapati Istrinya keluar dari mobil. Setelah itu mobil tersebut pergi dari rumah mereka.
"Darimana?" tanya Ayah Larina.
"Ada urusan," jawab singkat Ibu Larina.
Ibu Larina segera membuka pintu rumah yang sebelumnya telah ia kunci, ia segera masuk ke dalam rumah.
Larina menghela napas,
"Palingan juga habis kencan." gumam Larina.
Ayah Larina segera menyusul istrinya tersebut, Larina dengan langkah malas ikut masuk ke dalam rumah.
"Bu, kamu dari mana?" tanya Ayah Larina.
"Apa sih? Sudah ku katakan aku ada urusan tadi."
"Sama siapa?"
"Sama teman. Sudahlah, aku lelah. Aku mau istirahat."
Ayah Larina menahan Ibu Larina, ia meraih tangan istrinya itu.
"Kamu bahkan tidak bertanya tentang Larina hari ini?!"
"Memangnya ada yang penting? Palingan dia dapat juara 1 dari belakang. Tidak ada yang istimewa."
Larina hanya diam berdiri menyaksikan kedua orang tuanya.
"Dia dapat juara 1 dari depan, bukan dari belakang."
"Terus? Aku harus apa?"
"Sama sekali tidak ada apresiasi?"
"Cih," Ibu Larina berdecih.
"Lepaskan tanganku!" Ibu Larina menghempaskan tangan Ayah Larina. Dengan tatapan malas, ia segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Ayah Larina menoleh ke belakang dan mendapati Larina menyaksikan itu semua.
"Nak," panggil Ayah Larina, ia melangkah mendekat ke arah Larina.
Larina tersenyum,
"Aku baik-baik saja." ucap Larina.
Ayah Larina langsung memeluk Larina dengan erat.
"Aku tidak suka melihat pertengkaran seperti ini terus," ucap Larina dalam pelukan Ayahnya.
"Ku mohon, Ayah. Tolong terima permintaanku itu,"
__ADS_1
Ayah Larina tidak menjawab. Baginya, sulit menyudahi pernikahannya, jadi ia belum bisa memutuskannya saat ini.