Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 38 : Meminta Izin Untuk Bekerja


__ADS_3

"Eh?" Larina terkejut.


"Nenek ditipu?" tanya Larina.


Nenek tersebut mengangguk.


"Sering, anak-anak mengambil barang tapi tidak bayar dan bilangnya sudah bayar, mereka bilang Nenek yang pikun."


"Astaga."


"Keluarga Nenek kemana? Kenapa hanya sendirian?"


"Nenek hanya tinggal sendiri disini."


Larina diam sejenak.


"Nek, aku boleh bekerja disini?" tanya Larina tiba-tiba.


Nenek tersebut menoleh ke arah Larina.


"Nenek tidak bisa mmebayar upah."


"Upahnya sebotol minuman saja! Setiap satu minggu sekali, aku ambil sebotol minum. Bagaimana?"


Nenek tersebut menggeleng.


"Tidak boleh. Upahnya tidak bisa hanya air minum."


"Tidak apa-apa, kok. Aku juga mau belajar jualan. Siapa tau nanti aku bisa punya toko sendiri." Larina tetap kekeh dengan keputusannya. Ia tersenyum lebar.


Nenek tersebut terdiam.


"Nanti setiap pulang sekolah aku langsungย  kesini sampai jam 8 malam, kalau hari minggu aku full dari pagi sampai sore. Bagaimana? Boleh ya, Nek?" Larina memasang wajah memelas.


Nenek tersebut akhirnya setuju, namun dalam benaknya ia juga memutuskan akan memberikan upah yang ia mampu nantinya.


"Baiklah,"


"Terimakasih, akhirnya aku punya kesibukan tambahan."


Setelah mengobrol ringan, Larina berpamitan pulang karena ia juga harus meminta izin pada Ayahnya.


"Aku pulang dulu, Nek. Sampai jumpa besok!" Larina melambaikan tangan kemudian melangkah pergi dari toko tersebut.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Malam harinya, di rumah.


Ayah Larina tengah sibuk dengan pekerjaannya, Larina mengetuk pintu ruang kerja Ayahnya.


"Ayah," panggilnya.


"Masuk, Nak."


Larina membuka pintu, ia tersenyum lebar.


"Heeemm, dari senyumannya sepertinya anak Ayah ini ada sesuatu yang membuatnya harus kemari."


"Kok tau?" Larina terkekeh, kemudian ia menutup pintunya.


Larina bersandar di pintu.


"Ayah sayang aku atau tidak?" tanya Larina


"Pertanyaan macam apa ini?" Ayah Larina tersenyum kecil. Ia menoleh ke arah Larina yang masih menempel di pintu.


"Ya jawab saja, Ayah."


"Ini pasti ada maunya,"


"Ya pokoknya jawab dulu, Ayah."


Ayah Larina menarik napas.


"Iya, Ayah menyayangimu. Sangat."


Larina tersenyum lebar.


"Kalau begitu, izinkan aku bekerja. Oh iya, tadi aku sudah sepakat dengan pemilik tokonya dan aku mengatakan aku besok mulai bekerja. Jadi, aku berharap Ayah memberiku izin."


Ayah Larina mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kerja bagaimana? Kamu harus fokus sekolah dulu."


Larina memanyunkan bibir.


"Katanya Ayah sayang aku?"


"Ayah tidak setuju. Kamu harus fokus sekolah dulu."


Larina melangkah dan duduk dilantai kemudian ia meraih kaki Ayahnya dan memijitnya pelan.


"Aku mohon, Ayah. Izinkan aku bekerja. Aku janji, nilaiku akan tetap bagus."


"Bukan seperti itu maksud Ayah. Ayah tidak mau kamu kelelahan dan kurang istirahat nantinya."


"Aku mohooooooooooonnnnn, please!"


"Nak, kamu itu pulang sekolah sore hari. Kalau kamu bekerja, bagaimana?"


"Pulang jam 8 malam kok, Yah. Nanti bisa naik ojek atau minta jemput Ayah, hihi."


"Hemm."


"Jadi begini, aku tadi pulang sekolah mampir ke toko yang kurang terurus. Pemiliknya Nenek tua, Yah. Ngomong-ngomong tidak mungkin Nenek itu muda sih. Oke lanjut, dia itu sering ditipu oleh pembeli, Yah. Dia juga hidup sebatang kara. Kan kasihan, Yah. Bisa-bisa dagangannya habis karena dicurangi dan tidak menghasilkan apa-apa. Nenek itu juga tadi sudah sangat senang karena aku mau bekerja disana, aku minta upahnya sebotol air minum saja, karena aku ingin membantunya."


Ayah Larina tidak menjawab.


"Ayah," rengek Larina.


"Aku mohon."


"Hhhhh," Ayah Larina menghela napas.


"Keras kepala." ucapnya.


"Boleh, ya? Kasihan loh Nenek itu, Yah. Bayangkan saja, dia sudah tua renta, sendirian, dagangannya dicurangi terus, tokonya sepi pula. Nanti kalau dia kenapa-napa, bagaimana?"


"Ayolah Ayah, izinkan aku."


"Hadeh,"


"Katanya Ayah sayang aku?" Larina sampai menitikkan air mata.


"Baiklah, Ayah memberi izin."


Larina tersenyum cerah.


"Kyaaaaa! Terimakasih," spontan Larina memeluk kaki Ayahnya.


"Tapi ingat, kamu harus bisa membagi waktu dengan baik, nanti Ayah yang akan menjemput kamu."


"Siaaaapp, bos!"


"Bawa bekal juga,"


"Siap, Ayahku sayang. Terimakasih, ya. Aku sayang Ayah. Aku buatkan kopi untuk Ayah, ya."


Larina berdiri.


"Tidak perlu. Ayah sudah minum kopi tadi"


"Benarkah?"


"Iya."


"Kalau begitu, ada yang bisa aku bantu?"


"Tidak ada. Istirahatlah, sudah hampir jam.10."


"Siap!"


'Cup' Larina mengecup pipi Ayahnya kemudian keluar dari ruang kerja Ayahnya.


Ayah Larina tersenyum sambil sesekali menggelengkan kepala melihat tingkah Larina.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Besoknya.


"Mau pulang bersama?" tawar Rafa.


"Maaf, ya. Aku ada urusan." tolak Larina sembari tersenyum, ia memasukkan semua bukunya ke dalam tas.

__ADS_1


"Pulang bersama dengan laki-laki itu?"


"Eh, siapa?"


"Itu anak kelas XII B."


"Yang mana? Kan laki-laki di kelas XII B itu banyak."


"Yang tempo hari kau menolak ajakanku tapi kau malah berangkat berdua bersamanya."


"Astaga. Doni maksudmu?"


"Hm."


"Tidak lah, aku ada urusan penting. Dan ini akan berlangsung setiap aku pulang sekolah."


"Hm."


"Kau cemburu, ya?" Larina tersenyum.


"Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok." Rafa langsung melangkah keluar kelas, Larina terkekeh melihat hal itu.


Waktu menunjukkan pukul 3 sore, Larina dengan langkah cepat segera menuju tempatnya bekerja. Sesampainya disana, ia melihat Nenek pemilik toko duduk di kursi luar.


"Nek," panggil Larina.


Nenek tersebut menoleh, ia langsung tersenyum dan buru-buru berdiri.


"Duh, pelan-pelan saja." Larina langsung membantu Nenek tersebut berdiri.


"Nenek kira kamu tidak datang,"


"Datang, kok! Ini aku, hehe." Larina tersenyum.


"Nenek ini tidaklah pikun, dia saja masih bisa ingat wajahku." batin Larina.


Nenek itu menitikkan air mata, Larina tidak tau apa yang menyebabkan dirinya sangat ditunggu oleh nenek itu.


"Nenek tidur dimana? Aku antar ke kamar."


Nenek pemilik warung itu menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan,


"Toko ini menyatu dengan rumah Nenek."


Larina ber-oh-ria. Ia menuntun neneknya masuk ke pintu yang ditunjukkan tadi. Setelah ia membuka pintu, ia melihat ruan tamu yang berisikan meja dan lainnya,


"Kamar nenek yang mana?"


Nenek tersebut lalu menunjuk lagi dengan jari telunjuknya, Larina segera membawanya kesana.


"Dapurnya ada dibalik pintu disebelah kamar Nenek. Kalau kamu lapar, kamu bisa makan disana. Tapi hanya seadanya."


Larina tersenyum dan mengiyakan.


***


Setelah berganti pakaian, Larina berkacak pinggang kemudian menyapu seisi ruangan menggunakan pandangannya.


"Baiklah, langkah pertama aku harus mencatat ulang harga-harga barang disini, kemudian membersihkan ruangan dan menata ulang."


Larina merapikan rambutnya, kemudian ia membawa beberapa sample barang dan dibawa ke kamar sang pemilik warung untuk menanyakan harganya. Hal itu ia lakukan sampai semua barang selesai.


Larina memperhatikan daftar harga barang di buku kemudian mencocokkannya lagi. Setelah dirasa pas, Larina segera mengangkut semua barang dan meletakkannya di ruang tamu milik Nenek tersebut.


"Semangat!"


Larina menyeka keringatnya kemudian melanjutkannya. Karena dirasa terlalu sempit, akhirnya Larina menggeser kursi di ruang tamu dan kembali memindahkan barang-barang itu ke ruang tamu.


Larina menyipitkan mata saat ruang tamu itu sudah penuh dengan barang-barang dagangan namun barang-barang dagangannya masih banyak tersisa di toko. Ia kemudian mengecek ruang gudang tempat penyimpanan stok barang, ia menggeser stok barang kemudian memindahkan sisa barang di toko.


Merasa lelah, Larina duduk di lantai sambil berselonjor, ia meneguk air minum karena merasa sangat haus. Hari semakin sore, ia kemudian berdiri dan malanjutkan memindahkan barang-barang. Setelah selesai, ia mencari sapu.


"Nek, punya sapu lidi? Atau sapu apapun itu."


"Ada, Nak. Ada di dapur."


"Baiklah."


***


Larina mengambil kursi dan naik keatasnya. Larina mulai membersihkan langit-langit ruangan.

__ADS_1


__ADS_2